
Sang raja langit mulai bergulir menuju peraduannya. Pancaran sinar yang semula terik, kini mulai meneduh. Udara panas, bergantikan semilir angin. Pepohonan pun riuh karena tiupan yang membuatnya melambai-lambai.
Seorang wanita dengan gusar berkali-kali melirik ke arah benda berdetak di pergelangan tangan kirinya. Dia menantikan seseorang yang tak kunjung tiba. Seseorang yang menjanjikan bahwa dia akan menyusulnya dan menemani dirinya memilih perlengkapan untuk calon buah hati mereka.
"Ayo Kak, hari semakin sore nih. Kasihan Ezio pasti menunggu Mommy-nya pulang," tegur Leona karena Rona masih saja tidak mau beranjak dari tempatnya. Padahal mereka sudah menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam di restoran Jepang tersebut. Sampai-sampai lirikan mata dari pegawainya menajam dan menohok.
"Leona malu tahu Kak... kita dari tadi diperhatikan terus. Apalagi tamu restoran semakin sore semakin ramai," rajuk Leona pada kakak iparnya.
Rona mengitarkan pandangannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang dia singgahi itu tidak sesepi sebelumnya. Dia menghela napas, tubuhnya terasa berat untuk ditarik. Namun, mau tidak mau dia harus secepatnya beranjak dari restoran tersebut.
"Ya sudah ayo," ajak Rona tanpa basa basi.
Akhirnya mereka keluar dari restoran menuju tujuan utama, yakni baby shop. Orang-orang memandangi mereka dengan tatapan penuh keingin tahuan. Karena ketiganya terlihat seperti satu suami beserta dua orang istri yang sama-sama tengah berbadan dua.
Roland yang memahami makna tatapan semua orang di sekitarnya, malah merasa bangga dan melangkah dengan wajah mendongak. Sesekali dia memainkan kerah pakaiannya dan sesekali memainkan kaca mata hitamnya.
"Toko yang mana Kak, ini ada dua soalnya?" tunjuk Leona pada toko yang posisinya berseberangan. Rona menolehkan kepala ke arah kanan dan kiri secara bergantian. Dan lebih memilih tempat terdekat.
"Em... baby shop yang ini saja Leona. Aku malas kalau harus berjalan lagi," jawab Rona menunjuk toko yang berada di sampingnya. Leona mengangguk, dia mengikut saja dengan pilihan kakak iparnya.
Mereka bergegas memasuki toko yang sekelilingnya kaca dengan ornamen bulan bintang. Tiga pasang mata bersinar seraya melengkungkan garis bibir ke atas. Melihat pernak-pernik perlengkapan bayi dengan berbagai warna lembut yang tertata rapi di dalam rak-rak tinggi dan lebar.
"So cute!" puji Rona gemas. Langkahnya tertarik cepat, karena tidak sabar ingin memborong semua yang ada di dalam toko tersebut. Dia menarik sebuah troli dan berjalan cepat meninggalkan Leona beserta suaminya.
Jemari lembut membelai pakaian-pakaian bayi yang berbahan halus lalu menaruhnya di atas pipi. Rona mengelus-elus perutnya sambil membayangkan kalau ketiga calon bayinya telah lahir ke dunia. Bibirnya tertarik ke atas, lantas dia berbicara sendiri.
"Mommy sudah tidak sabar ingin bertemu kalian, Nak... Mommy pasti akan bahagia sekali melihat mata bening kalian dengan tubuh mungil menggemaskan."
Troli yang semula kosong, kini mulai dipenuhi oleh pakaian dan perlengkapan bayi lainnya. Tidak lupa barang-barang yang akan Rona butuhkan selepas persalinannya nanti. Senyum cerianya tiba-tiba hilang berganti kecemburuan, saat dia melihat Leona beradu pendapat dengan Roland ketika memilih kebutuhan untuk bayi mereka. Sementara Rona, dia hanya bertemankan bayangannya sendiri.
__ADS_1
"Huft... aku coba telepon Edward sekali lagi deh." Rona mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya, mencoba untuk menghubungi suaminya kembali. Namun, pria itu tidak mengangkatnya. "Ponselnya masih saja tidak bisa dihubungi," gumam Rona bersedih.
Rona melanjutkan langkahnya untuk memenuhi benda yang dia dorong hingga tak ada celah sedikit pun. Tanpa dia sadari ada seseorang yang menguntitnya sedari tadi. Melihat tas Rona yang masih terbuka dengan lebar, penguntit itu menyeringai licik. Dia mengambil sesuatu dari atas rak, lalu memasukkannya ke dalam tas Rona.
Setelah usahanya berhasil, dia buru-buru keluar dari toko dan bersembunyi sembari mengintip. Dia sangat tidak sabar ingin melihat Rona dipermalukan di depan umum. Karena dia akan merekam kejadian luar biasa yang sebentar lagi akan menjadi hiburan gratis untuknya.
"Mati kamu Rona! Lihat saja, wajahmu sebentar lagi akan viral di mana-mana!" bisik orang tersebut memasang mata.
Sementara itu Rona yang sudah lelah berkeliling-keliling toko, menghampiri Leona dan mengajak adik iparnya itu untuk pulang. Leona mengiyakan, karena dia sendiri pun sudah selesai dengan keperluannya.
"Leona.. kamu sudah selesai belanjanya? Kalau aku sudah, kita pulang sekarang yuk!" ajak Rona karena merasa letih.
Leona menggangguk lemah. "Iya ayo Kak, Leona juga sudah capek. Pinggang dan kaki Leona pegal-pegal."
Mata Leona berkerlip bintang sembari menilik barang belanjaan milik kakak iparnya. "Wah... banyak sekali keperluan buat si kembar. Gemas aku Kak...."
"Tenang ... nanti setelah baby girl kita lahir, kita tancap lagi siang dan malam gempur di atas ranjang. Biar baby girl kita ada temannya," cerocos Roland yang tidak ada bedanya dengan Edward.
"Filter sedikit dong Kak bicaranya... aku malu sama Kak Rona," bisik Leona pada suaminya. Namun, suaranya masih terdengar jelas oleh Rona.
Rona tertawa renyah kemudian menimpali perkataan adik iparnya. "Tidak usah malu, suamimu dan kakakmu itu sama saja, Leona! Sama-sama mesum, sama-sama kalau bicara tidak melihat tempat. Mereka berdua itu layaknya anak kembar. Cuman lain ibu, beda ayah."
Leona turut tertawa untuk menutupi rasa malunya. Namun, tangannya merayap ke arah pinggang sang suami. Kemudian menarik kulit pinggang kencang-kencang, hingga pemiliknya meringis dan kakinya berjinjit.
Rona menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkan sepasang suami istri yang tengah bertikai manja. Dia membawa keranjang dorong menuju meja chasier untuk membayar semua barang belanjaannya.
Selesai membayar, Rona bermaksud untuk menunggu Leona di tempat duduk yang berada di depan toko. Dia berjalan santai melewati sensor system matic. Namun naas, alarm alat pendeteksi itu berbunyi nyaring. Semua orang langsung melihat ke arahnya, terutama pegawai toko tersebut.
"Security... tahan wanita hamil itu!" teriak salah seorang pramuniaga. Rona terbelalak kaget, sebab benda di sampingnya berbunyi dan setelah itu diteriaki seperti seorang pencuri.
__ADS_1
"Ikut kami ke kantor!" geram pria berseragam biru seraya mencengkeram kuat lengan Rona.
"Ta-tapi saya tidak mencuri apa pun! Mungkin alat pendeteksi itu rusak," ujar Rona merasa cemas.
"Ikut kami dahulu, Nyonya. Nanti akan terbukti apa anda bersalah atau tidak!" ketus security tersebut menyeret kasar tubuh Rona.
"Lepas!" pekik Rona karena pria yang menariknya semakin kurang ajar. "Lagi pula untuk apa saya mencuri, saya mampu membayar semua belanjaan ini semua!" bela Rona kesal.
"Banyak omong kosong, pencuri tetap saja pencuri dengan dalih apa pun!" sahut seorang pegawai dengan raut kejam. "Seret saja dia! Bila perlu sekalian telanjangi saja di sini. Siapa tahu perut buncitnya itu, perut palsu!" tambahnya lagi seakan bukan sesama perempuan.
Leona dan Roland yang mendengar keributan, mereka lekas mencari tahu ada masalah apa yang terjadi di tempat tersebut. Alangkah terkejutnya mereka melihat Rona yang dikerubuni banyak orang seraya diteriaki umpatan-umpatan.
"Ada apa ini? Kenapa Kakak saya dikerumuni seperti ini?" bentak Roland pada pria yang menarik kedua lengan Rona ke belakang.
"Wanita ini sudah mencuri di tempat ini. Kami akan membawa dia ke kantor manajer. Dan kalau memang terbukti bersalah, kami akan melaporkannya ke pihak yang berwajib," jawab security memaksa Rona untuk mengeret tubuhnya, mengikuti langkah pria tersebut.
Roland menyusul pria berseragam itu kemudian menjerat lehernya menggunakan jemari. "Dengarkan saya baik-baik. Jangan bersikap kasar pada wanita ini, atau saya akan membuatmu mati sekarang juga!"
Pria yang Roland cekik, mengangguk-anggukkan kepala dan terpaksa melepaskan lengan Rona sembari terbatuk-batuk. "Ma-maaf Tuan, saya hanya mengikuti perintah atasan."
Roland kembali mencekik pria tersebut hingga tubuh pria itu terangkat karena cengkeraman kuat tangan Roland di lehernya. "Saya tahu ... tapi kamu bisa kan memperlakukan Kakak saya dengan lebih baik? Apa matamu buta, tidak bisa melihat kondisi wanita ini yang tengah berbadan dua?"
"Kak Roland lepas, dia bisa mati!" sentak Leona khawatir suaminya itu akan bertindak di luar batas. Roland mengusap kasar wajahnya lalu melepaskan jeratan tangannya di leher security tersebut. Pria itu terjatuh ke atas lantai, dengan napas tersengal-sengal. Terlihat luka lebam membekas di sekeliling lehernya.
Semua orang ketakutan, tidak ada yang berani mendekat. Hingga dua orang security mall datang karena seseorang telah memanggil mereka.
"Ikut kami ke kantor!" titah mereka tanpa perlawanan. Rona ditemani Leona mengikuti dua orang security tersebut sembari terisak. Tubuhnya bergetar lantaran rasa cemas yang berlebihan. Sementara Roland, dia berjalan di belakang mereka sembari berusaha untuk menghubungi Edward.
"Tenang Kak, semuanya akan baik-baik saja," ucap Leona menenangkan. Rona hanya mengangguk pilu, karena badannya tiba-tiba terasa lemas dan tidak bertenaga.
__ADS_1
...*****...
...Terimakasih dukungannya semuanya. Mohon maaf kalau banyak typo, seperti biasa langsung otw revisi 🙏...