
"Jadi, kamu sebenarnya siapa? Josh atau Nath?!" Amber mulai meraba-raba, mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Leona yang tengah hamil karena dirundung oleh laki-laki bernama Nath. Sedangkan dirinya sendiri terlibat hubungan terlarang dengan pria muda yang saat ini duduk di hadapan dan tersenyum pahit ke arahnya.
"Maksud dari ini semua apa Josh?" lirih Amber mencari jawaban. "Se-sebenarnya kamu Josh atau Nath. Jawab?!!" sentak Amber.
Nath terkekeh, "Matamu tidak rabun, kan Amber? Masih bisa melihat dengan jelas, kan?"
"Ja-jadi kamu adalah Nath. Nath yang—?" Amber tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Telapak tangan menutupi mulut yang menganga dengan kepala menggeleng cepat.
Nath tertawa. "Amber... Amber... umurmu sudah tua, tapi mudah sekali aku tipu. Tolol!"
"Kenapa Josh, kenapa kamu melakukan ini? Lalu apa salah putriku hingga kamu tega merampas kesuciannya?" Amber bertanya dengan suara yang tertahan.
"Aku hanya ingin membalaskan dendam pada putra kesayanganmu itu. Dia memerkosa Rona dan adiknya harus merasakan hal yang sama!" ungkap Nath santai. "Tidak ada angin, tidak ada hujan. Kamu pun datang untuk menyerahkan tubuhmu. Aku anggap itu sebuah keberuntungan. Merasakan keperawanan putrinya dan menikmati kehangatan ibunya!"
Amber yang sudah tidak tahan dengan bualan pemuda di depannya, dia berdiri lalu menyerang Nath. Menarik kerah baju lalu mencakar wajah Nath. Dua orang sipir menarik lengan Amber, menjauhkan dia dari tahanannya. Amber berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehat.
"Dasar jalangg tidak waras!" cibir Nath. Dia mengusap wajah yang terkena cakar dengan sedikit meringis.
Amber masih berusaha melepaskan diri, umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya. "Dasar bajingan, kamu harus mati brengsek!!!"
Dua orang yang menahan Amber, kewalahan menahan tubuhnya lantaran tenaga wanita paruh baya itu teramat kuat. Amber kembali menyerang Nath, lantas mencekiknya.
"Lepaskan tangan anda Nyonya, anda bisa terkena masalah!" tegur salah seorang sipir. Amber merenggangkan cengkeramannya, Nath mengatur napas dan terbatuk-batuk.
"Jangan kamu pikir hidupmu akan tenang, suatu saat aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, keparat!!" ancam Amber tidak main-main. Dia mendorong pria di sampingnya lalu keluar dari ruang besuk tahanan.
Amber menemui anak-anaknya yang menunggu dengan gelisah. "Mom... Mom, kenapa?" tanya Leona yang melihat Amber berjalan dengan sempoyongan. Tubuh Amber berputar lalu ambruk ke atas lantai.
"Mom...!" pekik Leona melihat Amber terlengar. "Kak Edward, Mom Kak... Mom pingsan!"
Edward menatap tanpa ekspresi pada wanita tua yang tergeletak tidak bergerak. Rasa peduli dan iba hilang secara bersamaan. Karena tanpa sengaja, dia mendengar fakta mencengangkan mengenai hubungan ibu tirinya dan Nath.
"Kak Edward... please tolong Mom!" Leona merengek, menggugah perasaan kakaknya.
"Sayang... apa kamu tidak kasihan melihat Leona?" tanya Rona lembut. Edward menyeka air mata yang menitik tipis lalu menghampiri Amber. Dia mengangkat tubuh sintal yang semakin terasa berat, Rona turut membantunya. Mereka membawa Amber ke atas bangku kosong.
"Pakai ini Nona." Seseorang menyodorkan minyak angin kepada Leona. Dan dia meraihnya.
"Terima kasih," jawab Leona. Dia membalurkan minyak angin ke atas perut dan leher Amber. Lalu menaruhnya di depan hidung agar terhirup. Selepas sepuluh menit, mata Amber mengerjap lemah.
__ADS_1
Amber menatap getir putrinya. Tangan yang lembut diangkat lalu diarahkan ke wajah Leona. "Ma- maafkan Mom ya Nak...."
Leona menggenggam tangan ibunya lalu terisak. "Tidak ada yang perlu dimaafkan Mom, lagi pula semua ini bukan salah Mom. Tapi takdir yang tengah mempermainkan hidup Leona!"
Amber berkata dalam hatinya, "Bagaimana bila suatu saat putriku tahu, kalau ibunya tidur dengan laki-laki yang sama. Laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya?"
...***...
"Astaga... lama-lama aku benar-benar jadi asisten gila...!" Feliks berteriak di dalam ruangan yang kedap suara dengan tumpukan pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Dia melonggarkan dasi yang melilit di leher lalu mengusap kasar wajah seraya mendengus kesal. Mencoba menelepon bos reseknya. Namun, tidak ada jawaban.
"Edward gila... cukup kamu saja yang gila. Jangan buat aku ikut gila...!!!" Lagi-lagi Feliks berteriak, karena frustrasi dengan semua berkas yang harus ditangani. Dia menatap jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Bahkan untuk sarapan dan makan siang pun aku tidak punya waktu!" keluh Feliks yang merasakan perutnya bergetar. Dia meraih ponsel di atas meja lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Feliks sudah tidak peduli kalau pun harus dipecat saat ini juga. Yang penting saat ini, dia butuh angin segar dan sejumput makanan.
Tidak tahu mengapa, kakinya membawa dia ke depan apartemen yang sering dia lewati setiap hari. Tangannya pun bergerak tanpa diminta, lalu merogoh ponsel dari dalam saku dan menekan nomor seseorang.
Claire
Hallo!
Ada apa?
Feliks
Claire
Maksud?
Feliks
Kamu punya waktu? Aku sedang butuh teman
Claire
Aku sedang sibuk!
Feliks
Please...!!!
__ADS_1
Claire
Baiklah... baiklah. Di mana? Dan jam berapa?
Feliks
Aku sudah di taman di depan apartemenmu! Aku tunggu di sini
Claire
What??
Tanpa memberikan lagi jawaban, Feliks mengakhiri sambungan teleponnya. Claire mengumpat sembari mengganti pakaiannya. Dia mengikat rambutnya asal, memulas bibir dengan lip tin lalu mengenakan sneaker putih bertali. Tas selempang kecil dia gantungan di atas bahu.
Claire keluar dari apartemen menuju taman. Terlihat dari kejauhan, Feliks melambaikan tangan ke arahnya. Claire bersikap cuek dan memasang wajah ketus.
"Kita mau kemana?" tanya Claire tanpa basa-basi. Feliks menggenggam pergelangan tangan Claire lalu menuntunnya.
"Aku bukan anak kecil Feliks, tolong lepaskan. Aku risih!" tukas Claire yang sebetulnya merasa malu. Namun, bukannya melepas genggaman, Feliks malah menautkan jari-jarinya ke dalam jemari Claire. Ada gelenyar aneh yang menyusup ke dalam sanubari, seiring degup jantung yang mendadak riak tidak terkendali.
Feliks mengajak Claire berjalan mengelilingi taman, menikmati sore hari yang mulai redup dengan kepingan senja meretas di atas cakrawala. Tangannya menggenggam kuat seolah tidak ingin melepaskan. Sementara Claire seolah menikmati kehangatan tangan lelaki di sampingnya.
"Ka- kamu memangnya kenapa mencariku?" Claire yang penasaran akhirnya bersuara.
"Aku sedang membutuhkan seseorang yang bisa aku ajak bicara, dan pikiranku tertuju pada satu nama. Claire!" Feliks menghentikan langkah lalu melepaskan pegangan, gurat kekecewaan terlukis di wajah gadis di depannya.
Feliks merundukan tubuhnya lalu berjongkok di depan Claire. Dia hendak menyentuh kaki Claire, tetapi gadis itu berjalan mundur.
"Ka- kamu mau apa?" tanya Claire gugup.
"Tali sepatumu lepas, Claire...."
"Ya?" sahut Claire. Dia mengerutkan kening saat Feliks mendekat, lalu menarik tali sepatu dan membuat simpulan. Hati Claire terenyuh dengan sikap manis Feliks terhadapnya.
"Terima kasih, Feliks...."
...*****...
...Apa kabar semuanya? Semoga selalu sehat dan bahagia ya Kak. Terimakasih untuk semua yang masih setia membaca dan mendukung karya kedua Senja. Semoga selalu terhibur dan menjadi teman dikala waktu sengang....
__ADS_1
...Happy Weekend...