Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Rindu Rumah


__ADS_3

"Cie... cie... cie... pengantin baru," ledek Leona saat sang kakak ipar menuruni tangga. "Ayam sudah berkokok dari pagi, ini baru keluar kamar," sarkasnya seraya cekikikan.


Rona menekuk leher, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. "Pengantin baru apaan sih, orang perut saja sudah seperti drum?!"


"Perut sih boleh seperti drum. Tapi soal di atas ranjang, tancap terus..." sindir Leona pada iparnya. "Begini nih suaranya, ah... uh... ah... uh..." tambahnya lagi, membuat Rona semakin merundukkan kepala.


"Kasihan Kakakmu, Nak... jangan digoda terus-menerus," tegur seorang wanita.


Rona yang mengenali suara lembut itu langsung mengangkat kepalanya. "Mama? Mama ada di sini?"


Rona berjalan cepat menghampiri Maria kemudian memeluk erat tubuh wanita itu. Begitu pun Maria, dia membalas pelukan Rona tidak kalah erat.


"Iya Nak... ini Mama membawa gaun pesanan kalian. Kamu coba dulu ya ... takutnya kecicilan," ucap Maria seraya menyodorkan paper bag berwarna hitam. "Tapi Mama rasa sih sepertinya cukup. Karena tubuh kamu tidak banyak perubahan, hanya bentuk perut saja yang membesar," ucap Maria seraya mengelus-elus perut Rona.


Rona mengeluarkan gaun miliknya dari dalam paper bag, matanya berbinar melihat hasil rancangan yang melebihi ekpektasi dirinya. "Wow... gaun ini benar-benar bagus, Ma. Desainnya... warnanya... semua luar biasa!"


"Yang merancang katanya dari negara tempat tinggalmu dan dia masih sangat muda. Namanya..." Maria berpikir sejenak untuk mengingat. "Namanya Shanum... em... Shanum Melodia!" Maria menyebutkan nama desainernya.


Rona hanya mengangguk-anggukan kepala karena dia tidak mengikuti perkembangan fashion, jadi tidak tahu nama desainer yang sedang terkenal saat ini.


"Rona coba dulu ya Ma gaunnya, semoga saja tidak kekecilan," ucap Rona seraya membawa pakaian tersebut menuju kamar pribadi. Secepat kilat dia mengganti pakaiannya. Hanya membutuhkan sepuluh menit, kini dia keluar dari kamar dan menuruni tangga kembali. Semua orang terpukau, terlebih sang suami.


"Benar-benar cantik," puji seseorang akan paras elok yang dimiliki Rona. Edward yang mendengar pria lain memuji istrinya sedemikian rupa, dia mendengus kasar seraya membalas dengan sinis.


"Jaga matamu itu adik ipar! Hanya aku yang boleh menatap istriku seperti itu!" geram Edward pada Roland.

__ADS_1


Roland menanggapi perkataan Edward dengan santai. Dia lantas memeluk istrinya dari arah belakang. "Kamu tidak marah kan kalau aku memuji Kakak iparmu?"


Leona menggelengkan kepala dan menggenggam tangan suaminya. "Tidaklah Kak ... Kak Rona memang cantik, bahkan sangat cantik. Karena kecantikannya berasal dari dalam hati."


"Kamu juga sangat cantik sayang... terlebih semakin hari bertambah dewasa," ujar Roland merekatkan pelukannya di atas dada Leona. Bibirnya mengecup mesra pipi wanitanya, Leona merasa bahagia.


"Uhuk... uhuk..." Rona berpura-pura terbatuk. "Kalian memang seperti saudara kembar, perayu yang sangat handal," sarkas Rona pada Edward dan juga pada Roland.


Maria dan Richard hanya geleng-geleng kepala melihat sikap anak dan menantu mereka. Meski terjadi perselisihan. Namun, satu sama lain saling memahami dan mengalah. Tidak mudah menyatukan keluarga yang semula bercerai berai, kini bagai sebuah ikatan utuh.


"Nak Roland benar... kamu memang sangat cantik," puji Maria pada perempuan yang sudah dianggap putrinya sendiri.


"Kenapa tidak ada yang memuji Leona sih?" protes Leona memasang wajah cemberut. Dia mendelikkan mata dan menyilangkan tangan di atas dada. Seperti seorang anak kecil yang merajuk pada ibunya.


"Kamu juga tidak kalah cantik, Nak..." puji Maria menjimpit dagu Leona. "Kamu cantik dan kamu juga anak yang baik. Semoga suatu saat ... bisa menerima Mama sebagai Mamamu sendiri," pinta Maria penuh harap.


"Tentu saja Ma... lagi pula Leona sendiri membutuhkan sosok seorang ibu. Terlebih dalam kondisi Leona tengah hamil besar seperti ini," ucap Leona haru.


Richard mendekat dan turut memeluk dua wanita kesayangannya itu. Matanya berkaca-kaca mengungkap perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan apa pun.


Mata Rona mengembun, dia membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah kamar yang berada di lantai 2. Tubuhnya terlihat bergetar, dia menaiki anak tangga dengan langkah lebar. Edward yang menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri istrinya, dia bersigera menarik langkah dan menyusul Rona ke kamarnya.


Di dalam kamar


Rona terlihat tengah menangis sesenggukan di atas ranjang. Kulit wajahnya yang putih bersih tidak bisa menyembunyikan bahwa dia tengah bersedih. Meski dia berusaha menutupinya dari sang suami.

__ADS_1


"Hey... kenapa menangis sayang?" Edward menyeka air mata yang menitik di atas pipi Rona kemudian duduk berjongkok di depannya. Dia menggenggam tangan sang istri lantas mengecupnya lembut. "Kenapa tiba-tiba bersedih? Ayo ceritakan padaku!" titah Edward pada Rona.


Rona menggelengkan kepala dan bertingkah tidak ada masalah. "Aku tidak apa-apa Edward ... mataku kelilipan, perih sekali. Makanya sampai menangis seperti ini."


Edward terkekeh seraya mengusap-usap pucuk kepala istrinya. "Kamu tidak pandai berbohong, sayang... ayo katakan, kamu kenapa?!"


Rona menghela napas kemudian mendongakkan kepalanya. "Aku rindu rumah...."


Kening Edward mengkerut, dia berdiri lalu duduk di samping wanitanya. "Inikan rumahmu sayang. Apa kamu merindukan apartemen, rindu sahabatmu itu?"


Rona lagi-lagi menggelengkan kepala. Dia melirik ke arah Edward sepintas, kemudian menatap lurus kembali. "Aku rindu rumah. Aku rindu ayah dan juga ibuku. Aku hampir tiga tahun tidak pulang. Bahkan kabar pernikahan kita pun, hanya diwakili dengan sepucuk surat. Waktu itu kamu pernah berjanji akan membawaku pulang ke Indonesia. Namun, sampai saat ini kamu tidak menepati janjimu!"


Perasaan Edward merasa tertohok oleh ucapan Rona. Karena dia ingat betul akan janjinya itu. Tapi sampai saat ini, dia belum bisa mengabulkan permintaan sang istri untuk menemui kedua orang tuanya bertolak ke negeri 1000 candi.


Edward menarik kepala Rona lanjut merebahkannya di atas pundak. Dia merengkuh bahu sang istri dan memberinya satu kecupan lembut.


"Maafkan aku sayang... bukan aku abai akan janjiku. Tapi hari-hari setelah pernikahan kita, semuanya terasa begitu berat. Masalah datang silih berganti, tanpa permisi dan juga tanpa jeda. Ditambah ... kamu juga tengah hamil trimester kedua, akan sangat riskan bepergian dengan jarak yang sangat jauh." Edward berusaha membuat Rona mengerti akan kondisinya beberapa bulan ini.


Rona menggosok-gosok matanya, mengeringkan sisa deraian kesedihan yang membasahi kelopak mata. Meski jauh di lubuk hatinya kerinduan semakin membuncah. Namun, dia hanya bisa terus bersabar dan memahami keadaan yang belum berpihak terhadapnya.


"Iya... tidak apa-apa, aku akan tetap bersabar dan berharap kalau suatu saat bisa menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiranku," lirih Rona dalam dekapan sang suami.


...*****...


...Mohon maaf dua hari ini tidak bisa maksimal, efek darah rendah, migrain dan jari yang biasa digunakan mengetik, nyut-nyutan (Lengkap bener)😄...

__ADS_1


...Semoga masih setia dengan novel ini sampai akhir. Karena salah satu penyemangat untuk kami terus berkarya, adalah dukungan dari teman-teman pembaca semua 🙏...


__ADS_2