Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Hari Pertama


__ADS_3

Malam penuh keringat dan raungan, tergantikan dengan pagi yang dingin dan lembab. Dua tubuh tergeletak tak berdaya, saling mendekap saling berbagi kehangatan di tengah sapuan salju yang turun menyapa bumi.


Wanita yang sudah dikerjai habis-habisan oleh lelakinya menggeliat lalu mengerjapkan kedua matanya. Dia merasakan tubuhnya sangat lemas dan lelah karena sisa pergumulan tadi malam. Dia mencoba bangkit, namun merasakan pedih di area selangkangann. Dia meringis, karena tulang di sekujur tubuhnya seakan remuk dan rapuh.


"Ah... sudah pagi, aku harus menyiapkan semuanya." Rona menarik tubuhnya, kemudian duduk di pinggir ranjang dengan tubuh tertutup selimut. Belum sempat dia berdiri, tangan kekar suaminya lebih dulu melingkar di pinggangnya.


"Mau ke mana sayang, bukankah ini masih gelap?" Edward menatap ke arah jendela lalu menarik tubuh Rona ke dalam dekapannya.


"Ini sudah pagi, Edward. Aku harus bangun!" Rona berusaha melepaskan pelukan suaminya, namun usahanya sia-sia.


"Pagi ini dingin sekali sayang, aku butuh kehangatan," bisik Edward di atas telinga. Tubuh sang istri yang semula menolak, seolah tertarik kembali ke dalam buaian pergulatan atas nama cinta.


"Area intiku perih sayang. Nanti malam saja ya kita lanjutkan sesi kedua," tolak Rona akan hasrat suaminya.


Penolakan dari sang istri hanya terdengar seperti suara tiupan angin. Karena kini Edward sudah berada di dalam selimut tengah menghisap titik areola. Rona meremass kain seprai dengan bibir yang mengeluarkan nada-nada merdu.


Edward merangkak dan keluar dari balik selimut lantas memagut bibir sang istri. Lidahnya berputar-putar di dalam ruang hangat dan lembut, membelit lidah sang istri kemudian menyesapnya kuat.


"Aku akan bermain dengan lembut, kamu cukup terlentang dan menikmatinya saja," bujuk Edward atas penolakan sang istri. Rona terbungkam, karena kini tubuhnya sudah bukan miliknya lagi. Dia telah pasrah, menantikan sensasi selanjutnya yang akan diberikan lelakinya.


Edward yang seolah paham akan bahasa tubuh sang istri, dia menyelinap kembali ke dalam kain tebal yang terbuat dari wol. Kemudian memberi rangsangan pada titik senggama yang sudah mulai basah. Seperti permainan-permainan sebelumnya, jari tangan dan lidah saling bekerja, bersinergi memberi kenikmatan pada si pemiliknya. Lenguhan panjang terdengar seirama dengan mengalirnya cairan tanda cinta ke atas jemari sang suami.


Suasana kamar yang dingin kembali memanas. Edward menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh sang istri. Dia ingin menatap wajah Rona juga memandang setiap inci tubuh indah wanitanya.

__ADS_1


Rona memejamkan mata, menggigit tipis ujung bibirnya saat Edward melakukan penetrasi. Dia meringis karena rasa perih di area pangkal paha, Edward melumatt bibir wanitanya untuk mengalihkan perhatian. Dengan sekali hentak, kini miliknya sudah menghunjam kembali tubuh inti sang istri. Pinggulnya bergerak, dengan kejantanan keluar masuk memberi rasa geli yang menyengat. Rasa perih yang dirasakan Rona, perlahan menghilang. Dan ringisan pun tergantikan desahann.


Tangan Edward tidak ambil diam, merayap ke atas gumpalan yang bergerak bebas ke atas dan ke bawah. Ibu jari dan telunjuknya memilin dan memutar titik sensitif yang membuat tubuh istrinya mengejat lantas bergerak meliuk-liuk seperti seekor ular.


Gerakan Edward semakin cepat, tubuh kekarnya seolah tidak ada lelahnya. Dia menarik sebelah kaki Rona kemudian mengangkatnya ke atas pundak, hujaman di dalam dinding rahim semakin terasa menusuk. Rona mendesahh dan merintih akan rasa perih, geli dan nikmat yang bercampur menjadi satu.


Panggul Edward bergerak maju mundur tiada jeda, suaranya yang parau mulai terdengar. Dia terus memompa dengan hentakan yang semakin cepat dan tak terkendali. Tubuh Edward menegang, dia mencengkeram payudara sang istri. Pinggulnya mengejat-ngejat dan pusaka kebanggaannya kembali menumpahkan lelehan cinta di dalam rahim wanitanya.


Suara erangan dari mulut Edward bertimpalan dengan lenguhan panjang dari bibir sang istri. Keduanya mendapat puncak kenikmatan secara bersamaan. Tubuh Rona melemas, Edward mencabut kepemilikannya yang sudah menciut. Rona menyipitkan mata dengan bibir yang digigit, menahan rasa pedih.


"Terimakasih sayang," ucap Edward seraya memberondong wajah sang istri dengan kecupan. Tubuhnya roboh di atas dada polos pasangannya.


"Edward... kita harus bangun sekarang. Bukankah ini hari pertama rumah sakit beroperasi? Jangan sampai membuat image buruk karena kita sebagai owner datang terlambat!" Rona menggeser tubuhnya lantas menghempaskan lengan Edward yang menempel di atas dada. Dia beringsut dan berjalan perlahan karena rasa perih dan letih.


"Sayang... mandi bareng ya. Aku masih ingin, sekali... lagi. Please...," Edward menempelkan daun telinganya di atas pintu menanti jawaban dari istrinya.


Rona yang mendengar teriakan Edward dari balik pintu hanya mengerdikan pundak, lantas memutar keran untuk menyamarkan suara lelakinya yang masih saja memanggil namanya. Rona merendam tubuh lelahnya di dalam bath tub yang berisikan air hangat. Matanya mengatup, menyesap aroma terapi yang menentramkan pikirannya


...***...


Sudah pukul 7, semua orang menunggu sepasang suami istri untuk turun dari kamarnya untuk menyantap sarapan bersama-sama. Ada yang sambil membaca koran, ada yang menopang dagu dengan jari tangan mengetuk-ngetuk meja makan. Ada juga yang berkali-kali melihat jam di atas tangannya dengan tubuh bersidekap.


Rona menuruni tangga dengan tergesa-gesa, kakinya menginjak lantai yang licin. Semua orang berteriak histeris karena melihat tubuh Rona yang terhuyung. Roland beranjak kemudian berlari secepat mungkin. Tangan kokoh seseorang menahan punggung Rona lalu merangkulnya.

__ADS_1


"Lain kali jalan dengan lebih berhati-hati. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu padamu juga pada anak kita!" Suara dalam Edward terdengar seperti sebuah ancaman bagi istrinya. Rona hanya mengangguk lemah sambil mengelus-elus dadanya yang berdegup kencang.


Roland kembali ke tempat duduknya, mata Leona berputar menatap suaminya yang memperlihatkan raut khawatir. Leona menghela napas, berusaha menahan perasaannya. Sejauh ini dia sudah mendapatkan tubuh dan separuh hati suaminya. Dia hanya perlu untuk bersabar sedikit lagi.


Edward menarik kursi untuk Rona, Rona langsung duduk dan mematung. Hingga suara dingin menghenyakkan lamunannya.


"Minumlah!" titah Edward dengan gelas berisi air putih di tangannya. Rona meraih minuman yang disodorkan Edward lantas meneguknya.


"Mommy... baik-baik saja, kan?" Ezio turun dari atas kursinya lalu mengelus perut sang ibu.


"Mommy baik-baik saja sayang, hanya terkejut," jawab Rona pada Ezio. Rona memberikan kecupan pada pelipis sang anak kemudian mengusap kepalanya.


"Lanjutkan sarapanmu," timpal Edward dingin pada putranya. Tanpa memberi bantahan, Ezio kembali ke atas kursinya dan melanjutkan makan pagi yang terjeda bersama pengasuhnya.


...*****...


...Hari Senin, semoga teman-teman berkenan memberikan Vote untuk memberikan author semangat......


...Kalau pun tidak, tidak apa-apa. Terpenting tetap setia dengan karya Senja yang satu ini....


...Terimakasih untuk semua dukungannya......


...Love you all...

__ADS_1


__ADS_2