
Di sebuah bangunan yang berada di bibir pantai. Di dalam kamar luas nan mewah, sepasang pengantin baru tengah asyik masyuk berbagi peluh, berbagi desahann. Menunaikan hasrat yang semula tertunda dengan pergumulan panas maha dahsyat. Karena keduanya sama-sama tengah diselimuti nafsuu.
"Aku milikmu Feliks!" racau Claire di tengah-tengah penyatuan. Meski dia merasa lelah, tetapi tubuhnya seakan berkata bahwa aku masih menginginkanmu.
"Kamu memang milikku, Claire. Setiap inci tubuhmu adalah milikku! Jadi biarkan aku berbuat sesuka hati pada tubuh indahmu!" Feliks memaju mundurkan panggulnya dengan ritme cepat dan tanpa jeda. Keringat mengucur di sekujur tubuh tidak dia hiraukan. Sebab di otak Feliks saat ini adalah ingin memuaskan hasrat biologisnya.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam dan kini sudah melewati satu setengah jam, aktifitas suami istri tersebut belum jua berhenti. Bersambung dari ronde ke ronde, seakan tidak merasa letih ataupun jemu.
"Kamu lelah, honey?" tanya Feliks.
Claire menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak lelah. Hanya...."
"Hanya apa?" tanya Feliks kembali.
"Hanya saja 'ituku' perih..." ungkap Claire meringis. "Tapi tanggung, tuntaskan saja. Aku masih sangat menikmatinya kok."
Feliks kini bergerak lebih lembut karena tidak ingin Claire tersiksa oleh permainannya. Maklum saja kalau Feliks begitu semangat bercinta dengan sang istri sebab ini adalah pengalaman pertama baginya. Feliks termasuk laki-laki langka karena bisa menjaga keperjakaan hingga saatnya tiba. Itu lantaran keluarganya sangat taat agama. Sedangkan Claire, gadis tomboy yang menganggap jatuh cinta dan bergonta-ganti pasangan adalah hal tidak penting.
Claire mendesahh, kedua matanya merem-melek. Meski terasa sakit di area kewanitaann. Namun, dia sangat menikmati setiap hujaman dan hentakan. Hingga suara erangan kini saling bersahutan. Feliks memompa kian cepat, Claire mencengkeram erat punggung Feliks. Akhirnya mereka berdua meraih puncak kenikmatan. Lelehan cinta membasahi ruang sempit yang akan menjadi tempat tumbuhnya benih cinta.
Tubuh bugar Feliks lemas seketika. Dia ambruk di atas dada sang istri. Terdengar deru napas berpacu dengan detak jantung yang berlari cepat.
"Terima kasih Claire," ucap Feliks membelai lembut pipi sang istri. "I love you. Terima kasih karena telah memilihku menjadi pasanganmu...."
"I love you too, my husband." Claire mengusap-usap puncak kepala suaminya. "Apa kamu bahagia menikah denganku, Feliks?" tanya Claire. Namun, tidak ada lagi jawaban dari pria yang tengah menelungkup. Sebab pria itu telah terlelap mengarungi alam mimpi.
...***...
__ADS_1
Suasana sebuah gedung perkantoran nampak ramai orang berlalu lalang. Karena saat itu tepat jam makan siang para karyawan. Mereka hilir mudik menuju tempat di mana akan memenuhi hak tubuh mendapatkan makanan.
Seorang pria dengan derap langkah pasti memasuki gedung mewah tersebut. Dia melewati bagian receptionist dan berjalan ke arah lift menuju lantai satu.
"Masuklah..." titah seseorang dari dalam ruangan saat mendengar suara ketukan pintu. Nampak seorang laki-laki memperlihatkan wajah dari celah pintu. Melihat senyuman yang menyambutnya, ia pun bergegas masuk lantas menutup pintu.
"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu," sapa Theo kepada keponakannya. Dia beranjak dari atas kursi lanjut memeluk tubuh pemuda yang dia rindukan. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Theo tanpa melepaskan rengkuhan.
"Kabarku baik Om. Om apa kabar?" Edward bertanya hal yang sama.
Theo melepas pelukan dan merangkul Edward dan mengajaknya duduk di atas sofa. "Kabar Om, baik. Maafkan Om ya... kalau selama ini Om bersikap tidak baik pada kamu maupun Richard. Tapi sekarang Om menyadari semua kesalahan, Om sudah semakin tua, malu kalau harus terus-menerus bertikai."
"Iya Om tidak apa-apa. Maafkan papa dan Edward juga. Maafkan Edward yang sering bersikap kurang ajar." Edward menjeda ucapannya. "Maaf Om, jadi siapa yang mau membantuku untuk mengambil alih hak asuh Ezio?" tanya Edward tidak sabar.
Theo tersenyum tipis. "Tunggu saja ... dia masih di dalam perjalanan. Sebentar lagi juga sampai. Oh iya... kamu mau minum apa?"
Lima belas menit berlalu, Edward mulai gusar. Karena orang yang akan dipertemukan oleh Theo dengannya tidak kunjung tiba. "Om, maaf ... orang itu jadi bertemu kita di sini, kan?"
Theo yang tengah menyeruput kopi panasnya menganggukkan kepala kemudian menjawab. "Dia sudah ada di lobby sedang menuju ke ruangan Om."
Edward menghela napas. "Syukurlah... maklum Om, Rona belum lama ini melahirkan. Dia sangat kerepotan mengurusi Triple A. Jadi, akhir-akhir ini aku lebih sering berada di rumah."
Theo terkekeh menanggapi perkataan Edward. Si keponakan yang selalu bersikap dingin ternyata akan dewasa pada waktunya. Mata Theo teralihkan pada daun pintu karena suara ketukan dari baliknya. "Masuk!"
Seorang perempuan muda masuk ke dalam ruangan, Theo tersenyum ramah sementara Edward bermuram durja. Karena masih membekas di ingatannya ketika melihat rekaman, saat perempuan itu membantu Roy untuk merebut Ezio.
"Apa kabar, Om?" tanya gadis itu pada Theo. Dia menghampiri calon ayah mertuanya lantas mencium pipi kiri dan kanan. Kemudian mendaratkan tubuh di atas sofa kosong di samping Edward. Rahang pria beristri itu menegang, memperlihatkan air muka yang tidak senang.
__ADS_1
"Jadi perempuan ini Om, yang katanya mau membantu Edward?" tanyanya sinis.
Theo mengangguk dan bisa memaklumi kenapa Edward bersikap ketus pada calon menantunya. "Berikan Jessy kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan informasi apa yang dia miliki."
Edward mendengus lantas bertanya pada Jessy. "Jadi dengan apa kamu bisa membantuku untuk mendapatkan hak asuh atas Ezio?"
Jessy menyimpan tas di atas meja lantas mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Lihat saja sendiri, aku yakin apa yang aku bawa ini akan sangat berguna. Kamu bisa mengajukan banding atas hak asuh anak itu."
Edward memutar bola mata dan meraih amplop itu dengan kasar. Matanya menyalang murka saat melihat bebeberapa lembar foto yang diyakini kalau itu foto Ezio.
"Itu foto aku ambil sendiri ketika aku berkunjung ke rumah Om Theo. Karena aku yakin foto bekas kekerasan Roy bisa dijadikan barang bukti. Ditambah cctv yang berada di mansion Emerald. Itu Om Theo memberikannya padaku untuk di-copy dalam bentuk kepingan CD," tunjuk Jessy seraya menjelaskan.
Jemari terkepal, sangat jelas kilatan amarah dari wajah Edward. Anak yang dia rawat penuh cinta malah diperlakukan kasar oleh ayah kandungnya sendiri. "Brengsekk kamu Roy!!
Theo menarik napas. "Maafkan sepupumu itu. Om ikhlas kalau kamu melaporkan dia ke pihak yang berwajib. Anak itu memang sudah seharusnya mendapatkan pelajaran."
Edward menoleh ke arah Theo. "Maafkan aku, Om. Kalau satu waktu aku menjebloskan Roy ke penjara. Karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Edward kini menghadap Jessy. "Dan untuk kamu, Jessy. Aku ucapkan terima kasih."
Jessy mengangguk dan tersenyum kecut. Dia sadar akan konsekuensi yang akan didapatkan dengan kejujuran ini, salah satunya dia tidak akan bisa menikah dengan Roy. "Iya sama-sama, Edward. Ezio anak yang manis, aku tidak tega melihat anak kecil tak berdosa itu diperlakukan tidak adil oleh ayah biologisnya."
Setelah perbincangan panjang lebar, Edward pamit undur diri dan lanjut menghubungi pengacara untuk membantunya menangani masalah hak asuh ke pengadilan. Selain barang bukti yang dia miliki. Dia juga mendapat surat kuasa dari Theo yang menyatakan bahwa pria paruh baya itu mengizinkan Edward untuk mengadopsi cucunya, Ezio.
...***...
...Terima kasih banyak untuk yang masih berkenan membaca novel dokter Rona๐๐...
__ADS_1