Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Mansion Emerald


__ADS_3

Di sudut kamar, seorang wanita tengah duduk meringkuk seraya memandang ke arah jendela yang mengembun. Tatapannya kosong, jiwanya melayang. Rasa sakit akan kehilangan, merenggut kebahagiaan dalam sekejap mata. Gelak tawa ceria pun tidak lagi terdengar. Hanya hampa dan sunyi melewati hari-hari.


"Sayang... kamu dari kemarin siang belum makan. Kasihan anak-anak di dalam perutmu, mereka pasti kelaparan," bujuk Edward seraya menyorongkan sendok berisi makanan. Rona menoleh sesaat lalu mendorong sendok tersebut.


"Aku tidak lapar, Edward. Aku tidak mau makan, aku hanya ingin Ezio kembali ke rumah ini. Ke dalam pelukan kita!" Perhatian Rona kembali ke semula, menatap jendela. Pikirannya berkelana jauh pada sang buah hati yang kini terlepas dari dekapan.


"Jangan menjadi ibu yang egois, Rona! Anak-anak di dalam perutmu memerlukan asupan makanan. Mereka pun berhak untuk kamu perhatikan! Jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti ini!" sungut Edward putus asa.


Rona melihat dengan ekor mata lantas mendelik kesal. "Aku atau kamu yang egois, Edward? Kamu lebih mementingkan dirimu sendiri dari pada kebahagiaan Ezio."


Edward mendengus, dia bingung menghadapi amarah Rona yang tidak juga reda. Terlebih sepanjang usia pernikahannya, baru kali ini mereka terlibat pertengkaran hebat. Dia dibuat kelimpungan lantaran usahanya untuk membuat Rona mengerti sangatlah susah.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, menurunkan tubuhnya kemudian duduk di samping sang istri. Dia berkali-kali membuang napas, mendinginkan otak yang kian memanas. "Bukan kamu saja yang terpukul, aku bahkan lebih terpuruk dengan semua yang terjadi. Tuhan seakan tengah menghukumku. Karena itu aku tidak mau bertindak gegabah. Tidak ingin kamu ataupun anak kita turut dalam bahaya."


"Kamu sedih karena kehilangan Ezio, apalagi aku? Meski secara biologis aku bukan ayahnya. Tapi, segenap perasaan, aku curahkan untuk anak itu. Anak yang selama ini membersamai kita."


"Tapi aku sadar ... aku tidak boleh larut dalam kesedihan karena ada kehidupan lain yang harus aku pikirkan. Kamu dan calon anak-anak kita." Edward menoleh ke arah Rona begitu pun juga dengan Rona. Dua pasang jendela hati bertemu, saling berbagi rasa meski tanpa kata. Mereka melebur apa yang tersimpan di dalam hati. Namun, tidak tersampaikan oleh mulut yang memilih kelu.


"Kumohon makanlah, demi anak-anak kita." Edward masih berusaha membujuk sang istri dan kali ini usahanya berhasil. Rona akhirnya luluh dan bersedia membuka mulutnya. Dia melahap semua makanan hingga tak bersisa.


Edward tersenyum bahagia lalu merengkuh tubuh sang istri dan melabuhkannya ke dalam kehangatan. Sudah dua hari semenjak anak sulung mereka pergi, Rona mengasingkan diri dan tidak ingin berbicara dengan siapa pun terutama dirinya. "Terima kasih sayang... kita hadapi semua ini bersama-sama. Aku tidak bisa menjanjikan Ezio akan bersama kita. Tapi aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik. Untuk kita berdua dan untuk Ezio."


Rona mendongak mencari wajah yang selalu dia rindukan. Tatapannya sayu, raut wajah dipenuhi kepahitan. Namun, senyum tipis yang bersarang di bibirnya cukup mengatakan kalau dia sudah bangkit dan siap menghadapi segala ujian hidup bersama sang pujaan hati.


"Kenapa melihatku seperti itu, Rona?" Edward yang sadar ditatap begitu lekat, dia menjadi salah tingkah. "Ja-jangan memandangiku seperti itu, sungguh aku malu!"

__ADS_1


Rona tergelak seraya menepuk-nepuk pipi Edward. "Sejak kapan kamu punya malu, hm...? Biasanya juga memalukan!"


Edward tidak menjawab selorohan Rona, dia mengangkat tubuh istrinya itu dan merebahkan di atas ranjang. Tatapannya yang dalam seakan mengatakan bahwa dia menginginkan sang istri saat ini juga. Namun, angannya pupus lantaran Rona kembali merengut. Dia masih ingin memberi hukuman pada suaminya karena membiarkan Roy membawa Ezio pergi.


"Tahan ... masih ada sisa satu minggu!! Kamu harus kuat tidak aku berikan jatah malam. Suruh siapa, menyebalkan!" ujar Rona seraya menunjuk-nunjuk ke arah dada Edward.


"Oke... oke aku mengalah, aku pasti kuat. Tapi ituku yang tidak kuat," rengek Edward melihat ke arah kepemilikannya.


"Itu sih deritamu, Edward! Sudah ah, aku mau mandi. Aku mau melihat Ezio!" ucap Rona tidak sadar.


"Melihat Ezio? Melihat Ezio ke mana, Rona?" tanya Edward terkesiap.


Rona menunduk lesu dan mendesah lemah. "Em... ke rumah om Theo, siapa tahu bisa melihat Ezio dari jauh. Aku merindukan anak kita, Edward. Aku tidak bisa berdiam diri terus-menerus seperti ini."


...***...


Mansion Emerald


"Ezio... sayang, lihat Suster Ana membawa makanan kesukaan Ezio. Ezio makan ya?" Seorang wanita paruh baya tengah merayu anak laki-laki yang terisak di atas ayunan. Semenjak kedatangannya di tempat asing ini, air mata tidak pernah kering dari indra penglihatan.


"Bagaimana Ana, apa Ezio mau makan?" tanya seorang wanita muda yang baru saja tiba di kediaman calon mertuanya.


"Nak Ezio tidak mau makan, Nona. Saya sudah membujuknya dari tadi," ungkap Ana bimbang. Dia takut Roy memarahinya lagi karena tidak berhasil membuat Ezio menghabiskan makanannya.


"Biar saya saja yang menyuapinya." Wanita yang mengenakan rok mini tersebut menarik piring yang digenggam oleh Ana.

__ADS_1


"Ta-tapi Nona Jessy ... nanti tuan Roy memarahi saya lagi kalau pekerjaan saya tidak selesai," sergah Ana berusaha menarik kembali piring makan milik Ezio. Namun, Jessy menahannya.


"Tidak apa-apa. Roy tidak akan memarahimu, Ana. Nanti biar aku yang memberi dia pengertian. Kamu lebih baik kerjakan tugas yang lain. Biar Ezio saya yang mengurusnya."


"Baik Nona kalau begitu, saya permisi kembali ke dapur." Ana membungkukkan badan lalu beranjak meninggalkan Ezio dan Jessy.


Jessy berjalan mendekati Ezio kemudian mengeluarkan mainan dinosaurus dari dalam goody bag yang dia tenteng. "Lihat ini sayang... Aunty bawa apa?"


Ezio membuang muka tidak sudi melihat ke arah Jessy. Dia tidak menginginkan apa pun karena yang dia butuhkan saat ini adalah kedua orang tuanya.


"Ezio rindu mommy Rona sama daddy Edward ya?" tanya Jessy kembali.


Mendengar nama orang-orang yang disayangi disebut, Ezio sontak memutar kepalanya. "Iya Aunty, Ezio rindu mommy sama daddy. Uncle Roy jahat Aunty ... dia selalu memarahi Ezio. Tadi pagi kaki Ezio dipukul pakai sapu."


Jessy merentangkan tangan merangkum tubuh Ezio. "Kasihan kamu... tapi kan sekarang ada Aunty Jessy yang menjaga Ezio. Selama ada Aunty tidak ada satu pun yang boleh menyakiti Ezio!"


"Nah sekarang... Ezio makan ya sayang. Kalau Ezio sakit, nanti mommy dan daddy pasti sedih." Jessy menyodorkan makanan ke mulut Ezio, anak kecil itu membuka mulut dengan senang hati.


Jessy mengusap-usap puncak kepala Ezio. "Good boy, ayo makan lagi!"


Jessy menyuapi Ezio sesuap demi sesuap, hingga makanan di atas piring tersisa sedikit. Ego yang mengharapkan Ezio menjadi putranya, terkikis oleh rasa belas kasih. Dia tidak tega kalau harus melihat Ezio terus menangis dan tertekan karena sikap Roy yang kasar.


...*****...


...Alhamdulillah.. sudah awal bulan lagi ya tidak terasa. Terima kasih untuk semua dukungan, sehat selalu untuk semua......

__ADS_1


__ADS_2