
...Tak sanggup kupetik irama kerinduan ini lagi. Terlalu lama kumenunggu. Aku pun terkapar di dalam penantian. Resahku berujung sepi, dalam lirih asa yang tak pasti. Bila rasa penyesalan tak lagi menjadi bukti, aku pasrah dan aku mengalah....
...*****...
"Minumlah...," Maria menyodorkan secangkir cokelat panas dengan beberapa makanan ringan yang dibuatnya sendiri.
"Terimakasih, Ma... maaf Rona jadi merepotkan." Rona mengangkat cangkir yang disodorkan Maria, kemudian meneguk minuman yang asapnya masih mengepul.
Maria menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa kecil. "Berhenti berkata maaf, Nak. Mama geli sendiri mendengarnya...."
"Iya Ma, maaf...," Rona menutup mulutnya karena tersadar mengucapkan kata maaf untuk kesekian kalinya. "Keceplosan Ma...," Akhirnya sebuah senyuman tersimpul dari bibir manisnya meski mata tidak mampu berdusta, kalau dia tengah memendam kesedihan.
"Kamu bertengkar dengan Edward?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Maria. Matanya menelisik ke dalam netra dalam gadis di depannya.
Rona mengangguk lalu menyesap kembali minumannya. Tidak ada jawaban apapun dari mulut Rona yang terdengar hanya helaan napas dan suara kerongkongan yang menelan saliva berkali-kali.
"Mama tahu persis bagaimana suamimu itu. Tidak mudah memang memahami bagaimana sikapnya. Tapi percayalah, dia sebetulnya pria yang baik dan bertanggungjawab." Maria menepuk-nepuk punggung tangan Rona. "Tapi kalau memang kamu membutuhkan waktu untuk berpikir, tinggalah di sini sampai kamu bosan."
"Terimakasih ya Ma... Rona membutuhkan waktu untuk bisa berpikir jernih. Saat ini hanya ada emosi dan kekecewaan di dalam hati." Rona menghela napas. "Tidak mudah menaruh kepercayaan pada laki-laki yang tidak bisa berkata jujur," ungkap Rona sesak.
Maria mengusap-usap lengan Rona. "Mama mengerti perasaanmu, Nak. Besok kita lanjutkan lagi obrolan kita. Sekarang kamu istirahat ya, sekarang sudah pukul 1 pagi. Kamu pasti lelah...."
Rona menarik kepalanya ke bawah kemudian berdiri dan menarik langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Dia duduk di samping ranjang lalu mengecup lembut kening putranya. "Maafkan Mommy ya sayang... Mommy sudah membawamu pergi dari rumah. Tapi Mommy janji, ini tidak akan lama."
Rona mengangkat kakinya lantas merebahkan tubuhnya di samping Ezio. Kedua matanya terpejam namun pikirannya terus saja berkelana. Di satu sisi lain dia menyimpan kekecewaan, akan tetapi di satu sisi lainnya lagi dia memendam kerinduan. Saat ini, Rona berada dalam keadaan yang dilema. Haruskah mengikuti akal sehatnya atau menuruti kata hati.
...***...
Malam kian larut, salju pertama di musim dingin mulai menyapa bumi. Angin bertiup lebih kencang namun tidak menyurutkan keinginannya untuk menemukan sang jantung hati. Semua orang bersorak sorai menyambut turunnya salju, namun sekeping hati berada dalam kesunyian juga kehampaan.
__ADS_1
Kaki lelahnya menyisir setiap sudut kota, berjalan atau mengitari menggunakan kuda hitamnya. Akan tetapi sosok yang dicari, tidak dia temui di manapun. Rasa putus asa menyelinap masuk seiring rasa bersalah yang kian bercambah.
"Aku harus kemana lagi mencarimu, Rona?"
Bagai tiada lagi hari esok, dia terus mencari dan mencari sang tambatan hati. Meski suasana kota perlahan beranjak sepi dan berubah hening, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan saat ini, menemukan istri dan anaknya.
Bayangan akan wajah yang penuh kekecewaan melintas di dalam benak, tubuhnya melemah. Kepalanya menunduk di atas kemudi dengan tangan sebagai sandaran. Matanya terpejam untuk menyambut mimpi. Berharap sosok yang dia cari, menjelma sebagai bunga tidur.
Baru saja akan terlelap, dia terbangun karena tiba-tiba saja ingatannya menajam. Dia terpikir akan satu tempat yang belum dia singgahi. Dengan penuh harap, dia menyalakan mobil kemudian mengendarainya dengan mata setengah mengantuk. Penglihatannya sedikit berkurang, mobil bergulir ke kiri dan ke kanan. Beruntungnya dia bisa selamat sampai tempat yang dituju.
"Lampu kamar sudah padam, mama pasti sudah tidur." Edward menarik tuas jok mobil, kemudian menyandarkan tubuhnya. "Baiklah aku tunggu sampai pagi." Pada akhirnya Edward tertidur dengan pulas.
Malam begitu singkat, kini datang pagi dengan segala keindahannya. Gumpalan es mulai menutupi ranting pohon, atap rumah dan juga jalanan. Menina bobokan seorang pria yang masih nyaman bertabur mimpi.
"Ada apa Ma?" tanya Rona pada Maria yang terlihat tengah mengintai seseorang dari balik tirai tipis.
Maria terhenyak kemudian melambai-lambaikan tangannya memanggil Rona untuk mendekat.
"Itu mobil Edward Ma... itu Edward," lirih Rona yang belum siap untuk bertemu dengan suaminya. "Rona mohon... jangan beritahu Edward kalau Rona dan Ezio ada di rumah Mama." Rona menggenggam kedua tangan Maria, memohon dengan terus melihat ke arah mobil suaminya.
"Iya Nak iya... tenang ya. Mama tidak akan membiarkan Edward menemuimu, selama kamu menginginkannya." Maria meyakinkan Rona. Dia sendiri khawatir kalau Rona akan pergi dari rumahnya.Terlebih mengingat kondisi Rona yang tengah mengandung, belum lagi sang cucu pun turut dibawanya.
Kelopak mata terbuka lebar, karena pria yang sedang diperbincangkan keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah di hadapannya.
"Edward menuju ke rumah Mama, Rona harus bagaimana ini?" Rona yang dilanda kepanikan mendadak sulit untuk berpikir. Sementara itu, Edward sudah semakin mendekat dan kini berdiri tepat di depan pintu dengan tangan yang diangkat bersiap untuk mengetuk pintu.
"Kamu sembunyi saja di kamar, biar Mama yang menghadapi Edward." Maria mendorong pelan tubuh Rona, Rona lekas-lekas menuju kamarnya kemudian menutup pintu dengan rapat lantas menguncinya.
Sementara itu, Edward terus menerus mengetuk pintu karena Maria belum juga membuka pintu rumahnya. Ketukan lembut berubah menjadi ketukan kasar.
__ADS_1
CEKLEK!!
"Edward?" Maria pura-pura cingak-cinguk mencari keberadaan orang lain. "Ada apa sepagi ini ke rumah Mama?" tanya Maria setenang mungkin.
Edward mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Maria kemudian mendengus pelan. "Apa ada Rona dan Ezio di rumah Mama?"
"Rona? Ezio? Tidak ada." Maria menggelengkan kepala. "Memangnya ada apa, kenapa bisa mencari anak dan istrimu ke rumah Mama?"
Edward tidak mampu menatap wanita tua di hadapannya, kepalanya tertunduk menatap lantai. "Kami bertengkar Ma, Rona pergi dari rumah dan membawa serta Ezio. Semalam Edward sudah mencari ke seluruh kota, tapi tidak menemukan mereka di manapun. Edward pikir Rona dan Ezio ada di rumah Mama."
"Tidak ada Nak, bahkan istrimu itu sudah 1 bulan ini tidak pernah berkunjung ke rumah Mama," sahut Maria dengan nada sinis berharap Edward memercayai acting-nya. "Em... masuklah dulu, biar Mama buatkan minuman hangat dan makanan kesukaanmu." Maria merentangkan tangan ke arah rumahnya.
Edward menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Terimakasih Ma, tapi Edward mau mencari Rona sama Ezio lagi. Edward tidak akan bisa tenang kalau mereka belum berhasil ditemukan."
"Baiklah kalau begitu ... Mama hanya bisa mendoakan, semoga kalian secepatnya bersatu kembali." Maria mengelus-elus pundak Edward.
"Amin..." jawab Edward. Ma...?" lirih Edward.
"Kenapa Nak?" sahut Maria.
"Kalau anak dan istri Edward ke rumah Mama, tolong beritahu Edward ya. Edward sangat merindukan mereka...."
Maria menarik kepalanya ke bawah. "Tentu saja, Mama akan mengabarimu."
Edward menarik tubuhnya yang terasa begitu berat. Kata hatinya mengatakan bahwa belahan jiwa dan hatinya berada di rumah yang saat ini dia pijak. Namun dia perlu lebih bersabar dan mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin kehilangan orang-orang tercinta untuk kedua kalinya.
...*****...
...Hari ini agak oleng, mohon maaf kalau ceritanya terasa hambar ya 🙈🙏...
__ADS_1
...Terimakasih untuk semua dukungannya ya Kak......
...Selamat malam dan selamat beristirahat....