Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Nasibmu Rona!


__ADS_3

"Ini Dokter cantik yang sering aku ceritakan, Daddy ... gimana cantik, kan?" tanya Ezio berbinar.


"Tidak ah, biasa saja..." jawab Edward sinis. "Ayo sayang, kita ke sana saja. Jangan bicara dengan orang asing..." cibir Edward.


"Dokter cantik bukan orang asing Daddy, dia pacalku," jawab Ezio yang masih pelat lidah.


"Eh anak kecil tahu-tahuan pacar," sahut Edward. "Yuk Ezio kita pulang!" Edward merangkul pundak putranya dan meninggalkan Rona yang membisu dengan segudang pertanyaan.


Ezio memutar kepalanya setengah. "Dadah Dokter cantik, sampai jumpa lagi... muah...!"


"Dadah Ezio..." Rona melambaikan tangan dengan hati yang teriris dan terbang pikiran, menatap punggung dua insan yang ternyata berstatus ayah dan anak.


"Jadi Ezio adalah anaknya Edward? Ah... dunia ini memang tak selebar daun kelor. Bahkan daun kelor sendiri pun sebenarnya tidak lebar."


...***...


Hanya potret yang diambil secara sembunyi-sembunyi yang menemani hari-harinya. Dia tatap, dia kecup, dia peluk dan dia ajak berbicang. Bukan hal yang mudah baginya untuk membiasakan diri pada hal yang baru.


Senyumnya, tawanya, manjanya selalu terngiang dalam ingatan. Gadis pujaan yang telah mencuri hati, kini perlahan dia tinggalkan. Mencintai bukanlah sebuah kesalahan, hanya saja keadaan yang tak berpihak. Semua berakhir tidak sesuai dengan harapan, tapi benarkah?


"Sayang..." ucap seorang wanita yang bermake-up tebal. Dia mengalungkan tangan ke leher Edward lalu duduk di pangkuan pria yang sedari tadi terbuai angannya sendiri. Dengan berani, dia melahap bibir tipis Edward dan menyesap kuat-kuat. Edward membalas perlakuan wanita itu dengan lebih liar karena dalam bayangannya yang tengah dia cumbu adalah sang kekasih hati. Edward menarik tengkuk wanita di depannya, membuat sesapannya semakin mendalam.


"Rona... akhirnya kamu yang memulai."


Wanita itu melepas pagutan dan melayangkan pukulan keras ke wajah Edward. Edward terkesiap dan membulatkan penglihatannya. Dia baru tersadar, kalau bibir yang tengah dia nikmati adalah bibir dari asisten dosennya.


"Ah kamu Miranda! Maaf ... aku pikir wanitaku."


"Wanitamu? Pantas saja kamu selalu menolakku akhir-akhir ini, Edward." Miranda membelai lembut pundak Edward untuk memancing hasrat dan kembali menaiki tubuh lelaki yang selalu membuatnya terangsangg.


"Turun!" bentak Edward. Miranda melungsur dari atas pangkuan seraya bersungut-sungut.


"Habis manis sepah dibuang! Apa kamu lupa kalau aku yang setiap malam selalu memuaskanmu?" teriak Miranda kecewa. Dia keluar dari ruangan Edward lalu membanting pintu dengan keras, hingga perhatian setiap orang teralih padanya.


"Apa kalian lihat-lihat?" tantang Miranda pada mahasiswa yang menatap risih.

__ADS_1


Seantero kampus sudah mengetahui skandal antara Edward dan sang asisten. Namun, pihak kampus tidak bisa melakukan apa pun karena keluarga Liam adalah pemilik utama kampus yang tersohor di negara ini.


Setelah Miranda keluar dari ruangan, giliran Edward yang beranjak karena dia harus menyampaikan materi kuliah. Semua mahasiswa yang melihatnya kontan berbisik-bisik, membicarakan tentang dirinya. Namun, Edward tak peduli dia acuh tak acuh seperti biasa.


"Selamat siang," sapa Edward dengan raut tenang. Dia menyalakan laptop, LCD proyektor lalu berdiri di samping layar dan menggenggam pointer.


Edward menerangkan materi statistik yang sudah dia rangkum secara lugas, tetapi terperinci. Dia merubah metode mengajar dengan cara yang menyenangkan. Namun, lebih mudah dipahami. Mahasiswanya tertegun dengan penuturan dan penjelasan yang disampaikan Edward, sisi bengis dosen statistik kini bergesar menjadi pribadi yang berkharisma.


"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Edward dengan menatap ke sekeliling ruangan. Semua nampak antusias dengan berebut mengancungkan tangan.


Baru kali ini mahasiswanya berani bertanya, biasanya hanya menunduk tidak kuasa menunjukkan muka. Selepas ujian dadakan tempo lalu, di mana tidak ada satu pun mahasiswa yang bisa menjawab soal dengan benar, Edward mengevaluasi diri dan mencari letak kesalahannya di mana. Dia mulai berbenah, termasuk berbenah masalah hati.


...***...


Hari ini hari yang tidak begitu padat karena pasien yang ditangani lebih sedikit dari biasanya. Bagian poliklinik Rumah Sakit masih sangat ramai, hanya poliklinik anak yang ruangannya sudah sepi.


Rona merentangkan tangan, meregangkan urat-urat yang menegang sembari menghirup dan membuang napas. "Tumben hari ini pasien sedikit, biasanya bagian anak selalu selesai paling terakhir," batin Rona sembari melihat jam yang tergantung di atas dinding.


Dia menyandarkan kepala seraya memejamkan mata, tidak tahu mengapa sejak pagi hari perasaannya tidak enak, seolah akan ada sesuatu yang terjadi kepadanya.


"Ntahlah, aku merasa tidak enak hati," jawab Rona yang menegakkan tubuhnya.


"Mau saya temani?" tawar Gisella.


Rona menggeleng kepala. "Tidak usah, kamu kan sudah biasa dijemput si dia...."


"Saya bisa menyuruhnya pulang kalau Dokter mau," sahut Gisella yang merasa khawatir.


"Tidak apa-apa, aku pulang sendiri saja," tolak Rona.


"Baiklah, Dok ... kalau begitu saya pamit pulang lebih dulu ya," ucap Gisella lalu beranjak dari hadapan atasannya. Sementara Rona sendiri, dia merapikan meja kerja yang masih berserakan. Lalu menenteng hand bag dan menautkan kacamata ke daun telinga, seraya melafalkan bait-bait doa dan harapan di dalam hati, semoga terhindar dari mara bahaya.


Rona keluar dari Rumah Sakit dan menuju tempat parkir. Dia tidak menaruh curiga sedikit pun kalau dirinya tengah diintai beberapa orang yang tak dikenal. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, seseorang membekap mulutnya. Rona meronta-ronta dengan terus berusaha melepaskan diri. Namun, penyekap yang lain mengangkat kakinya. Kini dia tengah diseret oleh dua pria yang memakai topeng.


Rona melotot saat melihat Edward yang ternyata baru keluar dari lobby, dia berteriak tapi suaranya tidak terdengar karena mulutnya ditutup. Rona menggigit jari penyekapnya dan bekapannya terlepas. Dia berteriak sekencang mungkin memanggil nama lelakinya.

__ADS_1


"Edward...."


"Edward... tolong aku Edward...!"


Edward mencari suara yang dikenalnya, dia melihat Rona yang tengah dibawa oleh dua orang yang berpakaian seperti ninja. Dia berlari sangat kencang dan berhasil mengejar para penjahat. Terjadi adu tangan antara Edward dan Si pria misterius dan dia berhasil melumpuhkannya. Edward mengepalkan tangan ke arah pria yang mencengkeram lengan Rona.


Dan, Buggg!!!!


Tubuh Edward tersungkur ke atas tanah karena anggota komplotan yang lain memukul kepala bagian belakang. Rona menjerit histeris, dia menginjak punggung kaki si penculik. Namun, tangan kasar membekap mulutnya menggunakan' kain yang sudah ditetesi cairan. Rona pingsan, tubuhnya diseret ke dalam mobil dengan tangan yang diikat.


xxx


Hallo, Bos! Target sudah aman!


yyy


Bagus... bawa dia ke mari. Tapi ingat jangan sampai lecet sedikit pun!


xxx


Siap Bos!


Jangan lupa bayaran kami!


yyy


Tenang... kamu cek sendiri saja, aku sudah mengirimkan bayaran kalian berikut bonusnya.


xxx


Baik Bos, terimakasih!


...***...


...Rona kembali dalam bahaya, untuk kedua kalinya dia ditawan dan disekap. Apakah dia akan berhasil diselamatkan?...

__ADS_1


__ADS_2