
Tidak tahu berapa banyak perempuan yang singgah di hidupnya. Namun, hatinya kini hanya terpaut pada satu wanita. Wanita yang memiliki mata yang jernih sejernih hatinya. Meski terkadang terlintas akan rasa takut bila suatu saat kenangan kelam di masa lalu datang mengganggu kebahagiaan, tetapi dia yakin bila dihadapi bersama semua akan terlewati dengan mudah.
Rasa percaya yang sebenarnya masih sebatas titik, tidak menggoyahkan hati seorang Rona. Dia harus siap menerima apa pun akan masa lalu pria yang akan menjadi pasangannya. Mencintai bukan sekedar menerima kelebihan. Namun, mesti sejalan dengan kekurangan.
"Coba tebak aku siapa?" tanya Edward dengan kedua telapak tangan menutupi mata Rona. Kekasihnya tertawa kecil sembari meraba-raba punggung tangan.
"Em... siapa ya?" Rona pura-pura berpikir. "Park Seo Joon?" Rona menyebutkan salah satu nama aktor drama Korea.
"Siapa itu Park, apa tadi?"
"Park Seo Joon," ulang Rona. "Itu aktor drama Korea. Tampan, kharismatik, badannya tegap, punya roti sobek..." jawab Rona yang membuat Edward mengerucutkan bibir. Dia melepas tangannya lalu berdiri di hadapan Rona.
"Apa aku kurang tampan, tidak punya kharisma, badan reot dan perut buncit, sampai-sampai kamu memuji pria lain di depanku hm...?"
Edward membungkukkan badan lalu merapatkan wajah hingga tidak ada celah selain tarikan napas. Rona gelagapan, meski Edward sudah sering mencumbunya, tapi tetap saja jantungnya berdebar sangat cepat.
"Em... kamu tampan, kharismatik, hot dan tubuh kamu—?"
"Tubuhku apa?" sela Edward.
Rona dibuat mati kutu dan dia terus saja mengerjapkan mata karena salah tingkah. "Tubuh kamu menggairahkan."
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Rona. Dia menutup mulut seketika menyadari perkataannya yang terlampau berani.
Edward menggigit bibir lalu mengendus-ngenduskan napas di leher Rona, jiwa kelelakiannya naik begitu saja karena perkataan Rona seolah membangkitkan gairah yang terpendam.
"Kamu harus bertanggungjawab, sayang..." desahh Edward. Dia melumatt telinga gadisnya hingga menimbulkan suara parau dari bibir Rona. Edward semakin bersemangat. Namun, pengganggu datang di saat yang tidak tepat.
"Hai Hon—" Miranda memotong ucapannya. "M- maksud saya Sir Edward."
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, Miranda?" geram Edward. Ini ruang pricavy-ku, harusnya kamu tahu itu!"
"Ma- maaf Sir Edward, saya hanya ingin memberikan data mahasiswa yang kemarin anda minta." Miranda menyerahkan tumpukan kertas putih lalu menyimpannya di atas meja. Ada raut gusar yang menyelimuti wajah Edward. Tanpa sepatah kata apa pun, Miranda pergi dari hadapan pria yang dicintai.
"Terima kasih Miranda. Maafkan tunangan saya ya, suasana hatinya sedang tidak baik," ujar Rona yang mencium bau tak sedap hubungan antara Edward dan asistennya.
Miranda menoleh ke arah Rona lalu menganggukkan kepala. Dia keluar dari ruangan Edward menahan air mata yang bergelayut di bawah kelopak.
__ADS_1
Edward mendekati Rona, lalu tiba-tiba memeluknya. Pelukannya terasa berbeda. "Maaf...."
"Maaf untuk apa sayang...?" Rona merangkum wajah Edward, mencari netra mata berwarna cokelat pekat. Akan tetapi Edward tidak berani memperlihatkan wajahnya.
"Maaf... karena aku bukan laki-laki yang baik," jawab Edward menunduk.
"Aku menerimamu saat ini dengan semua masa lalu. Aku tak peduli itu. Asalkan—" Rona menjeda perkataannya. "Asalkan tidak akan ada lagi ruang untuk wanita lain di hati dan hidupmu. Hanya aku, cukup aku," tegas Rona.
Edward menegakkan wajahnya lalu menggerakkan kepala ke bawah. Dia meleburkan kegundahan dalam dekapan wanita yang dia cintai. Meski dia tahu melerai kehidupan kelabu di masa lalu, tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Sayang... katanya mau membawaku ke suatu tempat," rengek Rona karena sesak dipeluk dengan erat. "Yuk! Aku sudah tidak sabar nih. Penasaran tempat apa yang ingin kamu tunjukkan!" Rona melepaskan dekapan Edward dari tubuhnya.
Senyum simpul menghiasi wajah Edward, dia langsung bergerak secepat mungkin, merapikan meja kerja dan berkas-berkas yang harus dia pelajari. Lalu bersigera meninggalkan kampus menuju tempat yang sebetulnya tidak ingin dia pijak.
...***...
Byuuur...!!! Claire menyiram tubuh Feliks yang masih terlelap di atas sofa. Feliks mengap-mengap seperti ikan lohan yang kehabisan udara. Dia terbangun seketika seraya menatap ke sekeliling ruangan yang sangat asing di matanya. "Aku ini di mana?"
"Di Neraka!" jawab Claire ketus.
"Kenapa aku ada di—" Feliks tidak melanjutkan perkataannya karena melihat tubuh atasnya tak berbalut sehelai benang pun. "Kenapa aku telanjang dada begini?"
Claire mendorong kening Feliks dengan jemarinya. "Hallo... sadarlah Tuan Feliks, jangan terlalu banyak berhalusinasi! Nanti cepat gila!"
"Apa kamu bilang?" Feliks menarik lengan Claire dan membuat gadis di samping terjatuh menimpa tubuhnya. Bersamaan dengan Nath yang baru saja datang dan membuat dia salah sangka.
"Claire! Feliks! Kalian?" Nath menyalang ke arah Claire dan juga Feliks secara bergantian. "Apa yang kalian lakukan berdua di kamar?"
"Menurutmu apa?" sahut Claire yang tak kalah geram.
"Ka- kamu!" Nath menunjuk ke arah Claire menahan kecewa.
"Aku tak percaya ini, Claire! Bisa-bisanya kamu dan pria ini...!" Nath menahan ucapannya. "Aku kecewa, Claire...."
Nath menarik tubuhnya dengan perasaan yang remuk redam. Melihat Claire dengan pria lain berpelukan di dalam kamar, api cemburu membakar dirinya. Sehingga dia lupa, kalau dia sering kali bermain api dengan wanita lain dan tidak peka terhadap perasaan Claire.
"Sorry sudah membuat hubungan kamu dan Nath menjadi bersitegang," ucap Feliks yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak usah dipikirkan, lebih baik sekarang kamu bangun lalu mandi. Dan sesegera mungkin pergi dari apartemenku. Sebelum semua orang ikut-ikutan salah paham!" titah Claire sembari memberikan t-shirt miliknya.
"Apa ini?" Feliks membuka lipatan kaus berwarna merah muda dengan gambar sailor moon di tengahnya.
"Pakai saja, jangan banyak protes! Pakaianmu masih basah karena semalam kamu mabuk berat terus muntah-muntah. Tuh kemejamu masih menggantung di balkon!" Claire menunjuk kemeja berwarna biru yang dia cuci menggunakan tangannya.
"What, pakai kaus ini? Yang benar saja!"
Claire menarik pundaknya ke atas lalu meninggalkan Feliks yang tengah menggerutu. "Terserah...!"
...***...
Tempat ini dulu menyimpan canda dan tawa, kini bak rumah kosong tak berpenghuni. Rumput tinggi dan cat dinding yang usang, membuat orang yang melihatnya ikut tersayat.
"Rumah siapa ini, Edward?" tanya Rona yang bergidig memperhatikan kondisi di sekitarnya.
"Kita lihat saja nanti..." jawab Edward.
Rona menurut saja apa yang dikatakan Edward dengan berjalan beriringan. Seraya menatap heran pada tempat yang membuat hatinya terasa terenyuh.
Edward mengetuk pintu dan keluarlah seorang wanita paruh baya.
"Kamu! Mau apa ke mari? Saya sudah berkali-kali memperingatkan, jangan pernah menginjakkan kaki kotormu lagi di rumah ini!" berang wanita yang berdiri di samping pintu.
"Maaf, Mam... Edward—"
"Kalau kamu mau bertemu Ezio, nanti saya yang akan mengantarkannya sendiri! Sekarang pergi kamu!" usir wanita yang dahulu pernah menyayangi Edward.
"Edward ingin berbicara dengan Mama, tolong beri Edward kesempatan, sekali ini... saja."
Maria menghela napas dan akhirnya mengizinkan mantan menantunya masuk ke dalam rumah, meski tanpa mempersilakan untuk duduk.
...*********...
...Bagaimana hari teman-teman semua? Semoga menyenangkan ya......
...Terimakasih yang selalu setia dengan novelku ini, semoga selalu terhibur dan menjadi teman di kala waktu senggang....
__ADS_1
...Dan semoga berkenan untuk memberikan dukungan lebih pada karya Senja, dengan memencet tanda LOVE, meninggalkan like, memberi komen, memberi VOTE dan rate 5 bintang....
...Haturnuhun......