
Brian tertegun menatap pantulan bayangan wajahnya di cermin yang menggantung di atas dinding. Dia meneliti setiap inci wajahnya yang nampak maskulin dengan netra berwarna cokelat pekat, hidung mancung juga rahang tegas.
Begitu banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Selain karena parasnya yang tampan, sikapnya yang dingin pun menjadi daya pikat tersendiri bagi para pemujanya. Terlebih kepiawaiannya di atas ranjang membuat perempuan mana pun akan bertekuk lutut di hadapannya.
Brian mendengus kecewa, bila mengingat hubungannya dengan beberapa wanita yang dia cintai kandas begitu saja. Semua bekas kekasihnya hanya memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan materi juga kebutuhan biologis.
Sebagai manusia biasa, ada kalanya dia menginginkan cinta yang tulus juga hubungan yang serius. Namun lagi-lagi yang dia dapatkan hanya pengkhianatan juga kegagalan. Dan kali ini hatinya malah terjebak pada seorang wanita yang telah memiliki suami.
Tok-tok-tok
Mata yang semula menatap cermin kini beralih pada daun pintu yang sedikit terbuka. Nampak seorang wanita dengan membawa arsip di tangannya.
"Oh kamu, Natalie. Masuklah!" titah Brian melengos. "Tutup pintunya!" tambahnya lagi. Dia berjalan menuju tempat duduknya dengan pandangan langsung mengarah ke layar komputer.
"I- ini revisian laporan pengadaan alat kesehatan yang anda minta, Tuan Brian." Natalie menyodorkan map plastik, Brian mendengus pelan.
"Simpan saja di atas meja," titah Brian menunjuk benda di depannya menggunakan ekor matanya. Natalie berjalan perlahan lalu menyimpan map tersebut di atas meja.
"A- ada yang dibutuhkan lagi, Tuan?" tanya Natalie basa-basi. Sungguh dia ingin secepatnya keluar dari ruangan yang hawanya panas.
Brian melihat dengan sudut matanya, dia memindai tubuh sekretarisnya dari ujung kaki hingga pucuk kepala. Ibu jari dan telunjuk memainkan dagu, lidahnya menyapu bibir yang kering dengan tegukan saliva di akhirnya.
"Kamu kalau saya perhatikan ternyata cantik juga Natalie, seksi!" puji Brian dengan tatapan liarnya. Kepercayaan diri Natalie langsung melambung tinggi, namun dia tutupi dengan berpura-pura tersipu malu.
"Te- terimakasih Tuan atas pujiannya. Akhirnya anda sadar juga kalau saya ini cantik dan menarik," seloroh Natalie genit.
Brian terkekeh dengan kepala menggeleng. "Kamu sudah menikah?"
Raut yang bercahaya tiba-tiba redup, wajah yang mendongak percaya diri kini ditekuk. Terdengar helaan napas dengan kepala yang menggantung lemas. "Saya sudah menikah, tapi...."
"Tapi pernikahanmu gagal? Tidak harmonis? Tidak bahagia?" potong Brian dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Natalie mengangkat kepalanya dengan tatapan yang tidak percaya.
"Dari mana Tuan tahu?" lirih Natalie yang hatinya tiba-tiba terasa pilu. Selama ini dia menutup rapat-rapat masalah pribadinya, akan tetapi orang yang baru dia kenali bisa mengetahui tentangnya begitu saja.
__ADS_1
"Mudah menebaknya, Natalie. Dari kegenitanmu juga dari gestur tubuhmu." Tunjuk Brian pada tubuh Natalie. "Kamu sudah memiliki anak?" tanyanya lagi yang menambah perasaan Natalie semakin tidak nyaman.
Natalie menggelengkan kepala lalu menundukkan kepala serendah-rendahnya. Pertanyaan-pertanyaan yang Brian lontarkan, secara tidak langsung telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Oh... sudah saya duga. Apa suamimu impoten? Lemah syahwat? Atau...."
"Maaf Tuan Brian, ini bukan ranah anda untuk mengetahuinya. Ini adalah privacy saya, mohon anda tidak melewati batasan!" geram Natalie akan pertanyaan yang tidak semestinya terucap.
Brian tertawa melecehkan, dia bangkit dari kursi empuknya lalu berdiri di hadapan Natalie. Dia mengangkat wajah sekretarisnya dengan jari telunjuk di bawah dagu.
"Kalau kamu mau, aku bersedia memuaskanmu Natalie. Asal...."
"Asal apa Brian?" timpal Natalie sinis.
"Asal, kamu mark up semua pengeluaran Rumah Sakit ini di dalam laporan keuangan. Bagaimana, kamu mau?" tanya Brian yang yakin kalau Natalie akan setuju membuat kesepakatan dengannya.
Natalie tersenyum sumringah, Brian turut tersenyum. Namun senyuman pemuda itu luntur seketika, setelah Natalie menggelengkan kepala dan mengacungkan jari tengah.
Natalie keluar dari ruangan dengan Brian yang berdiri mematung. Dia menutup pintu dengan kencang, hingga dinding dan jendela di sekitarnya ikut bergetar.
"Dasar pria gila... aku harus berhati-hati dengannya! Aku memang genit, aku wanita gatal. Tapi aku bukan orang yang mudah berkhianat, terlebih pada saudaraku sendiri."
Sementara di dalam ruangan, Brian tengah mengamuk meluapkan api amarah yang meletup-letup. Dia menghantam cermin menggunakan kepalan tangannya sembali berteriak sekencang-kencangnya.
"Ah... brengsekk! Aku salah mengira kalau Natalie akan sangat mudah untuk ditaklukan. Mulai sekarang aku harus memperhatikan gerak-geriknya, jangan sampai dia mengadu macam-macam pada Edward atau istrinya itu!"
...***...
Mansion keluarga Liam
Malam ini seperti malam biasanya, ayah, anak, menantu dan cucu tengah menikmati makan malamnya bersama. Namun kali ini lebih terasa hangat dan dekat. Pembahasan-pembahasan mengenai kehidupan diselingi guyonan dan tawa riang, mewarnai malam kelam terlihat lebih menyenangkan.
"Pa... apa Papa tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" Pertanyaan sensitif ini tiba-tiba meluncur dari mulut putrinya. Richard yang sedang menikmati makanan penutup, tersedak lantaran terkejut.
__ADS_1
"I- ini minum Pa." Edward menyodorkan segelas air minum. Richard langsung meneguknya hingga rasa sakit di tenggorokan mereda.
Melihat kondisi Richard yang sudah membaik, Edward turut menimpali pertanyaan adiknya. "Papa kan masih muda dan segar, apa tidak sebaiknya mencari pendamping untuk menemani Papa menikmati masa tua?"
Richard melirik ke arah putrinya lalu menoleh ke arah putranya. Dia mendesahh seakan tengah berpikir sesuatu. "Papa tidak sekuat dulu, penyakit jantung Papa juga sering kumat. Kasihan nanti wanita yang Papa nikahi, hanya disibukkan dengan mengurusi Papa."
"Nah itu dia Pa, kan biar ada yang mengurusi," tambah Leona semangat. "Bukan kami tidak ingin mengurus Papa, tapi sekitar 4 bulan lagi Leona akan melahirkan. Bulan berikutnya Kak Rona yang melahirkan. Kami akan sibuk dengan urusan kami masing-masing, lalu Papa?" tanya Leona mempengaruhi pikiran Richard.
"Kalian ini kompak sekali!" Richard mengusap-usap kepala Leona dan juga kepala Edward secara bergantian lalu menghela napas. "Nanti biar Papa pikirkan dulu ya. Sekarang yang terpenting buat Papa, kebahagiaan kalian berdua." Richard merentangkan kedua tangan merengkuh tubuh anak-anaknya. Rona menatap penuh haru begitu pun juga dengan Roland. Sementara Ezio lagi-lagi dibuat bingung dengan obrolan orang dewasa.
"Oh iya, Leona sudah USG dan bayinya berjenis kelamin perempuan. Kalau kamu, Nak?" tanya Richard pada menantunya.
Rona menggelengkan kepala seraya menggigit tipis bibir bawahnya. "Belum Pa... Rona belum sempat cek ke dokter kandungan lagi. Akhir-akhir ini banyak sekali yang terjadi, sampai Rona lupa kalau di dalam tubuh Rona ada jiwa lain yang hidup."
Richard mendengus kasar lantas menepuk kepala belakang putranya karena kesal. "Kamu tidak becus sebagai seorang suami. Harusnya kamu yang rajin mengingatkan, Edward! Bukan cuman tahunya maju-mundur, maju-mundur!"
"Iya Pa, maaf..." sela Edward karena omelan Richard.
"Papa lihat kalian kurang memperhatikan janin kalian, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," tegur Richard karena keduanya sama-sama sibuk. "Mulailah untuk lebih memperhatikan istrimu, Edward! Kasihan dia kamu tunggangi terus-terusan, tapi kondisi kesehatan Rona dan bayinya tidak kamu pedulikan," pungkas Richard pada putranya. Edward tidak membantah sedikit pun juga, dia menoleh ke arah Rona dengan tangan mengelus-elus perut istrinya.
"Besok kita cek kandungan ke obgyn ya... sekalian aku juga ingin tahu jenis kelamin bayi kita nanti." Edward menggenggam jemari istrinya dengan manik mata yang menatap hangat.
"Ezio ikut ya Daddy... Ezio juga ingin melihat adik bayi," sahut Ezio yang menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Iya sayang... Ezio besok boleh ikut. Tapi setelah Ezio pulang dari Play Group, oke?" Rona mengangkat telapak tangan, Ezio tertawa riang.
"Oke, Mommy," jawab Ezio yang turut mengangkat telapak tangan dan menepuknya pelan.
Setelah berakhirnya obrolan di meja makan, semua kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Berbeda dengan Richard, dia masuk ke dalam ruang perpustakaan lalu membuka album lama yang berisi kenangan tentang dirinya dengan Lesham. Tubuhnya yang renta bergetar, air mata menetes membasahi wajah yang mulai keriput.
...*****...
...Selamat bermalam minggu untuk semuanya. Tetap jaga kesehatan dan minum air putih yang cukup....
__ADS_1