Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Obat Kontrasepsi


__ADS_3

...Akan kubiarkan angin malam menghapus namamu, sedikit demi sedikit. Dan kurelakan hujan membawa bayangmu pergi, tenggelam ke dasar samudera penantian....


...*****...


Seseorang menyelinap masuk ke dalam kamar yang masih hening tatkala penghuninya terbuai dalam sulaman mimpi. Dia membuang vitamin yang baru saja dibeli lalu digantikan dengan obat kontrasepsi yang dia bawa di dalam kantong apronnya.


"Bagaimana Fiona, apa kamu sudah membuang dan menggantinya?" Amber menghitung lembaran uang untuk tutup mulut.


"Su- sudah Nyonya, ini." Fiona memperlihatkan butiran obat yang berwarna kuning.


Amber manggut-manggut. "Kerjamu bagus, Fiona! Ini sebagai bayaran karena kamu bersedia membantuku." Amber menyerahkan beberapa lembar dollar kepada Fiona. Fiona mengucapkan terimakasih lalu membungkuk, pamit dari hadapan Amber untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kita lihat nanti siapa yang akan lebih dulu ditendang dari rumah ini? Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Dan aku akan membuatmu tidak pernah hamil!"


Sedangkan di dalam kamar,


Rona menarik bibirnya ke salah satu sudut. Dia meraih obat yang disimpan di dalam laci, lalu mengendusnya. "Cih, apa aku sebodoh itu, tidak bisa membedakan mana vitamin mana obat kontrasepsi?"


Rona memutar kepala ke arah Edward memastikan suaminya masih tidur dengan nyenyak. Dia menarik benda pipih yang terselip di bawah buku di dalam laci, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Huh... semoga saja kali ini aku benar-benar hamil. Kalau dalam hitungan, aku sudah 2 minggu terlambat datang bulan," gumam Rona yang menyandarkan punggungnya ke atas daun pintu. Dia membuka plastik kemas test pack, kemudian terpejam dan menghembuskan napas pendek.


Urin sudah ditampung, jemari lembut itu sedikit bergetar saat melihat garis yang berada di tengah-tengah benda pipih, memunculkan dua garis horizontal.


"A- aku hamil?" gumam Rona. Telapak tangan menutup mulutnya dengan air mata yang menggenang.


"Aku benar-benar tengah mengandung? Benih cinta suamiku kini menyatu dalam tubuh?" Rona sangat bahagia dan terharu, dia terus saja bertanya pada dirinya sendiri.


"Artinya aku akan menjadi seorang ibu. Melahirkan seorang anak dari rahimku sendiri. Terimakasih Tuhan, terimakasih!" Rona menyatukan kedua tangan lalu digoyang-goyangkan.


Wajah berseri, dua netra berbinar. Rona melangkahkan kaki ke arah suaminya. Dia mengecup kening pria itu kemudian membelai mesra. "Terimakasih Tuhan, untuk anugerah tak ternilai ini...."


Terdengar samar-samar suara wanita yang berbisik di depan wajah, Edward perlahan membuka mata dan menangkap paras istrinya yang dipenuhi guratan kebahagiaan.

__ADS_1


"Kamu baru mendapatkan lotre?" Edward mencubit gemas pipi Rona lantas menggigitnya.


"Aw... kenapa kamu menggigit pipiku? Pipiku bukan makanan, Edward!" protes Rona manja. Dia memajukkan bibirnya dengan kedua tangan dilipat di atas dada.


"Pipimu memang bukan makanan, tapi chubby seperti bakpau!" Edward mencubit gemas pipi Rona untuk kedua kalinya. "Kamu sepertinya gemukan ya sayang? Pipimu membulat, sama seperti ini." Edward meremass mainan kesukaannya yang hanya tertutup kain satin tipis.


"Ish... baru juga bangun tidur, sudah nakal saja!" Rona menepis tangan suaminya, namun pria di hadapannya kembali meremass dada ranum miliknya.


"Justru karena aku bangun tidur, semuanya ikut bangun sayang...!" Edward memasukkan tangannya ke dalam celana tidur lalu menggeserkan posisi miliknya yang tengah menegang dan sesak. "Main yuk sayang... malam tadi kita melewatkannya begitu saja. Pagi ini harus dibayar lunas."


"Ka- kamu masih sakit, lebih baik istirahat saja." Rona mengangkat tubuhnya untuk menjauh, namun Edward menarik lengan istrinya. Rona terjatuh ke dalam pelukan suaminya.


"Empuk sayang...!" seloroh Edward yang merasakan dua benda kenyal menekan dadanya.


Tangan Edward menggenggam bongkahan yang sintal dan padat. Dengan gemas dia meremass lalu menepuk keras bokong istrinya. Gairah lelakinya sudah tak terbendung, dia tidak menerima penolakan akan keinginannya.


"Ke kamar mandi yuk sayang... kalau di sini nanti diganggu lagi sama Ezio," ajak Edward yang menegakkan tubuhnya. Dia mengangkat tubuh Rona meski badannya masih terasa lemas.


Edward sedikit membungkukkan badannya. Dia membalur tubuh Rona dengan sabun di tangannya. Dimulai dari leher, pundak, payudara, perut, kaki, paha dan berakhir di area selangkangann. Edward mencuci tangannya lalu memencet sabun kewanitaan. Dia membersihkan milik istrinya lalu membasuhnya. Jari telunjuk dan jari tengah mulai melancarkan aksinya, mengobrak-abrik dinding hangat yang sebentar lagi akan basah dan lembab.


Rona menjerit menyambut pelepasan pertamanya, namun Edward mencabut begitu saja kedua jarinya dari dalam area inti. Rona membulatkan mata karena kesal.


Edward terkekeh melihat wajah cemberut istrinya karena dia kerjai. Dia menundukan tubuhnya, menyorongkan kepala ke arah pangkal paha. Menganti peran jemarinya dengan mulut dan lidah. Bibir yang menguncup kembali menganga karena meloloskan lenguhan. Kepalanya bergerak ke kanan ke kiri. Rona menjambak rambut suaminya. Terlebih saat lidah dan jari tengah Edward bekerja sama memberi kenikmatan. Rona berteriak kencang, karena menyemburkan pelepasannya.


"Edward kamu jahat..." rengek Rona tersengal-sengal. Belum sempat dia mengatur napasnya, Edward sudah menyerang kembali dengan melesakkan miliknya tanpa ampun.


Rona hanya bisa pasrah akan rasa nikmat bertubi-tubi yang diberikan suaminya. Sebagai hadiah dari kado terindah yang dia dapatkan pagi ini.


"Terus sayang... aku suka!" racau Rona membangkitkan semangat suaminya. Edward merasa tersanjung dan semakin mempercepat gerakan panggulnya.


"Yes baby... oh..." desah Rona di tengah pergumulan panasnya di pagi hari. Edward turut meracau pertanda miliknya akan menumpahkan puncak kenikmatan.


"Ah... My wife. I Love so much...!" teriak Edward sembari menikmati klimak-snya di dalam rahim Rona. Dia mengecup kening istrinya lalu membisikkan kalimat yang dibalas dengan senyum simpul. "Terimakasih sayang... aku sangat berharap, benih kali ini berkembang dan tumbuh dengan subur."

__ADS_1


Rona menarik senyum lalu menganggukkan kepalanya. Padahal dalam hati tertawa senang, karena di dalam rahimnya telah hadir hasil buah cintanya dengan Sang suami.


...***...


Kejahatan atau kesalahan yang ditutupi serapi apapun pada akhirnya akan terkuak juga. Seperti pepatah lama, "Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga".


"Apaan-apaan ini Amber? Jelaskan padaku sekarang juga!" Richard melempar laporan keuangan dari Bank ke atas meja. Amber membelalak kaget saat membaca tulisan nama Bank dan laporan transaksi kartu kredit miliknya.


"Kamu menghabiskan 1,5 milyar hanya dalam dua hari?!" tanya Richard dengan suara lantang. Mencuri perhatian seisi rumah untuk melihat drama apalagi yang terjadi di keluarga Liam.


"I- itu...!" Amber bingung harus menjelaskan apa pada suaminya.


...*****...


...Hari Senin, semoga teman-teman berkenan memberikan VOTE pada karya Author recehan ini 🙈🙏...


...Terimakasih untuk semuanya yang masih setia membaca novel Dokter Rona and Hot Daddy. Terimakasih juga yang berkenan memberi like, comment, hadiah dan rate 5 bintang....


...Semoga semuanya selalu mendapat keberkahan dan rezeki yang melimpah....


...Mohon maaf tidak ter-SS semua....







__ADS_1


__ADS_2