
Tak pernah terpikirkan oleh Leona bahwa wanita yang telah melahirkannya, meregang nyawa di tangannya sendiri. Bukan keinginannya menghilangkan nyawa sang ibu. Namun, keadaanlah yang memaksa dia untuk melakukan itu. Saat anak kecil tak berdosa menjadi korban keegoisan Amber. Saat wanita tua itu masih tidak puas dan membidikkan senjata api ke arah ayah kandungnya.
Akal sehat tiba-tiba hilang. Matanya tidak lagi bisa mengenali wanita itu sebagai ibunya. Dia yang marah, dia yang murka karena sang ibu telah melewati batas kesabaran. Gelap mata dan tidak lagi memandang Amber sebagai wanita yang harus dia hormati. Kerling matanya menangkap sebuah senjata api yang terselip di pinggang suaminya. Dia rampas dan dia luncurkan satu peluru ke arah tubuh sang ibu.
Masih bergetar tangan lembut itu, seraya menatap Amber yang telah menyambut ajalnya. Tidak ada tangis setetes pun. Hatinya terasa puas telah mengirimkan ibunya ke neraka saat itu juga. Teriakan demi teriakan terdengar sumbang di telinga. Dia mengukir senyum kebahagiaan karena telah mengakhiri rentetan kejahatan, wanita yang selama ini selalu dia agungkan.
"Leona!" pekik Roland. Pria itu melesat untuk menahan tubuh Leona yang terlihat goyah dan tak imbang. "Kamu tidak apa-apa sayang?" Roland merengkuh tubuh yang nampak tegar. Namun, sebenarnya menyimpan luka.
"Leona baik-baik saja Kak," jawab Leona dengan senyuman mengembang. Melihat istri kecilnya menyunggingkan senyuman, Roland merekatkan dekapannya. Karena dia tahu bahwa istrinya itu tidak sedang baik-baik saja.
Anggota kepolisian dan ambulan datang secara bersamaan. Jasad Amber dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Dan pria yang membantu Amber dan tidak lain adalah sang adik, turut digiring dengan borgol yang melingkar di atas pergelangan tangan. Sementara Leona, dia turut dibawa oleh seorang petugas keamanan untuk dimintai keterangan.
Wanita muda itu tidak melepaskan senyuman di wajahnya. Terlebih saat sang ayah tercinta menyusulnya dan memberikan pelukan erat serta hujan kasih sayang. "Maafkan Papa, Nak. Demi Papa, kamu—"
"Leona tidak apa-apa, Pa. Ini tanda bakti Leona untuk Papa," jawab Leona penuh kekuatan.
Maria turut memeluk putri sambungnya. Dia tidak kalah terpuruk. Karena hari bahagia yang dia impikan, berakhir dengan segenggam duka dan nestapa. "Maafkan Mama juga, Nak. Ini gara-gara Mama menikah dengan Papamu. Andai Mama tidak menerima pinangan Papamu, kejadian memilukan ini pasti tidak akan terjadi."
Leona menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak Ma... tidak. Ini bukan salah Mama ... ini karena ibu kandung Leona sendiri yang memendam kebencian dan dendam di dalam hatinya. Semua sudah terjadi, Leona tidak menyesalinya."
Maria terisak akan jawaban yang terlontar dari mulut putri sambungnya. Genggaman tangan terlepas, Leona semakin jauh dari jangkauannya. Namun, matanya mendadak membola saat melihat raut kesakitan dari wajah Leona.
Leona meringis seraya memegangi perut buncitnya. Terlihat cairan bening mengalir dari atas paha ke atas betisnya. Kejadian pilu malam ini, menggoncang batinnya. Dia tiba-tiba merasakan kontraksi yang sangat dahsyat.
__ADS_1
Roland menyadari ada sesuatu yang tidak beres, dia berlari menghampiri sang istri lantas mengangkat tubuh lemah itu seraya berteriak dengan suara yang menggelegar. Seorang pria berseragam mempersilakan Roland untuk membawa Leona masuk ke dalam mobilnya. Guna membawa gadis muda itu ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Richard dan Maria turut menyusul Leona dengan Feliks sebagai sopir. Sedangkan Claire, dia memutuskan untuk menemani sahabatnya yang saat ini sama-sama membutuhkan dukungan.
...***...
Suara pria yang berkerumuk di atas lantai, bertambah sengau. Sekuat apa pun dia menahan untuk tidak menangisi masa lalunya. Namun, netra berwarna cokelat pekat itu tidak kering dari deraian kesedihan.
Kenyataan pahit mengenai mendiang istrinya, menorehkan kepedihan yang teramat sangat. Wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang hingga kini dia kagumi dan memiliki tempat tersendiri di dalam hati. Ternyata menyimpan sebuah misteri yang amat melukai nurani.
Tangisnya bersekat dengan erang kemarahan. Pikirannya tidak mampu memahami, kenapa wanita yang baginya begitu sempurna tega mengkhianati dirinya.
"Dosaku apa Rona, hingga Tuhan menghukumku sedemikian rupa?" Edward menatap sendu ke arah wanita di sampingnya. "Aku tahu ... aku manusia bejat, aku pria jahat, aku laki-laki brengsek. Tapi apa aku tidak berhak untuk bahagia?"
"Tapi mengapa ujian yang begitu berat seperti ini Rona? Apa Tuhan membenciku? Apa Tuhan tengah marah?" racau Edward karena terlalu banyak pertanyaan yang bertengger di dalam benaknya.
Rona menangkup wajah sembab suaminya dengan melemparkan tatapan dalam. "Dengarkan aku baik-baik, Edward. Tuhan tidak membencimu, justru Dia sangat menyayangimu. Kuatlah Edward... demi aku, demi anak-anak kita!"
Edward tersenyum kecut, pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. "Apa jangan-jangan anak yang kamu kandung itu juga bukan anakku? Apa mereka hasil hubungan gelapmu dengan seseorang? Karena keluargaku tidak ada gen kembar satu pun juga!"
Rona menganga terkejut dengan apa yang Edward katakan. Dia beringsut dari tempat duduknya dan berdiri menjauh dari pria yang akal sehatnya terganggu. "Kalau kita ke Indonesia, kamu akan mendapatkan jawabannya kenapa kita bisa memiliki anak kembar. Aku tahu kalau kamu tengah terpuruk. Tapi tuduhanmu itu sangatlah tidak beralasan. Perkataanmu benar-benar menghujam perasaanku, Edward!"
"Maaf Rona..." lirih Edward merasa bersalah.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sedang membutuhkan waktu untuk berpikir. Sebaiknya aku menjauh untuk sesaat. Agar otak sintingmu itu kembali waras!" Rona melangkahkan kakinya pergi dari Edward. Memberikan pria itu kesempatan untuk mencerna setiap ucapan dan menelaah kejadian yang sekarang ini menimpanya.
"Maaf ... aku tidak seharusnya melimpahkan kekesalan terhadapmu, Rona." Edward memeluk tubuh istrinya dari balik punggung. "Memikirkan kenyataan yang baru aku ketahui membuat otak sintingku ini semakin sinting." Edward mengeratkan pelukannya, berharap Rona luluh dan tidak jadi meninggalkannya.
"Aku lapar... aku mau makan. Si kembar kelaparan," rengek Rona manja. "Lepaskan aku, aku mau ke kantin. Lebih baik aku melampiaskan kekesalan pada makanan. Dari pada seperti kamu, bicara ngawur dan tidak jelas!" sungut Rona gemas.
Edward terkekeh lalu memutar tubuh sang istri dan kembali mendekapnya. "Aku beruntung memilikimu, Rona. Di saat aku menyebalkan seperti ini, kamu masih bisa meredam amarah dan egomu. Terimakasih sayang... sekali lagi maafkan aku, mau kan?"
"Mau... asalkan ...."
"Asalkan apa sayang?" sahut Edward lembut.
"Asalkan belikan aku makanan yang sangat... banyak. Bayi kembar kita kelaparan," rajuk Rona pada suaminya.
Edward mengangguk lantas memberikan Rona hujan kecupan di wajahnya. "Tunggu sebentar ya...."
Edward berjalan beberapa langkah, dia tiba-tiba mematung sebab berpapasan dengan laki-laki yang sangat dia benci.
...*****...
...Mohon maaf kemarin hanya Up satu bab, karena baru pulang jam 12 malam. Jadi sudah susah buat diajak mengkhayal isi kepalanya 🤣🙏...
...Terimakasih banyak yang berkenan memberikan VOTE, kalau pun tidak terpenting terus dukung novel author remahan ini 🥰🙏...
__ADS_1