
Mentari kini berada di titik puncaknya. Namun, aktifitas suami istri tersebut belum juga usai. Mereka masih asyik bercumbu mesra. Sementara peluh semakin membasahi raga, rasa lelah mulai menyapa.
Bagi mereka tiada lagi yang bisa melerai segala masalah dan keluh kesah di alam pikiran. Selain cumbu dan belaian lembut yang mengitari seluruh tubuh. Kecupan hangat seakan menjadi obat paling mujarab, menghilangkan keresahan dan rasa sakit akan pengkhianatan.
"Oh... honey ..." Rona menggigit tipis bibirnya saat Edward kembali memasuki tubuh intinya. Meski sudah berkali-kali tubuh mereka menyatu. Akan tetapi, milik suaminya itu selalu terasa sesak dan penuh di dalam dinding uterus.
"Sakit?" tanya Edward karena Rona terlihat meringis. Ini kali ke tiga dia bersenang-senang dengan tubuh sang istri yang tengah hamil trimester kedua.
"Perih sedikit, sepertinya punyaku lecet," sahut Rona merasakan sesuatu yang tidak nyaman di area intinya.
"Aku sudahi ya?" tanya Edward lembut. Dia menegakkan tubuhnya untuk mencabut miliknya dari dalam tubuh sang istri.
Rona menahan lengan Edward sembari menggeleng cepat. "Jangan... teruskan saja. Aku suka kok... lagi pula hanya perih di awal saja, lama-lama juga tidak terasa."
"Yakin? Aku tidak tega melihat kamu seperti kesakitan," balas Edward membelai wajah Rona.
"Yakin sayang... aku yang meminta. Aku yang menginginkan pergumulan ini. Cumbui aku ... nikmati seluruh tubuhku," racau Rona menggoda hasrat suaminya.
Edward tersenyum sayu lantas melepas miliknya sementara untuk melakukan foreplay. Dia membungkukkan punggung untuk menyambar bibir manis istrinya. Kemudian menuntun lidahnya untuk mengobrak-abrik ruang hangat lalu bertukar saliva.
Bibirnya menuruni leher jenjang dan menyesapi ceruknya. Meninggalkan beberapa tanda-tanda kepemilikan berwarna merah pekat di sekitarnya. Rona melenguh, dia meremass apa pun yang mampu dijangkau oleh jemarinya.
__ADS_1
Edward mengeksplor setiap lekukan tubuh sang istri menggunakan lidah tipisnya. Diselingi sesapan dan juga gigitan lembut. Punggung Rona melenting, sekujur tubuhnya kembali meremang. Bibir mungil Rona mengeluarkan suara-suara merdu yang menggelitik ruang kelelakian. Hasrat keduanya kini sama-sama kembali memuncak.
Lidah Edward mengitari gumpalan kesukaannya. Dia lahap dengan rakus, sembari menarik tipis puncaknya yang mengeras. Tubuh Rona menggelinjang, rauhan dan desahann menghiasi bibir tipisnya nampak semakin menggoda. Suara-suara sensual terus diperdengarkan, membawa lelakinya terbang menuju puncak kenikmatan.
"Sayang..." desah Rona karena rasa geli dari rangsangan di setiap jengkal tubuhnya. Dia membiarkan suaminya menjilati dadanya bagai sebuah es krim dan mengulumm bagian yang berwarna merah muda.
"Apa sayang?" sahut Edward dengan suara paraunya. Tidak ada lagi jawaban dari sang istri, Edward melanjutkan permainannya.
Wajah Edward kini berada di depan tubuh inti istrinya. Dia tekuk kedua lutut, lalu membukanya dengan lebar. Bibir dan lidahnya mendekat lanjut bersinergi memberikan kenikmatan pada pemiliknya. Rona mendongakkan kepala seraya menjambak rambut suaminya. Rasa geli dan rasa bagai tersengat listrik menjalari setiap denyut nadi.
Lidah tak bertulang itu menari-nari di setiap mili titik senggama. Bibirnya menyesap lembut madu kasih yang tak pernah habis. Memainkan dengan perlahan. Namun, terkadang cepat. Pemiliknya hanya bisa meliuk-liukkan badan dengan mata mengerjap-ngerjap.
Seperti biasa, jemari panjangnya turut ikut memberikan rasa yang hanya Rona saja yang tahu. Satu jari, dua jari bergerak melambat membuat darah berdesir. Bibir tipis kembali digigit, cengkeraman di atas rambut semakin menguat.
Napas Rona terengah-engah, dadanya naik turun. Dia selalu puas akan rasa yang diberikan oleh suaminya.
"Bagaimana hm...?" Edward menarik bibirnya ke salah satu sudut dan menatap dalam netra mata istrinya.
"Kamu nakal Edward..." sahut Rona lantas menyapu bibirnya sendiri. Edward terkekeh karena kini sang istri selalu merespons dengan tidak kalah liar.
"Kamu juga semakin nakal sayang..." Edward memagut bibir Rona menyesapnya kuat-kuat. Jemarinya kembali memainkan tubuh sang istri dengan gerakan cepat dan kuat. Rona ingin berteriak melepaskan kenikmatan yang tiada tara. Namun, Edward dengan jahil mengatup bibir Rona dengan bibirnya. Pelepasan kedua keluar tidak kalah dahsyat, Edward melepas pagutannya.
__ADS_1
"Kamu nak—"
Belum selesai Rona meracau, Edward sudah lebih dahulu melesakkan miliknya tanpa ampun. Kepala Rona tertarik ke atas, bibirnya terbuka lebar meloloskan erangan.
Edward membiarkan sang istri mengatur napasnya untuk beberapa detik. Setelah itu dia mulai berkonsentrasi. Telapak tangannya menangkup dua gundukkan yang menggantung bebas, seirama dengan panggul yang bergerak maju-mundur. Wajah Edward semakin sayu, nampak sekali tubuhnya telah diselimuti libido tinggi. Peluh mengaliri dada bidangnya, matanya tertutup merasai gesekkan yang mengenai kepemilikannya.
Berawal dari gerakan lambat kini berganti cepat dan kuat. Rona menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahan akan sensasi geli dan juga nikmat bersamaan di area in-timnya. Wajahnya lagi-lagi mendongak, tubuhnya menegang. Edward semakin kencang menghentakkan miliknya tiada henti. Tubuh sang istri mengejang, rintihan lolos menyambut puncak kenikmatan untuk ketiga kalinya.
Kali ini Edward tidak ingin memberikan jeda waktu untuk Rona beristirahat meski hanya satu detik. Dia kembali memompa kepemilikan istrinya dengan tangan aktif bergerak di atas dada ranum milik sang istri. Panggulnya bergerak cepat mengobrak-abrik surga dunia miliknya yang tidak ingin dia bagi untuk pria mana pun. Ya surga dunia itu miliknya, hanya miliknya.
Edward mengangkat sebelah kaki Rona ke atas pinggangnya. Kepemilikannya semakin terasa menghujam. Rona memejamkan mata dengan bibir yang tak berhenti meloloskan suara-suara erotis. Gerakan Edward semakin kuat dan juga bertambah cepat. Membuat napas keduanya kian memburu. Erangan dan teriakan dari bibir merah kehitaman menandakan pemiliknya sebentar lagi akan mendapatkan puncak kenikmatan.
Pinggul Edward terus bergerak. Memaju-mundurkan miliknya, menggesek ruang kewanitaan sang istri. Keringat menetes dari setiap pori-pori. Kepala Edward tertarik ke belakang, tubuhnya mengejang dan mulutnya mengerang. Benih cintanya menyembur kembali di dalam rahim sang istri.
"Terimakasih sayang...," Edward mengecup kening Rona. Dia pun mengecup perut sang istri yang tumbuh tiga janin di dalamnya. Seraya bergumam, "Sebentar lagi Daddy akan jarang menjenguk kalian. Karena kalian semakin hari bertambah besar. Kasihan Mommy... kalau harus terus-terusan Daddy kerjai."
Rona hanya cengengesan mendengar celotehan Edward seraya mengusap-usap puncak kepalanya.
Edward menarik tubuhnya dan mengeluarkan kepemilikannya. Karena sesuatu yang perkasa itu sudah selesai melakukan tugasnya. Edward menghempaskan tubuhnya di samping sang istri. Rona menoleh, kini mata keduanya bersitatap. Saling melempar senyuman dan saling mengatakan rasa cinta yang membuncah.
"Sayang... lagi yuk!"
__ADS_1
...*****...