Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pelepasan Dahaga


__ADS_3

Saat gelora menguasai jiwa, pulanglah. Dekap tubuh hangat pasangan yang telah diikrar atas nama Tuhan dan janji suci pernikahan. Jangan biarkan ego dan nafsuu sesaat menguasai jiwa. Rengkuh cintanya dengan cintamu. Satukan kemelut yang melanda hati dalam satu ruang sempit namun berisi sejuta kenikmatan.


"Ah..." lenguhan panjang menggaung di seisi kamar, menyambut lelehan cinta yang sekian lama tak tersalurkan.


Mata Leona terbelalak karena belum habis rasa nikmat yang diberikan jari-jari Roland, kini benda tipis dan hangat tengah menari-nari di belahan titik sensitifnya. Pinggulnya bergoyang-goyang menahan sensasi yang diberikan suaminya. Bibirnya memekik nyaring, saat sesapan berubah menjadi gigitan.


"Kak..." lirih Leona karena tidak tahan dengan foreplay yang diberikan Roland. "Geli Kak, ah..." desah Leona yang menikmati pergerakan sang suami di tengah kedua paha mulusnya.


Roland muncul dari balik selimut dengan seringai nakalnya. "Apa sayang?"


"Geli Kak..." ulang Leona. Bibirnya menjerit karena Roland memasukkan kembali jari tengahnya bersamaan dengan jari telunjuk. Kedua jarinya itu bergerak cepat, menimbulkan sensasi yang amat dahsyat. Leona berteriak histeris menyambut pelepasannya kembali, namun Roland seketika menghentikan permainannya. Wajah Leona yang berkabut gairah berubah muram.


"Ke- kenapa berhenti Kak?" protes Leona kecewa.


Roland terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya. Lantas memasukkan kembali jari-jarinya. "Aku ingin kamu yang memintanya sendiri, sayang...! Ayo pintalah dan memohonlah!"


Tubuh Leona sudah kembali menegang, mulutnya meracau dengan kata-kata yang membangkitkan hawa nafsuu melambung tinggi.


"Kak... masuki Leona sekarang. Tubuh Leona milik Kak Roland." Leona mendesahh dengan suara paraunya.


"Panggil namaku," pinta Roland. "Pekikkan namaku, ayo menjeritlah!" Kedua jari semakin terbenam, mengobrak-abrik tubuh dalam yang sangat basah.


"Ah... Roland. Aku milikmu sayang. Dan kamu pun hanya milikku," racau Leona mempertegas statusnya. "Masuki aku Roland, nikmati aku..." jerit Leona karena Roland mengganti jemarinya dengan kepemilikannya.

__ADS_1


Roland bekerja sangat keras malam ini, melupakan bahwa saat ini istri kecilnya tengah mengandung. Dia ingin benar-benar memuaskan dahaga gairah di dalam jiwanya. Melupakan bayangan wanita yang selalu berputar di dalam benaknya. Dia meneguhkan hati kalau wanita yang merelakan tubuhnya, adalah istri sahnya. Bukan wanita yang hanya hidup dalam angan-angannya saja.


"Roland... ah..." pekik Leona dengan tangan mencengkeram pundak lelakinya. Kepalanya mendongak dengan kedua panggul yang terangkat.


Roland membuka selimut, lalu menarik tubuh Leona membawanya ke arah pintu kaca kamarnya. Roland membalikkan tubuh istrinya dan mendorong kasar hingga bongkahan dada ranum menempel di daun pintu. Tercetak sempurna bulatan padat yang sebentar lagi akan berisi ASI untuk anaknya.


Pusaka yang masih berdiri tegak, dia hujamkan kembali ke titik inti tubuh istrinya. Jeritan Leona semakin kencang merasakan milik suaminya menyesaki dinding rahim yang sudah amat kuyup.


Badan Leona meliuk-liuk dan bergerak mengikuti tarikan juga dorongan tubuh Roland. Bibirnya mendesahh serta meracau sebagai ungkapan rasa nikmat yang sudah lama tidak dia rasakan bersama suaminya.


Begitu pun juga dengan Roland, bibirnya mengeluarkan erangan-erangan karena desakan yang ingin keluar dari puncak kejantanannya. Gerakan pinggulnya semakin tidak terkendali, kepalanya tertarik ke belakang dengan tubuh mengejang. Roland menumpahkan benih cintanya di dalam rahim yang telah tumbuh benih cinta dari pria lain.


...***...


Sepasang suami menggeliat dengan senyuman merekah sempurna. Mereka tertawa geli mengingat pergumulan mereka di atas ranjang pasien. Suara ranjang yang berderit, menemani aktifitas suami istri semalam suntuk. Di mana pun dan dalam kondisi apa pun bila si suami sudah meminta, istri cantiknya ini hanya bisa melenguh dan merauh.


"Lepaskan tanganmu Edward, sebelum dokter dan perawat masuk untuk mengecek keadaanmu!" Rona menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terlepas dari jeratan suaminya yang mesum.


"Sebentar lagi," jawab Edward yang tiba-tiba melahap buah dada milik istrinya. Rona mendesahh kencang karena hisapan dan jilatan merangsang salah satu bagian sensitifnya.


Tanpa disadari seorang petugas Rumah Sakit datang dengan mendorong troly berisi makanan. Rona tersentak, wajahnya memerah karena rasa malu yang teramat sangat. Sementara Edward masih asyik menyesap mainan kesukaannya itu. Beruntung aksi Edward tertutupi oleh selimut, tapi tetap saja posisi Rona yang berada di atas tubuh suaminya, cukup menjelaskan segalanya. Belum lagi pakaian keduanya yang bertebaran di atas lantai.


"Edward... kata aku juga apa. Aku kan malu, mau ditaruh di mana mukaku ini?!" rengek Rona yang merasa kepergok tengah beradegan dewasa.

__ADS_1


Edward terkekeh dan menjawab dengan perkataan yang tidak kalah menjengkelkan. Dia menarik tangan Rona lantas mengarahkannya pada sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana. "Taruh saja mukamu di sini, aku akan sangat senang...."


Kesal karena perkataan Edward, Rona mencengkeram kuat milik suaminya yang mengeras itu hingga mulutnya memekik lantang karena rasa ngilu yang dirasakannya. Cekalan di pinggang Rona terlepas, Rona buru-buru bangkit untuk menjauh dari suaminya. Akan tetapi suara bising orang-orang menahan gerakannya. Dia kembali masuk ke dalam tubuh Edward bersembunyi di balik selimut.


"Astaga... Kak Edward, Kak Rona?!" Leona yang berniat melihat kondisi kakaknya dikejutkan dengan lembaran kain tergeletak di atas lantai. "Ka- kalian itu-itu di Rumah Sakit?" Leona geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Kamu kaya yang tidak tahu bagaimana Kakakmu saja, Leona," timpal Roland sembari menahan gelenyar dalam dadanya. Meski semalam telah dia luapkan hingga tak bersisa, melihat posisi Rona yang tengah menindih suaminya, api gairah memanas kembali.


"Papa menunggu di luar saja ... malu sama kelakuan Kakak kalian!" tambah Richard yang berdiri di belakang Leona dan langsung memutar badan untuk keluar dari kamar. Dia tidak habis pikir pada anak lelakinya itu. Di saat semua orang tengah mengkhawatirkan keadaannya, dia malah asyik bersenang-senang dengan sang istri di dalam ruang perawatan.


"Ka- kalian bisa tunggu di luar juga?" tanya Rona pada kedua adik iparnya. "Aku mau mengenakan pakaian dulu, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa kondisi Edward...."


"Kami tunggu di dalam saja, kan kapan lagi bisa melihat tubuh polos kalian," seloroh Roland memancing emosi Edward. Sontak saja, umpatan demi umpatan keluar dari mulut Edward. Roland tertawa puas mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan sahabatnya itu.


Tangan Leona merayap secara perlahan namun pasti. Jemari lentiknya kini menarik kencang kuping Roland hingga kulitnya yang berwarna putih bersih menjadi merah merona. Roland mengaduh kesakitan karena Leona memutar cuping telinga sembari menyeretnya keluar dari kamar membiarkan sepasang suami mengenakan pakaiannya.


"Ayo bangun! Aku sudah benar-benar dibuat malu sama otak gilamu itu!" Rona menunjuk ujung pelipis suaminya.


Edward hanya tertawa garing menimpali omelan istrinya. Kendati pun tubuhnya masih sangat lemas dan kaku, bila sudah bersentuhan dengan istrinya, dorongan akan menikmati surga dunia tidak bisa dibendung atau pun dielakkan. Rona dan segala yang ada pada dirinya, telah menjadi candu. Sekali terjerat, akan sangat sulit untuk melepaskan diri darinya.


...*****...


...Selamat sore, selamat menikmati petang yang sejuk......

__ADS_1


...Terimakasih untuk teman-teman semuanya, I love you guys......


__ADS_2