Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pemakaman Amber


__ADS_3

Di sebuah ruangan mewah dengan aksen modern, di mana sekeliling dindingnya dihiasi oleh wallpaper berwarna biru langit. Seorang pria tengah menunggu pujaan hati terbangun dari lelapnya malam. Dia menunggu dengan setia, meski rasa lelah menyergap. Walaupun rasa kantuk menyapa mata. Namun, dia tahan sekuat tenaga lantaran tidak ingin terlewatkan saat-saat bidadarinya terbangun dan melihat ke arahnya.


Kini hari telah berganti, sang fajar telah datang menggantikan malam pekat nan suram. Mimpi-mimpi buruk satu per satu pergi. Tinggal menyongsong mimpi indah, yang akan diraih dan dijalani.


"Ayo bangun my wife... putri kita sangat cantik, persis seperti ibunya," lirih Roland menggenggam tangan Leona. "Apa kamu tidak ingin melihatnya? Memberikan ASI untuknya?" Roland menghembuskan napas, seakan sia-sia ocehannya itu.


Seorang perawat mengetuk pintu lantas masuk ke dalam ruangan setelah dipersilakan. Dia membawa satu labu infusan untuk menggantikan kantong cairan bening tersebut yang sudah hampir habis.


"Kira-kira istri saya kapan siumannya ya Sus? Ini sudah lewat dari enam jam. Tapi belum ada perubahan," tanya Roland heran.


"Mohon maaf Tuan, apa dokter tidak mengatakan seberapa lama pasien dalam kondisi tidak sadarkan diri?" Perawat tersebut balik bertanya


Roland menggelengkan kepala dengan raut wajah datar. "Tidak, sus. Dokter hanya bilang nanti saya bisa menemui istri saya, kalau sudah dipindahkan ke dalam ruang pemulihan."


"Oh...," Perawat tersebut mengangguk-angguk. "Pasien akan siuman setelah 2-3 hari dari masa operasi. Karena kami memberikan obat bius epidural," jelas perawat pada Roland.


"Ah... jadi istri saya masih lama siumannya?" tanya Roland lagi. "Lalu bagaimana bayi saya, dia pasti membutuhkan air susu ibunya?" Roland terus bertanya banyak hal karena dia masih tidak mengerti harus berbuat apa.


"Tenang saja Tuan. Di Rumah Sakit kami, memiliki bank ASI. Jadi anda tidak perlu khawatir mengenai asupan bayi anda," jelas perawat tersebut membuat perasaan Roland menjadi lega.


"Baik Suster, terimakasih kalau begitu..." ucap Roland sopan.


"Sama-sama Tuan," sahut si perawat lalu keluar meninggalkan penghuni ruangan tersebut. Membiarkannya kembali tenggelam dalam khayalan dan juga angan-angan.


Tidak berselang lama, Richard dan Maria datang ke Rumah Sakit dengan pakaian serba hitam. Mereka hanya bisa melihat dari balik jendela karena tidak diizinkan untuk memasuki ruang pemulihan.


"Bagaimana kondisi Leona, Nak?" Richard langsung memburu menantunya dengan pertanyaan.


Roland menutup pintu dan berjalan menuju bangku yang terletak di koridor Rumah Sakit. "Kata Dokter Leona baik-baik saja Pa. Cuman tinggal menunggu waktu siuman, besok atau lusa."

__ADS_1


"Lama juga ya... tapi biarlah, yang terpenting ibu dan bayinya selamat," sahut Richard turut merasa lega.


"Oh iya... di mana cucu kami?" tanya Maria sambil cingak-cingak mencari ruang inkubasi. "Mama sudah tidak sabar ingin melihat cucu Mama," lanjut Maria antusias.


"Alodie ada di kamar inkubasi, Ma..." tunjuk Roland pada tempat yang tersekat tiga ruangan.


Bola mata Maria mengikuti arah jari telunjuk Roland yang menjulur. "Jadi nama cucu Mama, Alodie? Sungguh cantik... pasti namanya secantik paras juga hatinya."


"Iya Ma... Alodie sangat cantik, mirip sekali dengan Leona," sahut Roland tersenyum, mengingat wajah putrinya yang begitu menggemaskan.


"Kalau begitu antarkan Mama, Mama ingin melihat cucu Mama," titah Maria pada Roland.


"Cucu Mama... cucu Papa juga lah," protes Richard yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Maria dan Roland.


"Iya-iya ... cucu kita berdua," sahut Maria menghindari perdebatan. Mereka berdua beringsut dari tempat duduknya dan mengikuti Roland ke arah ruangan yang dimaksud.


"Itu Alodie," tunjuk Roland pada bayi mungil yang tengah terpejam. "Cantik kan Ma, Pa?" Roland menatap penuh cinta. Dia melupakan bahwa malaikat kecil itu bukanlah darah dagingnya.


Richard mengangguk, matanya berkaca-kaca penuh haru bahagia. Karena putri dan cucunya bisa selamat meski dalam kondisi yang serba mencekam.


"Pa...?" panggil Maria pada Richard yang terus menatap bayi mungil di dalam inkubator.


Richard menolehkan kepala dan memperlihatkan raut tanda tanya. "Ada apa Maria? Aku sedang asyik menikmati wajah malaikat cucuku."


"Papa lupa ya kalau kita akan menghadiri upacara pemakaman mantan istri Papa?" tanya Maria mengingatkan. Richard menepuk kening karena terlalu didera rasa bahagia, hingga melupakan ada tempat lain yang harus disinggahi.


"Astaga, Papa benar-benar tidak ingat!" Richard melirik benda di atas pergelangan tangan. Menunjukkan pukul 06.30 a.m. "Kalau begitu kami pergi dulu... kami harus menghadiri upacara pemakaman Amber," ujar Richard pada menantunya dengan suara berat.


Meski pada akhirnya Richard mengetahui kejahatan dan kebusukan Amber. Namun, memori indah bersama istri keduanya itu akan tetap tersimpan dan terkenang di dalam sanubari.

__ADS_1


"Kami titip dua bidadari cantik kami," tambah Maria pada Roland.


"Percayakan semuanya pada Roland, Ma..." sahutnya sembari berjalan mengantarkan sang mertua menuju lobby Rumah Sakit.


...***...


Sisa hujan semalam masih membekas di atas tanah. Basah dan penuh lumpur, mewarnai hari di mana jasad seorang Amber akan kembali ke bumi. Dan bersiap untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan di dunia kepada Tuhannya.


Isak tangis dari orang-orang terdekat yang ditinggalkan, mengiringi berpulangnya jasad terpisah dengan ruh. Mata-mata sembab menyisakan kepahitan juga duka yang mendalam.


Nampak saat ini sang adik tercinta menatap penuh luka. Saat sebuah peti perlahan diturunkan dan dimasukkan ke dalam lubang sempit nan menghimpit. Antara kebencian dan penyesalan yang dia rasakan. Menyesal karena mengikuti permintaan sang kakak yang hanya berujung nestapa.


Semua tatapan kesedihan berubah menjadi tatapan kejengahan. Ketika manik mata mereka memindai wajah seseorang yang baru saja datang tanpa malu dan rasa bersalah sedikit pun. Meski mereka tahu bahwa Amber lah yang bersalah. Namun, kebencian itu tetap tidak bisa dielakkan dari dalam hati mereka.


"Stop! Jangan lagi menginjakkan kaki kotormu pada tempat suci ini!" teriak seorang pria pada Richard. "Berhenti saya bilang! Apa telingamu tuli tua bangka?" cibir pria dengan borgol melingkar di pergelangan tangannya.


Richard menghentikan laju langkah saat beberapa batu kerikil dilemparkan ke arahnya dan mengenai beberapa bagian tubuhnya.


"Pergi kalian dari sini, pergi!!!" usir semua orang tidak ingin melihat Richard mendekati kubur saudara mereka. "Amber kami mati, itu semua karena ulahmu, Richard! Kamu dan wanita itu yang telah membunuhnya!" tuduh salah seorang laki-laki yang bertubuh kurus.


Mereka kembali melempari Richard dan Maria menggunakan bebatuan yang berada di area makam tersebut. Beruntung salah satu anggota kepolisian yang mendampingi adik kandung Amber, melerai dan membuat situasi upacara pemakaman kembali kondusif.


"Lebih baik Tuan dan Nyonya pergi saja. Takutnya kami tidak bisa menahan lagi kemarahan orang-orang," ucap salah satu pria berseragam.


Richard mengangguk dan menuntun Maria untuk kembali ke dalam mobil. Mereka memutuskan untuk bertolak ke Rumah Sakit, di mana Ezio tengah mendapat penanganan.


...*****...


...Ilham ke mana atuh Ilham, maafkan ide cerita mampet terus 😅🙏...

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk teman-teman semua yang masih berkenan membaca Novel recehan ini 🤭...


...Semoga sehat dan bahagia selalu......


__ADS_2