Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Naughty Boy


__ADS_3

Setiap orang tua akan melakukan apapun demi anak-anaknya. Bahkan bila perlu, nyawa sekali pun akan dipertaruhkan. Apalagi kalau hanya sekedar harga diri, akan mereka kesampingkan. Tapi bagaimana kalau yang mereka korbankan adalah perasaan dan kebahagiaan orang lain?


Perkataan Richard bak simalakama. Menolak tapi terikat akan balas budi. Menerima, tetapi terjadi gejolak di dalam batin. Bagaimana pun juga Feliks memiliki perasaan, mempunyai hati.


"Mohon maaf Tuan, terlalu berlebihan bila seorang putri dari keluarga terpandang dijodohkan dengan saya yang hanya berasal dari desa terpencil. Saya cukup tahu diri," tolak Feliks tanpa ingin menyinggung perasaan keluarga Liam.


"Cih... pakai sok menolak. Padahal dalam hati girangnya minta ampun!" cibir Amber merendahkan.


"Mom, please... jangan membuat keruh suasana!" Edward turut angkat suara. Amber tidak menimpali perkataan putranya. Dia memicingkan mata lalu berdecak sebal.


Ruang yang semula panas karena emosi berubah menjadi hening. Semua terpaku dengan angan-angan dan prasangka masing-masing.


"Kak Feliks... kalau Kak Feliks merasa keberatan menikah dengan Leona, Leona tidak apa-apa. Lagi pula Leona tidak ingin menikah atas dasar paksaan...."


Feliks menoleh ke arah Leona sekilas, lalu kembali tertunduk. "Maafkan Kak Feliks ya Leona... karena cinta tidak bisa dipaksakan."


Richard yang semula menyimak obrolan antara putrinya dan Feliks, kini kembali berbicara. "Saya tidak menerima penolakan. Saya ingin kamu menikah dengan Leona tiga hari lagi!" Richard melempar satu koper berisi uang. "Ini buat kamu!"


"Ini apa Tuan?" Feliks menatap koper berwarna hitam di atas meja.


"Bukalah!" titah Richard. Feliks membuka kunci koper, tangannya bergetar ketika melihat lembaran uang tertata dengan rapi.


"Maksud Tuan apa, Tuan Richard membayarku?" Suara Feliks berubah parau, dia menahan rasa sakit karena harga dirinya kembali diinjak. Feliks tidak sanggup menatap ke arah Richard, kepalanya terus tertunduk.


"Itu sebagai tanda terima kasih pertama. Nanti setelah kamu menjadi suami Leona, akan saya hibahkan satu perusahaan untuk kamu kelola." Richard melempar map berwarna hijau. "Itu di dalamnya surat perjanjian. Kalau kamu setuju dengan perjodohan ini, perusahaan milikku langsung berpindah tangan."


"Pa... ini terlalu berlebihan!" sergah Amber. Dia benar-benar tidak bisa menerima pemikiran suaminya.


Feliks mengusap wajahnya kasar lalu menarik napas yang terasa sesak. Dengan kepala terus tertunduk, jemari tangan memainkan ujung kuku.


"Ma- maaf Tuan... saya tahu, saya dan orang tua saya banyak berhutang budi pada keluarga Liam. Tapi untuk kali ini, biarkan saya memutuskan sesuai dengan isi hati."


"Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak menerima penolakan!" bentak Richard yang membuat Feliks terhenyak. Dia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan terlihat raut penuh amarah, kebimbangan serta putus asa menatap ke arahnya.


"Tapi Tuan sa—"

__ADS_1


Richard beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Feliks. Tubuhnya gemetar dengan mata yang menahan derai kesedihan. Richard membungkuk lalu melandai. Dia berdiri di hadapan Feliks menggunakan kedua lutut.


"Papa! Please Pa jangan seperti ini... Leona sakit melihatnya." Leona berlari lalu memeluk Richard.


"Seseorang memerkosa putriku dan sekarang dia mengandung anak dari pria bajingan itu. Masa depan Leona sudah hancur, Feliks. Putriku hancur...!" Richard menangis, tangisnya terdengar begitu pilu.


"Hanya kamu yang bisa saya andalkan, Feliks. Saya mohon nikahi putri saya!" Richard merundukkan kepala, bersujud di depan Feliks.


Semua orang terperangah. Feliks membisu, bibirnya kelu. "Tu- tuan apa yang Tuan lakukan? Bangun Tuan." Feliks mengangkat tubuh Richard, tetapi pria tua itu tetap saja bergeming, menyungkum tanah.


"Pa... bangun Pa. Jangan merendahkan harga diri Papa hanya demi Leona. Leona sakit melihat Papa seperti ini. Leona mohon, Papa bangun...!" Leona meraung-raung, menggoyang-goyangkan tubuh Richard.


"Kami memang egois, Feliks. Selalu memaksakan kehendak. Tapi melihat seorang ayah menundukkan tubuh seperti ini, aku tidak sanggup..." lirih Edward seraya berjalan dan turut merendahkan diri di hadapan Feliks.


Feliks menarik rambutnya kasar. Dadanya semakin terasa sesak. Dia benar-benar berada dalam situasi serba salah, dilema.


"Bangun Tuan... sa- saya akan menik—"


"Saya yang akan menikahi Leona!" Seseorang datang tiba-tiba menghentikan Feliks memberikan keputusan.


Semua mata menatap ke arah pria yang berdiri tegap dengan pikiran bercabang. "Kak Roland!" Leona berlari lalu mendekap pria yang tidak asing di penglihatannya.


"Kakak tidak setuju kalau kamu menikah dengan Roland. Kakak tahu persis bagaimana pria ini!" Edward menarik Leona dari tubuh Roland.


"Wah... wah... wah... kalau ini sih Mom sangat setuju. Bagaimana Pa?" tanya Amber pada Richard yang kini duduk di sampingnya.


"Keputusan ada di tangan Leona. Papa serahkan pada Leona, dia mau memilih siapa. Yang terpenting untuk sekarang, Leona bahagia dan bayi di perutnya terlahir dengan orang tua yang utuh." Richard menyandarkan punggung seraya menatap Leona.


"Bagaimana sayang?" tanya Amber yang berubah hangat dan lembut.


"Leona... akan menikah dengan pria yang mau menerima Leona tanpa adanya paksaan. Jadi tentu saja, Leona akan memilih Kak Roland."


Keputusan Leona disambut pekik bahagia oleh Richard dan Amber, sedangkan Edward menghantamkan kepalan tangan ke atas dinding. Dia tidak bisa menerima jawaban yang diberikan adiknya.


"Roland... aku harap kamu tidak mengecewakan adikku apalagi mengkhianatinya. Seinci tubuhnya terluka, aku akan mencarimu meski ke dalam lubang semut sekali pun!"

__ADS_1


Roland berbisik di telinga Edward, "Kita lihat saja nanti!"


...***...


Feliks pamit undur diri pada Richard dan Amber. Namun, dia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari keduanya.


Rona dan Edward mengantarkan Feliks dan Claire hingga pelataran. Edward menepuk pundak asistennya. "Maaf... karena kami sudah menyeretmu pada masalah keluarga ini!"


Feliks mengangguk lemah lalu mengulurkan tangan ke arah Claire. Mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya. Claire menoleh ke arah Rona, dan sahabatnya itu mengerdipkan mata.


"Aku pulang ya Ron ... meski aku tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di keluarga kalian. Aku harap semua akan baik-baik saja."


Rona mendekap tubuh sahabatnya. "Terima kasih untuk doamu, Claire."


"Yuk!" Feliks menggenggam tangan Claire dengan mengulum senyuman.


Di dalam mobil.


Feliks melirik ke arah Claire yang kesulitan memasang seat belt. Feliks terkekeh lalu menyondongkan tubuhnya. "Sini aku bantu." Feliks menautkan stik safety belt ke dalam kuncinya.


"Terima kasih..." ucap Claire tanpa melihat ke arah Feliks.


"Claire...?" desah Feliks.


"Apa?" sahut Claire ketus.


Feliks menarik dagu lancip milik Claire memaksanya untuk menatap pria di hadapannya. "Bolehkah aku... sekali ini saja."


"A- apa?" Claire semakin gugup.


"Mengecup bibirmu...."


...***...


...Feliks sama nakalnya dengan Edward ternyata. Hihihi......

__ADS_1


...Terimakasih untuk semua dukungannya Kak, semoga tidak pernah bosan ya......


...Selamat malam dan selamat menjemput impian....


__ADS_2