Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Rona Menggila


__ADS_3

...Masih edisi hot pengantin baru. Yang tidak kuat, silakan melambaikan tangan lalu dadah-dadah ke kamera....


...*****...


Bibir mungil dengan lidah tipis menggelitik dada bidang dan perut kotak-kotak. Tangannya menjelajah ke seluruh tubuh suaminya. Jemari lentik mulai menurunkan tautan celana panjang. Rona menarik penutup tubuh bawah suaminya. Napas Edward mulai tak beraturan, dia tahu pasti apa yang akan istrinya lakukan setelah ini.


Rona melepas kain terakhir dari tubuh suaminya. Lalu dia kembali merangkak kemudian duduk di atas pangkal paha. Edward mendongak saat miliknya menembus ruang sempit, Rona menggigit tipis sudut bibir menahan perih. Namun hawa panas di sekujur tubuh mengalahkan rasa sakitnya.


Rona mulai menaik turunkan pinggangnya dengan ritme cepat. Bibir cherry mengeluarkan suara-suara seksi bertimbalan dengan suara berat yang bertambah serak.


"Ah... yash, baby..." racau Edward. Permainan kali ini berada dalam kendali Sang istri. Edward hanya tidur terlentang menikmati gesekan pada kepemilikannya. Tangannya asyik meremass dua gundukan yang bergerak ke atas dan ke bawah. Lalu memilin papilla.


"Kiss me, honey...!" oceh Rona, namun Edward bergeming. Terdengar lenguhan panjang dari bibir Rona yang melepas puncak gairah. Tubuhnya mengejang lalu ambruk di atas dada Sang suami.


Edward membalikkan posisi, kini dia berada di atas tubuh Rona. Memaju mundurkan miliknya, memompa dengan cepat. Tangannya mencengkeram korpus yang turun naik karena deru napas. Bibirnya menyesap ceruk leher, menggigit kencang. Rona hanya bisa pasrah meloloskan rintihan dan rauhan, karena sengatan yang menjalari titik-titik sensitifnya.


Tubuh Edward menggelinjang seraya menekan kuat miliknya agar semakin dalam dan menusuk endometrium. Dan untuk kesekian kalinya benih cinta tertanam di dalam rahim istrinya.


"Terimakasih sayang... maafkan suamimu yang usil ini." Edward mengecup bibir Rona sekilas, lalu turut membaringkan tubuhnya di samping Sang istri.


Dia menatap dalam, raut gelisah yang tergantikan lelah. Sapuan napas menghembus kasar. Edward tersenyum dengan segala yang terkata di dalam benaknya.


"Tuhan telah menghadirkanmu untukku, aku akan menjadi pria yang tak tahu diri. Bila menyakiti wanita sebaik dirimu, My wife."


...***...


Pagi kembali hadir, menyambut alam semesta beserta keindahannya. Mengawali hari baru setelah malam merentang langit. Kini bias berwarna biru dan percikan sinar mentari, mewarnai alam raya yang membentang luas.


Sepasang kelopak mata mengerdip lalu membuka dengan perlahan. Memandang sayu, langit kamar yang menjadi saksi biksu pergumulan dan rauhan dari dua insan dimabuk birahi.


Lengan panjang dengan jemari lentik meraba-raba tempat kosong di sampingnya. Dia mencari sosok pria yang sudah resmi menjadi pasangan hidupnya.


"Edward...?" Rona memutar kepala, sayangnya dia tidak mendapati pria yang dicari.


Matanya mengitari seisi ruangan mencari keberadaan Edward, namun tidak terlihat batang hidung lelaki itu. Pintu kamar mandi pun terbuka tanpa siapa pun di dalamnya.


"Kamu kemana?" lirih Rona. Mata sayu dan wajah muram, melepas tetesan hujan kesedihan. Hatinya pilu, ditinggal pergi oleh suaminya seorang diri.


Rona hendak meraih ponsel di atas meja sudut, namun matanya menangkap kertas putih dengan pena hitam di atasnya.


...Sayang... maaf aku pergi tanpa izin....

__ADS_1


...Aku ada urusan yang sangat penting....


...Hari ini kamu pulang ke apartemen dengan asistenku....


...Tunggu aku pulang ya......


...With Love...


...Your Lovely Husband...


Rona meremass kertas tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah. Dia merebahkan tubuhnya seraya melepaskan kepalan ke atas ranjang.


"Huh... punya suami kadang romantis, kadang mengesalkan. Masa aku ditinggal sendiri di kamar Hotel. Awas saja, nanti malam tidak akan kuberikan jatah!"


Saat pikirannya mengawang, terdengar suara ketukan pelan dan berjeda. Rona mengenakan bathrobe lalu berjalan untuk membuka pintu. Terlihat kini senyuman manis terukir dari paras tampan namun tak mampu meluluhkan hatinya. Pria di hadapannya berdiri mematung dengan menelan salivanya kasar. Debaran di dalam hati sulit dikendalikan, terlebih saat matanya memindai tanda merah yang tercetak di ceruk leher.


"Boleh aku masuk?" tanya Feliks. Tidak tahu mengapa pertanyaan itu muncul begitu saja.


"Ma- masuk?" Rona terbata-bata. Dia menatap ke arah kamar dan melihat ke arah Feliks yang memandangnya dengan raut mengharapkan sesuatu.


"Iya, masuk..." jawab Feliks. Dia hendak menerobos masuk meski tanpa diizinkan, namun tangan Rona menghalangi langkahnya.


"Tunggulah 30 menit di luar, aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu," titah Rona yang menutup kembali pintu kamar, namun kaki seseorang menahannya.


Rona mengangguk lalu merapatkan daun pintu dan menguncinya.


"Huh... sepertinya aku benar-benar harus menjaga jarak dari dia..." gumam Rona seraya mengusap dadanya.


...***...


"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku!" bentak Edward dengan mencengkeram kasar rahang pria yang matanya pecak.


"Saya tidak akan mengatakannya, sampai mati sekali pun!" jawab pria tersebut.


Edward memberi kode kepada anak buahnya, menyuruh untuk memberikan sedikit pelajaran pada tiga pria di hadapannya, menggunakan kabel yang berisi aliran listrik.


Semua berteriak dengan tubuh kejang-kejang karena sengatan. Kabel dilepas, tubuh mereka terkapar lemah dengan kesadaran yang mulai menurun.


"Masih ingin bermain-main denganku?" Edward menarik kerah jaket, memaksa pria itu mengangkat wajahnya. Namun tidak ada jawaban karena dia lebih dulu pingsan.


"10 menit lagi, siram cecunguk-cecunguk ini, saya sedang menunggu anggota lain yang tengah membawa kejutan untuk para bedebah ini!"

__ADS_1


"Siap, Bos!" jawab salah satu piaraannya.


10 menit kemudian


Byurrrr!!!


Tiga penjahat mulai sadarkan diri. Mereka diikat di atas kursi yang menghadap arah pintu. Tubuh mereka masih lemas, dengan kepala merunduk. Namun ketika suara pekikan dari orang-orang tercinta menggema, ketiganya tercengang dan mulai melakukan perlawanan. Namun sayang tubuh mereka terikat sangat kuat.


"Kalian pasti tahu siapa mereka. Ada istri tercinta, anak-anak yang lucu dan tanpa dosa. Bagaimana jadinya—"


"Mau kamu apakan mereka? Urusanmu hanya denganku!" geram Si penjahat.


"Aku hanya ingin sedikit bermain-main. Coba lihat, istrimu itu masih muda, masih ranum—"


"Jangan pernah sedikit pun menyentuh kulit istriku, atau—"


"Atau apa?" potong Edward. "Bahkan kamu sendiri lemah tidak berdaya!" cibir Edward menekan perasaan.


"John, eksekusi mereka!" titah Edward pada anak buahnya. Jeritan-jeritan pilu perlahan menggetarkan para penjahat. Akhirnya mereka menyerah dan mengatakan siapa yang sudah memerintahkan dan membayar mereka.


Edward benar-benar terkejut saat nama seseorang mereka sebut. Selama ini pikirannya salah karena menuduh orang lain sebagai dalang atas semua kekacauan yang terjadi.


...***...


Apartemen Blue Kingdom


"Terimakasih Feliks..." ucap Rona lalu menarik handle pintu mobil.


"Rona..." panggil Feliks.


"Ya?" sahut Rona.


"Kalau satu waktu Edward membuatmu kecewa, datanglah padaku."


Rona mengatur napas, dia tidak ingin terpancing karena perkataan laki-laki yang masih saja mengharapkannya.


"Maaf Feliks, bagiku pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup. Lebih baik kamu mencari wanita lain yang bisa membalas cintamu!" Rona membuka pintu lalu menutupnya dengan kencang.


"Aku tahu aku salah Rona, kini kamu sudah menjadi istri Edward. Namun di dalam hatiku hanya namamu yang tertulis...."


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih atas semua dukungannya Kak. Sehat selalu dan bahagia lahir batin....


__ADS_2