
...Hari Senin, ditunggu vote-nya ya Kak. Hehehe.......
...****...
"Tapi janjimu pada Marissa, kamu lupakan begitu saja?" Amber mendaratkan tubuhnya di atas kursi lalu menopang kaki. Dia meraih majalah di atas meja dan berpura-pura membacanya. Mempermainkan perasaan putra tirinya yang kembali tercabik.
Jemari mengerat, mata meruncing, napas naik turun karena amarah yang terpancing. Edward melangkah ingin membuat perhitungan pada wanita yang tidak tahu diri. Namun, lengan Rona menahan dadanya. Edward mengalihkan pandangan ke arah wanita di sampingnya. Rona menggeleng, Edward mengangguk lemah. Tatapan lembut Rona meluluhkan bara api di dalam dada.
"Kalian pasti lelah, istirahatlah di dalam kamar..." ujar Richard. "Biar barang-barang kalian, Arlo yang membawanya."
Rona mengangguk lalu menuntun tangan Edward. Membawa suaminya menjauh dari bakteri yang membuat gaduh.
"Kak Rona... Leona ikut..." rengek Leona sembari berlari kecil.
"Jangan ganggu Kakakmu ... mereka baru saja datang, pasti capek!" tegur Richard. Namun, Leona tidak menggubris larangan papanya, dia melingkarkan tangan ke dalam lengan Rona.
Rona memutar kepalanya. "Tidak apa-apa Pa... Rona juga ingin melepas rindu sama Leona."
Ketiganya menaiki deretan tangga dan masuk ke dalam kamar yang sudah tiga tahun tidak ditempati.
"Amber..." panggil Richard geram.
"Apa?" sahut Amber acuh.
"Bersikap baiklah pada putraku!" tekan Richard.
Amber menutup majalah yang dia pegang lalu melemparnya ke atas meja. "Maksudmu apa? Apa selama ini aku kurang bersikap baik pada putramu?"
Belum selesai Richard berbicara, Amber berdiri kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang masih dirundung emosi.
"Babak baru di rumah ini akan dimulai, kumohon perbaiki hubungan anak dan ibu ini, Tuhan..." gumam Fiona yang sedari tadi menguping dari balik lemari.
"Fiona!" panggil Richard yang menyadari keberadaan maid-nya.
"I- iya Tuan...?" sahut Fiona gagap.
"Tolong panggilkan Arlo, suruh dia angkat semua barang-barang ini ke kamar tuan muda!"
"Baik, Tuan..." jawab Fiona dengan badan membungkuk.
"Satu lagi, jaga menantu saya dari Amber. Kalau ada sesuatu yang dilakukan istri saya, tidak usah segan-segan untuk melapor!" Richard menoleh sekilas ke arah wanita yang tengah membungkukkan badan, lalu menarik langkah ke arah taman belakang rumah.
"Siap laksanakan, Tuan!"
__ADS_1
...***...
Edward merebahkan tubuh, kedua lengan dijadikan sandaran. Wajah menekuk dengan bibir mengerucut. Matanya sesekali mengawasi dua wanita yang tengah asyik bercengkerama. Hingga melupakan dirinya yang saat ini ingin diperhatikan juga.
"Ish... biasanya laki-laki yang tidak peka, ini perempuan!" Edward berguling-guling di atas kasur menahan rasa tidak nyaman karena miliknya menginginkan kehangatan.
Sementara di atas balkon,
"Leona... kamu nampak kurus dan lesu. Sedang sakit?" Rona menelisik wajah adik iparnya yang terlihat layu.
Senyum mengembang sontak menguncup, bulir-bulir kepedihan mengembun di manik mata. Kepala yang menegak kembali menunduk.
"Hey... ada apa? Ayo ceritakan padaku!" Rona mengangkat wajah Leona menggunakan jarinya.
Leona menggeleng. "Tidak ada apa-apa kak, aku akhir-akhir ini terlalu sibuk. Jadi kelelahan."
Rona mengangguk cepat. Namun, menaruh rasa curiga. "Aku yakin ada yang tengah Leona sembunyikan!"
"Istirahat yang cukup, jangan diforsir." Rona menaruh tangannya di atas pundak Leona lalu membelai lembut. "Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, jangan sungkan-sungkan untuk mencariku."
Leona menarik kepala ke bawah. "Iya Kak, terima kasih ya...," Leona memeluk kakak iparnya.
"Ya sudah, aku mau kembali ke kamar. Kasihan Kak Edward dari tadi terlihat resah." Leona memperhatikan Edward yang tidak bisa diam di atas ranjang.
"Kenapa dengan Kakakku?" tanya Leona penasaran.
"Em... lupakan saja!" jawab Rona yang hampir saja keceplosan. Dia berjalan ke dalam kamar dan disusul Leona di belakang.
"Kak Edward... maaf ya Leona tidak minta izin meminjam Kak Rona. Ini Leona kembalikan!" ucap Leona polos. Dia membuka daun pintu lalu menutupnya lagi.
...***...
"Hey asisten gila?" teriak Claire melihat pria yang dia kenal sedang memesan kopi di street food. Feliks menutup wajahnya menggunakan topi lalu pura-pura tidak mendengarkan teriakan Claire.
"Hallo... Feliks?" Claire mencari wajah tampan dari asisten Edward. Namun, pria itu menghindari tatapannya.
"Ini kopinya Tuan..." ucap barista menyodorkan kopi ke arah Feliks.
Claire menarik kopi tersebut lalu menghirup aroma wanginya. "Terima kasih ya...."
Suara seruput terdengar dengan aroma kopi yang dia kenal, Feliks mendongak nampak gadis di depannya tengah menikmati minuman yang dia pesan.
"Claire... itu kan kopiku!" Feliks menarik kasar cup kopi, lalu minuman tersebut tumpah mengenai punggung tangan Claire. Gadis itu mengaduh karena tangannya terasa terbakar.
__ADS_1
"Astaga... Claire. Maafkan aku!" Feliks panik, dia mencari pertolongan. Sayangnya tidak ada yang memiliki obat luka bakar. Dia menuntun Claire lalu membasuh lukanya menggunakan air bersih mengalir. Feliks kembali memapah Claire untuk duduk di kursi sebelumnya.
"Tu- tunggu di sini ya. Aku ke apotek dulu. Mudah-mudahan ada apotek sekitaran tempat ini!" titah Feliks gugup.
"Apotek di persimpangan jalan, kurang lebih lima menit dari sini..." jawab Claire sembari meringis menahan pedih. Tanpa basa-basi, Feliks mengambil langkah seribu. Berlari ke arah yang ditujukan Claire.
Sepuluh menit kemudian. Feliks berlari ke arah Claire, wajahnya basah karena keringat. "Maaf, aku lama. Sini mana tanganmu?"
Claire menyodorkan tangannya lalu Feliks berjongkok di depan gadis yang berkulit putih. Feliks mengoleskan obat ke atas luka bakar dengan hati-hati. Claire memegangi tangannya, menahan rasa perih.
"Sekali lagi maafkan aku, Claire...," Feliks meniup tangan gadis di depannya untuk meredakan rasa sakit.
"Kenapa ya, aku selalu sial kalau bertemu denganmu, asisten gila?!" Claire mendelik sedangkan Feliks terkekeh. "Kenapa tertawa? Kamu senang aku terluka?" bentak Claire. Dia menyesap sisa kopi, lalu mendengus.
Feliks beringsut lantas membungkukkan badan. "Bagaimana, sudah berkurang rasa sakitnya?"
Claire gelagapan, pasalnya jarak wajah pria di hadapannya begitu dekat dengan wajahnya. Hingga terasa sapuan napas yang menghembus tipis.
"Apa kamu pikir aku ini seorang superwoman, yang tahan rasa sakit? Ini benar-benar perih dan panas, Feliks!" sentak Claire merasa kesal.
Feliks mengulurkan tangan dan menggerak-gerakkan jarinya. "Yuk, aku antar kamu pulang!"
Claire melihat tangan Feliks lalu menatap ke arah wajah pria tersebut. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hatinya. "Pria ini ternyata baik juga. Haish... apa yang aku pikirkan? Fokus dengan dirimu sendiri Claire! Fokus!"
Claire menggeleng lalu menetuk-netuk kepalanya sendiri menggunakan kepalan tangan. Feliks yang tengah memperhatikan gadis di depannya, dia menarik alis sebelah lalu bertanya, "Kamu sedang berpikir apa Claire? Gelagatmu mencurigakan!"
Claire memicingkan mata lalu mengerucutkan bibir. Feliks menahan tawa melihat tingkah lucu gadis di hadapannya.
"Kenapa melihatku seperti itu, asisten gila?"
...******...
...Selamat hari Senin Kak. Bagi yang mempunyai vote, Senja tunggu ya di novel Dokter Rona and Hot Daddy....
...Terimakasih......
...Terimakasih juga untuk semua dukungan teman-teman seminggu kemarin, semoga terbalas dengan kebaikan yang berkali-kali lipat....
...Mohon maaf tidak ke-SS semua....
__ADS_1