
Seorang anak kecil duduk di pelataran mansion seraya termenung menatap gerbang tinggi yang menutupi tempat tinggalnya. Wajahnya menopang lesu, menunggu kepulangan kedua orang tuanya semenjak satu jam yang lalu.
Kerinduan seorang anak yang haus akan kasih sayang dan belaian orang tua, membuatnya bersikukuh menunggu meski hari semakin malam dan bertambah dingin.
"Ezio sayang... ikut Aunty Leona ke dalam rumah yuk. Aunty bacakan buku cerita. Mau ya?" ajak Leona pada keponakannya. Ezio menggelengkan kepala, raut wajahnya nampak sedih dan gusar.
"Terimakasih, Aunty... tapi Ezio mau menunggu Mommy dan Daddy pulang saja," tolak Ezio yang duduk meringkuk.
Leona turut menenggelamkan tubuhnya di atas kursi taman, lalu merangkul pundak anak kecil di sampingnya. "Tapi angin di luar semakin kencang, sayang. Sebentar lagi salju akan turun. Kalau Ezio masuk angin lalu sakit, Mommy sama Daddy pasti sedih."
Ezio melirik ke arah Leona sesaat, lalu kembali tertunduk dengan helaan napas lara. "Aunty Leona tenang saja, tubuh Ezio kan kuat! Aunty masuk saja, tidak baik buat adik bayi berlama-lama di luar. Biar Ezio di sini, sebentar lagi Mommy dan Daddy pasti pulang."
"Nona Leona masuk saja, biar saya yang menemani Tuan Ezio di sini," sahut Ola yang baru saja datang membawa selimut dan mantel untuk anak majikannya.
Leona mendesahh pelan lantas mendongak ke arah pengasuh keponakannya. "Baiklah, aku masuk duluan kalau begitu. Kalau ada apa-apa, ketuk saja pintu kamarku."
"Baik Nona," sahut Ola pada Leona. Wanita muda yang tengah berbadan dua tersebut, menarik tubuhnya dari atas kursi menuju ke dalam rumah. Namun, sebelum itu dia terlebih dahulu memberikan sebuah kecupan pada anak laki-laki yang sedang bersedih.
"Aunty masuk duluan ya... Kalau Ezio sudah mengantuk, bilang saja sama Suster Ola. Jangan memaksakan diri." Sekali lagi Leona meberikan kecupan pada pucuk kepala keponakannya kemudian membelainya.
Leona mengalihkan tatapannya ke arah gadis yang berdiri di samping pintu kemudian melangkah mendekat. "Aku titip Ezio ya... tolong bujuk anak itu untuk masuk ke dalam rumah."
"Baik, Nona. Akan saya usahakan," balas Ola menganggukan kepala. Leona melewati baby sitter keponakannya dan masuk ke dalam rumah menuju tangga kamarnya. Sementara Ola, dia mendekati Ezio kemudian menutupi tubuh anak itu dengan selimut tebal.
"Pakai selimut dan mantel ini, Tuan kecil. Kalau Tuan Ezio sakit, nanti Suster Ola yang kena marah Daddy Edward," ujar Ola seraya memakaikan mantel dengan penutup kepala.
"Iya, Suster Ola," jawab Ezio menuruti perkataan pengasuhnya.
Sudah satu jam berlalu. Namun, dua orang yang ditunggu belum juga tiba. Dan kini jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ezio berkali-kali menguap, matanya mengerjap-ngerjap. Dia berusaha melawan rasa kantuk. Namun, akhirnya tubuhnya menyerah di atas pangkuan sang pengasuh.
__ADS_1
"Kasihan Tuan Ezio, Nona sama Tuan muda ke mana lagi? Biasanya jam makan malam sudah ada di rumah, ini jam segini masih belum pulang juga!"
Ola mengangkat tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. Secara perlahan, dia berjalan untuk membawa Ezio ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara deru kendaraan yang memasuki halaman mansion. Ola akhirnya memilih menunggu dengan berdiri menatap ke arah mobil milik majikannya.
"Sedang apa di sini, Ola?" tanya Rona heran. Keningnya mengerut menangkap tubuh mungil di dalam dekapan pengasuhnya. "Di luar dingin sekali Ola, kenapa membiarkan Ezio di luar?" tanyanya lagi.
Ola menundukkan kepalanya lalu menjawab pertanyaan wanita di depannya. "Tuan Ezio menunggu Nona dan Tuan dari jam makan malam. Saya dan juga Nona Leona sudah membujuknya berkali-kali, namun Tuan Ezio bersikukuh."
"Ya Tuhan, sayang...," Rona merentangkan tangan mengangkat tubuh Ezio dari pangkuan Ola. Namun, Edward menariknya lembut.
"Biar aku saja, sayang... kamu sedang hamil tidak boleh mengangkat beban yang berat-berat," ujar Edward yang kini menggendong putranya.
Rona menarik kedua lengan pengasuh anaknya lalu bicara dengan suara sengau karena menahan tangis. "Terimakasih sudah menjaga putraku, Ola...."
"Sama-sama, Nona. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai baby sitter Tuan kecil," jawab Ola ramah.
Edward membawa Ezio ke kamarnya dan membaringkan tubuh mungil itu di tengah-tengah ranjang. Dia membelai wajah malaikat putranya, rasa bersalah mencuat dari dalam dada.
"Bersihkan tubuhmu, kita tidur bersama putra tercinta kita! Biarlah adikku yang satu ini turut tertidur juga. Biar nanti pagi ketika dia terbangun, aku bekerja keras menjenguk anak kita yang lain," seloroh Edward yang membuat Rona harus berpikir lebih keras.
Kedua alis bertautan, Rona membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencerna perkataan Edward barusan. Setelah paham, dia mencubit kencang pinggang Edward karena gemas juga kesal.
"Astaga... dasar pria mesum! Every time, every where and every day... selalu mesum dan mesum! Apa kamu tidak bosan, Edward?" Rona berkacak pinggang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Edward berdiri lantas menarik pinggang Rona merapatkan ke dalam tubuhnya. Dia merespons pertanyaan istrinya dengan suara membisik yang menggelitik daun telinga. "Tidak bosanlah sayang... apalagi sekarang tubuhmu ini lebih berisi, jadi lebih menggairahkan!"
Rona tertawa hambar lalu menarik tubuhnya menjauh dari jangkauan harimau lapar. Dengan sedikit berlari dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Edward hanya tergelak melihat tingkah laku sang istri dan kini perhatiannya kembali pada tubuh ringkih yang tengah tertidur pulas di bawah buaian mimpi-mimpi indah.
...***...
__ADS_1
Dentuman musik keras begitu memekikkan telinga, ditambah dengan hingar bingar manusia yang mencari kepuasan hingga mengindahkan norma-norma yang seharusnya mereka jaga. Menikmati pesona dunia yang seakan tiada habisnya. Meneguk cawan-cawan yang berisikan minuman memabukkan juga melenakan.
Seorang pria dan wanita muda tertawa lepas bagai tidak memiliki beban hidup. Berkali-kali tangan diangkat untuk mendetingkan kedua benda di genggaman, lalu meneguk minuman yang mereka pesan bersama-sama.
"Mari kita berdisko!" ajak pria tersebut berdiri dengan mengulurkan tangan. Wanita yang duduk di sampingnya mengangkat kepala kemudian membiaskan senyuman. Tangannya meraih uluran pria tersebut dan berjalan ke lantai disko.
Di bawah lampu warna-warni yang berputar-putar dan berkerlap-kerlip. Keduanya menari-nari serta meliuk-liukkan badan. Tangan, kaki juga kepala bergerak bebas mengikuti alur musik yang menghentak. Seiring tawa riang dan mulut yang beraromakan alkohol.
"Kamu lihai sekali Natalie," puji Brian yang meletakkan kedua tangan di atas bokong Natalie. Tangan wanita itu menepis sentuhan pria tersebut lantas mendengus kesal.
"Jaga sikapmu, Brian!" geram Natalie karena tidak terima laki-laki itu menyentuh tubuhnya seenaknya.
"Ayolah Natalie... kamu tidak perlu sok suci!" sergah Brian yang lagi-lagi menempelkan telapak tangan di atas bongkahan yang padat dan bulat tadi. Kali ini Natalie diam, malah kedua tangannya melingkar erat di leher Brian.
Brian mengulum senyum, kini tangannya semakin berani dengan meremass bagian tubuh belakang wanitanya sembari merapatkan tubuh menekan-nekan kepemilikannya yang saat ini tengah ereksi.
Seorang wanita dengan perut membulat melihat ke arah seorang pria dengan mata yang menyipit. Dia menajamkan penglihatannya memindai orang tersebut, yang ternyata adalah pria yang dia cari selama ini. Pria yang menjadi teman one night stand-nya ketika bertolak ke Inggris, sewaktu melakukan pengobatan untuk kedua kakinya. Pria yang membuatnya mengandung tanpa seorang suami di sisinya.
"I- itu dia... benar, itu dia!" gumam wanita tersebut terbata-bata. "Ya Tuhan... ternyata dia ada di sini, di negara ini! Di kota ini!" gumamnya lagi, antara bahagia juga tidak percaya.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri pria yang dimaksud. Namun, sesampainya di lantai disko dia tidak mendapati siapa pun. Selain seorang wanita yang usianya terpaut 5 tahun dengannya, tengah asyik menggoyangkan badan.
"Apa tadi hanya ilusiku?" Wanita itu mengurut pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit. "Ah... tapi tadi jelas-jelas dia ada di sini. Di tempat ini. Dan aku tidak sedang mabuk, jadi tidak mungkin aku berhalusinasi!" Wanita itu terus saja bertanya-tanya, seraya kedua mata mengedar mencari sosok yang dia cari.
...*****...
...Selamat pagi semuanya......
...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semuanya......
__ADS_1
...Mohon maaf kemarin hanya Up satu bab, tekanan darah turun lagi jadi lumayan susah untuk berkonsentrasi 🙏...
...Semoga semuanya selalu sehat dan dalam lindungan-Nya......