
Malam ini, malam terakhir untuk menikmati liburan. Besok pagi semua akan bertolak kembali ke kota, di mana mereka disibukkan dengan hiruk pikuk duniawi. Meninggalkan kedamaian yang jarang sekali didapatkan.
Di bawah sinar rembulan, di antara bintang yang berkedip dan hantaman ombak, semua bersuka ria, berbagi canda dan tawa.
"Her eyes, her eyes. Make the stars look like they’re not shining..." Edward menyanyikan Rona sebuah lagu seraya memetik gitar. Tatapannya berbinar memandangi wajah ayu tanpa polesan dengan warna bibir tipis natural. Rona tersipu sembari menyelipkan lembaran halus yang menutupi wajahnya.
Sementara Nath dan Feliks keduanya menyiapkan hidangan untuk barbeque party. Mengipas-ngipas dan membolak-balikkan daging sapi, sea food juga sosis. Aromanya begitu menusuk hidung dan mengaduk-aduk isi perut. Sedangkan Claire terpaksa hanya bisa menonton dari balik kursi karena kakinya belum kuat untuk dipakai berdiri dalam waktu yang lama.
"Aku tidak pernah menyangka sedikit pun kalau kamu bisa seromantis ini Edward." Rona menyandarkan kepala ke pundak Edward sembari mendengarkan suara berat yang menggetarkan hati. Matanya menatap lekat wajah pria yang membuatnya jatuh cinta. Edward yang menyadari itu, dia memberi hadiah kecupan kilat. Dan Rona membalasnya lebih, dia menarik kepala Edward lalu melumatt habis bibir kekasihnya.
"Bos, bantu kita dong. Keteteran nih..." ujar Feliks yang tengah kepanasan karena matanya tidak bisa luput dari sepasang sejoli yang sedang bertali kasih.
Edward mendengus kesal seraya menyimpan gitar lalu menghampiri Feliks untuk membantunya. Wajah Edward merengut karena dia ingin selalu berada dekat dengan kekasihnya.
Rona yang seolah sudah lama mengenal Edward, dia tahu pasti apa yang diinginkan lelakinya. "Aku temani ya..." tawar Rona dengan satu tusuk marshmallow di tangan. Edward sumringah, sembari memanggang dia melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Rona, sesekali mengusap punggung yang tertutup.
"Selamat malam, kawan lama..." sapa seorang pria dengan tersenyum miring. Raut wajah Edward mengisyaratkan ketidaksukaan.
"Waw... kita kedatangan tamu tak diundang rupanya!" sahut Edward tidak ramah. Pria itu mendekat lalu mengulurkan tangan untuk berjabatan. Namun, Edward bergeming dengan kedua tangan di dalam saku celana.
"Tanganku kotor, maaf tidak bisa menerima uluran tanganmu!" kilah Edward. Dia menggeser badan untuk menutupi tubuh Rona dari jangkaun pandangan pria di depannya, tetapi sia-sia.
"Cantik sekali, apa dia wanitamu? Mainan barumu? Kelihatannya wanita baik-baik, lembut tapi menggairahkan," ungkap pria asing. Dia berjalan meninggalkan Edward dan mendekati Rona yang tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Perkenalkan aku Roland, kawan lama Edward. Bisa dikatakan sahabat lama." Roland mengulurkan tangan dan Edward menepisnya.
"Jauhkan tangan kotormu, dari tunanganku!" geram Edward. Dia merangkul tubuh Rona sedangkan Roland memperhatikan jari manis dengan cincin melingkar.
"Wah... ini benar-benar kejutan. Akhirnya kamu move on juga dari Marissa." cecar Roland dengan mata yang tak lepas dari menatap Rona.
"Jaga pandanganmu Roland, dia tunanganku!" ucap Edward mengingatkan. Namun, Roland seperti masa bodoh dengan peringatan Edward. Dia terus saja menelanjangi Rona dengan tatapan liarnya.
"Selama ini kita selalu berbagi wanita, apa kamu tidak ingin membaginya juga denganku?" tanya Roland kurang ajar. Dia berjalan satu langkah dan Edward menghadang dengan telapak tangan menahan tubuh Roland.
"Ayolah, aku hanya ingin berkenalan dengan tunanganmu boleh, kan?" Tanpa menunggu jawaban, Roland mengulurkan tangan untuk kedua kalinya, Rona yang merasa ragu-ragu dia melirik ke arah Edward dan dia menganggukan kepala.
__ADS_1
Rona membalas uluran tangan Roland, pria itu bukan menjabat melainkan mengecup punggung tangan Rona. Edward terprovokasi, amarahnya hampir meletup-letup ingin memberikan pelajaran. Namun, tangan lembut Rona mencegahnya.
"Sayang makanan kita hampir gosong...," Rona menarik lengan Edward, lalu bergelayutan manja. Dia mencoba mengalihkan perhatian Edward dari pria asing yang mengesalkan. Sementara Roland yang merasa kehadirannya tidak diharapkan, dia memilih pergi dengan segudang pikiran di dalam kepala mengenai Rona.
"Semuanya sudah matang nih ... ayo kita makan," ajak Rona antusias. Sambil berdiri dia melayani Edward seperti seorang istri.
"Sungguh kalian tidak peka!" sungut Claire yang tengah melahap makanannya.
Rona menatap sahabatnya bingung. "Tidak peka bagaimana?"
"Ya tidak peka, dari tadi terus saja memamerkan kemesraan. Apa kalian tidak sadar hatiku panas, kepingin juga..." rengek Claire yang dibalas dengan cekikikan.
"Aku pikir karena apa, Claire...," Rona menggelengkan kepala dan memasukkan daging panggang ke dalam mulut.
"Karena itu lembutlah sedikit selayaknya perempuan ... seperti kekasihku ini," timpal Edward. Dia mengecup pipi Rona dan meremass jemari kekasihnya. Claire akhirnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia menghabiskan makanannya tanpa bersisa.
"Sudah larut malam, kita istirahat sekarang karena besok pagi harus sudah meluncur," ungkap Rona. Semua mengangguk dan kembali ke kamarnya masing-masing.
"Sayang..." panggil Edward yang menatap Rona mengatup kedua mata.
"Em... tidak jadi. Besok-besok lagi saja. Lebih baik kita tidur sekarang. Good night, honey...."
"Good night...."
...***...
Tidak terasa malam telah terlewati, pagi menyapa dan siang menjelang. Semua orang akan kembali ke habitatnya dengan segudang aktifitas yang menanti.
"Kamu siap sayang?" tanya Edward pada wanita yang duduk di sampingnya. Mereka menggunakan mobil yang berbeda dan terpisah dengan yang lain karena Edward ingin langsung membawa Rona ke suatu tempat.
"Siap apa?" Rona mengunyah snack di tangannya lalu tersedak karena perkataan Edward.
"Bertemu orang tuaku, sekarang...."
"Se- sekarang? Secepat ini?" Rona memperhatikan penampilannya dengan pakaian yang terbuka dan serba minim.
__ADS_1
"Iya sayang, sekarang. Aku kan sudah bilang ingin segera menikahimu," jawab Edward. "Nanti sambil lewat, kita mampir ke Butik," tambahnya yang mengerti dengan isi kepala Rona.
Rona mengangguk dan menggigit bibir bawah, dia mengingat kembali bagaimana perlakuan Amber tempo hari. Sikap yang dingin dan menatap rendah, membuat dirinya merasa tidak percaya diri.
"Apa yang kamu pikirkan, Rona? Amber? Dia cuman wanita yang merebut kasih sayang papaku, bukan siapa-siapa. Kamu tidak perlu takut...."
"Tapi tetap saja dia ibumu, Edward...."
"Bukan, ibuku sudah meninggal. Dia hanya parasit di dalam keluarga Liam. Berlagak seperti nyonya besar, mengendalikan semuanya termasuk mengendalikan papaku." Edward memutar kemudi dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah Butik mewah.
"Di sini?" tanya Rona ragu-ragu. Dia menatap bangunan khas Eropa dengan aksen mewah dan mahal.
Edward menganggukan kepala. "Iya sayang, di sini...."
"Ini Butik kenamaan Edward, kita ke Butik yang biasa saja yuk..." tolak Rona. Edward keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rona.
"Hari ini aku ingin kamu terlihat sangat cantik, jadi biarkan aku yang mengatur semuanya," imbuh Edward.
Rona mengangguk pelan dan pasrah, lagi pula Edward bukan tipe yang bisa dibantah kalau sudah seperti ini.
Rona dan Edward, keduanya masuk ke dalam bangunan mewah. Mereka disambut dengan ramah karena pegawainya sudah sangat mengenal siapa Edward. Butik ini Butik langganan keluarga Liam, jadi tidak heran semua menaruh hormat.
"Tolong berikan dress terbaik di Butik ini untuk calon istri saya," pinta Edward. Dia mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan kaki bersilang. Sedangkan Rona diseret oleh beberapa pekerja yang akan melayaninya.
Berselang satu jam, Rona keluar dengan pakaian yang seolah diciptakan untuknya. Pakaian yang melekat sempurna di atas tubuh semampai. Disempurnakan dengan make-up flawless dan rambut yang digerai.
"Cantik..." puji Edward tanpa berkedip. Dia berdiri dan memberi kecupan hangat di pipi Rona. Pipi yang memerah semakin merona.
...*******...
...Mohon maaf kemarin hanya Up satu bab, dikarenakan "Ilham" sedang selingkuh......
...Terimakasih banyak yang masih setia membaca dan menunggu....
...Senja sayang semua......
__ADS_1