
"Oh, baby... aku sudah tidak kuat. Aku lelah!" racau Amber yang kewalahan dengan permainan pria yang tengah menindihnya.
"Tadi kamu meremehkanku, Amber! Sekarang nikmati saja pembalasanku!" Josh semakin beringas memompa miliknya ke dalam dinding mahkota, Amber yang sudah tidak tahan, dia pingsan di bawah kendali kucing jantannya.
"Bagaimana?" tanya Richard penasaran. Edward menggelengkan kepala dengan raut frustrasi.
"Kemana wanita itu?!" Richard mengepalkan telapak tangan, lalu menghentakkan ke atas handle kursi roda.
Edward mencoba menelepon Amber kembali. Namun, tidak ada jawaban. "Ah, Arlo!" Edward akhirnya menghubungi sopir pribadi keluarga Liam.
Edward
Arlo, mana Nyonya Amber?
Arlo
Ti- tidak tahu tuan
Edward
Maksudnya tidak tahu?
Arlo
Tadi saya disuruh pulang sama Nyonya Amber
Edward
Terakhir kamu meninggalkan dia di mana?
Arlo
di Fly Night Club, tuan
Edward mengusap kasar wajahnya lalu mematikan telepon. Edward bermonolog di dalam hati. "Sedang apa wanita tua itu sekarang?"
Satu jam telah terlewati, belum ada kejelasan mengenai kondisi Leona. Semua tertunduk lesu dengan pikiran yang bercabang. Sedangkan Amber dia mulai siuman. Dia meraba-raba meja di samping ranjang lalu meraih ponselnya. Matanya membola karena ada seratus panggilan tidak terjawab dari anak tirinya. "Mau apa dia meneleponku?"
"Kenapa Amber?" tanya Josh yang merasa terusik oleh suara gumaman Amber.
"Ah, ini. Anak tiriku menelepon berkali-kali, tidak tahu mau apa?"
"Matikan saja ponselnya, mari kita bersenang-senang lagi." Josh menatap jalangg ke arah Amber lalu menarik ponsel milik wanita tua itu kemudian memencet tombol off.
"Ta- tapi aku lelah sayang..." tolak Amber yang merasakan ngilu di area in-tim juga persendian.
"Kamu cukup diam saja dan nikmati sensasi dari goyangan pinggulku!" bisik Josh menggoda Amber. Amber hanya pasrah karena dia sendiri menginginkan meskipun staminanya tidak sekuat waktu masih muda dahulu.
...***...
__ADS_1
"Bagaimana Dokter?" tanya Richard yang melihat Claire keluar dari dalam ruang emergency. Edward dan Rona yang mendengar suara Richard sontak berdiri lalu menghampiri Claire.
"Bagaimana putri saya?" ulang Richard. Dia menarik kasar lengan Claire karena tidak sabar.
"Pasien sudah melewati masa krisis, tapi kondisinya masih lemah. Jadi untuk saat ini belum bisa diganggu ataupun diajak bicara. Besok pagi kalian baru boleh menemuinya," jelas Claire.
"Terimakasih Tuhan..." ucap semua orang serentak.
"Claire... terimakasih." Rona memeluk erat sahabatnya.
"Terimakasih pada Tuhan, Rona. Ini semua berkat Dia bukan karena aku!" balas Claire yang tidak kalah erat memeluk Rona.
Derap langkah cepat seseorang mengalihkan perhatian orang-orang dan kini dua pasang mata bertemu dalam satu tatapan serta satu helaan napas.
"Feliks!" Edward menyebut nama asistennya. Feliks gelagapan dan langsung memalingkan wajah.
"I- iya apa Bos?" tanya Feliks terbata-bata.
"Tolong antarkan Rona dan Papaku pulang. Biar malam ini aku yang menunggu Leona di Rumah Sakit." Edward menyerahkan kunci mobilnya.
"Bos pulang saja, biar aku yang berjaga di sini. Bos tadi siang banyak sekali urusan, pasti capek!" ungkap Feliks seraya mengembalikan kunci mobil Edward.
Edward berpikir sejenak. "Baiklah, saya titip Leona. Kalau ada apa-apa, cepat beri kabar! Besok pagi saya ke Rumah Sakit lagi."
"Siap Bos!" sahut Feliks seraya memberi hormat.
Keluarga Liam meninggalkan Rumah Sakit. Suasana di depan ruang emergency berubah hening dan canggung.
"Hm..." sahut Claire. Dia melepaskan cengkeraman tangan Feliks dari lengannya lalu membalikkan badan.
"Apa kamu tidak mau menemaniku di sini?" tanya Feliks berusaha ramah.
"Apa sih, dasar tidak jelas!!!" jawab Claire ketus, lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah lima belas menit
"Nih..." Claire menyodorkan dua cup Macchiato panas.
Feliks mendongak lalu tersenyum semanis mungkin. Dia menggeser posisi duduknya.
"Thanks!"
"Bagaimana tanganmu?" Feliks menarik tangan Claire yang melepuh lantas terkejut. "Ta- tanganmu....!"
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh, ini kulitnya mengelupas nanti digantikan sama kulit yang baru," tutur Claire sembari menarik tangannya dari Feliks. "Minumlah, nanti keburu dingin!"
Suasana kembali hening, hanya suara seruput dan aroma kopi yang mewakili kebersamaan dua insan yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
...***...
__ADS_1
"Fiona... Fiona...!" teriak Amber yang baru saja pulang. Dia mencari keberadaan orang-orang. Namun, pagi ini suasana mansion sangat sepi.
"I- iya Nyonya..." sahut Fiona berjalan tergesa-gesa.
"Ini pada kemana penghuni rumah, kenapa sepi sekali?" Amber melempar tas ke atas sofa, lalu menyalakan lintingan nikotin.
"Em.. i- itu Nyonya..." jawab Fiona gugup.
"Itu apa? Bicara yang jelas!" Amber menyesap rokok lalu mengeluarkan asapnya dari hidung.
"Nona Leona ... masuk Rumah Sakit, Nyonya!" ungkap Fiona yang tidak berani menatap wajah majikannya.
"Apa?" Tanpa bertanya lebih jelas, Amber langsung saja mengambil kembali tas yang tadi dia lempar lalu meminta sopirnya untuk mengantarkan ke Rumah Sakit.
Sementara di Rumah Sakit
"Ayo sedikit lagi...."
"Sudah Kak Rona, aku kenyang..." rengek Leona yang menutup mulutnya seperti anak kecil.
"Satu suap lagi ya...!" Rona mendesak Leona untuk makan, tetapi bibir gadis di depannya mengatup rapat.
Terdengar suara kegaduhan dari luar ruang perawatan. Rona mengintip dari balik tirai, ternyata Amber yang sedang membuat keributan. Dia memaki pria di hadapannya karena menghadangnya masuk.
"Ada apa Kak?" tanya Leona ingin tahu.
"Ada Mom ingin menerobos masuk, tapi kakakmu dan papa Richard menahannya...."
Leona tidak menimpali perkataan Rona. Dia lebih memilih merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata. "Bilang sama Mom, Leona butuh istirahat. Tidak mau diganggu!"
Rona mengangguk lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Leona. Dia mengecup puncak kepala adik iparnya. Tetesan bening menitik di sudut mata gadis yang terbaring lemah.
"Kalau kamu membutuhkan teman untuk berbagi, kamu punya aku Leona. Mengakhiri hidup bukan memutuskan masalah, tetapi hanya menambah masalah." Rona membelai rambut Leona sepintas, lalu keluar dari kamar.
Mata tajam Amber langsung mengarah pada wanita yang baru saja menutup pintu. "Apa-apaan ini, aku ibunya tidak diizinkan masuk. Sedangkan dia yang bukan siapa-siapa boleh masuk!" Amber hendak memberi Rona perhitungan, tetapi tangan kekar menahannya.
"Mom... please... jangan buat kegaduhan lagi. Kasihan Leona, dia butuh istirahat!"
Amber menatap Edward geram. "Yang dia butuhkan adalah ibunya, bukan apa pun atau siapa pun!"
"Maaf Mom... Leona berpesan kalau dia tidak ingin diganggu. Dia ingin istirahat," timpal Rona berjalan mendekat.
Amber tersenyum sinis. "Memangnya kamu siapa, berani-beraninya berbicara seperti itu?!"
Richard yang sedari tadi mendengar istri dan anaknya berselisih, akhirnya memilih diam dan pura-pura tertidur. Dia sudah lelah dengan drama yang terjadi di keluarganya.
...*****...
...Senja rindu nih sama teman-teman yang biasanya rajin meninggalkan komentar 🙈...
__ADS_1
...Semoga teman-teman semua di manapun berada selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan....