
Langkah tertatih, gemuruh di dalam dada semakin menyesak. Perasaan seorang wanita terluka dan terkoyak. Dulu dia pernah merebut kebahagiaan wanita lain, kini kebahagiaannya direnggut oleh perempuan lain. Perempuan yang lebih muda darinya. Lebih lihai dalam urusan ranjang dengan tubuh mengkal masih sangat terjaga.
Jessi, wanita yang dulu menjadi kekasih simpanan seorang pria bernama Roy. Detik-detik menuju pernikahannya seakan mendapatkan karma atas apa yang pernah dia lakukan di masa lalu.
"Jessi!" pekik Roy yang melihat calon istrinya masuk ke dalam kamar sembari menggebrak daun pintu. Dia langsung mencabut miliknya yang seketika mengecil dan melemas. Grace sontak meraih selimut yang melipat untuk menutupi tubuh polos yang terekspos sempurna.
"Dasar laki-laki kurang ajar, tidak tahu diri!" Jessi menarik vas bunga yang tertata di atas meja, lantas menghantamkannya ke arah kekasihnya. Vas itu mengenai wajah Roy, darah segar menetes dari dalam hidung. Roy mengusap darah yang bercucuran, matanya berkunang-kunang.
Mata keji Jessi kini menyalang ke arah perempuan yang meringkuk ketakutan. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh Grace, Grace menahannya. Terjadi saling tarik menarik di antara keduanya. Namun Jessi tidak kehabisan akal, dia melepaskan selimut dari cengkeraman tangannya, kemudian merangkak ke atas ranjang.
"Dasar perempuan gatal, penggoda kekasih orang!" Jessi berteriak histeris. Tangannya yang ringan mengayun ke arah wajah Grace berkali-kali hingga setitik darah menggumpal di sudut bibir Grace. "Ini pelajaran yang tepat untuk perempuan jalangg sepertimu!" Jessi menarik rambut Grace yang tergerai dengan terus berteriak.
Roy menggeleng-gelengkan kepala, dia berjalan sempoyongan ke arah calon istrinya lalu mendekapnya dari balik punggung. "Sudah Jessi... ku mohon, sudah!"
Jessi tidak mengindahkan perkataan Roy, kakinya yang bergerak bebas menendang bagian perut Grace hingga gadis itu mengaduh. Grace yang ketakutan terpaksa menarik tubuhnya dari dalam selimut untuk melepaskan diri.
Gadis dengan iris mata hazel sudah tidak peduli, meskipun harus mempermalukan dirinya di depan para tamu hotel yang menyaksikan pertikaian antara dirinya dengan Jessi. Grace berlari dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Dia mencari pakaian miliknya dan bersigera pergi menyelamatkan diri dari amukan Jessi.
Jessi yang menyadari kalau Grace berhasil kabur dia menghentakkan kepala ke arah belakang dan mengenai wajah Roy. Pria tersebut melepas dekapannya karena rasa ngilu yang mendera hidung mancungnya.
"Shittt!" umpat Roy. Jessi menarik bibirnya tidak simetris kemudian beranjak menyusul Grace. Grace yang panik dia terus berlari sembari mengenakan pakaiannya. Semua orang menatapnya heran, namun gadis itu tidak peduli.
"Hei, you!" pekik Jessi. Jessi berlari mengejar Grace. Grace menoleh sesaat lalu mencari celah untuknya melarikan diri. Dia melihat pintu tangga darurat yang terbuat dari besi kemudian menariknya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Jessi yang mulai kelelahan, membungkukkan tubuhnya sembari mengatur napas yang terasa pendek. Rasa sakit di area perut bawah tidak dia hiraukan. Matanya menangkap pintu lift yang terbuka, kemudian sedikit berlari untuk bisa masuk ke dalamnya. Dia memencet floor button, berharap bisa mengejar wanita incarannya.
Tubuhnya yang basah oleh keringat, menyandar lemah. Bibirnya meringis dengan tangan memegangi perut yang semakin terasa melilit. Pintu lift terbuka, rasa sakit yang menghujam seketika hilang saat kedua pupil mata menangkap penampakan wanita yang menjadi targetnya.
"Berhenti kamu!" bentak Jessi. Tubuh Grace membeku dalam hitungan detik kemudian mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tangan tajam Jessi merentang lantas menarik kasar rambut Grace.
Grace yang kesakitan dia memohon pada wanita di belakangnya. Tangannya menelungkup, air mata berderai. Akan tetapi Jessi yang sudah diliputi api amarah mengacuhkan suara pilu yang berasal dari bibir simpanan kekasihnya.
"Apa kamu tidak tahu kalau Roy sebentar lagi akan menikah denganku?" Jessi semakin mengencangkan cengkeraman. "Apa kamu tidak tahu kalau calon istrinya sedang mengandung?"
"A-aku tahu. Maafkan aku!" lirih Grace. Tangannya terus saja menelungkup berharap hati Jessi bisa luluh.
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih saja menggoda lelakiku hah?" Jessi mengunggut rambut Grace ke bawah memaksa kepala gadis itu mendongak mengikuti arah surainya ditarik.
"Ah... tolong. Perutku sakit sekali!" Jessi yang melihat darah mengucur di atas kakinya terbelalak kaget. "Tolong panggilkan ambulan, ku mohon...."
Pegawai hotel yang melihat kondisi Jessi sangat menguatirkan, dengan sigap menghubungi nomor telepon darurat untuk meminta dikirimkan satu unit ambulan.
"Tunggu sebentar Nyonya," ucap seorang receptionist.
"A-aku sudah tidak kuat." Jessi pingsan, semua orang kalang kabut.
Roy yang menyusul calon istrinya, mendapati tubuh wanita itu telah terbaring lemah. Tubuh Roy bergetar hebat, terlebih ketika sepasang mata memindai cairan kental berwarna merah.
__ADS_1
"Jessi!" Roy mengambil langkah seribu kemudian tubuhnya melandai di depan raga wanitanya yang nampak pias. Bibirnya melipat menahan kesedihan yang menyeruak ke dalam relung hati. Dia berteriak sekencang mungkin meluapkan segala perasaan yang tertanam di dalam kalbu. Rasa sedih, takut dan juga rasa bersalah.
Roy menggenggam tangan calon istrinya yang kini terasa dingin. Kekalutan dan kepanikan di dalam dirinya bertambah besar. Dia menggosok-gosokkan kedua tangan untuk menghangatkan telapak tangan gadisnya.
"Kumohon Jessi, kuatlah...."
"Maafkan aku Jessi ... bertahanlah demi aku, demi kita, demi anak kita dan demi pernikahan kita."
Berselang sepuluh menit, ambulan datang. Tubuh Jessi diangkat dan dibawa oleh tim medis untuk diberikan pertolongan pertama. Kulit wajahnya semakin memudar, denyut nadi melemah.
Roy turut masuk ke dalam ambulan. Genggamannya tidak lepas dari tangan sang kekasih. Penyesalan memang selalu datang terlambat, karena Tuhan mungkin ingin memberikan pelajaran hidup bagi setiap hamba-Nya. Agar di kehidupan selanjutnya, bisa memperbaiki diri dan berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Perjalanan ke Rumah Sakit terasa melamban, kegusaran menanjak. Ibu jari digigit, sebelah kaki menetuk-netuk. Menjadi isyarat bahwa si empunya tengah merasakan kecemasan yang teramat sangat.
"Please... percepat laju mobilnya!" bentak Roy kesal. Dia menyugar rambut hitamnya kemudian menariknya.
"Kenapa lambat sekali? Calon istriku bisa kehilangan nyawanya kalau seperti ini!" imbuh Roy yang menjulurkan jari telunjuk. "Kalau sampai sesuatu terjadi pada kekasihku, kalian akan kuantar ke liang lahat!" ancam Roy.
Ocehan Roy tidak diindahkan, mereka memahami akan kondisi Roy yang tertekan. Semua memilih bungkam dengan pandangan fokus pada tugasnya masing-masing.
...*****...
...Terimakasih banyak untuk semua dukungannya ya Kak, semoga semuanya selalu sehat dan dimudahkan dalam setiap urusan....
__ADS_1