Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Racun Tikus


__ADS_3

Ketika mentari mulai bersinar, di sanalah sebuah harapan akan terbit pada masanya. Langit biru membentang luas meneduhkan bumi yang kian panas dan hati yang kian keras.


Dua tangan penuh kehangatan tengah mengaduk bubur yang dia buat dengan racikannya sendiri. Dibuat selezat mungkin untuk seseorang yang sangat dia benci. Bukan karena ingin. Namun, karena terpaksa.


"Sudah sadar rupanya, ayo bangun!" titah Rona. Dia menyimpan mangkuk berisi bubur di atas nakas lalu menarik kencang lengan Edward hingga membuatnya terperanjat.


"Apa kamu tidak bisa bersikap lembut layaknya seorang perempuan, hah...?" protes Edward.


Rona hanya mengangkat bahunya tidak peduli. "Buka mulutmu!"


Edward gelagapan karena Rona menyuapinya dengan kasar. Belum lagi bubur yang diberikan masih sangat panas.


"Kamu mau membunuh saya?" bentak Edward yang merasakan lidahnya seakan terbakar.


"Kalau iya, kenapa?" tanya Rona. "Lagi pula saya sudah memasukkan racun tikus ke dalam bubur!"


Edward yang terkesiap sontak mengeluarkan bubur dari dalam mulutnya lalu menegak air putih sebanyak mungkin. Rona yang melihatnya hanya tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Edward sembari membersihkan bekas bubur di bibirnya.


"Ya... lucu saja sih, katanya cerdas tapi mudah sekali dibohongi," terang Rona.


Edward menatap wanita di hadapannya dengan sorot mematikan, bak seekor singa yang akan menerkam mangsanya hingga tulang belulang. Dia merasa dipermalukan karena dikelabui oleh seekor kucing liar dari jalanan.


Rona mengaduk bubur di dalam mangkuk lalu mengipas-ngipas menggunakan tangannya. Dia kembali menyuapi Edward. Namun, dengan lebih lembut. Pria itu dengan senang hati menerima perhatian Rona, bagai sebuah kerinduan yang bersambut. Meski dengan wanita yang berbeda.


"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Rona yang juga menatap Edward dengan dalam. Pria itu mendekat hendak menyentuh bibir Rona. Namun, gadis itu memalingkan wajah.


"Kenapa? Jangan sok jual mahal!" cerca Edward. "Ingat, kamu sudah menyetujui untuk menjadi wanita simpananku!" terang Edward.


"Ya ... aku ingat dan sangat ingat, Tuan Edward yang terhomat!"


Edward menarik kasar tengkuk Rona dan mencumbunya dengan sangat liar. Gadis itu mendorong tubuh Edward dan untuk kesekian kalinya dia melayangkan sebuah tamparan.


"Kamu!" tunjuk Edward ke arah wajah Rona.


Rona menantang pria yang membulatkan mata ke arahnya dengan mengangkat wajah dan memperlihatkan raut merendahkan. "Salah sendiri memberi saya julukan kucing liar, rasakan akibatnya!"


Rona berdiri lalu merapikan dirinya. Dia menggantungkan sling bag ke atas bahu kemudian memulas bibir dengan lipstik warna merah. Edward terpana akan pemandangan indah yang berdiri tidak jauh dari jangkauan. Ingin rasanya dia kembali meneguk manisnya bibir dari wanita simpanannya.


"Tunggu saja setelah saya sembuh, saya tidak akan membiarkanmu menolak ataupun melawan!"


"Saya akan mengambil apa yang menjadi hak saya, karena kamu sudah menjadi milik saya sepenuhnya!"

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Edward pura-pura tidak tahu.


"Ke Rumah Sakitlah, kemana lagi!" jawab Rona ketus.


"Kamu tidak boleh pergi sendiri, harus diantar Feliks."


"Hah, diantar laki-laki planga-plongo itu?" cibir Rona.


"Yups, saya tidak mau ya di luar sana kamu melayani laki-laki lain!"


"Maksud anda apa?" geram Rona.


"Wanita malam tetaplah wanita malam, jangan bermimpi menjadi wanita terhormat!" hina Edward.


Kata-kata yang dilontarkan Edward sangat menusuk sanubari, pria itu terus-menerus merendahkan harga diri Rona sebagai wanita baik-baik. Dia ingin sekali membunuh pria yang mencemoohnya saat ini juga. Namun, dia tidak ingin mengotori tangannya.


"Kalau saya wanita malam, berarti anda pria bejat!" desis Rona.


Gadis itu langsung memutar tubuhnya dan berjalan dengan gusar, punggungnya nampak bergetar menahan amarah dan tangis. Edward menatap dengan sedikit rasa bersalah. Namun, perasaan itu lagi-lagi dia tepis.


"Sebelum kamu pergi, papah saya ke kamar mandi lebih dulu. Saya ingin buang air."


Tentu saja permintaan Edward membuat Rona harus memutar isi kepala. Di satu sisi dia tidak mungkin membiarkan pria itu berjalan sendiri. Tapi di satu sisi lain itu sungguh hal memalukan.


"Saya tidak bisa membuka celana sendiri, tolong buka sayang..." pintanya dengan wajah memelas.


"Bu- buka?" tanya Rona terbata-bata.


Edward menganggukkan kepala, lagi-lagi disertai wajah yang memelas. Rona menghentakkan kaki lalu meninggalkan pria itu sendiri di dalam bilik yang terus saja berteriak memanggil namanya. Tapi gadis itu tidak memperdulikan teriakan Edward, dia memilih pergi lalu keluar dari apartemen.


Rona berjalan dengan langkah yang lebar, lalu suara seseorang mengejutkannya.


"Dokter Rona... hey dokter Rona...!"


Rona memicingkan mata dan melihat Feliks tengah berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Dia tersenyum karena laki-laki itu datang di waktu yang tepat.


"Kebetulan kamu di sini. Bos payahmu sedang tidak berdaya di kamar mandi. Kalau kamu terlambat sedetik saja, dia akan die!" ujar Rona dengan tangan digerakkan di depan leher.


Feliks mengambil langkah seribu menuju kamar Edward. Dia pikir perkataan wanita di depannya bukan sekedar main-main mengingat kejahatan apa yang sudah dilakukan bos Edward pada wanita yang tak berdosa.


"Dih, bos dan kacung sama-sama mudah sekali ditipu!"


"Makanya mereka cocok, harusnya menikah aja. Karena sama-sama tidak waras!"

__ADS_1


...********...


Mata indah bersinar menatap bahagia dunia luas, bak burung yang terbebas dari sangkar berkarat. Menghirup udara sejuk yang tidak dia dapati dalam ruang sempit tak bernyawa.


Senyuman tersungging dengan terus menyapa setiap orang yang dia lewati. Tidak ada sedikit pun menunjukkan wajah muram atau sekedar berkeluh kesah.


"Rona...!" pekik seorang wanita yang langsung memeluk gadis itu sangat erat.


"Kamu tidak apa-apa, kan? Kamu baik-baik saja, kan? Dia tidak menyakitimu, kan?" tanya wanita itu sembari memutar-mutar tubuh gadis yang tengah dia cengkeram.


"Aku baik-baik saja Claire. Kamu kan tahu aku itu wanita strong!"


"Ya kuat sih kuat, tapi satu atap dengan predator macam dia, bergidig juga aku membayangkannya!"


Rona hanya tersenyum tipis, dia kembali berjalan dengan Claire mengikuti di sampingnya. Dua pasang mata memperhatikan keduanya dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menggumamkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.


"Dokter Rona!" panggil seorang perawat.


"Ya, ada apa Sus?" tanya Rona.


"Anda dipanggil Direktur utama Rumah Sakit ke ruangannya sekarang," jawab perawat.


"Ta-tapi ada apa ya Sus? Lagipula Mr. Richard bukankah masih dalam perawatan?"


"Saya tidak tahu Dok, saya hanya diminta untuk menyampaikan saja. Permisi...."


"Baik Sus, terima kasih...."


Pikiran Rona menerawang, hal yang sangat langka bila seorang dokter dipanggil pimpinan Rumah Sakit secara pribadi. Kecuali ada hal sangat penting yang berhubungan dengan nasib dirinya di Rumah Sakit tersebut.


...******...


...Mohon maaf ya belum bisa Up setiap hari, kondisi badan belum pulih....


...Terimakasih untuk yang sudah berkenan membaca novel recehan saya, semoga terhibur....


...Saya tunggu dukungannya baik berupa Favorite, like, comment, vote, rate 5 bintang....


...Terimakasih......


...Salam sayang,...


...Senja Merona...

__ADS_1


__ADS_2