Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Penjara


__ADS_3

Pagi ini sang surya bersinar lembut, langit pun nampak begitu cerah. Menyambut awal musim semi dan berakhirnya musim dingin. Pucuk-pucuk daun mulai menghiasi ranting pepohonan. Rumput liar mulai tumbuh di setiap jalan.


Seorang wanita merentangkan tangannya, menghirup dalam-dalam aroma musim semi yang menenteramkan hati. Membiarkan cahaya mentari menghangatkan wajahnya yang jelita. Kedua mata terbuka perlahan, dia menikmati awal hari dengan penuh suka cita.


Tubuh wanita tersebut merunduk dan jemari lentiknya memetik bunga dandelion. Senyumnya mekar dengan sempurna, kemudian ia meniup bunga tersebut membiarkan serpihannya terbang tinggi, sejauh yang ia mau.


Seorang pria menatap keindahan-keindahan di depan mata, dengan bibir mengembang bahagia. Dia terus terhanyut ke dalam pusaran perasaan yang tidak semestinya ada.


"Sedang lihat apa, Bro?" Edward tiba-tiba muncul membuyarkan khayalan sahabatnya. Dia mengerutkan dahi curiga karena tepat di depan posisi Brian berdiri, ada sang istri yang sedang mencari udara sejuk di taman Rumah Sakit. "Jangan bilang, kamu tengah memperhatikan istriku?!" Kedua alis ditarik ke atas, Edward meminta jawaban.


Brian tertawa hambar, dia menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Ayolah, Edward. Kamu tahu persis bagaimana tipe perempuan yang aku sukai seperti apa. Istrimu, bukan seleraku!"


"Aku tahu, Brian. Lagi pula aku hanya bercanda, tidak perlu dimasukkan hati ucapanku tadi!" Edward membalas menepuk-nepuk pundak Brian lantas melewatinya. "Aku ingin menghampiri istriku, kamu mau ikut?" sarkas Edward pada pria lajang di belakangnya.


"Ah, tidak. Silakan kamu saja," jawab Brian yang merasa canggung.


"Baiklah, nanti kita berbincang kembali." Edward meninggalkan Brian dan berjalan mendekati sang istri. Sahabatnya itu menatap nanar seraya tangan yang dikepal erat.


"Sayang... lagi apa sendirian di sini?" Edward memeluk Rona dari belakang dengan tangan mengelus-elus perut istrinya.


"Aku habis jalan-jalan kecil dan menghirup udara segar. Biar calon bayi kita sehat dan persalinan nanti lancar," jawab Rona mengelus wajah Edward yang menopang di atas pundaknya.


Edward melepaskan pelukannya lalu berjalan setengah putaran. Dia berjongkok kemudian mengecup perut sang istri dan membelainya. Dia mengajak anak-anaknya berbicara dan Rona tertawa karena ketiga bayinya menendang-nendang dalam waktu bersamaan.


Mata Edward berbinar, melihat momen langka yang tersaji di depan matanya. Gerakan kecil yang berasal dari dalam perut sang istri.

__ADS_1


"Ini sungguh luar biasa, sayang. Benar-benar luar biasa!" tandas Edward takjub. "Meski ini bukan pertama kali aku akan memiliki anak. Tapi ini berbeda, karena ada tiga nyawa sekaligus di dalam perutmu." Edward mengusap-usap kembali perut sang istri berharap ketiga calon bayi meresponnya. Dan benar saja, perut sang istri bergerak perlahan.


"Mereka merespons kasih sayang Daddy-nya." Rona membelai pucuk kepala suaminya. Edward berdiri lantas menatap lekat mata sang istri.


"Terimakasih sayang, sudah membuatku menjadi pria yang paling beruntung." Edward merangkum wajah Rona. Dia memiringkan kepala, satu kecupan mesra menyentuh bibir wanitanya.


Brian yang memperhatikan kemesraan sepasang suami istri, darahnya mendadak mendidih. Ada perasaan tidak rela di hatinya melihat kebahagiaan orang lain. Sementara hidupnya selama ini hanya bertemankan duka dan sepi.


Pria yang mengenakan dasi berwarna merah marun menghentakkan tangannya ke arah pilar. Mulutnya mengeluarkan umpatan dan juga cacian.


"Matahari sudah semakin terik, lebih baik kita mencari tempat yang lebih teduh," ujar Edward menutupi kepala Rona menggunakan kedua telapak tangan. Rona mengangguk, menuruti perkataan suaminya. Dia berjalan beberapa langkah dan matanya bertemu dengan mata Brian yang memandang ke arahnya sedemikian rupa.


"Tuan Brian, anda di sini?" tanya Rona sinis. "Bukankah anda seharusnya menyelesaikan pekerjaan anda yang sempat tertunda kemarin?" Rona menekan perasaan Brian. Dia membalas tatapan lancang pria di hadapannya dengan sorotan tajam.


"Maaf Nyonya Edward, saya ingin menyegarkan pikiran sesaat. Kebetulan tempat area terbuka yang paling dekat dengan ruangan saya, ya taman ini," kilah Brian yang tidak ingin terpergok kalau dia sedang memperhatikan istri sahabatnya itu.


"I-iya maaf, Nyonya. Saya sekarang kembali ke ruangan. Saya janji, saya tidak akan mengecewakan kepercayaan yang sudah anda berikan," sahut Brian dengan kepala menghormat. Rona mengangguk, lantas menarik tubuhnya tidak peduli pada selorohan pria di sampingnya.


Edward mendekatkan jaraknya dan berbicara pada Brian dengan nada rendah. "Maafkan istriku. Biasalah... sindrom wanita hamil, emosinya suka labil."


"Never mind, lagi pula aku sangat memaklumi kondisi istrimu," balas Brian berpura-pura baik-baik saja.


...***...


"Sayang... Mami sama Papi di sini sekarang." Monic memeluk putri kandungnya itu sembari menangis tersedu. "Kamu tidak apa-apa kan, Nak?" Monic meraba-raba tubuh sang putri memindai kondisinya.

__ADS_1


"Grace baik-baik saja Mi... cuman kepala belakang masih sakit karena luka pukulan benda tumpul." Grace memperlihatkan bagian kepala yang masih ditutupi perban. Dia harus mendapatkan 10 kali jahitan di kepalanya.


"Siapa yang melakukan ini, Grace? Katakan pada Mami!" ujar Monic geram.


Grace yang menyadari keberadaan sepupunya, dia mengerling ke arah Claire dan memperlihatkan wajah yang dipenuhi api amarah. "Ini gara-gara teman perempuan si anak sialan ini, Mi! Wanita itu dan suaminya yang sudah menjebloskan aku ke penjara!"


Monic terperangah mendengar jawaban dari putrinya. Dia menoleh ke arah Claire seraya bangkit untuk memberi keponakannya pelajaran. "Benarkan dugaanku ... ini semua pasti ada hubungannya denganmu, anak kurang ajarr!!"


Monic berniat menyerang Claire menggunakan kuku-kuku tajamnya, Feliks sigap menghalangi tubuh sang kekasih dari niat buruk wanita tua yang menyeringai kejam.


"Ini kantor Polisi, Nyonya. Saya bisa saja menyeret anda ke dalam jeruji besi untuk menemani putri anda yang tidak tahu malu itu!" ancam Feliks yang bersiap memanggil petugas keamanan.


"Maafkan Tante Monic ya, Nak..." pinta Jourdy karena perilaku kasar istrinya. "Jangan masukkan istri Paman ke dalam penjara, Paman mohon...," Jourdy menelungkupkan tangan di atas dada. Claire menggenggamnya.


"Tidak Paman, Claire tidak akan mungkin tega menyakiti Tante Monic maupun Paman Jourdy," ucap Claire yang merengkuh tubuh sang paman. "Claire sangat menyayangi kalian," tambahnya yang menyentuh relung hati Jourdy.


"Kamu memang anak baik, Nak." Jourdy meletakkkan telapak tangan di atas kepala keponakannya. "Terimakasih Nak... Bahagialah selalu di sepanjang hidupmu...."


"Pi... apa-apain sih?! Yang membutuhkan perhatian di sini itu Grace. Grace tidak mau dipenjara. Grace tidak mau membusuk di tempat kotor ini!" rengek Grace yang mendapat pembelaan dari sang ibu.


"Tenang sayang, biarkan Papimu yang tua itu lebih menyayangi keponakannya. Yang penting Mami di sini ada untuk mendukungmu." Monic membelai wajah Grace dengan kepala sesekali menoleh ke arah Jourdy dan Claire. "Mami sudah menyiapkan dua orang pengacara terbaik di kota ini untuk membantumu keluar dari penjara. Setelah itu apa pun yang akan kamu lakukan, Mami akan selalu mendukungmu!" ungkap Monic yang menginginkan Grace membalas perbuatan orang lain kepadanya.


"Pantas saja Grace tumbuh menjadi anak yang manja dan selalu bersikap seenaknya. Ini karena didikan Mami yang sangat buruk!" umpat Jourdy kecewa. "Kalau kamu menyayangi anak kita, biarkan dia mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan segala kesalahannya!" geram Jourdy murka.


"Terserah kamulah, Pak Tua. Aku tidak peduli." Monic masa bodoh dengan apa yang Jourdy katakan. Itu karena di sini dia yang memiliki kuasa. Dia mengontrol sepenuhnya masalah keuangan dan bisnis yang dikelola Jourdy, yang seharusnya menjadi milik keponakannya, Claire.

__ADS_1


...*****...


...Hari Senin, kalau berkenan ditunggu VOTEnya ya. Agar Author bisa kembali bersemangat 🙈🙈...


__ADS_2