Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Ezio Kembali


__ADS_3

Sore itu, seorang ibu muda tengah mengajak ketiga bayinya menghirup udara segar di taman belakang rumah. Aroma tanah dan dedaunan bagai padu padan tiada tanding. Menenangkan urat-urat syaraf dan resah hati akan rasa rindu yang membuncah. Matanya menatap pada paras sang buah hati. Namun, isi pikiran tengah berkelana meninggalkan pemiliknya.


"Mommy sangat rindu pada kakak kalian. Andaikan dia ada di sini pasti rumah ini akan semakin ramai."


"Ao... ao..." sahut Austin.


Rona terkekeh, "Apa sayang? Kalian juga ingin bertemu dengan Kak Ezio ya?"


Triple A serentak tersenyum menggemaskan seakan ingin menghibur sang ibu yang tengah merindukan putra pertamanya. Binar mata seakan berbicara, mengajak untuk melupakan kegundahan untuk sementara.


Di saat Rona tengah asyik dengan dunianya, seorang anak laki-laki berdiri di samping seraya memanggil dengan suara lembut. "Mommy...."


Rona yang tengah mengajak Triple A berbicara terdiam sesaat lalu mendesah. "Tuh kan saking rindunya sama kak Ezio, Mommy jadi berhalusinasi."


"Mommy... ini Ezio," ucap Ezio yang kini berdiri di depan sang ibu.


"Halusinasi Mommy sepertinya semakin parah ... tadi mendengar suara kak Ezio sekarang seperti melihat dia ada di depan Mommy," keluh Rona yang masih belum tersadar bahwa anak yang dia rindukan telah kembali.


Rona menyandarkan punggung dengan wajah menengadah. Dia mengurut pangkal hidung seraya memejamkan mata. Sapuan lembut membelai pipi kanannya. Rona terkesiap dengan kedua mata mengerjap cepat.


"Ezio..." pekik Rona menegakkan tubuh, tetapi dia masih saja belum percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata bukan sekedar ilusi. "Ya Tuhan... aku sampai berkhayal terus-menerus seperti ini. Aku merindukan Ezio. Aku merindukan putraku...."


Tangan Rona tiba-tiba melayang lantas mendarat di atas pipi seorang anak laki-laki. "Ini Ezio Mommy... Ezio sudah pulang. Coba Mommy rasakan ... ini pipi Ezio. Ini hidung Ezio, ini mata Ezio dan ini mulut Ezio."


Sepasang biji mata berkilap, lantaran air mata hadir tanpa diminta. Menumpahkan apa yang tersimpan di hati. Kerinduan, kebahagiaan, ketidak percayaan jua keharuan. Doa-doa yang selalu terucap, telah Tuhan kabulkan.

__ADS_1


"Ezio... ini benar kamu, Nak?" Rona langsung membawa Ezio ke dalam pelukan. Melepaskan segala perasaan di dalam hati. "Mommy tidak sedang bermimpi, kan, sayang? Ini benar-benar Ezio?"


"Iya sayang... ini putra kita, ini Ezio kita!" potong Edward. "Lihat, aku memenuhi janjiku, bukan?" Edward melempar senyum kemudian mendekap tubuh kedua belahan jiwa. Wanita pujaannya meraung-raung karena kebahagiaan yang datang tanpa henti.


Tangis Rona terjeda saat melihat bekas-bekas luka di tangan Ezio. "Ke-kenapa tangan Ezio merah-merah seperti ini? Daddy Roy berbuat apa sama Ezio?"


Rona kembali terisak, tubuhnya bergetar hebat. Anak yang dia besarkan sepenuh hati, nyatanya diperlakukan kasar oleh ayah kandung sendiri. Ibu mana yang akan kuat melihat kondisi buah hati yang selalu dibelai, dimanja, kini terlihat kurus dengan luka memar di beberapa bagian tubuh.


"Edward! Bisa jelaskan padaku, kenapa anak kita luka-luka seperti ini?" sentak Rona pada lelakinya.


Edward menghela napas. "Nanti aku ceritakan, lebih baik sekarang puas-puaskan dulu melepas rindu dengan anak sulung kita."


Rona mengangguk. "Baiklah... aku pun tidak ingin merusak momen kebahagiaan dengan hal lain yang menyedihkan."


Tatapan Rona beralih kembali kepada Ezio. Dia mengangkat tubuh kecil putranya dan menurunkan di atas pangkuan. "Mommy rindu kamu sayang... Ezio rindu Mommy tidak?"


Ezio baru menyadari kalau perut sang ibu sudah rata seperti sedia kala. Dia menoleh ke arah kereta bayi, nampak Edward dan Rona kecil tengah berbaring di dalamnya. "Mommy... ini semua adik Ezio?"


Ezio turun dari atas pangkuan Rona. Matanya berkilauan memandangi bayi-bayi mungil yang mirip dengannya sewaktu kecil. "Wah... Ezio sekarang punya teman bermain bola. Ezio tidak akan kesepian lagi, Mommy."


Rona terbahak. "Adik Ezio, kan, masih kecil. Bagaimana bisa diajak bermain bola?"


"Ezio...!" Suara nyaring seorang wanita memutus obrolan Ezio dengan Rona. Ibu dan anak tersebut sontak memalingkan muka ke arah sumber suara. Nampak Maria berlari seraya menggosok kelopak mata.


"Oma Maria..." balas Ezio tak kalah nyaring. Kedua nenek dan cucu itu berpelukan, saling mengisi kekosongan juga berbagi kerinduan. "Ezio rindu Oma... Ezio rindu Opa Richard juga. Ezio rindu... semua orang."

__ADS_1


Maria mengecup wajah sang cucu tanpa melewatkan barang seinci pun. "Oma juga sangat rindu sama Ezio. Oma kira, Oma tidak akan bisa bertemu dengan cucu kesayangan Oma lagi...."


"Ezio tidak mau memeluk Opa?" goda Richard.


"Ezio tidak mau memeluk Aunty Leona?" timpal Leona merentangkan tangan.


Netra Ezio kembali basah karena rasa suka cita selepas nestapa. Tubuh mungil itu bergantian di dalam pelukan setiap orang. Rasa takut yang semula bertengger di dalam diri, berangsur menghilang karena dekapan hangat dan tulus kasih dari orang-orang yang mencintainya.


"Terima kasih karena Mommy, Daddy, Aunty dan Opa mau menerima Ezio kembali," celoteh Ezio yang lagi-lagi membuat perasaan semua orang terenyuh. Semestinya anak kecil seperti Ezio hanya perlu memahami bahwa orang-orang di sekitarnya menyayangi dia. Tanpa harus tahu mengenai permasalahan orang dewasa.


"Iya sayang... sama-sama," jawab semuanya serentak. Edward menghampiri Ezio lanjut mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya. Edward berputar-putar membuat Ezio tertawa terpingkal-pingkal. Orang-orang turut tertawa, ikut mencecap apa yang anak kecil itu rasakan.


...***...


"Pa... Roy mohon, keluarkan Roy dari penjara," rengek seorang pemuda kepada ayahnya. Dia yakin kalau pria yang menyayanginya itu akan membela dan mengeluarkan dia dari hotel prodeo. Akan tetapi keyakinannya luntur ketika sang ayah menggelengkan kepala.


"Maafkan Papa karena untuk kali ini tidak bisa membantumu. Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah kamu lakukan. Perbuatan keji karena dengan tega menyakiti darah dagingmu sendiri," geram Theo pada anak semata wayangnya.


Roy menggebgrag meja dan berdiri tegak seraya menyalang. "Ini pasti gara-gara si brengsek Edward. Bilang pada Roy ... apa Papa diancam? Atau Papa disogok dengan sejumlah uang?"


Lagi-lagi Theo menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Tidak dua-duanya, Roy. Tugas Papa untuk mendidikmu sudah usai. Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kamu bukan anak kecil lagi karena umurmu sudah sangat dewasa. Jadi mulai saat ini setiap tindak-tandukmu, bukan lagi tanggung jawab Papa."


Thoe beranjak dari tempat duduk dan memutar badan untuk meninggalkan Roy untuk kembali ke kediamannya. "Kalau kamu membutuhkan pengacara, silakan hubungi sendiri tanpa perantara Papa. Segala kebutuhan milikmu sudah Papa ambilkan. Jadi, jangan lagi meminta bantuan Papa."


...***...

__ADS_1


...Terimakasih banyak atas semua dukungan teman-teman semua 🙏...


__ADS_2