
Sering terdengar ungkapan bila seseorang pernah berselingkuh, maka dia akan mengulang kesalahan yang sama suatu saat. Kata maaf hanya terucap di bibir tanpa ada itikad untuk memperbaiki diri. Di saat memperoleh kesempatan kedua dan malah menyia-nyiakannya demi kepuasan diri atas nafsuu sesaat. Semua akan hancur, sedikit demi sedikit.
"What happen with you, darling?" tanya seorang perempuan masuk ke dalam ruangan. Dia menarik tirai agar privacy dengan sang kekasih tidak diketahui orang lain. "Aku lihat sejak dari lobby kantor, wajahmu terus saja ditekuk. Ada apa?" Gadis itu membungkuk di belakang pria yang tengah duduk lanjut membelai dada bidangnya.
Pria itu mendengus. "Aku stress dengan anakku, Catrine. Anak itu benar-benar sulit diatur. Setiap hari hanya bisa menangis dan menangis, menyesal aku telah membawanya pulang!"
Perempuan bernama Catrine mengecup telinga kekasihnya. "Mau aku buat kamu melupakan kekesalanmu, Roy?"
Roy menarik tangan Catrine lalu menciumnya. "Aku menjadikanmu sebagai sekretaris pribadiku salah satunya adalah untuk menghibur dan memuaskanku. Jadi semestinya kamu tidak perlu bertanya lagi!"
Catrine tertawa kecil lalu duduk di atas paha Roy. Dia mengangkat dagu lelaki itu lalu melumatt bibirnya. Ciuman semakin memanas karena Roy menyambut pagutan kekasih gelapnya dengan lebih dalam dan liar.
"Aku merindukanmu, Roy ... sangat." Catrine mengulumm telinga Roy lanjut menjilatt ceruk leher. Tangan Roy mulai menjelajahi bagian tubuh Catrine yang paling dia sukai. Kepala Catrine tertarik ke belakang seraya mendesahh pelan.
Roy semakin tertantang, dia melepas blazer milik wanitanya dan menurunkan tali tipis yang menaut di atas pundak. Matanya meredup sayu, Roy langsung melahap keindahan yang tersaji di depan mata. Desahann demi desahann terdengar hingga keluar ruangan. Bagi semua karyawan, itu sudah menjadi hal biasa. Namun, bagi seorang gadis yang kini berdiri di depan pintu, tentu saja menjadi sesuatu yang mengejutkan juga menyakitkan.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Edward kepada Jessy. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepala lantaran hatinya terlalu sesak.
Edward mendengus kasar lantas membuka pintu dengan kencang. Dia masuk ke dalam ruang kerja Roy tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sebab sudah tidak sabar ingin melampiaskan amarah atas perilaku Roy pada putranya.
Kehadiran Edward tanpa permisi, sontak membuat sepasang kekasih yang dimabuk birahi terperanjat dan mengakhiri aktifitasnya. Wajah yang semula berselimut gairah berganti amarah dalam sekejap mata.
"Apa-apaan kamu, Edward?" sentak Roy murka karena sepupunya telah mengganggu waktu bersenang-senang.
Edward bukannya menjawab, dia terus berjalan dan menghampiri Roy. Tanpa basa-basi, pria yang tengah gelap mata menghajar muka Roy tanpa ampun. Catrine yang berdiri di samping Roy, memilih untuk menyelamatkan diri. Namun, di depan pintu Jessy sedang berdiri menyalang ke arahnya.
__ADS_1
"Mau ke mana kamu wanita sialan?" sentak Jessy. "Kamu tahu kan kalau Bosmu itu adalah tunanganku, kenapa masih kamu embat juga?!" bentak Jessy.
Catrine mendorong dada Jessy berniat melarikan diri, tetapi Jessy sigap menahan tangan Catrine lanjut memelintirnya. "Kamu mau kabur, hah? Tidak semudah itu, wanita penggoda!"
Jessy menyeret Catrine, dengan menarik rambut panjangnya hingga meja sekretaris. Dia meraih gunting dan tanpa pikir panjang memotong rambut gadis itu sependek mungkin. "Ini hukuman buat perempuan penggoda sepertimu, Catrine! Ingat, jangan pernah sekali lagi menjadi orang ketiga, kalau tidak ingin hidupmu hancur!"
Di saat Jessy tengah memberikan Catrine pelajaran, di waktu bersamaan Edward tengah memukuli Roy habis-habisan. Kalau bukan karena teringat sang paman, dia sudah pasti akan membunuh Roy saat itu juga.
"Berdiri!" bentak Edward. Dia menarik kerah kemeja Roy, memaksa tubuh lunglai itu untuk beringsut. "Aku bisa saja menghabisimu, Roy. Tapi aku tidak ingin mengotori tanganku. Jadi dengarkan aku baik-baik ... aku akan mengambil Ezio kembali dari pria bejat sepertimu! Dan ini sedikit hukuman dariku, tunggu hukuman selanjutnya!"
Edward melepaskan cengkeraman dan menghempaskan tubuh Roy hingga punggungnya menabrak tembok. Badannya terkapar dengan mata mengerjap lemah. Terdengar suara hentakkan dari heels sepatu, Roy mendongak dan tersenyum seketika.
"Jessy..." lirih Roy berharap tunangannya itu akan menolong.
"Ternyata kamu tidak akan pernah bisa berubah. Kamu masih seperti Roy yang dulu. Roy yang sering mabuk-mabukkan. Roy yang senang bermain dengan wanita mana pun. Apa kamu lupa ... kalau kita sudah bertunangan, Roy?"
Jessy tergelak. "Maaf dan maaf, apa aku sebegitu bodohnya di matamu? Apa kamu pikir aku akan dengan senang hati memaafkan dan menerima kesalahanmu kembali? Tidak Roy! Lebih baik aku akhiri pertunangan kita dari pada menikah dengan laki-laki yang tidak bisa setia!"
Jessy melepas cincin dari jari manis lantas melemparkan ke atas lantai. "Aku bebaskan kamu dari hubungan yang tidak ada artinya ini! Mulai sekarang kita tidak memiliki ikatan apa-apa lagi."
Pria yang tengah tengkurap di atas lantai hendak meraih cincin pertunangannya, tetapi Jessy telah lebih dahulu menginjak dan menekan kuat-kuat. "Hubungan kita seperti cincin ini, hancur!!!"
Jessy membalikkan badan meninggalkan Roy yang memanggil dengan suara parau. Dia sudah tidak ingin memiliki urusan apa pun dengan pria yang telah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun.
...***...
__ADS_1
Mansion keluarga Liam
Saat ini empat bayi lucu nan menggemaskan, tengah berada dalam satu ruangan. Mereka tertidur pulas di dalam boks bayi sembari mengisap jempol mungilnya.
"Ah... akhirnya mereka tidur juga," desah Rona melandaikan tubuh di atas sofa.
"Iya Kak, mereka tertidur juga akhirnya. Leona benar-benar lelah, tidak terbayang bagaimana kalau Leona berada di posisi Kak Rona. Bisa-bisa Leona mendadak gila!" celoteh Leona. Dia turut melungsurkan badan di samping kakak iparnya sembari menghembuskan napas.
"Wah sepertinya istri kecilku sudah ingin memberikan adik buat Alodie!" seru Roland yang tiba-tiba muncul tanpa disadari. "Mumpung Alodie tidur, ayo kita mencetak anak lagi!" Roland menggoda sang istri.
Leona seketika menegakkan punggungnya lanjut menggelengkan kepala. "Tidak...!! Satu saja, aku sudah kelimpungan...!!"
Triple A dan baby Alodie langsung menangis kejer lantaran suara teriakan Leona membangunkan mereka. Rona langsung menarik tubuhnya kemudian menepuk dahi. "Astaga... apa kamu tidak bisa bicara pelan-pelan, Leona?"
Leona menunduk, dia sangat merasa bersalah pada Rona karena teringat bagaimana susah payahnya sang kakak ipar merawat ketiga bayinya. "Maafkan Leona ya Kak, barusan tidak sengaja. Gara-gara Kak Roland nih....!"
Rona mendengus. "Iya tidak apa-apa. Cuman aku harus menyusui mereka lagi secara bersamaan. Sedangkan suster Ola dan nanny si kembar, kan sedang aku suruh membeli perlengkapan buat anak-anak."
Rona beranjak dan mengangkat Axel terlebih dahulu dari dalam boks bayi. Sebab anak itu yang paling keras menangisnya. "Duh... anak Mommy mau ASI ya?"
"Mau Mommy," sahut Roland menirukan suara anak kecil.
Leona terkekeh kemudian menarik kulit pinggang suaminya. "Tolong itu mata jangan jelalatan Kak. Kalau tidak mau Leona congkel dan dijadikan makanan piranha!"
...*****...
__ADS_1
...Masih kuat puasanya?...