
"Kunang-kunang... sampaikan salamku untuk Marissa. Bahagia selalu di duniamu...."
Rona memperhatikan pria yang selalu bersikap kasar padanya, tengah memandang binatang kecil dengan tatapan yang terbang pikiran. Dia berusaha memecah kesunyian, mengajak pria itu berbicara.
"Kamu suka kunang-kunang? Aku juga suka. Dulu ayah sering menghiburku kalau sedang sedih dengan mengajak menangkap kunang-kunang. Kata ayah, hewan itu simbol sebuah harapan. Selama kita masih memiliki keyakinan, meski hidup di tengah kegelapan akan selalu ada cahaya yang bersinar terpancar dari dalam diri kita," terang Rona.
"Halah... omong kosong!" tampik Edward.
"Kamu berkata omong kosong, tetapi di dalam hati mengharapkan sesuatu. Munafik!" sergah Rona.
Edward dibuat tidak berkutik oleh perkataan Rona. Dia menggeram dan lebih memilih tidak menghiraukan celotehan gadis yang masih menatapnya.
Feliks yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia, kini turut membuka suara. "Bos, tumben jauh-jauhan biasanya juga kaya perangko, lengket!"
Edward menatap ke arah Feliks sejenak lalu mendelik. Suasana hatinya benar-benar sedang tidak baik kali ini hanya karena perkataan Rona tadi.
"Kita sudah sampai Bos!" ucap Feliks. Dia keluar dari mobil lalu membuka pintu untuk Rona kemudian mengulurkan tangan. Rona memberikan tangannya pada Feliks dan keluar dari mobil dengan senyum mengembang. Sementara Edward, dia menampilkan wajah murka dan tidak suka.
"Kamu milikku, jangan terpikir membuat affair dengan asistenku. Karena sampai itu terjadi, aku akan membuat hidupmu lebih hancur!" ancam Edward.
"Dasar sinting!" umpat Rona.
"Apa kamu bilang?" tanya Edward geram.
"Sinting!" jawab Rona.
Edward menutup mulut Rona dengan mulutnya. Menghalangi setiap celah ruang napas, membuat gadis itu tersengal-sengal.
"Nah kan, diam!" ujar Edward. "Kamu lebih cantik kalau diam seperti ini!" kilah Edward.
"Sialan!" cerca Rona.
"Gadis cantik, mulutnya dijaga sayang. Kamu mau aku buat tidak bisa bernapas lagi?"
Rona mengerlingkan mata dan berjalan tergesa-gesa mendahului Edward. Dia menabrak seseorang yang tengah meremas bokong wanita di sampingnya.
"Eh, maaf aku tidak sengaja!" ucap Rona.
"Tidak apa-apa," jawab orang yang tidak sengaja Rona tubruk.
"Roy!" sentak Rona.
__ADS_1
"Lihat siapa di sini, mantan kekasih yang sudah dibuang seperti sampah!" hina perempuan di sampingnya.
"Rona kamu cantik dan seksi sekali. Andai kamu seperti ini dari dulu, aku pasti tidak akan menyia-nyiakanmu!" ujar Roy dengan mencolek dagu Rona menggunakan telunjuknya.
Edward yang melihat wanitanya diperlakukan tidak sopan oleh sepupunya, langsung mengambil sikap. "Apa ada yang menganggumu sayang?" tanya Edward. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Rona dan mencengkeram dengan kuat.
"Ah, ini bekas kekasih dan musuh bebuyutan ternyata ada di acara ini juga," jawab Rona.
"Oh, jadi laki-laki klemar-klemer ini adalah bekas pacarmu?" tanya Edward sinis.
"Iya sayang, bekasku!" jawab Rona. "Ayo kita masuk, aku alergi di dekat barang bekas!" ajak Rona.
Roy mencekal lengan Edward lalu bertanya sesuatu, "Jadi dia wanita yang mau kamu kenalkan pada Tante Amber, Edward?" tanya Roy penasaran.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Edward.
"Tante Amber tidak akan merestui hubungan kalian, lihat saja nanti aku akan membuat onar!" ancam Roy.
Edward tidak mengindahkan perkataan Roy, dia hanya mengangkat telapak tangannya yang ditujukan pada wajah pria mesum itu.
"Awas saja Edward, kamu tidak tahu apa yang dulu pernah aku lakukan pada Marissa. Dan malam ini aku akan melakukannya lagi pada calon istrimu!"
.
.
Suasana ruangan sangat riuh dengan suara musik yang memekakkan telinga. Edward menuntun tangan Rona seraya mencari keberadaan orang tuanya. Dia ingin mengenalkan Rona dan menggagalkan perjodohan yang diusung oleh dua keluarga.
"Mom..." panggil Edward.
"Hai sayang..." jawab wanita paruh baya yang dipanggil mom. Dia melirik ke arah Rona lalu menatap gadis itu setiap incinya.
"Kenalkan Mom, ini Dokter Rona. Calon istri Edward!"
Rona terkesiap karena Edward mengenalkan dirinya sebagai calon istri. Ada rasa haru menyelimuti. Namun, itu hanya sekejap. Dia kembali tersadar akan posisinya sebagai wanita simpanan. Lagi pula ini hanya sekedar drama, bukan kenyataan.
"Cantik sekali. Kenalkan, saya Mommy-nya Edward, Amber. Dan ini suami saya, Richard!" tutur Amber.
"Saya Rona...."
"Saya mau meminjam Edward sebentar, boleh Nak?" tanya Amber pada Rona.
__ADS_1
"Em... tentu saja Tante. Silakan...."
Amber menarik tangan Edward lalu membawanya kepada gadis cantik yang menjadi bintang malam ini. Gadis yang tengah berulang tahun dan yang akan dijodohkan dengan Edward.
Sementara Rona menatap tubuh tegap itu dari kejauhan. Dia dibingungkan akan hidupnya yang sekarang, terombang-ambing pada kondisi yang tidak jelas. Kondisi yang hanya akan merugikan dan menyakiti dirinya secara tidak langsung.
Sudah satu jam, Rona berdiam diri di tempat ramai. Namun, terasa sepi untuknya. Edward terlihat menikmati kebersamaan dengan gadis yang berambut blonde. Bercengkerama lalu berdansa dan terlihat mencumbu gadis itu di antara pelukannya. Mata Rona memanas, dia merasa sangat dipermainkan oleh pria yang tidak memiliki kepekaan sedikit pun.
Dia berjalan menjauhi keramaian, memilih berdiri sendiri di depan hamparan rumput yang basah karena air hujan. Seorang lelaki dari kejauhan menatap culas ke arahnya, lalu meminta seorang waiter untuk memberikan minuman yang telah dia campur obat tidur.
"Berikan orange juice ini pada perempuan yang berdiri di paviliun itu. Jangan bilang kalau minuman ini saya yang memberikan!"
"Siap Tuan."
"Hai Nona... kenapa anda sendirian? Anginnya lumayan kencang di sini, anda sebaiknya di dalam," tutur seorang waiter.
"Ah, saya hanya tidak terbiasa dengan suasana ramai karena itu memilih menenangkan diri di sini," jawab Rona.
"Saya membawa orange juice, Nona mau mencobanya?" tawar waiter.
"Sure, thankyou!" ucap Rona.
Tanpa ada perasaan curiga sedikit pun, Rona menegak habis minuman yang dia genggam. Dia merasa sangat segar. Namun tak berselang lama, tubuhnya hilang keseimbangan dan seseorang menopang punggungnya.
"Hahaha... obat itu benar-benar bagus, hanya dalam hitungan detik Rona sudah hilang kesadaran. Ayo cantik, ikut bersamaku ke kamar Hotel, malam ini kita akan bersenang-senang dan menikmati surga dunia," gumam seseorang yang mengangkat tubuh Rona ke atas bahunya lalu membawa gadis itu ke kamar yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Sementara itu, Edward mulai menyadari kalau dia sudah terlalu lama meninggalkan Rona sendirian. Matanya mencari Rona ke tempat terakhir meninggalkan gadis itu. Namun, dia tidak menemukan keberadaan Rona.
"Maaf Arabella, aku harus mencari gadisku. Dia hilang!" ujar Edward.
"Gadismu?" tanya Arabella shock.
"Iya, tadi aku membawanya bersamaku. Dan aku malah meninggalkannya sendiri."
Edward meninggalkan Arabella dan mulai mencari gadisnya. Dia sangat menyesal karena meninggalkan Rona seorang diri di tengah orang-orang yang sangat asing.
"Di mana kamu, Rona...?"
...*****...
...Kira-kira Edward akan jatuh cinta pada Rona atau tetap teguh dengan janjinya untuk tidak menerima wanita lain di hatinya?...
__ADS_1