Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Masuk Angin!


__ADS_3

"Tidak ada ... aku hanya mencemaskanmu," kilah Edward. Dia mengecup jemari Rona lalu meletakkannya di atas pipi.


"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini...," Edward membelai rambut Rona lalu mengecup keningnya.


"Tapi aku tidak mengantuk..." tolak Rona.


"Tapi kamu butuh istirahat, sayang..." ujar Edward.


"A- aku—"


"Sudah istirahat, jangan membantah!" sentak Edward. Rona merajuk dengan mengerucutkan bibirnya. Dia terpaksa memejamkan mata dengan kepala yang terus dibelai lelakinya. Edward menatap langit-langit kamar lalu membayangkan masa depan indah bersama wanitanya.


"Sebentar lagi aku akan mengenalkanmu pada keluargaku karena aku ingin kita secepatnya menikah. Aku ingin segera memilikimu seutuhnya, Rona." Edward memutar kepala, ternyata wanita yang tengah dia ajak bicara sudah lebih dahulu terlelap.


"Tidur yang nyenyak sayang...," Edward mencium kening Rona lalu memberi kecupan pada perutnya. "Ini Daddy sayang, kamu baik-baik ya di dalam perut Mommy."


...***...


Suara kenop pintu ditarik terdengar, semua orang menatap ke arah kamar terbuka dengan sorotan menguliti. Mereka menunggu penjelasan Edward tentang kondisi yang dialami Rona saat ini.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" protes Edward. Claire beranjak dari atas sofa lalu menghampiri Edward. Dia memberi pelajaran pada pria yang sudah berani menghamili sahabatnya dengan sebuah pukulan di perut dan tendangan yang mengenai pangkal paha. Edward meringis sembari merapatkan kaki menahan rasa sakit.


"Apa kamu tidak bisa bersikap lembut layaknya perempuan, hah?" bentak Edward.


"Bersikap lembut pada pria bajingann sepertimu? Oh tentu saja tidak!" Claire menukik punggung Edward menggunakan sikut tangan, pria itu tersungkur.


"Coba jelaskan, Rona hamilkan?" tanya Claire geram. Edward membisu dan berusaha untuk berdiri. Akan tetapi, Claire menarik lengan Edward ke belakang punggung membuatnya memekik karena rasa sakit.


"Coba jawab, sudah berapa kali kalian berhubungan intim?" tanya Claire mengintrogasi.


"Ti- tiga," timpal Edward.


"Pakai pengaman?" cerca Claire. Edward tidak berani menjawab dan Claire menarik tangannya dengan lebih kuat.


"Ayo jawab! Kalau tidak, aku patahkan tanganmu ini!" ancam Claire tidak main-main.


Edward menggelengkan kepala dan menjawab dengan singkat. "Aku tidak memakai pengaman."

__ADS_1


Claire yang kesal dia menendang kaki Edward lalu menginjaknya. "Jangan pikir karena aku mengizinkan kamu melamar Rona lalu berpikir aku akan lupa ya. Tidak Edward, aku tidak akan pernah lupa pada semua yang kamu perbuat pada sahabatku!"


Nath menarik lengan Claire mencegah sahabatnya bertindak lebih kasar. Namun, pukulan yang malah dia terima. "Kamu dengan pria ini sama saja Nath, sama-sama bajingann!"


Claire menarik diri dengan membawa amarah yang bertumpuk. Amarah dan rasa cemburu pada Nath juga amarah karena perlakuan Edward pada sahabatnya. Dia keluar dari cottage untuk meredakan emosi dan isi kepala yang mengepul, berjalan tanpa tujuan mengikuti arah kaki melangkah.


...***...


Cinta dan cinta, yang membuat segalanya menjadi runyam. Membelenggu tiap hati dengan rasa yang berkecambuk. Merusak sebuah persahabatan, menghancurkan hubungan yang telah dijaga.


"Edward...?" panggil Rona yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Iya sayang, aku di sini..." jawab Edward yang duduk di samping Rona seraya mengukir senyuman. Dia membantu Rona bangun lalu menyandarkan punggungnya ke atas headboard.


"Bagaimana sayang, masih pusing?" Edward memilin pelipis Rona dengan penuh perasaan.


"Em... sedikit." Rona terpana pada sikap Edward yang mendadak sangat manis dan perhatian layaknya seorang suami.


Ditatapnya wajah yang di dalam hati mengucapkan bait-bait pengharapan dengan raut kebahagiaan terpancar dari manik mata. Rona bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Edward begitu sumringah. "Dari tadi kamu senyam-senyum sendiri Edward, ada apa?"


"Aku sedang bahagia sayang...."


"Kebahagiaanku adalah kamu, kucing liarku... terima kasih ya?"


"Terima kasih untuk?"


"Untuk janin yang Tuhan titipkan di rahimmu."


"Ja- janin?" ulang Rona.


"Iya janin, kamu sedang hamil anakku, kan?" tanya Edward yakin.


"Hamil?" Rona terus saja mengulang-ngulang perkataan Edward karena dirinya sendiri bingung.


"Tadi kamu muntah-muntah, kamu sedang hamilkan?"


Rona tertawa terpingkal-pingkal seraya menepuk-nepuk pahanya sementara Edward menatapnya tak mengerti.

__ADS_1


"Aku ini cuma masuk angin sayang, efek semalam kelamaan di pantai," ungkap Rona.


Kebahagiaan untuk sesaat seketika sirna, senyuman merekah menjadi menguncup. Harapan sekedar harapan dan kekecewaan yang menggeser asa yang teramat tinggi.


"Kamu mau kemana?" tanya Rona pada Edward yang tiba-tiba berdiri tanpa berkata apa pun.


"Aku mau keluar mencari angin segar, di sini suntuk!" gerundel Edward karena kondisi hatinya sedang tidak baik. Rona yang paham akan sikap Edward, dia menahan lelakinya dengan dekapan.


"Jangan pergi, kumohon..., lagi pula kita bisa mencobanya lagi dan lagi," goda Rona yang berusaha menaklukan hati kekasihnya yang tengah dirundung kekecewaan.


Terdengar hembusan napas dari mulut Edward, dia tidak ingin bersikap egois, tidak ingin hubungan yang baru saja membaik memanas kembali.


"Aku hanya kecewa karena kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Aku terlalu berharap sampai lupa kalau Tuhan yang mengatur segalanya." Edward memandangi wajah Rona lalu mengecup puncak kepala. Rona merasa senang karena Edward bertambah bijak, dia mampu mengikis ego demi dirinya, wanita yang baru saja dikenalnya.


"Rona..." panggil Edward.


"Ya?" sahut Rona.


"Selepas dari sini, aku ingin membawamu ke rumah orang tuaku dan mengenalkanmu sebagai calon menantu mereka. Aku tidak ingin berlama-lama seperti ini, aku ingin segera menikahimu," ungkap Edward yang menarik kepala Rona untuk berbaring di pangkuannya.


Rona mengangguk dengan tatapan yang berbinar karena tidak ada lagi obat yang mujarab bagi insan yang tengah jatuh cinta, selain dengan menikah.


Menikah? Bahkan sebelumnya tidak pernah terbesit sedikit pun di dalam pikiran. Namun, saat ini adalah hal yang paling Rona impikan. Khayalannya telah mengawang tinggi, membayangkan pernikahan yang akan diliputi kebahagiaan tanpa batas.


...***...


"Claire... tunggu! Claire tunggu aku!"


Claire menghentikkan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Nampak laki-laki menggunakan t-shirt warna hitam tengah menyusulnya dengan susah payah.


"Mau apa?" tanya Claire yang kembali melanjutkan langkah, Feliks menyejajarkan tubuhnya lalu berjalan beriringan.


"Hm... cinta itu aneh ya. Kita cinta pada si A, tapi dia mencintai si B. Kita cinta si B, namun dia lebih memilih seseorang yang menyakitinya. Begitu seterusnya bagai untaian bola kusut yang sangat sulit untuk terurai." Feliks menendang pasir sementara Claire menatapnya dengan perasaan campur aduk.


"Aku tahu maksud perkataanmu. Kita sama Feliks ... sama-sama mencintai seseorang yang tidak pernah menganggap kita ada." Claire berlari lalu mengerucutkan tangannya di depan bibir. Dia berteriak sangat kencang ke arah lautan, melepaskan kemelut yang menjadi beban di dalam hati.


...*******...

__ADS_1


...Masuk angin ternyata gaes, bukan hamidun. Padahal Authornya sudah siap-siap mau tumpengan nih. Wwkwkwk.....


...Terimakasih untuk semua yang masih setia membaca dan mendukung, bahagia selalu ya......


__ADS_2