
"Kenapa kamu cemberut sayang?" Edward mulai frustasi karena perubahan sikap Rona yang mudah sekali berubah-ubah.
"Aku ingin bakso..." rengek Rona meneguk saliva. Dia memperlihatkan wajah memelas, menjadikan Edward semakin kebingungan.
"Bakso? Apa itu bakso? Makanan apa itu, aku baru mendengarnya?!" cerca Edward karena kata bakso sangat asing di telinganya.
Rona merampas ponsel yang digenggam Edward lalu membukanya dengan memasukkan kode rahasia. Kedua alis Edward saling bertautan, kelopak mata mengerjap-ngerjap.
"Ka-kamu tahu password ponselku?" Edward berniat menarik kembali ponsel miliknya, Rona melotot.
"Apa sih yang tidak diketahui oleh seorang istri? Uang disembunyikan di dalam celana dalamm saja bisa terdeteksi dengan mata batinnya." Rona menggerak-gerakan jari telunjuk mencari apa yang dia butuhkan, lalu memperlihatkan gambar yang nampak di layar ponsel. "Ini bakso or meat ball, makanan khas dari negaraku. Aku mau ini, please honey...."
Edward menyugar rambutnya dan membuang napas kasar. "Huh... di sini di mana mencari makanan Indonesia, sayang...?"
Rona menoleh ke arah Feliks, tiba-tiba ide konyol muncul di otaknya. "Aku sudah tidak mau bakso." Rona diam sejenak. "Aku mau makan malam romantis with your handsome Assistant saja, darling."
Edward tertawa hambar, melirik ke arah Rona yang memasang raut penuh harap dan mengerling ke arah Feliks yang tersenyum puas. Dia memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Permintaanmu membuatku gila Rona!" Edward berbicara dengan nada tinggi Rona terhenyak kemudian terisak.
"I-ini kan, anakmu yang mau. Bu-bukan aku yang sengaja meminta," sahut Rona terbata-bata. "Ka-kalau tidak mau mengabulkannya, ya tidak masalah. Tapi jangan membentakku seperti itu. Sakit hatiku, Edward...."
Rona bangkit dari tempat duduknya mengabaikan Edward yang meminta maaf sebagai ungkapan penyesalan. Dia berjalan lurus ke depan dengan langkah cepat dan sesekali menyeka air mata yang menitik tanpa diminta.
__ADS_1
"Sayang... tunggu aku. Maaf bukan maksudku membentakmu." Edward berlari menyusul langkah istrinya lalu mendekapnya. "Maaf sayang... aku hanya belum terbiasa menghadapi kondisi suasana hatimu yang mudah hilang timbul. Jangan marah lagi ya." Edward memberi ciuman bertubi-tubi pada wajah sang istri, Rona tersimpul.
"Jadi, bolehkan aku makan malam romantis dengan Feliks?" Rona melintangi sepasang manik mata. Edward mengangguk dengan kepala tertunduk lesu.
"Iya-iya boleh, demi anak kita," jawab Edward pasrah. "Tapi aku mempunyai satu syarat?" Edward memainkan kedua alisnya.
"Apa itu?" sahut Rona penuh energi.
"Sore ini aku ingin bermandikan peluh di tempat yang tidak biasa. Aku ingin merasakan sensasi bercinta di dalam mobil, kamu mau kan?" Seringai nakal yang terbit dari wajah Edward membuat Rona tidak berdaya. Dia mengangguk pelan dan membiarkan Edward menuntunnya menuju basement Rumah Sakit.
...***...
Suara parau semakin parau, karena tanpa jeda wanita yang terlihat menyedihkan berteriak lantaran rasa sakit yang dia rasakan. Otaknya mulai bekerja dan mengumpulkan serpihan ingatannya. Ingatan akan perkataan Edward mengenai penyakit kelamin yang diderita bekas kucing jantannya.
"Tidak mungkin ... ini tidak mungkin!" Amber berjalan menggunakan bokongnya lalu menempelkan mulutnya ke dalam celah jeruji. "Panggilkan aku dokter, aku butuh diperiksa. Aku hanya ingin tahu sakit apa yang aku derita saat ini." Teriakan Amber terjeda karena kerongkongannya terasa sangat kering, dia terbatuk-batuk kemudian menenggak sebotol air mineral tanpa bersisa.
Dari kejauhan, sepasang bola mata jernih dengan bulu mata yang lentik menatap iba ke arah sang ibu. Meski di dalam hati menyimpan kekesalan, namun melihat kondisi ibunya memprihatinkan seperti ini, perasaan lembutnya sebagai anak tersentuh dan terenyuh.
Dia merindukan belaian hangat dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, terlebih di saat kondisi tengah berbadan dua. Dia membutuhkan banyak kasih sayang dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.
"Kenapa diam di sini, kamu tidak ingin masuk dan menemui Mom?" Roland meletakkan kedua tangannya di atas pundak Leona yang bergetar hebat.
Tangis Leona semakin kencang, Roland memutar tubuh istrinya dan menenggelamkannya ke dalam rengkuhan. Air mata berderai membiarkan kesedihan yang menyelimuti hati terlerai.
__ADS_1
"Leona rindu Mom, tapi Leona juga takut kalau Mom menyakiti Leona lagi." Leona mengusap-usap perut buncitnya dan mengingat kembali detik-detik saat dia berjuang untuk hidup demi diri dan bayi yang sedang dia kandung.
Roland merekatkan pautan lengannya. "Sudah... jangan menangis lagi, kamu jelek kalau menangis."
Leona menyeka matanya yang sembab. "Kak Roland, Leona mohon jangan menyakiti Leona lagi. Leona sangat membutuhkan Kakak...."
Hati kecil Roland yang mulai tertambat pada gadis yang tengah dia dekap, turut merasakan nestapa yang dirasakan dan dialami Leona. Balas dendam yang dia rencanakan bersama adiknya, perlahan terkikis karena kelembutan perasaan yang selama ini tertutupi iri dengki.
"Iya sayang... Kakak janji, Kakak tidak akan pernah menyakitimu lagi. Pegang janji Kakak." Roland membawa Leona keluar dari penjara dengan tanpa melepaskan pelukannya.
Sementara itu di tempat parkir bawah tanah Rumah Sakit, sepasang sejoli berencana memadu kasih di tempat yang tidak lazim. Mencari kesenangan duniawi yang tidak akan pernah ada habisnya.
"Benar ini kita mau main di dalam mobil?" Rona cingak cinguk melihat kondisi basement yang sepi. Dia merasa ragu-ragu untuk memuaskan hasrat kelelakian suaminya di tempat umum dan sempit seperti ini.
Edward yang seolah bisa membaca isi pikiran istrinya, dia menarik tuas jok kursi dan memposisikan tubuh Rona dengan kondisi terlentang. Raut wajah dipenuhi syahwat dan gairah memindai bagian tubuh yang ingin dia nikmati terlebih dahulu.
Tubuh Edward melandai lanjut merungguh di depan kedua kaki istrinya. Tangannya melepaskan rok mini lalu membuangnya ke arah dashboard. Dia sedikit menarik kaki Rona kemudian menyibakkan ke samping kain tipis yang menghalangi bagian tubuh paling sensitif. Ibu jari menggelitik benda kenyal, Rona menggelinjang. Suara desah terdengar lirih dari kedua bibir yang terkatup.
Jari telunjuk Edward mulai bermain-main, disusul jari tengah yang langsung memainkan perannya. Tubuh Rona semakin mengejang, terlebih saat jari manis melesak masuk berbarengan dengan kedua jari tadi. Rona menjerit, menikmati sensasi tiada tara yang diciptakan suaminya.
"Mau aku masukan lima jarinya?" bisik Edward yang langsung dibalas cubitan di pinggangnya. Rona mendelik kesal karena gurauan yang menurutnya tidak lucu.
"Nanti milikku perih, kamu ada-ada saja Edward!" Satu cubitan meluncur kembali dari jari lentik Rona. Edward membalasnya dengan mempercepat gerakan jari-jarinya. Mulut yang ingin mengeluarkan omelan berubah menjadi desahann. Rona menjambak rambut Edward, cairan kenikmatan membasahi jemari suaminya.
__ADS_1
...*****...
...Lanjut besok part di dalam mobilnya ya 🙏...