Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Honey Moon


__ADS_3

"Selamat pagi..." pekik seorang wanita di hadapan sepasang pengantin baru yang masih terlelap. Bagai sebuah deja vu, kejahilan yang pernah mereka lakukan, kini dialami juga oleh keduanya.


Claire terhenyak lantas menarik selimut untuk menutupi tubuh yang polos. "Ke-kenapa kalian ada di sini? Kenapa kalian bisa masuk ke kamar kami?"


Rona terkekeh, "Kami berdua kan menginap di kamar sebelah. Lihat itu, ada pintu yang menghubungkan kamar ini dengan kamarku!"


Claire tertawa hambar sembari menggaruk kepalanya. Dia menoleh ke arah Feliks yang membeku karena masih terkejut akan kekacauan yang terjadi di pagi hari.


"Ini kami membawakan kalian sarapan!" Edward mengangkat paper bag yang berisi makanan dan menaruhnya di atas meja.


"Aku juga membawakan kalian minuman beralkohol. Siapa tahu kalian ingin pesta di dalam kamar!" Rona menaruh sebotol wine dan diletakkan di samping paper bag. "Baiklah... kami mau kembali ke kamar. Silakan kalian lanjutkan perang dunia di atas ranjang!" Rona menuntun tangan Edward dan masuk ke dalam kamarnya melalui pintu penghubung.


Selepas kepergian Rona dan Edward


"A-apa aku barusan tengah bermimpi, Claire?" Feliks menepuk kedua pipi secara bergantian. Feliks mengaduh kesakitan karena nyatanya dia tidak sedang bermimpi.


"Kamu tidak bermimpi Feliks, mereka memang nyata ada di kamar kita," sahut Claire melongo. "Ingat tidak waktu dulu kita mengusili mereka? Ternyata begini ya rasanya, terkejut dan malu."


Feliks mengangguk lemah. "Aku ingat Claire, sangat ingat. Kejahilan kita dulu berbalik pada diri kita."


"Mungkin ini yang dinamakan karma," balas Claire datar. Dia kembali membaringkan badan dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


...***...

__ADS_1


Siang ini langit begitu cerah, secerah sepasang pengantin baru yang tiada lelah memadu kasih. Tidak tahu sudah berapa kali mereka melakukan ritual sebagai suami istri, yang pasti saat ini mentari telah berada di atas kepala dan mereka masih asyik dengan aktifitas-aktifitas sek-sualnya.


"Kamu lelah?" tanya Feliks pada sang istri. Claire menggeleng dan merebahkan kepala ke atas dada sang suami. "Kita lanjutkan lagi?" Feliks menatap Claire dengan tatapan penuh damba. Claire mengangguk dan hanya dalam waktu beberapa detik kini tubuhnya berada di atas pangkuan.


Feliks membawa Claire menuju kolam renang, dia melempar tubuh ringan istrinya itu ke dalam kolam air dingin dengan pemandangan pantai yang indah dan langit nan biru.


"Ki-kita akan melakukannya di sini?" tanya Claire bimbang. Feliks menyeringai nakal dan tanpa aba-aba, dia kembali memasuki tubuh istrinya. Suara erangan dan rauhan saling bersahutan, mengekspresikan perasaan nikmat yang mereka rasakan sebagai pasangan yang baru menikah dan juga baru mengenal sek-s.


Feliks menghunjam milik istrinya habis-habisan, seakan mendapati mainan baru yang tidak ingin dia lepas, tidak ingin dia sudahi. Dia begitu menikmati setiap inci tubuh sang istri. Seakan ingin mengatakan pada dunia, bahwa wanita yang tengah bersamanya saat ini adalah miliknya hanya miliknya.


Berbagai gaya telah mereka coba. Seakan tidak ada rasa jemu, tidak ada rasa lelah. Meneguk madu cinta yang menjadi candu. Di saat mereka tenggelam dalam manisnya cinta, seorang pria berteriak lantang seraya berlarian mencari keduanya. Puncak kenikmatan pupuslah sudah, yang tersisa hanya kekecewaan jua kekesalan.


"Bos, saya sedang honey moon. Apa tidak bisa sehari saja tidak mengganggu saya?" protes Feliks kesal. Claire yang saat ini tengah telanjang bulat terpaksa menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Karena tidak ingin ada pria lain menyantap tubuhnya meski hanya dengan sebuah tatapan.


"Sorry Feliks, tapi ini urgent! Rona... Rona..." tunjuk Edward dengan napas tersengal-sengal. "Rona akan melahirkan!" ungkap Edward gusar.


"Bos tunggu saja di kamar, kami bersiap-siap dulu. Maklumlah pengantin baru, kami sedang tidak mengenakan apa-apa!" titah Feliks menggeser posisi berdiri menghalangi tubuh sang istri.


Edward mengangguk tanpa membantah sedikit pun. Dia kembali ke kamarnya dengan langkah seribu, menghampiri Rona yang tengah merintih merasakan rasa sakit di perutnya.


"Ah... akhirnya kamu kembali Edward!" kata Rona saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar. "Ayo kita ke Rumah Sakit. Aku sudah tidak tahan!" rengek Rona memegangi perutnya.


"Ah... sakit Edward. Ini benar-benar sakit!" racau Rona berbaring di atas ranjang. Cairan bening nampak mengalir di atas kaki Rona, Edward semakin panik. "Aku sudah pecah ketuban, Edward!"

__ADS_1


"Pe-pecah ketuban?" Edward berlari ke sana ke mari bingung harus berbuat apa. Di saat kondisi genting seperti ini, otaknya mendadak beku. Dia mendekati Rona dan mengangkat tubuh yang tak lagi ringan. "Kamu kuat sayang. Kita akan ke Rumah Sakit!" Edward meraih kunci mobil dan dompet dari atas nakas.


Edward berjalan tergesa-gesa dengan Rona di atas pangkuan. Dia membiarkan pintu kamar terbuka dan terus saja berjalan menuju lift. Secara bersamaan, Feliks dan Claire keluar dari kamar. Mereka mengikuti langkah Edward, menuju tempat parkir.


"Biar saya yang membawa mobil, Bos!" tawar Feliks yang melihat Edward nampak kesulitan membuka pintu.


"Ah... kamu Feliks, ini!" Edward menyerahkan kunci mobil dan menunggu central lock dibuka. Dia hendak menarik handle pintu mobil. Namun, Claire lebih dahulu membukanya. "Terima kasih, Claire." Edward mendaratkan tubuh sang istri kemudian turut duduk di sampingnya. Feliks duduk di belakang kemudi, dengan Claire mendampingi.


"Rumah Sakit terdekat di mana Bos?" Feliks memutar kunci, menyalakan mesin mobil. Menunggu atasannya menjawab pertanyaannya.


"Sebentar Feliks!" Edward membuka map dan mencari Rumah Sakit terdekat dengan hotel tempat mereka menginap. "Ini ada, tapi jarak satu jam dari sini," lirih Edward membayangkan perjalanan yang harus ditempuh.


Feliks menarik tuas gigi dan bersiap untuk mengemudi. "Serahkan ini semua kepada Feliks. Kita akan sampai setengah jam menuju tujuan! Pegangan yang erat!"


Claire menggenggam handle yang berada di atas kepala sementara Rona sekencang mungkin memegang lengan Edward. Teriakan histeris menemani perjalanan yang memacu adrenalin. Kendaraan melesat bak tak menyentuh aspal. Rona semakin frustrasi.


"Perutku sakit lagi Edward...!" Rona memekik sembari menjambak rambut suaminya. "Feliks pelan-pelan dong!" protes Rona karena mobil yang dia naiki bak melayang di udara. Feliks terpaksa menuruti keinginan Rona dengan menurunkan kecepatan.


"Feliks kenapa lambat sekali, ayo percepat!" sentak Rona beberapa saat kemudian. Feliks menghela napas karena sikap Rona yang berubah-ubah dalam hitungan menit.


"Ah... aku mau melahirkan ini!" pekik Rona membuat semua orang panik. "Sakit...!!" Lagi dan lagi Rona menjerit. Dia menarik kencang rambut suaminya.


"Tarik napas Rona... lalu keluarkan!" titah Claire agar sahabatnya itu bisa sedikit lebih rileks. "Sabar Rona, sebentar lagi kita akan sampai."

__ADS_1


...*****...


...Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi yamg menjalankan 🙏...


__ADS_2