
Harapan dalam hidup hanya sebatas aku kuat dan aku lelah. Onak duri adalah hiasan sebagai tempaan hidup. Selama aku kuat, semua ujian terlewati. Namun bila aku lelah, hilanglah sudah. Gairah hidup, keyakinan dan kekuatan, perlahan musnah.
Rintik hujan menari-nari di dalam tatapan yang kosong. Sepoi angin mengibaskan lamunan, namun dia tetap berdiam dalam dunianya. Tangan lembut menyentuh, tidak menarik hatinya untuk luluh. Hatinya beku, terluka namun tiada sesiapa yang tahu.
"Sayang... jangan mendiamkan Mom seperti ini! Ayo ceritakan pada Mom, kenapa kamu mencoba bunuh diri, diputuskan kekasihmu?" tanya wanita paruh baya pada putrinya. Dia merapikan rambut putrinya dengan sisir yang tergeletak di atas meja pasien.
"Ayolah sayang, Mom bingung jadinya. Maaf Mom semalam tidak bisa menemani kamu, Mom—"
"Mom, please. Keluar! Leona tidak ingin bicara dengan siapa pun kecuali dengan Kak Rona!" Leona mengusir Amber dari ruang perawatan. Membuat wanita itu naik pitam.
"Ini pasti gara-gara perempuan sialan itu, awas saja kamu Rona. Kali ini semua orang ada di pihakmu. Tapi suatu saat, aku akan membuat mereka jijik denganmu!"
Amber merapikan dirinya, memulas lipstik ke atas bibir yang memudar. Memberi wewangian pada seluruh tibuh sintalnya, lalu menautkan tas branded ke dalam lengan yang mulai terlihat berurat. Leona menoleh sesaat lalu kembali tak acuh.
"Mom, pergi dulu ya sayang. Ada urusan bisnis yang harus Mom tangani." Amber mengecup pipi Leona kiri dan kanan.
"Bisnis apa Mom? Bisnis batang alot?" cecar Leona sinis. Amber membelalak, terkejut dengan perkataan anak gadisnya yang terbiasa berkata lembut dan sopan. Namun, kali ini kurang ajar.
Amber menatap sekilas jam di dinding, terpaksa dia menahan amarah karena dia sudah memiliki janji dengan kucing jantannya. Dia meninggalkan Leona yang tengah termenung tanpa merasa bersalah.
...***...
Satu bag, dua bag, tiga bag kini berada di tangan Amber. Pria yang tengah bersamanya menginginkan semua barang baru yang serba mahal. Dia benar-benar memanfaatkan Amber sebagai ATM berjalan.
"Sayang... besok aku ada pertemuan dengan para investor penting, satu lagi ya. Belikan aku setelan jas dari Butik terkenal." Josh memohon dan memelas.
Amber mengangguk tipis, dia mulai bimbang karena sudah terlalu banyak menguras uang tabungan untuk menyenangkan piaraannya.
"I- iya boleh... tinggal itu saja, kan?"
"Iya sayang...!" Josh mencolek dagu Amber. "Lagi pula kalau aku sukses, kamu juga yang senang!" Josh menarik Amber ke dalam pelukan lalu berjalan menuju tempat parkir.
Sesampainya di dalam mobil,
__ADS_1
Amber tiba-tiba menduduki Josh. Mencumbu dengan rakus. Lalu melepas semua kain yang melekat di tubuhnya dan di tubuh lelakinya. Dia melakukan foreplay, merangsang hasrat Josh agar melakukan persetubuhan kembali dengan dirinya.
Arlo yang duduk di depan kemudi, hanya mampu menundukkan kepala dan menahan diri dari berkata kasar ataupun mengumpat.
Sudah setengah jam, dua manusia yang tidak tahu malu saling memuaskan dan saling berbagi kenikmatan. Mereka tidak memperdulikan bahwa CCTV merekam aksi bejat mereka.
"Oh yes... faster honey!" Amber meracau. Tangan nenarik rambut Josh kencang dan tubuhnya menegang. Josh menyemburkan benih di dalam rahim Amber.
"Ka- kamu tidak takut hamil memangnya?" Josh bertanya dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Tidaklah... karena rahimku sudah disterilkan. Jadi aku tidak akan memiliki anak lagi meski kamu hajar setiap hari." Amber menurunkan tubuhnya dari pangkuan Josh lalu merapikan pakaiannya.
"Arlo... kita ke Butik langgananku ya..." pinta Amber. Dia menyelipkan beberapa lembar uang tutup mulut ke dalam saku celana sopirnya.
"Siap Nyonya Amber!"
...***...
Di waktu yang bersamaan, di Rumah Sakit
"Kamu boleh pulang, asal kamu bilang sama Kakak, kenapa kamu bisa-bisanya bertindak bodoh?" tanya Edward dengan suara yang meninggi. Rona menarik suaminya untuk menjauh lalu menegurnya.
"Edward... kalau kamu bersikap kasar seperti ini, yang ada Leona semakin tertekan. Apa kamu mau dia kembali melakukan hal yang bisa mengancam nyawanya?" tegur Rona.
Edward tersenyum getir, dia menarik rambutnya kasar. Sebagai seseorang yang paling dekat dengan Leona, Edward mencium gelagat yang tidak baik. Pikiran-pikiran buruk membayangi pikiran. Melihat adiknya seterpuruk ini, Edward teringat pada dosanya yang lalu.
Leona sesenggukan, tangisnya pecah. Dia berteriak dan melempar semua barang di hadapannya. Perasaan Edward semakin terpukul, dia merutuki dirinya sendiri.
"Leona... tenang sayang. Ini Kakak, ini Kak Rona. Tenang ya, kamu aman sama Kakak...!" Rona merengkuh tubuh Leona yang tinggal kulit dan tulang.
Edward keluar dari kamar, lalu menghantamkan tangannya berkali-kali ke atas dinding. Tubuhnya melandai, tangisnya berderai. Tuhan... apa yang telah terjadi pada adikku? Apa dia...."
"Ahgrh... ampuni aku Tuhan...!"
__ADS_1
"And the dreams that you dream of once in a lullaby...!" Rona menyanyikan lagu kesukaan Leona. Membuat gadis itu tertidur di dalam dekapannya. Rona pernah mendengar Fiona tengah menenangkan Leona dengan lagu tersebut. Leona hatinya begitu lembut, dia akan luluh dengan cara yang lembut dan menyentuh.
...***...
Pagi ini pria yang mengenakan setelan jas baru, aksesoris serba baru dari ujung kepala hingga ujung kaki, melangkah dengan derap yang gagah. Dengan tas hitam di tangan, yang berisikan berkas-berkas penting untuk pelelangan. Dia berjalan dengan kepala menengadah penuh percaya diri.
Senyum licik tersungging, dia mendaratkan tubuhnya di samping podium. Menarik tangan ke atas lalu memperlihatkan arloji yang berharga 200 juta dollar.
"Tinggal beberapa menit ... kamu akan kehilangan salah satu aset yang berharga dalam hidupmu, Edward!"
"Semoga saja kamu tidak berubah gila, terlebih saat mengetahui fakta mengenai adik dan ibu tirimu!"
Moderator telah membuka acara pelelangan saham Edward Corporate. Banyak yang tertarik untuk merebutnya karena perusahaan bisnis kuliner tersebut mengalami banyak sekali kemajuan. Semua saling berebut dan menawarkan harga yang tinggi, lantaran di otak mereka hanya uang dan uang yang bersarang.
Di saat suara peserta lelang bersahutan, kegiatan mereka harus terhenti karena suara tepukan dari seorang tamu tidak diundang.
"Wow... anda sangat luar biasa Nath. Em... maaf maksud saya Tuan Nath Lucano!"
Nath tertawa. "Anda mengantarkan diri untuk menyaksikan kehancuran Edward Corporate?" Nath turut menepuk tangan. "Wow... anda sangat luar biasa!!!"
Edward tersenyum geli. "Wahai Tuan Nath yang cerdas dan licik seperti ular, apa berkas-berkas yang anda genggam sudah dipastikan keasliannya?"
"Ma- maksudmu apa? Tentu saja berkas-berkas yang saya pegang adalah asli. Saya sudah membuktikannya!" imbuh Nath dengan tangan bergetar.
"Benarkah? Anda hanya pemain baru, anak kemarin sore. Harusnya banyak-banyak belajar sebelum berpikir culas bahkan berkhianat!" ujar Edward tenang.
Ruangan yang semula ramai dengan sahutan penawaran harga, kini berubah riuh karena suara yang saling melempar tanya. Edward melangkah maju, lalu menunjukkan lembaran kertas di tangannya.
"Ini berkas-berkas asli ... di tanganmu itu yang palsu, Tuan Nath Lucano!"
...*****...
...Curhat sedikit boleh ya 🙈 Sore ini lumayan sedih karena banyak yang unfavorite. Untuk Author yang dalam tahap merangkak seperti Senja, 1 favorite, 1 like, 1 komen akan sangat-sangat berharga 🙏...
__ADS_1
...Terimakasih untuk yang selalu mendukung dan setia membaca karya Senja. Semoga selalu diberi kemudahan ya Kak dalam segala sesuatu....