
Sudah satu minggu Rona pergi untuk menenangkan diri. Dan sudah satu minggu juga pria yang mengharapkannya kembali setiap malam tidur di depan hunian yang bernuansa klasik. Dia tidak menghiraukan tatapan asing yang mengarah padanya. Dia tidak peduli meski tubuhnya menggigil karena suhu udara yang rendah. Yang dia pedulikan setitik wajah yang mampu meleraikan rasa gundah.
Kerinduan semakin membuncah, namun sosok yang dia rindukan masih saja bersembunyi. Dia merindukan senyumannya, sentuhannya dan semua yang di dalam dirinya. Dan kedua matanya berbinar saat dua raga yang dia nanti-nanti keluar dari rumah seraya bersenda gurau.
"Mommy... ini mengasyikan sekali. Ye...," Ezio sangat gembira karena ini kali pertama dia bisa bermain salju. Rona ikut tersenyum, namun dalam hatinya merasakan debaran yang tidak biasa. Dia menolehkan kepala, mengedarkan matanya, namun tidak menemukan siapapun di dekatnya.
"Kenapa Mommy diam, ayo bermain bola salju?!" Ezio melempar bola es yang dia buat dan mengenai muka Rona. "Maafkan Ezio, Mommy...."
Rona berpura-pura memasang wajah kesal lalu merundukkan badannya membuat bola salju. Dia melemparkan ke arah Ezio sambil tertawa. Bibir mungil yang mengerucut kembali merekah.
"Ih... Mommy jahil," rengek Ezio sembari membalas melempar. Keduanya menikmati permainannya dengan dipenuhi gelak tawa, namun pria yang merindukan mereka hanya bisa menatap dari jauh, dari balik pohon. Dan untuk kedua kalinya Rona memutar kepala, seolah tengah mencari seseorang.
"Mommy menunggu daddy ya?" Ezio mendekat lalu mendekap ibunya. Tidak tahu mengapa perasaan Ezio begitu halus namun tajam.
"Em... ti-tidak. Mommy hanya merasa ada orang asing yang sedang memperhatikan kita." Rona memastikan sekali lagi, mengitarkan kepalanya. Namun tidak menemukan siapapun. "Kita masuk saja yuk, Mommy tiba-tiba pusing." Rona memilin pelipisnya.
Ezio mendongak kemudian mengangguk. "Ya sudah Mommy, besok Ezio masih bisa bermain salju lagi di luar. Sekarang Mommy tidur saja ya...."
Rona berjalan perlahan dengan Ezio di depannya berlarian. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia menjeda langkahnya kemudian memutar tubuhnya. "Aku tahu kamu ada di sini Edward, hatiku bisa merasakannya...."
Rona membalikkan badannya melangkah masuk melewati pintu. Langkahnya terputus karena suara dalam seseorang.
"Aku merindukanmu, Rona. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?"
"Pulanglah... mari kita bicara."
Tidak ada sedikit pun suara dari mulut Rona, yang ada hanya suara pintu yang ditutup dengan keras.
"Rona sampai kapan kamu akan menghindar dariku?"
"Buka pintunya sayang... ayo kita pulang...," Edward mengetuk-ngetuk pintu, dengan suara yang terdengar lirih.
__ADS_1
Rona menulikan pendengarannya, mengacuhkan Edward yang berteriak kencang. Telinganya dia tutup lantas beranjak ke dalam kamar. Ezio yang mengenali suara ayahnya, dia berlari ke arah pintu ruang tamu kemudian membukanya.
"Daddy..." pekik Ezio. "Ezio rindu daddy!" Ezio memeluk pria dewasa di hadapannya begitupun juga dengan pria tersebut.
"Daddy juga rindu, sayang. Mommy mana?" Indera penglihatannya mencari ke setiap sudut ruangan.
"Tadi Mommy masuk ke dalam kamar." Telunjuk Ezio mengarah pada kamar yang pintunya tertutup.
Edward menghela napas lantas mendekati tempat di mana istrinya mengurung diri. "Sayang... ayo pulang. Apa kamu tidak kasihan pada suamimu ini?"
"Sayang... pulanglah, kumohon...."
Tidak ada sahutan, yang ada hanya keheningan. Edward menarik-narik handle seraya menggedor-gedor pintu. Memanggil nama sang istri, namun Rona tetap bergeming.
Sudah satu jam Edward berdiri seperti artefak, wajahnya semakin kusut dan kuyu. Sementara ponsel di dalam saku celana, berdering tiada henti. Maria yang merasa iba melihat mantan menantunya itu akhirnya bersuara.
"Lebih baik kamu pulanglah dulu, biarkan istrimu menenangkan hatinya. Yang terpenting dia tidak pergi jauh, kan?" ujar Maria menepuk pundak Edward.
Kedua alis Maria terangkat. "Apa itu?"
"Tolong bujuk istriku untuk kembali pulang, Edward sangat merindukannya," lirih Edward menatap pintu yang masih saja tertutup.
"Iya nanti Mama bantu bujuk istrimu itu," jawab Maria penuh penekanan.
Edward akhirnya pamit undur diri dan melajukan kendaraannya menuju suatu tempat. Selama Rona tidak ada di mansion, dia pun tidak pernah menginjakkan kaki ke hunian megah itu. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan bekerja lalu tidur di dalam mobil, di depan rumah Maria.
...***...
Satu kertas, dua kertas, tiga kertas, tidak tahu sudah berapa gulungan kertas yang berserakan di atas lantai. Pikiran Edward sangat sulit untuk fokus dan konsentrasi, di ingatannya hanya ada Rona, Rona dan Rona.
"Ahgrh..." teriak Edward frustasi. Dia menggebrag meja lalu mendorong semua berkas hingga memenuhi lantai di sekitarnya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Edward?" Natalie melihat ke sekeliling ruangan yang sangat semrawut. "Berkas itu? Itu berkas yang aku siapkan dan sudah aku rapikan, kan?" Natalie menunjuk ke arah lembaran kertas yang sudah tidak tertata seperti sebelumnya.
Natalie menghentak lantai kemudian merapikan kertas-kertas yang berhamburan. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan umpatan sebagai ungkapan kekesalan.
"Kalau seperti ini, aku menyesal sudah membantumu Edward!" Natalie berdiri dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Matanya yang sipit mulai memilah lalu menyusun kertas-kertas tersebut. Dia berkali-kali mendengus dan menatap jengah ke arah Edward.
"Tidak bisakah kamu menutup mulut lebarmu itu, Natalie?" Edward melempar boks rokok ke arah Natalie. "Telingaku serasa mau pecah mendengar semua ocehanmu!" bentak Edward yang membuat Natalie geram.
"Kalau bukan karena kamu sepupuku, aku malas membantumu lagi!" Natalie beringsut dan meninggalkan pekerjaannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Edward.
"Mau mencari makan siang, aku lapar. Kalau mencegahku, kamu yang akan aku makan!" seloroh Natalie sambil membuka pintu. Tubuhnya tercengang karena mendapati sosok tampan yang baru dia lihat.
"Mau mencari siapa?" Natalie bertanya sehalus mungkin. Dia membuka ikatan rambutnya kemudian mengibas-ngibaskannya. Rambut ikal bergelombang mengenai wajah pemuda di hadapannya.
"Aku Feliks, asisten tuan Edward," jawab Feliks dengan suara beratnya. Feliks melewati Natalie begitu saja, tanpa menoleh sejengkal pun.
Sementara Natalie, kepalanya berputar mengikuti arah pemuda tersebut berjalan. Dia mengikuti Feliks masuk ke dalam ruangan lalu duduk di sebelahnya.
Edward hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah genit sepupunya itu. "Ayolah Natalie, kamu sudah punya suami, jangan mengganggu asistenku. Lagi pula dia sedikit gila, wajahnya saja yang tampan. Tapi otaknya geser."
Feliks membulatkan kelopak matanya, Edward tidak ingin kalah. Akhirnya Feliks mengalah, kepalanya langsung saja tertunduk. "Aku gila karena bosku yang mengajarinya."
Natalie terkikik lantas merapatkan tubuhnya. "Kamu pemuda yang menarik. Aku suka!"
...*****...
...Natalie sama Edward sama-sama genit, mentang-mentang saudara....
...Terimakasih untuk dukungan teman-teman semua 🙏🙏...
__ADS_1