Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Malam Pertama eh Malam Kesekian


__ADS_3

"Rona lempar sini bunganya...!" teriak Claire yang bersiap menangkap buket bunga. Rona mengangkat tangan ke atas kepala lalu melemparkan sesuatu yang dia genggam ke belakang.


Duggg!!!


Claire dan Feliks bertubrukan, mereka saling berebut karangan bunga. "Ini punyaku...!" sentak Claire.


"Tidak, ini milikku! Karena aku yang lebih dulu menangkapnya!" ujar Feliks tidak mau kalah.


"Apa sih, kamu laki-laki harusnya mengalah dong!" Claire menarik buket bunga demikian halnya Feliks, akhirnya rangkaian bunga terbagi dua, terbelah.


"Itu namanya kalian berjodoh..." teriak Rona yang membuat wajah Claire memerah karena malu. Sementara pria yang berdiri tak jauh dari Claire dan Feliks, menahan rasa kesal.


"What, jodoh sama pria planga-plongo macam begini? Come on, Rona!" Claire hendak melangkah, tetapi kakinya menginjak lantai yang licin. Tubuh Claire terhuyung, hampir saja terjatuh karena lengan berotot sigap menahan punggungnya.


"Apa sih pegang-pegang? Lepas!" bentak Claire. Feliks melepaskan begitu saja tangannya dari punggung Claire, membuat gadis itu terjungkal dengan kaki mengangkat ke atas.


Rona menutup wajah dan Edward menahan tawa. Sementara Feliks, dia berlalu pergi dengan wajah tanpa dosa.


"Sini aku bantu berdiri..." ujar Nath yang mengulurkan tangan. Claire menyambutnya dengan rasa canggung seraya menahan malu.


"Nath, please... bawa aku pergi dari sini!"


...***...


Rona dan Edward, berdiri di atas singgahsana pelaminan. Menerima ucapan selamat dan untaian doa dari orang-orang yang hadir di hari bahagianya.


"Dokter cantik..." sapa Ezio.


"Ah... Ezio sayang. Dokter kira Ezio tidak akan datang." Rona memeluk stepson-nya dengan erat.


"Kata Oma, Dokter cantik Mommy baru Ezio. Jadi sekarang Ezio harus manggil Dokter cantik dengan sebutan Mommy..." cerocos Ezio yang nampak bahagia.


Tidak terasa air mata menitik di pipi Rona. Semua berakhir dengan bahagia, meski Tuhan menguji cintanya terlebih dahulu dengan kerikil-kerikil tajam.


"Selamat ya Nak, berkatku untukmu..." ujar Maria seraya memeluk wanita pengganti putrinya.


"Terimakasih, Ibu... sudah berkenan hadir serta membawa Ezio..." ucap Rona yang memeluk Maria.

__ADS_1


"Sama-sama, Nak...."


Maria lalu memeluk mantan menantu, tangisnya tiba-tiba pecah. "Selamat berbahagia, jaga istrimu baik-baik. Cintai dia sebagaimana kamu mencintai Marissa."


Edward menganggukan kepala, hidungnya memerah dan bibir bergetar menahan tangis. "Terima kasih, Ma... Terima kasih...."


...***...


"Ini tamu kenapa tidak berkurang ya?" bisik Edward yang sudah tidak tahan dan merasa lelah.


"Memangnya kenapa?" Rona menarik alisnya ke atas, mencari jawaban dari pertanyaan Edward.


"Masa kamu tidak paham sih?" Edward membelai punggung Rona lalu meremass bokongnya.


Dia lupa kalau Richard saat ini duduk di belakang, melihat semua adegan yang dilakukan oleh anak tengilnya.


"Ehm..." deham Richard.


Tubuh Edward menegang dengan saliva yang diteguk kasar. Dia memutar kepala dan mendapati Richard yang tengah menyalang ke arahnya.


"Tahan sebentar, anak muda! Kamu seperti belum melakukannya saja. Padahal Papa yakin, kamu dengan Rona melakukannya tiap malam!"


Richard berdiri lalu mendekati putranya. "Papa tahu kalau kalian sudah tinggal bersama. Mana mungkin hanya sekedar tidur berdua, pasti berbagi kenikmatan juga...."


Mata Rona membola, tidak percaya dengan apa yang dilontarkan papa mertunya. "Aku paham sekarang kenapa Edward bisa semesum itu, ternyata diturunkan dari Papanya."


...***...


Pukul 00.00


Sepasang pengantin baru memasuki kamar yang sudah disiapkan untuk mereka melewati indahnya malam pertama. Kelopak mawar merah yang bertaburan dan hiasan di atas ranjang yang membentuk kata love. Tidak lupa lilin-lilin kecil menambah kesyahduan akan malam panjang yang dipenuhi suara rintihan dan peluh membasahi tubuh.


"Sayang... turunkan aku..." rengek Rona manja yang tengah dibopong oleh suaminya.


Edward menurunkan tubuh sang istri dengan lembut di atas ranjang. Tatapan tidak lepas dari manik mata jernih yang telah menghanyutkan dirinya ke dalam buaian yang bernama cinta.


"Malam ini dan seterusnya kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, sayang...!" Edward membelai wajah Rona lalu mengusap bibir tipis.

__ADS_1


"Malam ini aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami... aku janji akan memberikan kenikmatan yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya." Tangan Edward menurunkan resleting gaun pengantin, lalu menariknya hingga terlepas dari tubuh sang istri.


"A- apa tidak sebaiknya kita mandi terlebih dahulu?" tanya Rona gugup.


Edward berbisik di telinga Rona dengan suara yang mendesahh. "Ayo kita lakukan di kamar mandi! Aku akan membuatmu menjerit-jerit hingga tubuhmu lemas."


Pria yang sudah tidak tahan menahan gejolak dia berdiri lalu melepas semua kain di tubuhnya tak bersisa. Rona menutup mata lantaran merasa malu.


"Buka matamu sayang, setiap inci tubuhku adalah milikmu!" Edward melepas kain terakhir yang menempel di tubuh Rona lalu melemparnya ke sembarang arah. Tubuh Rona meremang karena rasa dingin yang menyentuh kulit.


Edward mengangkat tubuh ringan istrinya menuju bilik lembab dan dingin. Bola mata tak ingin lepas dari memandangi wanita yang telah resmi menjadi pasangan sehidup semati.


Keran shower di putar, air hangat menghujani dua tubuh yang mendidih karena api gairah. Edward menurunkan tubuh sang istri, lalu merapat dan mencumbu dengan napas yang memburu.


Rona membalas cumbuan Edward tak kalah liar. Dia memagut rakus bibir suaminya dengan tangan nakal meremass kepemilikan yang mengeras. Suara erangan lolos begitu saja dari mulut Edward yang mengatup rapat.


Bagai singa kelaparan, Edward melahap benda kenyal dan padat. Tangannya memilin puncak kenikmatan yang mencuat. Rona mendongak, tersiksa olah rasa nikmat yang diberikan secara bertubi-tubi.


Desahann demi desahann, berganti dengan lenguhan. Bagian intinya semakin basah karena rangsangan. Edward menyesap leher Rona lalu menjilattnya. Meninggalkan tanda cinta alami yang dia lukis menggunakan mulutnya.


Tubuh Rona semakin meremang, terlebih saat bibir yang dingin menyentuh gundukan miliknya. Menyesap dan mengitari aerola yang mengeras dengan lidah yang tak bertulang.


Permainan lidah Edward turun menuju bagian paling sensitif seorang wanita. Dia mengangkat sebelah kaki Rona dan menautkan ke atas pundaknya. Kepala merapat lalu menyesap. Mengitari bagian inti dengan benda kenyal nan lembut. Jemari turut ambil bagian, menggelitik area in-tim. Suara lenguhan lolos dari bibir Rona, seiring dengan pelepasan pertama. Edward semakin bersemangat memainkan bagian pangkal paha, tubuh Rona kembali menegang dengan pelepasan keduanya.


Rona yang tak ingin merasakan menderita sendiri, dia membalikan keadaan. Diputarnya tubuh Edward dan kini bersandar ke dinding yang dingin.


Rona merundukkan tubuhnya dan berdiri menggunakan kedua lutut. Dia meremass milik suaminya dan menyesap kencang. Mata Edward berkejap-kejap merasakan nikmat yang tak terkira. Rona semakin nakal, Edward mulai kewalahan. Akhirnya pelepasan pun tak dapat dihindarkan. Lolongan panjang lepas dari mulut Edward, dengan tangan menekan kepala Rona. Mulutnya menganga hingga tetes kenikmatan mengering.


"Rona... kamu membuatku tak berdaya malam ini."


...*****...


...Maaf ya kalau kurang menjiwai dan kurang hot......


...Terimakasih semuanya yang masih setia dengan novel Senja....


...Selamat malam......

__ADS_1


...Love You All...


__ADS_2