
Salah satu harta tak ternilai yang kita punya yaitu keluarga. Di mana ia adalah rumah kita. Tempat kembali saat dunia semakin tak bersahabat. Keluarga ada menghapus keluh kesah, merangkul saat kita terjatuh. Menopang ketika terpuruk. Tempat ternyaman yang memayungi dengan limpahan kasih sayang, siap mendengarkan dan siap menerima.
Waktu sangat cepat berlalu terlebih saat dilewati dengan suka cita. Kebahagiaan menerangi hati yang sempat padam. Sepucuk aroma kehidupan yang sempat sirna, kembali merekah karena datangnya cinta. Cinta yang merubah pandangan tentang hidup menjadi lebih berharga.
Gadis yang tengah memperhatikan hubungan hangat ayah dan anak, bibir mungilnya turut menerbitkan senyuman. Sungguh kini dia semakin memahami akan sikap arogan yang ada di dalam diri lelakinya. Cerita hidup, ujian seiring nestapa membentuk dirinya bak manusia berhati batu, keras.
"Sudah jam makan malam, ayo kita makan dulu..." ajak Amber pada dua lelaki yang asyik bercengkerama. Dia menuntun lengan suaminya, lalu membawa ke ruang makan.
Edward clengak-clinguk untuk memastikan kondisi aman, dia mencondongkan wajah lalu memiringkannya. Rona yang tahu apa yang akan Edward lakukan, dia menahan kening kekasihnya menggunakan jari telunjuk. "Mau apa, hm...?"
Edward menarik tipis bibirnya, memperlihatkan wajah kocak. "Mau bibir kamu sayang, dia manggil-manggil aku terus dari tadi, katanya ingin dikecup!"
"Ish, dasar pria mesum!" cibir Rona. Kemudian dia mendorong kening Edward dengan jarinya. Dan Edward tertawa seraya mendongak.
"Tuan Edward... ditunggu Tuan Richard di meja makan." Kedatangan Fiona yang tiba-tiba sontak membuat keduanya terkejut.
"Ah, iya Fiona. Terima kasih..." jawab Edward sembari mengusap dadanya. Dia kembali tertawa, dan Rona mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Untung tidak jadi kiss, bisa ditariknya telingaku kencang-kencang," jelas Edward.
Rona terbahak, mendapati topeng asli seorang Edward yang ternyata memiliki sisi rasa takut. Edward terkesima karena baru kali ini dia melihat Rona tertawa lepas saat bersamanya.
"Selalulah seperti ini Rona... bahagia dan tertawa ceria. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagianku."
"Ish, gombal!" ledek Rona yang mencolek hidung Edward. Edward membalasnya dengan menggelitik pinggang Rona. Gadis itu terus saja tertawa karena menahan rasa geli.
Sepasang kekasih tersebut terus saja bersenda gurau sehingga tidak menyadari akan kedatangan Amber. "Apa kalian tidak punya tatakrama, hah? Kami menunggu sejak tadi tapi kalian malah asyik bertingkah seperti anak kecil di sini!"
Edward mengabaikan semua perkataan Amber, dia selalu menganggap apa yang keluar dari mulut wanita itu hanya angin lalu. Mulut manis, tetapi menyimpan bisa yang sangat mematikan. Dengan wajah cueknya Edward melewat Amber begitu saja seraya menuntun Rona di sampingnya. Amber menghentakkan kaki silih berganti dengan umpatan-umpatan yang hanya bisa didengar telinganya sendiri.
__ADS_1
...***...
Rona menatap takjub semua makanan yang dihidangkan di atas meja, bukan karena baru kali ini melihatnya. Namun, dia teringat sang bunda yang selalu memasak makanan sebanyak ini ketika hari ulang tahunnya tiba.
"Kenapa Rona? Baru ya melihat makanan sebanyak ini?" cibir Amber yang mulutnya sudah gatal ingin menjatuhkan harga diri Rona. Namun, gadis yang dia cibir tetap bersikap tenang dan menyimpulkan senyuman.
"Tidak Tante, saya hanya teringat ibunda yang selalu memasak makanan kesukaan saya." Rona menjeda perkataannya. "Lagi pula meski keluarga saya tidak sekaya keluarga Liam. Namun, orang tua saya termasuk keluarga yang terpandang."
Amber memutar bola mata, merasa jengah karena Rona selalu saja menimpali perkataannya. Dia mendelik sembari melayani Richard, menuangkan jus ke dalam gelas yang tak terisi air.
Amber tiba-tiba memiliki ide, dia akan sedikit mengerjai gadis yang baginya sangat kurang ajar, dengan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan air ke pakaian Rona. Dan rencana Amber berhasil, dia menumpahan satu gelas minuman ke atas tubuh Rona. Pakaiannya basah dan terasa sangat lengket.
"Amber, hati-hati!" bentak Edward. Ibu sambungnya mendengus lalu merajuk pada suaminya.
"Sayang... lihat, putramu menjadi kurang ajar seperti ini. Pasti karena pengaruh gadis yang tidak jelas asal usulnya." Amber memasang wajah sedih dengan bibir dilipat seperti anak kecil yang merengek ingin dibelikan permen.
"Bawa calon istrimu istirahat di kamarmu, biar Fiona nanti mengantarkan makan malam ke kamar." Richard yang sudah hilang napsu makan, dia melempar napkin lalu menarik kursinya. Meninggalkan Amber yang belum tuntas bersungut-sungut.
...***...
Edward dengan semangat membawa Rona ke dalam kamar. Tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan. Namun, yang pasti isi kepalanya tidak jauh dari urusan selangkangann.
"Masuk..." tawar Edward. Nampak kamar yang didominasi dengan warna hitam yang luasnya sama dengan luas apartemen Rona.
Edward melepas dasi dan kemejanya, lalu merebahkan tubuh begitu saja ke atas ranjang tanpa menutupi tubuh atletisnya. Lagi-lagi Rona harus menahan saliva, ingin rasanya dia membelai dan meremass perut Edward yang terlihat seperti roti sobek yang siap untuk dijamah.
"Edward, adakah pakaian Marissa di sini?" tanya Rona dengan tangan menjangkau resleting yang sulit dibuka.
"Di kamar ini tidak ada satu pun kenangan dari Marissa. Kamu pakai saja bajuku, pilih terserah kamu mau yang mana. Semuanya ada di dalam lemari," tunjuk Edward ke arah di mana benda yang terbuat dari kayu bertengger.
__ADS_1
Rona memilah-milah pakaian Edward lalu menarik napas pelan karena tidak ada satu pun yang pas dengan postur tubuhnya. Akhirnya dia memilih tshirt berwarna putih sebab ukurannya sedikit lebih kecil.
"Edward..." panggil Rona.
"Ya?" sahut Edward.
"Bisa tolong turunkan resleting pakaianku? Ini sulit sekali ditarik ke bawah," pinta Rona. Bak gayung bersambut, Edward turun dari atas ranjang lalu berjalan ke arah Rona.
Edward dengan hati-hati membuka tautan di pakaian Rona. Punggung mulus terpampang di depan mata. Bagai memiliki magnet, tubuh Rona menarik gairah Edward. Dia mengecup tubuh belakang Rona membuat gadisnya harus bersusah payah menahan desahann. Terlebih pada saat kedua tangan Edward menelusup lalu menangkup sepasang aset milik Rona kemudian meremassnya lembut.
Rona mendongak, Edward mengendus aroma tubuh wanitanya dan membuat sebuah tanda merah yang menghiasi ceruk leher Rona yang menggoda.
"Aku sudah tidak tahan kalau harus menunggu menikah, Rona. Kita lakukan lagi sekarang ya." Edward meremass bagian tubuh bawah yang padat. Namun, terdengar suara kresek-kresek.
"A- apa ini?" Edward mengernyitkan kedua alisnya.
"I- itu, em...," Rona kebingungan menjawab pertanyaan Edward. "Itu aku sedang datang bulan."
Edward yang sudah bersemangat, lemas seketika. Seiring dengan miliknya yang turut tidak bertenaga. Rona hanya mengernyih, melihat Edward yang uring-uringan karena hasratnya gagal tersalurkan.
...********...
...Terimakasih atas semua dukungannya. Jangan lupa untuk menekan tanda love, meninggalkan like, memberikan comment, vote, hadiah ataupun rate bintang 5. Satu like dari teman-teman sangat berharga bagi kami....
...Selamat malam minggu dan berakhir pekan....
...Mampir juga di karya temanku yuk,...
__ADS_1