Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kecelakaan Kecil


__ADS_3

...Seakan memacu detak jantung ini. Namun seakan melemah hembusan napasnya. Ingin tersenyum, namun rasanya segan. Ingin ceria, tapi terasa tak nyaman. Meski bintang asyik menemani agar larut dalam sinarnya, namun tetap saja hati sekelam awan. Dalam kalbu bak tersirat sembilu yang mendulang sendu. Di antara bahagia yang hanya semu....


...*****...


Sepasang netra cokelat muda menatap langit sore dengan warna keemasan. Tangannya menengadah membiarkan butiran salju mendarat di atas telapaknya yang lembut. Matanya terpejam menikmati sejuknya angin yang menghembus tipis ke seluruh wajah. Mengikis tubuh yang lelah juga pikiran yang gundah.


"Sayang... orang-orang sudah menunggu keputusan kita, kamu sudah siap?" Edward berdiri di samping istrinya, meletakkan tangan di atas pundak. Rona memutar badannya lalu mengangguk.


"Aku sudah siap. Nama-nama yang lolos test hari ini sudah ada di tanganku." Rona memperlihatkan sebuah catatan yang ada di tangannya. "Semoga kita tidak salah memberi keputusan."


Rona melangkah ke arah aula dengan Edward yang mengekor di belakang. Dia menatap satu per satu wajah penuh harap dan keyakinan. Rona berdiri di depan semua orang. Napasnya terasa berat, dia memberikan sepatah dua patah kata sebagai pembukaan. Lantas mengeluarkan catatan nama-nama orang yang telah dia pilih beserta arsip hasil test yang mereka lalui.


Nama-nama yang dia sebutkan memekik gembira lantas maju ke depan podium. Sementara orang-orang yang namanya tidak tercatat di dalam daftar, harus menelan kekecewaan yang mendalam. Pria yang belum disebutkan namanya duduk santai dengan kaki menyilang, tangannya bersidekap menatap wanita yang bicara dengan lantang.


"Dan yang terakhir, yang akan menempati posisi sebagai kepala Rumah Sakit ... atas nama Tuan Brian Cale. Saya ucapkan selamat."


Tepukan bergemuruh menyambut pimpinan mereka. Brian beranjak dari tempat duduknya lalu melenggang bangga dan turut berdiri bersejajar dengan orang-orang yang sudah dipanggil namanya terlebih dahulu.


Rona memberikan selamat pada semua orang, dia menjabat tangan serta memberikan wejangan. Ucapan terakhir dia berikan pada pemuda yang berdiri paling ujung.


"Selamat Tuan Brian Cale. Selamat, anda sekarang menjadi bagian dari Victoria Children's Hospital." Rona mengulurkan tangan pada lelaki di depannya.


"Terimakasih banyak Nyonya Liam," balas Brian yang turut mengulurkan tangannya.


"Saya harap anda bisa bekerja sama dengan semua elemen di Rumah Sakit ini. Jangan membuat saya kecewa!" ucap Rona tegas, lantas melepas jabatan tangannya.


"Saya tidak akan mengecewakan anda Nyonya. Saya akan bekerja seprofesional mungkin," imbuh Brian kemudian membungkukkan badannya.


Semua orang telah membubarkan diri, Rona melandaikan tubuhnya di atas kursi. Nampak jelas raut letih di wajahnya.


"Kamu baik-baik saja sayang?" Edward memijat pundak sang istri, memberinya rasa nyaman.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Edward. Hanya tubuhku tidak sekuat biasanya," keluh Rona yang merasakan daya tahan tubuhnya menurun. Edward berjalan memutar, lalu berdiri menggunakan kedua lututnya. Dia mengusap-usap perut Rona lantas mengecupnya.


"Mommy-mu wanita yang kuat ... dan Daddy percaya kamu juga anak yang kuat. Terimakasih karena telah menjadi anak yang baik. Jangan menyusahkan Mommy-mu ya." Edward memeluk istrinya dan menyandarkan kepala di atas perut Rona.


"Bos, bisa tidak mesra-mesraannya di rumah saja? Kasihanilah pria kesepian ini!" protes Feliks yang merasa seperti seekor nyamuk.


"Kamu kesepian, aku juga kesepian. Apa tidak sebaiknya kita berdua saling mengisi kesendirian?" Natalie datang menimpali. Feliks mengacuhkan celotehan wanita yang berjalan ke arahnya dengan meminta izin untuk pulang lebih dulu.


"Bos maaf ya, saya tidak bisa mengantarkan Bos pulang. Singa betina sudah menunggu untuk dijemput," ujar Feliks mengenakan helm-nya.


Edward menganggukkan kepala lantas berdiri. "Pulanglah, sebelum sepupuku ini lebih dulu menerkammu. Sekali tertekam, kamu pasti sulit lepas dari jeratannya."


Natalie merotasi kedua matanya seraya menghentakkan alas sepatu ke lantai. Dia kesal karena Edward selalu menghalangi dirinya untuk mendekati Feliks. "Ayolah Edward... biarkan aku bersenang-senang dengan asistenmu ini. Aku pastikan akan menceraikan James setelah ini."


Feliks berjalan mundur dengan perlahan kemudian berlari sekencang mungkin untuk menghindari sepupu Edward yang mata keranjang. Natalie mendengus kesal saat mengetahui kalau Feliks menjauh darinya.


"Jangan menganggu asistenku, dia sudah memiliki kekasih! Kalau kamu mau, kejar saja sahabatku Brian. Dia tidak kalah tampan, bukan?" Edward berusaha mempengaruhi pikiran Natalie.


Edward yang malas mendengarkan celotehan Natalie, dia memapah tubuh istrinya menuju tempat parkir. Meninggalkan Natalie seorang diri di dalam aula yang sepi.


...***...


"Kamu sangat lelah ya sayang?" Edward membelai wajah pias Rona, Rona mengerjapkan mata. "Tidurlah!" Edward menarik tuas jok mobil memberikan istrinya posisi yang nyaman. Rona merebahkan tubuhnya kemudian mengatup indera penglihatannya. Tidak berselang lama dia pun terlelap.


Langit mulai gelap, pencahayaan mulai meredup. Edward mengendarai mobil dengan sangat hati-hati karena jalanan dipenuhi salju. Dia melajukan mobil sepelan mungkin, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya terlebih pada istrinya. Wiper terus berderit membesihkan lelehan salju yang menutupi kaca. Lampu mobil terus menyala memberikan penerangan pada jalanan yang dia lalui.


"Salju petang ini lumayan tebal dari sebelumnya, Edward." Rona terbangun dan dikejutkan dengan kondisi cuaca yang sangat ekstrim.


"Iya sayang... jalanan sangat licin. Aku harus berkonsentrasi," jawab Edward dengan mempertajam penglihatannya. Dia memperhatikan kondisi jalan dengan jarak pandang semakin minim.


"Hati-hati ya sayang." Rona mengusap pundak suaminya memberi dukungan.

__ADS_1


Angin bertiup kencang, salju menutupi separuh jalanan dan semua pepohonan. Nampak kendaraan dari arah depan melaju sangat kencang karena kehilangan keseimbangan ke arah mobil yang mereka naiki. Edward yang menyadari bahaya di depan mata, sontak membanting stir membelokkan mobilnya untuk menghindari tabrakan.


"A- awas Edward...!" pekik Rona dengan mata terpejam.


Jalanan yang sangat licin membuat Edward kesulitan untuk mengendalikan kendaraannya. Dia menginjak rem dalam-dalam, mobilnya berputar kemudian menghantam pembatas jalan dengan kencang. Beruntung mobilnya dilengkapi fitur anti guncangan, tubuh Rona terhenyak kepalanya mengenai sebuah benda lunak.


"Ka- kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Edward cemas karena kepala Rona tertunduk tidak bergerak. "Sayang... kamu tidak apa-apa, kan? Rona... jawab aku!" Edward sangat panik, dia teringat akan kejadian yang menimpa Marissa dulu.


Rona menarik tubuhnya lalu bersandar ke atas head rest. "A- aku tidak apa-apa Edward. Aku hanya shock!"


"Syukurlah..." Edward menghela napas. "A- aku akan mencari bantuan, kamu tunggu di sini." Edward keluar dari dalam mobil untuk meminta pertolongan. Ketika kondisi cuaca seperti ini jarang sekali kendaraan yang melintas, Edward berusaha menghentikan beberapa mobil, namun semuanya hanya menoleh sekilas ke arahnya tanpa berhenti.


Di saat keputusasaan mendera hati, ada satu kendaraan melintas dan berhenti tepat di depannya. Edward mendesah lega lantas menghampiri jendela mobil si pengendara.


"Edward, ada apa?" Brian membuka jendela mobil dan menatap heran.


"Ah... ternyata kamu Brian." Edward merapatkan tubuhnya dan menopangkan tangan di atas jendela. "Mobilku menabrak pembatas jalan dan sekarang mesinnya mati. Aku bisa meminta tolong?" teriak Edward karena suaranya tersamarkan gemuruh angin.


"Tentu saja, kamu butuh bantuan apa Edward?" tanya Brian membuka pintu mobil dan menatap ke arah kendaraan yang terparkir di pinggir jalan dengan lampu berkedap-kedip.


"Tolong antarkan istriku pulang. Aku harus menunggu asistenku dulu untuk membawa mobil ke bengkel," pinta Edward tanpa sedikit pun pikiran negatif di pikirannya. Brian tersenyum senang seakan mendapat kejutan besar. "Bagaimana, apa bisa?" tanya Edward karena Brian tidak menjawab.


"Te- tentu saja, bawa istrimu ke mobilku! Aku akan mengantarkannya pulang dengan selamat tanpa lecet sedikit pun," sahut Brian antusias.


Edward bersigera menuju mobilnya lalu mengangkat tubuh Rona yang lemas dan membawanya ke dalam mobil Brian. Dia menurunkan tubuh sang istri di atas kursi belakang kemudi dengan hati-hati.


"Sayang... kamu pulang bersama Brian ya. Aku harus menunggu Feliks dan membawa mobil kita ke bengkel. Karena kondisi seperti ini montir pribadiku tidak bisa diandalkan."


Rona hanya mengangguk lemah, kecelakaan kecil yang baru saja terjadi masih menyisakan keterkejutan juga ketakutan.


...*****...

__ADS_1


...Maaf terlambat Up ya teman-teman semuanya...πŸ₯ΊπŸ™...


__ADS_2