
Di depan sebuah bangunan dengan aroma cat yang masih melekat, seorang pria berdiri dengan segala perasaan yang campur aduk. Diam-diam dia mempersiapkan semua ini untuk wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya.
Bangunan yang dibuat dengan menguras keringat dan memeras pikiran, kini berdiri kokoh menghadap ke arah matahari terbenam. Dia sangat memikirkan hal-hal detail seperti ini. Bukan tanpa alasan, itu semua didasarkan karena sang dambaan hatinya sangat menyukai segala sesuatu tentang senja.
"Bagaimana, apa semua urusan sudah selesai?" tanya Edward pada asistennya. Dia memperhatikan setiap hal, tidak ingin ada satu pun yang terlewati.
"Sudah bos ... urusan administrasi, perizinan, pembayaran para pekerja bangunan, perekrutan karyawan dan semua perlengkapan yang dibutuhkan, sudah selesai dan sudah lengkap," jawab Feliks lugas dengan setumpuk kertas yang harus dipelajari dan ditanda tangani atasannya.
Edward manggut-manggut, kemudian memeriksa berkas-berkas penting yang disodorkan asistennya. Edward sangat puas akan kinerja orang kepercayaannya itu. Dia mengeluarkan buku cek kemudian menuliskan sejumlah angka dengan nominal yang sangat luar biasa.
"Ini buat kamu Feliks, sebagai bayaran dari kerja kerasmu selama ini." Edward menyerahkan selembar cek dengan sepuluh digit angka di atasnya.
Feliks membuka matanya lebar-lebar, lalu membolak-balikan kertas kecil yang dia pegang. Berkali-kali dia mengecek tulisan hitam di atasnya untuk memastikan.
"Bos, ini beneran ... saya tidak salah lihat, kan?" Feliks mendekatkan kertas itu kewajahnya, hingga bola matanya menjuling.
"Kamu tidak salah lihat, itu memang 1 miliar," jawab Edward dengan mata bergerak-gerak membaca kata per kata kertas putih di depannya. "Tapi aku mau meminta tolong satu lagi." Edward menyimpan ballpoint ke atas meja.
"Apa itu Bos?" sahut Feliks.
Edward mengatakan sesuatu pada asistennya. Feliks mengangguk-anggukkan kepala dengan seringai tipis yang terbit dari salah satu sudut bibirnya.
"Gampang Bos, urusan ini serahkan saja pada ahlinya," seloroh Feliks dengan sebuah ide yang muncul di dalam pikirannya.
...***...
"Ayolah Rona... temani aku," rengek Claire yang meminta ditemani mencari dress untuknya berkencan.
"Kamu kan bisa pergi sendiri. Aku tidak enak sama mama kalau harus menitipkan Ezio berlama-lama," tolak Rona atas ajakan sahabatnya.
Maria yang dari tadi menguping, dia mendekati dua gadis yang tengah asyik bercengkerama. "Pergilah Nak, biar Ezio sama Mama. Lagi pula Ezio anak yang baik, tidak pernah menyusahkan."
Rona bersitatap dengan Claire kemudian menatap ke arah Maria. "Baiklah Ma... kalau begitu Rona ganti baju dulu."
__ADS_1
10 menit kemudian,
"Wuih... ibu hamil yang satu ini semakin memesona saja," puji Claire pada sahabatnya. Rona memang nampak sangat cantik. Tubuh mungilnya dibalut sweater wol warna salmon dengan rok midi di bawah lutut. Penampilannya disempurnakan dengan snow boot dan tas mini yang menggantung di atas bahunya.
"Biasanya kalau ibunya pandai berdandan, bayinya perempuan," timpal Maria yang setuju dengan pujian Claire pada Rona.
"Mau bayi perempuan atau pun laki-laki, bagi Rona sama saja Ma," sahut Rona dengan tangan mengelus-elus perutnya. "Yang paling penting mereka sehat."
"Ya sudah... sana pergi. Bersenang-senanglah, lupakan semua beban yang ada di pikiranmu," ujar Maria mengusap-usap pucuk kepala Rona.
"Terimakasih ya, Ma... Rona titip Ezio." Rona mendekap erat tubuh Maria kemudian berlalu pergi bersama Claire ke suatu tempat.
Selama di perjalanan Rona tidak sedikit pun menaruh curiga pada sahabatnya itu. Dia menikmati jalanan dengan salju yang tidak begitu pekat. Senyum manisnya berkembang, melihat pemandangan yang membuat hatinya tenang.
"Tujuan kita masih lama?" Rona menoleh ke arah Claire yang tengah memutar kemudi.
"Sebentar lagi kita sampai," jawab Claire yang berusaha untuk tetap fokus.
"Kamu mau mencari dress di mana Claire?" tanya Rona yang mulai tidak enak hati.
"Di depan?" jawab Claire.
"Di sekitar daerah ini setahuku tidak ada mall ataupun pertokoan," timpal Rona.
"Mungkin kamu lupa," imbuh Claire yang menepikan kendaraannya di sebuah tempat asing yang dipenuhi lampu-lampu terang. Claire mematikan mesin, setelah itu keluar dari dalam mobil diikuti Rona.
Rona menatap ke arah bangunan yang terlihat baru selesai dibangun kemudian menoleh ke arah di mana Claire berdiri, namun gadis itu tahu-tahu menghilang.
"Claire... kamu di mana?" Rona mulai panik. "Claire... please jangan menakut-nakutiku," pekik Rona yang tubuhnya gemetar. Dia melihat ke sekeliling, tidak ada satu pun orang maupun kendaraan yang melintas.
Rona hampir saja menangis, sebelum suara bariton yang dia kenali menggaung di gendang telinganya.
"Sayang...," Edward memanggil wanita yang sudah dia tunggu sedari tadi.
__ADS_1
"Kamu?" sahut Rona. Dia berdecak kesal dengan tangan yang menyilang di depan dada. "Harusnya aku lebih peka, kalau ini semua taktikmu, Tuan Edward."
Edward terkekeh, "Kamu tidak lelah merengut dan merajuk seperti ini hm...?"
Rona memutar bola matanya malas karena mendengar ocehan pria buaya yang senang bermain wanita. "Cih...!! Katakan saja apa maumu, Tuan?"
Edward berjalan mendekat, sorotan matanya melemahkan pertahanan yang sudah Rona bangun dengan kekecewaan dan amarah. Jantungnya berdegup kencang, perasaannya mulai tidak bisa dikendalikan.
"Aku merindukanmu," bisik Edward tepat di samping telinga Rona. Rona membuang muka, matanya mengerling memperlihatkan ketidak sukaan.
Melihat leher jenjang Rona terekspos, seringai nakal tersungging. Wajah Erward mendekat, satu kecupan mendarat di atas ceruk leher dan di atas daun telinga. Wajah Rona memerah menahan tubuhnya yang mulai meremang.
"Ikut aku!" Edward menarik tangan Rona, membawanya ke satu tempat yang di mana sudah banyak orang menunggu.
"I-ini ada apa?" Kepala Rona berputar menatap satu per satu wajah yang dia kenali, kemudian tatapannya beralih pada bangunan baru yang bertuliskan Children's Hospital.
Edward menggenggam kedua tangan istrinya. "Ini untuk kamu."
"Ma-maksudnya bagaimana?" Rona masih belum begitu memahami apa yang tengah terjadi.
"Edward menyiapkan ini semua untuk kamu Rona. Dia memintaku untuk membantunya. Maafkan aku tentang kejadian terakhir kita bertemu.Tapi sungguh, aku dan Edward adalah saudara sepupu. Bukan teman affair atau selingkuhan seperti yang kamu pikirkan selama ini," ungkap Natalie yang maju beberapa langkah.
"La-lalu Rumah Sakit ini?" tanya Rona lagi. Matanya meminta jawaban pada suaminya juga pada Natalie.
"Rumah Sakit ini milikmu, aku menyiapkannya khusus untukmu." Edward memberikan gunting kecil. "Potonglah pita ini, karena kamulah yang berhak." Edward menarik tangan Rona yang bergetar dan mengarahkannya pada selembar pita yang membentang.
Tepuk tangan dan pekikan kebahagiaan orang-orang bergemuruh, diiringi tangisan yang berderai dari sepasang mata jernihnya. Pikirannya masih mengawang serta berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia terus terisak dengan tangan yang sibuk menyeka setiap tetesan yang menggenang di pelupuk mata.
...*****...
...Terimakasih banya untuk dukungan dari teman-teman semuanya. Berkah dan sehat selalu ya......
...Love You all.....
__ADS_1