Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Roland Brooks


__ADS_3

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Claire ketus.


Nath bukannya menjawab, dia memutar badan kemudian menyerang Feliks secara membabi buta. Feliks yang tidak siap, dia terkena pukulan beberapa kali di tubuhnya dalam posisi tersungkur. Claire mencoba untuk melerai. Namun, tenaga laki-laki yang tengah diliputi hawa nafsuu, tak terbendung. Terpaksa dia bersikap kasar pada Nath dengan menendangnya.


"Claire, kamu—!"


"Security! Tolong seret dua anjing ini keluar!!" Claire masuk ke dalam flat dan membanting pintu dengan keras.


"Ayo keluar!" suruh security pada Nath sembari mencengkeram tangannya.


"Saya bisa jalan sendiri, lepaskan! Lagi pula saya penghuni apartemen ini!" Nath menarik lengannya dari cengkeraman security lalu menghampiri Feliks.


"Ini baru permulaan, sekali lagi kamu berani menyentuh Claire, aku akan menghabisi nyawamu!" Nath berjalan melewati Feliks seraya membenturkan bahunya. Sementara Feliks, dia harus pasrah ketika diseret dengan kencang lalu tubuhnya dicampakkan ke trotoar hingga menggelangsar.


"Kak Feliks?" panggil seorang gadis. "Kenapa Kakak bisa seperti ini?" Dia mengangkat tubuh Feliks dan membantunya untuk duduk di atas bangku taman. Feliks memegangi perutnya yang terasa sakit.


Feliks menghapus bercak darah yang keluar dari hidung menggunakan ibu jari. "Aku tidak apa-apa Leona. Kalau tidak merepotkan, bisa antarkan aku pulang?"


"Bisa Kak, bisa ... sini Leona bantu berdiri!" Leona memapah Feliks menuju tempat di mana kendaraannya terparkir. Feliks berjalan dengan timpang sembari meringis dan menahan rasa ngilu.


"Pelan-pelan Kak, mobil Leona di depan sana."


"Maaf ya jadi merepotkanmu...."


"Tidaklah ... lagi pula Kak Feliks sangat spesial di hati Leona," ungkap Leona lalu membuang muka.


Feliks mencerna setiap perkataan gadis di sampingnya. Namun, dia tidak ingin terlalu memikirkan perkataan Leona, karena sepenuhnya dia sudah melupakan dan membuang Leona dari lubuk hati. Memendam perasaan pada Leona tidak sesakit ketika dia memendam perasaan pada Rona.


...***...


Dua orang yang sedang dilanda bunga asmara, rasa pahitnya kopi pun terasa manis. Aroma kecut keringat, terendus harum. Tidak merasa jengah, saling bertukar napas dan berbagi saliva dalam satu rongga. Menyesap kenikmatan yang tiada habisnya.


"Sayang...?"


"Hm...?"


"Orang-orang memperhatikan kita...."


"Mobil ini dipasang kaca film VLT (Visible Light Transmittance) sayang, dari luar tidak akan terlihat aksi kita."


"Masalahnya jendela mobilmu tidak sengaja terbuka!" ungkap Rona dengan suara yang ditahan. Edward memusar kepala, nampak kini wajah orang-orang tengah menontonnya bercumbu. Tanpa pikir panjang, Edward menyalakan kembali mobilnya dan melesat dengan kecepatan tinggi.


"Habisnya kamu tidak bisa lihat tempat, di mana pun mesti nyosor!"


"Aku sudah tidak tahan."


"Apa begini ya kalau menjalin kasih dengan seorang hot Daddy?"


Edward menolehkan kepala tidak mengerti. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya itu... setiap saat, setiap di mana pun selalu on, hasrat tak terkendali. Inginnya setiap waktu bermandikan keringat, menyatukan dua tubuh, mengumbar gairah, memuaskan nafsuu—"


Edward membekap mulut Rona, dia malu sekaligus merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba mengeras kembali di bawah sana. "Sudah ya, jangan mancing-mancing. Karena hasrat yang tidak tersalurkan itu membuat kepala sakit dan emosi meninggi."


Rona mengunci mulutnya, meski saat ini dia tidak mungkin melayani Edward. Tapi dia bergidig membayangkan Edward meminta dipuaskan dengan cara yang lain.


...***...


Persiapan menuju hari bahagia, hanya tinggal fitting gaun pengantin dan foto prewedding. Sejauh ini semua berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Tapi kita tidak pernah tahu, ujian dan musibah yang menanti di depan mata. Kebahagiaan yang diraih bisa menghilang dengan sesaat.


Feliks


Bos, segera ke kantor pusat, penting!


Edward


Ada apa?


Feliks


Tiga cafe milik Edward Company kebakaran, semua habis tak tersisa, dan—


Edward


Dan apa?


Feliks


Edward


Lalu?


Feliks


Kita terancam kehilangan sepuluh aset bergerak


Edward mengusap kasar wajahnya, melempar handphone lalu menginjak gas dalam-dalam. Dia tidak memperdulikan Rona yang tengah bertanya padanya.


"Aku ada urusan, kamu masuklah sendiri ke dalam apartemenku. Sudah hapalkan kode kuncinya?"


Rona mengangguk lalu keluar dari mobil, belum sempat dia berkata hati-hati, Edward sudah menghilang dari pandangan. Rona mendengus pelan lalu masuk ke dalam apartemen. Dia berjalan dengan lunglai menuju lift lalu memijit Call Button. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Namun, ketika pintu lift hendak tertutup rapat, kaki seseorang menahannya.


"Wow lihat siapa yang satu lift denganku!"


Rona mendelik, dia merasa risih karena teringat saat pertama kali bertemu dengan pria di sampingnya, pria yang bersikap kurang ajar.


"Masih ingat aku, kan?"


Rona mengindahkan pertanyaannya lalu melipat kedua tangan di atas dada, menunggu pintu lift terbuka. Di saat seperti ini waktu menjadi terasa lebih lama.

__ADS_1


"Nona?"


"Ya?" sahut Rona.


"Tolong turunkan tanganmu dari bawah dada!"


"Kenapa?"


"Itu membuat dadamu semakin membusung."


"Astaga...," Rona melepaskan kedua tangannya lalu menggeserkan kaki memberi jarak.


Mata Rona terus menatap ke arah angka yang menunjukkan posisi lantai sembari menggerak-gerakkan kakinya sebelah. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari atas lift bersamaan dengan lampu yang berkedap-kedip. Setelah itu terjadi guncangan dan lift berhenti berjalan, Rona panik.


Dia berusaha menghubungi seseorang, tetapi sayangnya no signal. Dia menekan Emergency Button, tapi tidak ada tanggapan. Pria di sampingnya hanya tersenyum santai lalu melonggarkan dasi yang mengikat di leher.


"Tenanglah Nona, ini tidak akan berlangsung lama. Lagi pula bukankah ini pertanda kalau kita berjodoh?" ujarnya tanpa segan.


Rona menutupi telinga dengan earphone lalu menyetel lagu kesukaannya, meredakan kekhawatiran seraya menunggu pihak apartemen memperbaiki kerusakan.


Pria di sampingnya mendekat, menarik earbuds kemudian memasukkan ke dalam telinga tanpa permisi. "Waw... kamu suka lagu ini, aku juga! Kita memang benar-benar berjodoh!"


Rona melengos seraya menarik bibir ke salah satu sudut. Dia mematikan MP3 player lalu melempar earphone miliknya ke sembarang arah. Pria asing tersebut melandai dan meraih benda yang dibuang oleh Rona lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja. "Aku akan menyimpannya sebagai kenangan."


Rona berusaha tidak peduli pada pria aneh yang sikapnya begitu menjengkelkan. Dia mencoba menekan Emergency Button kembali dan akhirnya ada jawaban dari bagian System Monitoring.


"Tolong Tuan, lift A34B sudah tiga puluh menit tidak berfungsi, saya mulai kehabisan napas."


"Baik, tunggu lima menit lagi Nona ... teknisi kami sedang memperbaikinya."


"Baik, tolong dipercepat!"


Lima menit terlewati, lampu lift sudah menyala seperti semula dan lift kembali berfungsi. "Ah, syukurlah..." gumam Rona.


Hanya menunggu dua menit, Lift berhenti lalu pintu pun terbuka, akhirnya Rona bisa bernapas dengan lega. Dia keluar dari kotak besi tanpa memperdulikan pria yang membuntutinya.


"Tunggu Nona!"


Rona terus saja berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Pria itu menarik bahunya, menghentikan langkah Rona dengan paksaan.


"Maaf, Nona... saya hanya ingin memberikan ini!" Dia menyerahkan kartu nama dan Rona mengeja nama yang tertulis di dalamnya. "Ro-land Broo-ks."


...********...


...Beribu-ribu terimakasih Senja ucapkan untuk yang sudah memberikan VOTE, HADIAH, LIKE, COMMENT, RATE 5 STARS dan yang MEMBACA karya Senja....


...Bahagia selalu ya Kak......


...Mampir juga ke karya author yang lain,...

__ADS_1



__ADS_2