Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pengadilan Memutuskan


__ADS_3

"Mami... please... jangan menambah masalah lagi! Biarkan hakim yang akan memutuskan bagaimana nasib anak kita nanti." Jourdy menarik paksa lengan Monic untuk menjauh dari Rona. Monic mencampakkan tangan Jourdy lantas mendorong tubuh suaminya itu hingga terjerembab ke atas lantai.


"Dasar pria tua tidak berguna!" hina Monic pada suaminya. Monic melewati tubuh Jourdy begitu saja tanpa berusaha membantu pria itu untuk berdiri kembali.


"Paman tidak apa-apa?" tanya Claire lembut yang kini merungguh di depan Jourdy. "Claire bantu Paman berdiri ya...," Gadis itu merangkul kedua pundak sang paman, lalu membantunya untuk berdiri dan kembali duduk di atas kursi.


"Terimakasih, Nak..." ucap Jourdy lembut. Dia duduk berjauhan dengan sang istri dan memilih untuk duduk bersama keponakannya. "Ini semua kesalahan Paman yang selalu mengikuti perkataan Tantemu. Akhirnya dia jadi sangat berani pada Paman. Tapi... itu semata-mata karena Paman sangat mencintai Tante Monicmu itu," ungkap Jourdy menyesal.


"Sabar ya Paman... semoga suatu saat Tante Monic bisa menyadari kesalahan-kesalahannya," tukas Claire mengusap-usap pundak pamannya. Jourdy mengangguk seraya mendengus lemah.


Sepuluh menit telah terlewati dan kini persidangan dilanjutkan kembali. Hakim ketua mengetuk palunya sebanyak tiga kali. Ruang sidang yang semula ramai suara pengunjung yang berbisik-bisik, kini kembali hening.


"Sidang kembali dilanjutkan, dimohon untuk tetap tenang dan menonaktifkan telepon seluler selama sidang berlangsung," ucap panitera mengingatkan.


Semua menunggu dengan tegang. Menantikan saksi selanjutnya dipanggil untuk memberikan kesaksian. Karena saksi yang terakhir ini diharapkan akan menjadi saksi kunci kasus yang menyeret dua nama wanita.


"Silakan hadirkan saksi selanjutnya," titah Hakim utama pada jaksa penuntut umum.


Kini seorang pria yang selalu mengenakan jas dan beserta pernak-perniknya, bangkit lalu berjalan ke arah meja hakim. Semua orang mengerutkan kening lantaran penasaran apa yang dilakukan pria tersebut di depan meja yang berwarna cokelat. Begitu pun juga dengan para hakim, mereka turut mengerutkan dahi dengan beberapa barang bukti yang diberikan pria tersebut.


"Silakan anda menaiki podium," pinta penuntut umum pada saksi ke tiga. "Tuan Edward apa anda mengenali gadis ini?" tanya penuntut umum.


"Sangat!" jawab Edward singkat.


"Waw... anda sepertinya kenal dekat dengan Nona Grace Ramond?" Penuntut Umum berjalan mondar-mandir di depan Edward, seraya memilin dagu lancipnya. "Apa anda memiliki hubungan spesial dengan gadis ini?" tanyanya lagi.


Edward menghela napas, dia melihat ke arah Grace sepintas lalu ke arah hakim ketua. "Saya sangat mengenali gadis ini. Dia adalah mahasiswi di tempat saya mengajar."

__ADS_1


"Wow sangat menarik! Lalu anda memanfaatkannya untuk dijadikan simpanan seperti kesaksiannya kepada kuasa hukum?" tanya penuntut umum.


"Salah... dia membolak-balikkan fakta! Justru dia yang selalu menggoda saya!" tunjuk Edward pada Grace. "Karena itu dia dendam, karena hasratnya selalu saya tolak. Dan anak saya akhirnya menjadi korban dari obsesi perempuan tidak tahu malu ini!"


"Dari saya cukup sekian," ujar penuntut umum. Dan kini jaksa pembela yang giliran berbicara lalu bertanya.


"Yang Mulia... lihatlah, gadis ini hanya seorang gadis yang lemah. Dia hanya gadis desa yang pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya," ucap jaksa pembela menolehkan kepala ke arah Grace yang tengah terisak. "Tapi sayangnya, pria bejatt ini malah memanfaatkan kepolosannya!" geram pria yang bertubuh kurus.


"Keberatan Yang Mulia!" Edward mengangkat tangannya sebagai bentuk perlawanan.


"Keberatan diterima," jawab hakim ketua. Grace maupun Monic sama-sama tercengang saat hakim ketua memberikan Edward kesempatan. Dan ini kali pertama pihak si penuntut keberatannya diterima.


"Apa-apaan ini?" protes Grace. Dia menangis meraung-raung, berusaha mengambil simpatik semua orang. "Kenapa wanita lemah seperti saya selalu ditindas? Orang-orang berkuasa seperti Tuan Edward selalu menang karena mampu membeli keadilan dengan kekayaannya," lirih Grace tersedu-sedu. Dia menyeka air mata yang berderai menarik rasa iba dari semua orang.


"Cih, ratu drama!" cibir Edward. "Apa kamu masih bisa bersandiwara setelah barang bukti yang saya berikan, diperlihatkan?" tambah Edward yang membuat nyali Grace ciut.


Wakil hakim ketua membuka satu per satu barang bukti yang diberikan Edward. Dia dibantu oleh jaksa penuntut umum, memutar rekaman suara dan juga beberapa rekaman video yang dijadikan satu. Rekaman ketika di kampus, di Rumah Sakit dan satu lagi rekaman dari cctv mobil milik salah satu pengunjung kebun binatang. Rekaman yang berdurasi 20 menit diputar, diperlihatkan dan diperdengarkan. Grace sudah tidak bisa mengelak maupun berkutik lagi.


"Tidak, itu fitnah! Saya dijebak!" teriak Grace lantaran kini posisinya semakin terpojok. "Video itu sudah diedit, ini semua sabotase! Pria bejatt ini pasti sudah membayar mahal seseorang untuk menjatuhkan saya!" kelit Grace yang tidak mendapatkan respons dari siapa pun. Bahkan sang pengacara kondang yang dia sewa, tidak memberikan pembelaan sedikit pun. Semua pihak yang membantu Grace sudah pasrah, termasuk hakim ketua yang sudah mendapatkan sejumlah uang suap darinya.


"Tolong tenang Nona Grace! Anda mengganggu berlangsungnya sidang hari ini. Dan itu bisa membuat hukuman anda bertambah!" seru sang hakim ketua.


"Saya sudah membayar mahal anda, Yang Mulia! Saya tidak rela diperlakukan semena-mena seperti ini...!!" teriak Grace yang membuat semua orang terperanjat karena pengakuannya. Hakim ketua tersebut tertunduk malu dan harus pasrah ketika pihak yang berwajib menggiringnya untuk turun dari singgahsana kebanggaannya lalu digantikan oleh wakil hakim ketua.


"Setelah mendengarkan kesaksian-kesaksian dan juga barang bukti atas kejahatan dari terdakwa. Maka dengan ini, pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup dan denda sebanyak 2 miliar dollar. Dengan dakwaan, pasal penculikan anak di bawah umur, percobaan pembunuhan berencana serta pasal penyuapan pada saksi dan juga hakim agung." Palu diketuk sebanyak tiga kali sebagai tanda bahwa sidang hari ini telah ditutup.


Tubuh Grace melangsur, dia terduduk lemas di atas lantai podium. Kesombongan dan juga keangkuhan yang menyeliputi raut wajahnya, seketika sirna dan kini berganti lara. Hukuman seumur hidup membuat dirinya benar-benar terguncang. Mulutnya tertutup rapat, tidak ada lagi isakan ataupun teriakan.

__ADS_1


Sementara di kursi pengunjung,


"Selamat ya Rona..." ucap Claire memeluk tubuh sahabatnya. Dia mendekap erat tubuh wanita yang bergetar karena tangis bahagia seraya mengelus-elus punggungnya. "Semua sudah selesai, aku sangat lega, Rona. Tadi aku sempat ketakutan," ungkap Claire yang turut menangis.


"Selama ada Edward di sampingku, tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyakitiku," sahut Rona seraya menatap bahagia ke arah suaminya.


"Selamat ya Nak..." ucap Richard dan Maria yang turut hadir untuk memberikan dukungan. Hanya Leona yang berada di mansion karena harus menjaga keponakan tersayangnya.


"Terimakasih Pa... Ma...," Pelukan Rona beralih pada kedua orang yang sudah dia anggap seperti orang tua sendiri.


Semua turut berbahagia, hingga seorang wanita dengan pekikan amarah menerobos kerumunan keluarga Liam. Dia mendorong tubuh siapa pun yang menghalanginya. Matanya mengunci wajah wanita yang bertanggung jawab atas nasib anaknya.


"Heh... gara-gara kamu, anakku harus mendekam lama di penjara!" geramnya dengan tangan melayang tinggi. Edward sigap mencengkeram kuat tangan itu, membuat si empunya meringis kesakitan. Cengkeramannya semakin kuat, hingga terdengar suara tulang menggertak. Wanita itu memohon ampun, karena rasa sakit yang teramat sangat.


"Pi... kenapa diam saja? Ayo bantu Mami!" rengek Monic pada suaminya. Jourdy menggelengkan kepala, lalu membalikkan badannya meninggalkan sang istri. "Heh pria tua pengecut! Tidak punya nyali sedikit pun. Istri dalam kondisi tersakiti, kamu malah kabur!" umpat Monic pada suaminya.


Jourdy menghentikkan langkah, dia mengatakan kalimat yang membuat penyakit jantung Monic kambuh. "Ikut aku pulang dan perbaiki kelakuanmu atau lebih baik kita cerai saja! Tapi... lebih baik kita bercerai saja, karena aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu!"


Monic tertegun, dia merasakan sakit di bagian dada kirinya. Selama ini Jourdy tidak pernah berani menyergahnya. Namun, kali ini bahkan suaminya itu berani membahas perceraian.


"Pi... Papi bercanda, kan?" teriak Monic tanpa mendapat jawaban.


"Pi... Papi? Aku berbicara denganmu pria tua!!" geram Monic dengan napas tersengal-sengal. Dia menekan dada kiri menggunakan sebelah tangan, lantaran rasa sakit yang menukik ke atas jantungnya.


Terdengar suara teriakan dari mulut Claire sebab tubuh Monic tiba-tiba terhuyung. Akan tetapi, teriakan dari gadis itu tidak membuat Jourdy memutar tubuhnya dan kembali pada sang istri. Dia terus saja melanjutkan langkah tidak peduli, meski Claire berteriak memanggil-manggil namanya.


...*****...

__ADS_1


...2 bab kemarin menguras esmosi, hari ini bisa menghela napas sejenak 🙈...


...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semuanya, berkah selalu ya......


__ADS_2