
Suasana pagi di Rumah Sakit yang biasanya ramai karena kehadiran jiwa-jiwa pengharap kesembuhan, kini mendadak hingar bingar karena dikejutkan dengan kehadiran sosok tampan bertubuh tegap. Semua terpana dengan pikiran yang bertanya-tanya, siapakah sosok yang mengenakan setelan toxedo hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Rahangnya yang tegas menambah kharisma dan menarik perhatian terutama para kaum hawa yang saat ini tengah berbisik-bisik.
"Itu siapa yang bersama Nyonya Amber, tampan sekali?!"
"Dengar-dengar, dia ini pewaris utama keluarga Liam yang akan meneruskan usaha ayahnya mengelola Rumah Sakit."
"Iyakah ... tapi sepertinya dia ini pria beristri?!"
"Bukan, dia itu hot Daddy alias duda menggoda...!"
"Seriusan?"
Percakapan yang terjadi antara dua orang perawat terpotong karena Amber telah memulai acara penyambutan Direktur utama baru Rumah Sakit.
Amber berbicara dengan lantang dan berapi-api seolah dialah pemilik utama Rumah Sakit. Padahal kekayaan yang dia nikmati saat ini adalah hasil jerih payah Richard dengan istri pertamanya, Lesham.
Lesham adalah ibu kandung Edward yang meninggal secara tidak wajar ketika tengah bertolak dari Rumah Sakit. Kendaraan yang dilajukannya terjungkal setelah melewati jalan licin dengan kondisi rem mobil blong. Mobilnya hilang kendali lalu berguling-berguling, sementara Lesham terlempar jauh dengan tubuh menghantam aspal. Dia langsung menghembuskan napas terakhirnya saat itu juga.
Satu tahun setelah meninggalnya Lesham, Richard menikah kembali. Dia menikah dengan Amber, wanita yang dikenalnya ketika mencari kesenangan di klub malam. Ya, masa lalu Amber sangat kelam. Dia diangkat derajatnya oleh Richard, ditarik dari lembah penuh dosa.
"Pagi ini saya akan mengumumkan bahwa kepemimpinan Rumah Sakit milik keluarga Liam akan dilanjutkan oleh putra kesayangan saya, Edward Liam. Menggantikan posisi suami saya, Richard Liam. Dikarenakan kondisi kesehatannya yang semakin tidak stabil," jelas Amber.
"Maaf saya terlambat...," Perhatian orang-orang teralihkan pada gadis berambut pirang yang mengenakan dress kurang bahan, dengan kacamata hitam dan sepatu berhak tinggi. Dia berjalan-jalan bak seorang model. Bokongnya bergerak ke kiri dan ke kanan, seirama dengan hentakkan kaki yang penuh energi.
"Sini sayang..." pinta Amber sembari mengulurkan tangannya. Gadis itu mendekat dan langsung merangkul lengan Edward.
__ADS_1
"Dan perkenalkan ... wanita cantik dan berkelas ini dia Arabella Brooks, tunangan putra saya. Dan mereka sebentar lagi akan menikah," ungkap Amber sembari bertepuk tangan.
Seseorang yang berdiri paling belakang, kini mematung. Ada genangan tetesan kesedihan yang tertahan di kelopak mata. Sekuat hati dia tahan, meski ingin rasanya berteriak sekeras mungkin. Sementara sahabatnya yang berdiri tepat di samping, merangkul dan membelai lembut pundaknya.
"Jadi Edward..." gumam Rona. Dia tidak melanjutkan perkataannya karena mulutnya mendadak kelu.
Claire mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali menghajar wajah sok ganteng yang berdiri tanpa malu. Sedangkan Rona dia memilih untuk tidak mengikuti acara penyambutan. Namun, suara pekikan seseorang menahan langkahnya.
"Tidak ada yang boleh keluar sebelum acara penyambutan selesai. Kalau ada yang melanggar, silakan anda angkat kaki dari Rumah Sakit ini!" ancam Amber yang menatap ke arah Rona. Membuat mata semua orang turut menyoroti seorang dokter yang berdiri memunggungi.
Rona terpaksa memutar tubuhnya kembali. Namun, dengan muka menengadah. Tidak ada sedikit pun guratan kesedihan di wajahnya saat ini. Dia harus tegar, tidak ada yang boleh mempermainkan perasaannya, siapa pun itu.
Satu jam berlalu, acara penyambutan telah selesai. Dari awal hingga akhir acara, Amber terus saja mendominasi. Berbicara tanpa jeda, tidak memberikan kesempatan untuk Edward menyampaikan sambutannya sepatah ataupun duapatah kata, tapi dia tidak ingin ambil pusing.
Satu per satu dokter, perawat dan karyawan Rumah Sakit keluar dari ruang aula untuk kembali ke tugasnya masing-masing. Yang tersisa tinggal Rona dan Claire karena posisi mereka berdiri paling belakang.
"Kamu, ternyata Dokter di Rumah Sakit milik keluarga saya. Kalau saya tahu, sudah sejak awal saya memecatmu!" tandas Amber dengan jari telunjuk diarahkan ke muka gadis di depannya. Rona menurunkan telunjuk Amber lalu mendekat satu langkah.
"Mohon maaf Nyonya Amber yang terhormat, yang bisa memecat saya hanya putra anda atau tuan Richard sendiri. Sepengetahuan saya, nama anda tidak tercatat di dalam daftar pemilik Rumah Sakit. Terima kasih...."
Rona melanjutkan langkah dan kini giliran ular betina yang menghadang. "Heh kucing liar, dengarkan aku baik-baik!" titah Arabella. "Setelah aku menjadi Nyonya Edward Liam, aku pastikan akan mencoret namamu dari daftar Dokter di Rumah Sakit ini!" gertak Arabella.
Rona melirik ke arah Edward yang hanya diam tidak bersuara. Jangankan untuk membela, sekedar menghalangi dua betina saja dia tidak berani.
"Selamat Tuan Edward, semoga anda menjadi pemimpin yang bisa bersikap adil dan bijak," ucap Rona yang keluar dari ruangan. Namun, sebelumnya menubruk bahu Arabella yang menghalangi jalan.
__ADS_1
...***...
Rona berjalan dengan gusar dan disusul Claire di belakangnya. Dia menarik lengan Rona memaksa gadis itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rona ketus.
"Sampai kapan kamu mempertahankan hubungan tidak jelas seperti ini?" timpal Claire yang merangkul pundak Rona.
"Aku tak tahu Claire, jangan bahas ini dulu. Aku lelah..." keluh Rona. Rona melepaskan lengan Claire dari bahunya lalu berjalan dengan cepat menuju tempat parkir. Dia ingin sesegera mungkin pergi dari tempat yang tengah dia pijak.
Di dalam mobil, dia berteriak seraya memukul-mukul setir mobil. Meluapkan isi hati yang sempat tertahan, dia memekikkan nama pria yang membuatnya kecewa.
"Ah... brengsekk! Edward payah!"
Rona terus saja berteriak, akan tetapi dia dikagetkan karena seseorang yang mengetuk jendela mobilnya. Nampak wajah pria yang saat ini membuatnya berang tengah menatap penuh harap. Rona memutar kunci dan mobil mulai menyala. Dia menarik rem tangan dengan kaki yang menginjak gas. Dia melajukan mobil dan Edward terus mengejar seraya menepuk-nepuk jendela.
Kecepatan mobil semakin bertambah dan Edward berlari menuju mobilnya. Dia menyusul kendaraan Rona yang lebih dulu melesat sangat jauh. Edward mengejar mobil Rona dengan kecepatan penuh. Melewati kendaraan-kendaraan lain yang menghalangi jalan. Sesekali menikung, berkali-kali memencet klakson dengan mata yang terus fokus pada kendaraan beroda empat berwarna biru muda.
Rona melirik dari balik spion, menyadari kalau Edward tengah menyusulnya. Dia menarik tuas transmisi dengan kaki menginjak dalam accelerator pedal, kendaraannya kian melesat meninggalkan Edward jauh di belakang.
Dirasa sudah cukup aman, Rona mulai melonggarkan kecepatan mobil dan melaju dalam batas normal. Dia bisa menarik napas dengan lega. Namun, tiba-tiba sebuah mobil menghadang di depannya, dia menginjak pedal rem kuat-kuat hingga ban mobil berbunyi memekikkan telinga. Kendaraannya berhenti tepat di depan mobil Edward. Rona menundukkan kepala disertai detak jantung yang sangat kencang.
Bersambung....
...******...
__ADS_1
...Terimakasih dukungannya kakak-kakak semua, semoga terus mengikuti jalan cerita dr. Rona dan mas Edward ya......
...Happy New Year...