
Malam tahun baru yang dibayangkan akan menjadi malam yang indah, ternyata hanya menyisakan kisah suram dan kelabu. Memberi kenangan yang menyakitkan sekaligus membuat hidup seseorang terguncang. Wanita mana yang bisa menerima takdirnya, bila mendapatkan perlakuan tidak hormat dari seorang pria yang bahkan tidak dia kenal sama sekali?!
Namun hidup harus terus berjalan, meski menyimpan kesakitan yang teramat sangat. Hidup harus terus bertahan, meski dunia menyeringai merendahkan. Menatap dengan sebelah mata.
"Kamu baru pulang Rona?" tanya seorang sahabat yang juga teman satu kamarnya.
Rona mengangguk lesu, dia saat ini butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua kemalangan yang bertubi-tubi terjadi kepadanya.
"Rona kenapa? Apa ada sangkut pautnya dengan Roy?"
Gadis yang sangat terpukul akan malam dan pagi penuh nista, menghiraukan sahabatnya yang memandangi dengan ribuan pertanyaan. Dia melesap ke dalam kamar, lalu memutar kunci yang menggantung di daun pintu.
Airmata yang sempat mengering, kini kembali berderai. Dia membenamkan wajahnya di antara lutut di bawah kucuran air yang mengalir deras lalu merintih.
"Mengapa harus aku Tuhan...?"
"Mengapa harus aku?" ratap Rona penuh getir.
Sahabatnya yang bernama Claire mengkhawatirkan gadis yang sedari tadi berdiam diri di kamar. Dia menggedor-gedor pintu. Namun, Rona tidak juga membukanya. Akhirnya dia menelepon Nath, sahabat mereka berdua.
Claire
Nath, please ke apartemen Rona sekarang juga!
Nath
What's wrong, Claire?
Claire
Rona sudah dua jam tidak keluar kamar, aku khawatir akan kondisinya
Nate
Oke, aku ke sana sekarang!
5 menit kemudian ...
"Kenapa Rona, Claire?" tanya Nath cemas.
"Aku tidak tahu Nath, semalam dia tidak pulang. Pagi ini dia baru kembali ke apartemen dengan kondisi yang sangat kacau. Wajahnya pun pucat pasi. Aku mau mengintrogasinya, tapi dia sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Aku... aku menggedor pintu dari tadi tapi Rona tidak ada sahutan. Aku khawatir Nath, ada hal buruk yang terjadi pada sahabat kita itu!"
"Tarik napas, Claire. Lalu hembuskan...!" titah Nath yang mendengar cerocosan Claire tanpa bernapas.
"A-aku sangat cemas Nath, Rona baru kali ini mengurung diri," lirih Claire sembari memainkan kukunya. "Aku juga tidak punya kunci cadangan, kamu dobrak saja pintunya!" titah Claire.
__ADS_1
Nath mengangguk, dengan tubuh kekarnya dia menghantam pintu kamar beberapa kali dan akhirnya pintu itu pun terbuka. Dia dan sahabatnya tidak menemukan keberadaan Rona di dalam kamar yang ranjangnya masih rapi seperti semula.
"Kemana Rona?" tanya Claire tawar hati.
"Kamar mandi!" ucap Nath yang langsung berjalan ke arah ruangan dingin dan lembab itu.
Mata keduanya menyalang karena mendapati Rona yang terpejam dengan tubuh melungsur di atas lantai dan air terus saja mengaliri raga yang tidak berdaya.
"Rona!" panggil Nath terkejut, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Rona dan membawanya ke atas ranjang.
"Claire, cepat ambil pakaian kering. Aku akan mengganti pakaian Rona yang basah!"
"E- e- eh ... kenapa kamu menarik kupingku?" keluh Nath.
"Bagus... teman kita lagi dalam kondisi terkulai, terus kamu mau memanfaatkan keadaan?" tegur Claire yang terus saja menarik cuping telinga Nath hingga memerah.
"So- sorry aku salah ucap!" bela Nath.
"Dasar buaya!" cibir Claire.
"Keluar! Dan tunggu di belakang pintu!" usir Claire yang akan mengganti pakaian Rona.
"Tidak bisakah aku menunggu di sini?" tanya Nath bergurau.
Nath menahan tangan Claire dan menggenggamnya dengan erat. Kedua pasang jendela jiwa saling melempar tatap, menelisik ke dalam titik yang membesar. Menelaah dan mencari sumber kebahagiaan yang bermuara dari dasar hati.
"Ma- maaf!" ucap Nath gugup.
"Ka- kamu tunggu di luar. Kasihan Rona nanti bisa sakit kalau kita telat menolongnya," jawab Claire terbata-bata.
Nath mengangguk dan Claire menutup pintu. Dia menyandarkan punggungnya dan menarik napas dalam-dalam seraya menyentuh jantungnya yang berdegup kencang.
"Perasaan apa ini?"
"Tidak-tidak ... jangan berpikir macam-macam, kondisi Rona lebih utama untuk saat ini!"
Claire mendekati Rona yang masih terkapar tak berdaya. Dengan telaten dia membuka dan mengganti pakaian yang basah kemudian menggantinya dengan pakaian yang kering.
"Aku sudah selesai, bisakah kamu ambilkan air hangat untuk mengompres?" tanya Claire lembut seraya menyembulkan kepala dari balik pintu pada laki-laki yang tengah menunggu dengan gusar.
"Tentu saja sayang," goda Nath dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga... mimpi apa aku semalam?" batin Claire menatap punggung laki-laki yang berjalan dengan tegap.
Claire menjaga Rona semalaman dengan intens. Memberi kompresan di bagian-bagian lipatan tubuh untuk meredakan demamnya. Terlalu lama dalam kondisi badan basah kuyup, dengan air yang mengalir tiada henti mengakibatkan suhu tubuh Rona meninggi ke angka 38 derajat celcius. Selain itu, badannya pun menggigil dengan bibir yang memutih. Wajahnya sangat pucat, dia terlihat seperti seorang mayat hidup.
__ADS_1
.
.
Malam kelam telah terlewati, suhu tubuh yang meninggi kini sudah berangsur normal. Penglihatannya terbuka lebar dengan sinar mata menangkap dua orang yang tengah tertidur bak bayi tanpa dosa. Senyuman tulus terbit dari bibir yang masih pucat pudar.
"Claire..." panggil Rona dengan suara parau.
"Nath...!" panggilnya secara bergantian.
Namun, kedua sahabatnya masih tidak ingin beranjak dari dunia mimpi. Rona mengukir senyum dan mengucap syukur karena di dunia ini masih banyak yang menyayanginya dengan tulus hati.
Gadis yang masih terbaring, telah memantapkan hati untuk melupakan malam terkutuk itu. Dia menganggapnya hanya sebagai mimpi buruk yang telah berakhir dan tidak akan terulang.
"Claire... Nath...!" panggilnya sekali lagi.
Empat mata yang terpejam, mengerjapkan kelopak mata lalu membulatkan penglihatan. Bibir tertarik ke kedua sisi memperlihatkan kebahagiaan. Kekhawatiran yang mengusik minda berlalu secara perlahan. Yang tertinggal hanya jiwa-jiwa keingintahuan yang tinggi karena keadaan wanita di hadapan mereka membuat otak bertanya-tanya.
"Rona, syukurlah kamu sudah siuman," ujar Claire yang langsung memeluk tubuh ringkih sahabatnya.
Nath yang melihat kedua sahabatnya berpelukan, dia pun berinisiatif untuk memeluk keduanya. Namun sebuah pukulan keras mendarat tepat di perutnya.
"Why, Claire?" protes Nath.
"Dasar laki-laki mata keranjang, sahabat mau diembat juga!" sungut Claire.
Rona hanya tersenyum simpul melihat perdebatan dua kurcaci di depannya. Dia tahu bahwa mereka menyimpan perasaan satu sama lain. Namun, memilih untuk memendamnya demi persahabatan agar tetap utuh.
Ya ... bagi mereka ikatan persahabatan lebih penting dibandingkan memaksakan ego kepada hati yang mereka cintai. Mereka memilih mencintai dalam diam dan berucap dari hati ke hati. Berkata dari mata ke mata.
"Sini Nath, kita berpelukan seperti 'Teletubbies'...!" tawar Rona yang dibalas dengan wajah penuh binar.
Nath menghampiri kedua sahabatnya dan memeluk mereka dengan erat. Namun, ada getaran yang berbeda saat tangannya menyentuh pundak Claire. Rasa bahagia dengan perasaan gugup bercampur menjadi satu.
.
.
...***...
...Btw suka nggak sama jalan ceritanya? Hihihi ... mudah-mudahan teman semua bisa menyukai Novel kedua dari Author Senja Merona ya dan berkesan di dalam hati...
...Jangan lupa untuk memberikan Author dukungan berupa favorite, like, comment, vote dan rate 5 stars...
...Haturnuhun...
__ADS_1