Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kenyataan Pahit untuk Claire


__ADS_3

"Ini berkas-berkas asli ... di tanganmu itu yang palsu, Tuan Nath Lucano!"


Orang-orang yang berkompeten mulai memeriksa berkas-berkas yang dimiliki Nath dan Edward. Terlihat raut gelisah dengan wajah yang mulai basah oleh keringat. Nath semakin gusar saat melihat tatapan tak ramah yang ditujukan padanya.


"Apa-apan ini?" Lembaran kertas yang telah di periksa berhamburan di depan wajah Nath.


Nath yang tidak menyangka karena berniat menghancurkan Edward, malah reputasinya yang hancur lebur. Dia menyerang Edward, menarik kasar kerah kemejanya meluapkan kekesalan. "Dengarkan aku baik-baik Edward Liam, sampai mati pun aku tidak akan pernah rela laki-laki bejat sepertimu menikahi wanita sebaik Rona!"


"Tidak usah banyak bicara, katakan semua pembelaanmu di depan sahabat-sahabatmu. Kita lihat bagaimana reaksi mereka nanti!"


Federal Police negara setempat yang sudah disiapkan Edward untuk menangkap Nath, kini melingkarkan borgol ke kedua tangan Nath. Mereka membawanya menuju kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Tunggu sebentar, beri saya waktu satu menit," pinta Nath yang mendapat persetujuan.


Nath berjalan mundur kemudian menggumamkan kalimat yang ambigu. "Masih ada kejutan lain yang tengah menanti. Semoga kamu kuat saat mengetahui fakta tentang Leona, adik tirimu!"


"Ma- maksudmu apa, hah?" Edward menarik jas Nath dan siap melayangkan pukulan, tetapi polisi menahannya.


Nath tertawa puas. "Tanyakan saja pada adik kesayanganmu itu, apa yang telah terjadi di antara kami berdua!"


Edward hendak menanyakan penjelasan dari selorohan Nath. Namun, pria itu telah lebih dahulu bergerak dengan langkah yang cepat. "Apa maksud pria bajingan ini, apa ada hubungannya dengan kondisi Leona yang...."


...***...


Kabar mengenai penangkapan Nath atas tuduhan penipuan dan upaya pembunuhan, merebak dengan cepat. Berita itu sudah sampai ke telinga Claire. Dan saat itu juga dia langsung bertolak ke kantor polisi untuk menemui Nath dan meminta penjelasan.


Sementara Rona yang tengah disibukkan dengan urusan Leona dan urusan dirinya sendiri, mengabaikan dentingan telepon yang mengganggu pendengaran. Dia memilih mematikan data dan juga menonaktifkan suara.


Gadis manis duduk gelisah seorang diri. Wajah memutih dengan tangan yang tidak berhenti memainkan kuku-kuku untuk meredakan keresahan. Keringat dingin membasahi pelipis, menunggu seorang pria yang masih singgah di hatinya. Mata mengembun, hatinya terenyuh saat tubuh kokoh itu mengenakan baju tahanan dengan kedua tangan diborgol.


"Benarkah itu Nath, kamu adalah dalang dari semua kejahatan itu?" tanya Claire langsung pada intinya.

__ADS_1


"Menurutmu?" Nath balik bertanya.


"A- aku tidak percaya kalau kamu bisa berbuat sejauh itu," imbuh Claire. Dia mencari jawaban di dalam manik mata Nath. Namun, hati pria di hadapannya sangat sulit untuk diselami.


"Bahkan kejahatanku bukan cuman itu!" Nath menyondongkan wajahnya ke wajah Claire lalu berbicara dengan nada rendah. "Aku bahkan telah menodai Leona dan menyetubuhi ibunya."


Mata yang menggembun, kini mengaliri wajah berderai tanpa jeda. Ada rasa sakit dan sesak menekan ulu hati. Menikam perasaan cinta yang masih tersisa untuk pria di hadapannya.


"Ke- kenapa Nath kamu bisa sekejam itu?" Claire tersedu. "Bahkan aku yang sudah lama mengharapkan cintamu, malah tidak kamu pedulikan!"


Nath terpingkal. "Selama ini yang aku cintai hanya Rona. Ya hanya Rona, bukan kamu! Setelah tahu dia memutuskan untuk menerima pria bajingan itu, dendamku semakin memuncak!"


Kenyataan pahit yang bertubi-tubi, begitu melukai hati Claire. Selama ini dia telah salah mengartikan sikap dan perhatian Nath terhadapnya. Dia pikir Nath memiliki perasaan yang sama, tetapi firasatnya salah.


"Semoga selamanya kamu mendekam di balik penjara, pria jalangg!" Claire menyeka air mata yang sia-sia dia tumpahkan untuk pria yang tidak pantas untuk ditangisi.


...***...


"Fiona... tolong bantu putriku masuk ke kamarnya!" titah Richard yang duduk lesu di atas sofa. Sementara Rona, dia pamit masuk ke kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, kamarnya kosong. Dia beralih menuju ruang kerja lalu mengintip dari celah jendela, terlihat wajah suaminya yang nampak gusar dan tertekan.


"Kamu membuatku khawatir sayang..." ucap Rona lembut. Dia memijat kepala Edward dan lelakinya menikmati pijatannya.


Pijatan Rona dari kepala turun ke pundak lalu ke tengkuk. Edward memejamkan mata merasakan tiap sentuhan dari jemari istrinya.


"Maaf... aku banyak sekali pekerjaan sayang. Jadi tidak sempat ke Rumah Sakit." Edward menggenggam jemari Rona.


"Tidak apa-apa, asalkan kamu mengabariku!" sahut Rona.


"Aku berkali-kali meneleponmu sayang, tapi handphone-mu tidak aktif." Edward memutar kepala lalu mengecup tipis bibir Rona.


Rona menepuk jidat. "Astaga... aku lupa mematikan suara dan datanya!" Dia merogoh ponsel dari dalam tas lalu mengaktifkan data seluler, nampak puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan masuk. Dia membuka satu persatu, hingga sampai pesan dari Claire menghenyakkan perasaannya. Benda pipih lepas dari genggaman dan terjatuh ke atas lantai.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Edward berdiri.


Edward memutar tubuh Rona lalu menyejajarkan dengan posisinya. Rona mengangkat kepala, matanya berkabut kesedihan.


"Jadi Nath yang melakukan itu semua padamu? Jadi Nath yang hampir saja menggagalkan acara pernikahan kita? Jadi sahabatku sendiri yang...."


Rona tidak kuat untuk meneruskan perkataannya. Tangisnya berderai, isaknya memecah lara. Tubuhnya bergetar, Edward menelungkup raga sang istri yang tiba-tiba rapuh.


"A- aku tidak habis pikir kalau Nath bisa setega itu. Dia sahabatku tapi dia telah mengkhianati kepercayaan!"


Edward mengusap rambut Rona lalu mencium keningnya. "Maafkan aku karena telah menjebloskannya ke dalam penjara...."


"Kenapa harus minta maaf, dia berhak mendapat balasan yang setimpal!" geram Rona. "Besok aku akan menemuinya di penjara, aku butuh penjelasan mengenai semua ini. Boleh, kan?" Rona menunggu persetujuan Edward, memindai wajah keraguan dari raut suaminya.


"Boleh, kan?" tanya Rona kembali.


Edward dengan terpaksa mengangguk, mengiyakan permintaan sang istri. "Tapi besok ditemani Feliks ya, jangan pergi sendiri!" Edward mencolek hidung Rona.


"Fe- Feliks?" ulang Rona memastikan.


"Iya Feliks... asisten sintingku. Kenapa, kamu keberatan sayang?"


"Ti- tidak. Lagi pula aku sudah terbiasa, kan ditemani asistenmu itu? Kamu selalu sibuk." Rona merajuk.


Melihat Rona yang bersikap manja, gairah sebagai pengantin baru terpancing tiba-tiba. Edward mendorong tubuh istrinya dan memojokkannya ke atas dinding.


"Kita buat anak lagi biar cepat jadi! Aku sudah tidak sabar ingin melihat kamu dengan perut gendut dan pipi bakpau."


...*****...


...Terimakasih banyak yang masih setia dengan Novel ini. Maaf... kalau terkadang isi cerita tidak sesuai dengan harapan....

__ADS_1


__ADS_2