
Cinta, kata orang deritanya tiada henti. Merusak akal sehat, membuang waktu yang sangat berharga, mengganggu pikiran. Namun, terkadang sangat didambakan. Cinta bisa menjadi anugerah, bisa pula berubah musibah. Bisa menjadi sumber kebahagiaan atau malah benih penderitaan.
"Sudah aku katakan, aku tidak mau memiliki anak dari pria bejat macam kamu!" bentak Rona. Dia tidak bisa menerima bila takdir kembali tidak berpihak padanya.
"Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut. Suatu saat kamu yang akan memintaku menyentuh tubuhmu. Kamu yang akan menyodorkan diri untuk aku nikmati," erang Edward.
Rona mengeratkan jemari, darahnya mendidih. "Turunkan aku di sini!" pekik Rona.
Edward menghentikan laju mobilnya dan menepi ke bahu jalan. Dia mendekati Rona dengan tangan melingkar ke sandaran kursi.
"Aku tidak akan menurunkanmu di jalanan, aku akan membawa pulang ke apartemen kita."
"Apartemen kita?" Rona mengulang perkataan Edward.
"Iya sayang... apartemen kita. Apartemen milikku dan kamu," jawab Edward.
Rona memijat pelipis yang mendadak terasa nyeri dan pening, lalu mengatupkan mata. "Kepala pria ini sepertinya habis kepentok benda tumpul, jadi otaknya geser!"
Edward menyalakan kembali kendaraannya seraya mata yang tak teralihkan dari wajah wanitanya. Dan sebuah kecupan dia daratkan di atas pipi Rona.
Rona membuka kelopak mata dan mendapati netra mata tengah menatap dengan dalam. "Aku suka sekali dengan matamu, indah..." puji Edward.
Debaran di dada Rona semakin terpacu dengan tarikan napas bagai roller coaster, turun naik tak terkendali. "Dasar tukang bual!" cibir Rona.
Edward terkekeh dan menarik tubuhnya dari hadapan Rona. Kakinya menekan pedal gas dengan tangan menarik tuas rem dan gigi. Kendaraan kembali melaju, ditemani suara musik klasik yang romantis.
Karena rasa letih yang menghalau tubuh, Rona akhirnya terlelap. Wajahnya nampak tenang dan damai dengan napas yang masih turun naik.
"Ada apa denganku hari ini? Aku tidak mungkin mencintai gadis ini. Aku hanya mengagumi, iya hanya mengagumi."
...***...
Melihat Rona masih tertidur dengan pulas, Edward melepas jas hitamnya lalu menyelimuti tubuh Rona. Tangannya tak ingin bergerak dari memeluk gadis yang sedang dibuai mimpi indah.
"Cantik..." puji Edward. Tangannya membelai pipi Rona dan tersimpul senyuman dari setiap sudut bibirnya.
"Astaga... ada apa denganku?" gumam Edward sembari menutuk-nutuk puncak kepalanya sendiri.
Edward melandaikan tubuhnya ke sandaran, mengepalkan tangan lalu menaruhnya di atas kening. Mata menutup. Namun, otak terus berkelana dengan sesekali kepala menoleh ke arah gadisnya.
"Edward... bangun," bisik Rona.
Pria itu tersenyum dan menarik pinggang Rona. Kini posisi Rona mengangkang di atas pangkuan Edward. "Lepaskan aku!" berang Rona. Namun Edward semakin merekatkan tautan lengannya.
Wajah keduanya kini tanpa jarak, hembusan napas saling membalas dengan detak jantung seperti akan mencuat.
__ADS_1
Edward menarik tengkuk Rona dan memagut benda kenyal milik gadisnya. Menyesap dan menyapu basah disertai gigitan kecil di atas bibir dan lidah. "Kamu telah membangunkan singa tidur, sayang...."
"Lepaskan aku Edward. Aku malu nanti ada yang melihat kita," ujar Rona.
"Di sini sangat sepi, tidak akan ada yang mengganggu kita," jawab Edward.
"Ta- tapi..." Sebelum Rona melanjutkan perkataannya, bibir Edward sudah lebih dulu mengatup bibir tipis Rona. Kembali mengecup dan mencumbu dengan tangan melucutkan kancing kemeja Rona. Jemarinya mengusap lembut perut gadisnya kemudian naik mencari pengait di balik punggung lalu melepasnya. Kini tangan Edward bebas memainkan benda padat dan kenyal.
Kepala Rona menegak, lidah Edward mengitari leher jenjang. Desahann tipis terukir dari bibir Rona dengan tangan meremass rambut Edward. Pria itu bersemangat untuk melanjutkan aksinya. Namun, dia tiba-tiba membeku.
"Menikahlah denganku Rona," pinta Edward dengan tatapan sayu.
"Me- menikah?" tanya Rona terbata-bata.
"Iya menikah. Aku selalu hilang kendali saat bersamamu. Aku tahu ini salah, karena itu menikahlah denganku...."
Dua pasangan tidak halal, mungkin sedang terbawa perasaan. Rona mengangguk menyetujui permintaan Edward. Sementara Edward bibirnya merekah dengan pikiran yang berkecambuk. Ajakan menikah lolos begitu saja dari bibirnya tanpa terpikir dengan matang.
"Ma- maaf, aku hanya terbawa emosi sepertinya," ungkap Edward.
Bibir Rona seketika mengatup dengan mata yang mulai lembab. Tangannya menutupi dada yang terbuka dengan tubuh melandai lesu. "Hahaha... seharusnya aku tidak perlu percaya kata-kata yang dilontarkan pria pengecut sepertimu. Karenamu aku berubah menjadi wanita idiot, bodoh dan terlalu banyak berkhayal!"
Rona keluar dari mobil lalu berlari secepat mungkin, dan Edward mengejarnya. "Tunggu Rona, dengarkan penjelasanku dulu!"
Rona terus berlari dan dari arah berlawanan, ada seorang wanita yang tengah menginjak gas mobil dengan dalam. Sorotan matanya dipenuhi kebencian dan juga kedengkian. Dia siap menghantam tubuh wanita yang tengah berlarian tanpa melihat kondisi sekitar.
Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, Edward membulatkan mata lalu berlari sekuat mungkin. Tubuhnya merangkul tubuh Rona, dan keduanya berjumpalitan di atas apal. Darah segar menetes dari balik tangan dan pelipis.
"E- Edward ba- bangun...!"
"Edward bangun...!"
Seseorang yang tengah berdiri di depan apartemen menolehkan wajahnya mendengar suara teriakan seorang perempuan. Dia berlari dan mendapati laki-laki yang dia sayangi tengah terbujur di atas aspal.
"Kak Edward!" pekik Leona.
"Apa yang terjadi dengan Kakakku?" tanya Leona pada Rona dengan suara yang meninggi.
"Ta- tadi ada orang yang sepertinya sengaja ingin menabrakku dan Edward berlari untuk menolong. Kepalanya menghantam dinding pembatas jalan dan pelipisnya mengeluarkan darah," ungkap Rona seraya terisak.
"Ya Tuhan." Airmata hendak berderai dari mata Leona. Namun, dia melihat sebelah kelopak mata Edward mengerjap, memberi kode bahwa dia tengah ber-acting.
Leona berkata di dalam hatinya, "Ya ampun... punya Kakak gilanya tidak habis-habis."
"Security!" panggil Leona. "Tolong bantu untuk membawa Kakakku ke dalam kamarnya. Kakakku terluka," ungkap Leona.
__ADS_1
"Ke- ke kamar? Kenapa tidak kita bawa saja ke Rumah Sakit?" tanya Rona bimbang.
"Saya kebetulan Dokter, biar saya yang merawat Kak Edward," jawab Leona sembari menelisik gadis sebaya di depannya.
...***...
Leona membersihkan luka yang bersarang di tubuh Edward. Dengan penuh kehati-hatian dia merawat laki-laki yang menjadi cinta kedua setelah sang ayah. Leona memasang kain kasa di pelipis Edward dan kini darahnya telah berhenti menetes.
"Kamu siapanya Kak Edward?" tanya Leona yang sedari tadi penasaran.
"A- aku ... temannya," jawab Rona tergagu.
"Teman? Aku kira calon istri Kakakku," balas Leona menggoda.
Rona terkekeh dan menarik bibirnya terpaksa, dengan mata yang terus tertuju pada pria yang terkulai di atas ranjang.
"Aku ke kamar mandi dulu, titip Edward ya..." pinta Rona.
"Dia kan Kakakku, kenapa dititipkan padaku?" tanya Leona menahan tawa.
"Em... maaf aku salah bicara." Rona mengambil langkah seribu lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyandarkan tubuhnya ke daun pintu lanjut menghembuskan napas perlahan.
Leona mencubit pinggang Edward dan pria yang tengah berbaring terbangun seketika seraya menahan teriakan dengan mengatup mulutnya.
"Sakit, Dek!" keluh Edward.
"Bodo. Suruh siapa pakai acting segala!" umpat Leona.
Edward terkekeh dengan memperhatikan arah pintu kamar mandi, khawatir kalau Rona tiba-tiba keluar dan memergokinya.
"Jangan banyak komentar, pokoknya ikuti permainan Kakak ya," pinta Edward.
Leona menganggukkan kepala meski dia belum sepenuhnya mengerti apa yang tengah terjadi di antara Edward dengan gadis yang baru dia temui malam ini.
...*****...
...Ayo dong Edward, kalahkan egomu. Lupakan trauma masalalumu. Author mulai gemas nih :D. Wkwkwkwkwkw.......
...Terimakasih banyak untuk yang sudah memberikan VOTE dan HADIAH, semoga menjadi keberkahan dan digantikan dengan yang lebih ya Kak......
...Terimakasih juga untuk yang sudah meninggalkan like, comment, favorite. Untuk yang setia membaca karyaku ini. Semoga semua bisa terhibur dan terkesan.....
...I Love You All......
...Muahh... muahh... muah......
__ADS_1