Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kehangatan


__ADS_3

PLAKKKK!!!


"Asisten tidak berguna! Ke mana saat suamiku membutuhkanmu?" Sebuah tamparan melayang kembali. "Gara-gara kamu suamiku hampir saja mati!" teriak Rona pada pria yang berdiri tertunduk.


"Rona..." panggil Claire. "Ma- maaf tadβ€”"


"Tadi apa... sibuk berkencan, iya?" potong Rona kesal. "Lebih baik kalian pulang saja, aku muak melihat wajah pria bodoh ini!" Rona mengerling ke arah Feliks. Feliks tidak berani memperlihatkan mukanya, karena dia sadar betul akan kesalahannya.


"Sabar Rona..." ucap Roland menenangkan, dia merangkul pundak Rona, mencengkeram lembut. Rona mengerdikkan pundaknya.


"Tidak usah, mencari kesempatan!" sungut Rona menjauh dari jangkauan Roland. Dia memilih duduk di kursi tunggu di ujung koridor, namun matanya tidak lepas dari sepasang pintu yang masih tertutup rapat.


Tidak berselang lama, Rona terpejam karena kelelahan. Roland duduk di samping Rona dan menarik kepala kakak iparnya itu untuk bersandar ke bahunya. Rona merasakan tangan hangat seseorang merangkul pundaknya lantas berbicara sendiri, meracau.


"Edward... kamu harus kuat Edward."


"Edward cepatlah bangun, aku dan anak kita menunggu di sini."


"Edward...."


Rona terbangun seraya berteriak dan mendapati Roland yang tengah mendekapnya. Dia mencampakkan lengan Roland lalu menggeser panggulnya.


"Tadi kamu tertidur, aku hanya meminjamkan bahuku saja. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak," kilah Roland membela diri. Rona hendak menjawab perkataan Roland, akan tetapi suara handle pintu ditarik mengalihkan tatapannya. Dia beringsut lalu menghampiri pintu ICU, seorang dokter keluar seraya mendesah pelan.


"Untung kalian cepat-cepat membawanya ke Rumah Sakit. Kalau tidak, nyawa pasien tidak akan tertolong," ungkap dokter yang menangani Edward.


Rona tidak berhenti bersyukur kepada Tuhan, dia mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut dan juga pada Roland.


"Saya bisa melihat suami saya?" tanya Rona menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Dokter yang berdiri di hadapannya mengangguk dan mempersilakan Rona untuk masuk.


"Tapi hanya untuk satu orang saja ya," imbuh Dokter itu mengingatkan.

__ADS_1


"Roland, aku mau melihat kondisi suamiku. Kamu tolong beri kabar istrimu, aku tidak ingin dia salah paham." Rona masuk ke dalam ruang ICU setelah melihat Roland menarik kepalanya ke bawah.


Rona duduk di samping Edward dengan tangan menggenggam jemari suaminya. Tangan dingin itu dia tarik lalu dikecupnya lembut. "Hai sayang... ini aku. Ayo bangun...."


Mendengar bisikan merdu wanitanya, kesadaran Edward berangsur pulih. Dia terbangun dan menoleh ke arah suara istrinya berasal. "Sayang..." ucapnya lemah.


"Iya sayang ini aku, Ronamu..." sahut Rona bahagia.


"Aku pikir aku berada di surga karena tengah ditatap oleh seorang bidadari," canda Edward meski suaranya masih terdengar lirih. Rona tertawa dengan mata yang berkaca-kaca, dia berdiri lalu mendekap tubuh suaminya.


"Kamu membuatku takut, Edward!" Rona menangis sejadi-jadinya. Antara meluapkan rasa bahagia juga sesak di dada.


"Kamu tidak ingin menciumku, hm...?" tanya Edward melingkarkan tangannya di pinggang Rona lalu menariknya agar merapat. "Berikan aku kehangatan seperti yang kamu lakukan tadi di mobil," bisik Edward.


"Di- di mobil? Memangnya aku melakukan apa di mobil?" Rona menggulirkan kedua matanya, menghindari tatapan Edward.


Edward terkekeh lalu meraup wajah istrinya. "Aku tahu karena aku bisa merasakan kehangatan tubuhmu sayang, meski dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ayo lakukan lagi, kita belum pernah mencoba bercinta di Rumah Sakit, kan?"


"Kamu bersama Roland?" tanya Edward karena melihat adik iparnya itu muncul di balik jendela memberikan kode meminta Rona untuk keluar.


"Iya, aku bersama adik ipar kita. Aku meminta tolong dia untuk mengantarkanku mencarimu. Kenapa memangnya?" Rona memutar kepalanya karena Edward menunjuk ke arah jendela dengan memajukan bibirnya, nampak Roland tengah melambaikan tangan ke arahnya.


"Ada yang mau dia bicarakan sepertinya, temuilah!" suruh Edward pada istrinya. Rona mengerdipkan matanya dan berjalan keluar untuk menghampiri Roland.


"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Rona kepada pria yang menunggunya di depan pintu. "Ada masalah?" tanyanya lagi karena melihat ekspresi lain di wajah adik iparnya.


"Aku harus pulang sekarang, Leona sepertinya marah. Tidak apa-apa kan kalau aku meninggalkanmu sendiri?" jawab Roland dengan sebuah pertanyaan.


"Leona marah? Iya-iya, kamu cepatlah pulang Roland. Aku tidak apa-apa sendirian, lagi pula Edward sudah siuman," imbuh Rona yang merasakan tidak tenang soal Leona.


"Baiklah... kamu baik-baik ya. Jaga kesehatan." Roland mengusap-usap bahu Rona, kemudian menarik langkah meninggalkan Rona dengan perasaan yang berkecamuk.

__ADS_1


...***...


Mansion keluarga Liam


Terlihat seorang wanita muda tengah berjalan mondar-mandir dengan tangan yang menggantung di bawah punggung. Matanya menyorot pintu gerbang yang masih saja tertutup. Selepas mendapat kabar dari suaminya, pikiran-pikiran negatif mulai menyeruak kembali ke dalam akal sehatnya.


Terdengar suara mobil dengan gerbang pintu yang terbuka dengan otomatis. Mata wanita tersebut berbinar namun tatapannya meminta sebuah jawaban. Suaminya mendekat, lantas mendekapnya.


"Maaf aku pergi tidak memberitahumu. Itu karena aku takut mengganggu tidurmu," kilah Roland yang tidak ingin istrinya itu kembali membenci Rona.


"Kakak ipar kesayanganmu mana?" tanya Leona sinis. Sebelah alisnya diangkat, tangannya bersidekap.


Roland merangkum wajah Leona sembari mengusap-usapnya. "Kakak ipar di Rumah Sakit menemani kakakmu, sayang. Edward hipotermia, kalau kami terlambat datang, kakakmu itu bisa kehilangan nyawanya."


Mendengar soal kakak yang paling dia sayangi dalam kondisi tidak baik-baik saja, amarah Leona melunak. Dia memahami situasi kenapa Roland bisa pergi berduaan dengan Rona tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.


"Ayo kita masuk, Kakak pasti lelah!" Leona membalikkan badannya, tangan kekar Roland mengangkatnya. "Lepas Kak Roland, aku bisa jalan sendiri," rengek Leona menggerak-gerakkan kakinya.


Roland berdesis sambil membawa tubuh istrinya munuju kamar, dia mendorong daun pintu menggunakan kakinya lantas menutupnya dengan sebuah tendangan. Apa yang Rona lakukan di dalam mobil terus terngiang-ngiang di isi pikirannya. Dia membutuhkan pelampiasan akan gejolak yang mendidih di dalam dadanya.


Roland menurunkan wanita di pangkuannya dengan perlahan. Dia menindih tubuh istrinya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya juga tubuh Leona.


"Berjam-jam di luar sana membuatku kedinginan, Leona. Aku sangat membutuhkan kehangatan. Tolong hangatkan tubuhku dengan napas juga sentuhan hangatmu." Roland mencumbu bibir istrinya dengan tangan yang sibuk melucuti pakaiannya juga pakaian Leona. Kini kulit mereka bersentuhan tanpa selembar benang pun yang menghalangi.


Kepemilikan Roland yang mengeras terasa menekan-nekan pangkal paha. Leona terbujur pasrah karena dia sendiri pun menginginkan penyatuan dua tubuh yang sudah lama tidak dia dapatkan.


"Lakukan semaumu Kak... diri dan tubuh Leona sudah milik Kak Roland seutuhnya." Leona mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, memasrahkan setiap lekuk raga indahnya untuk dijamah oleh suaminya.


...*****...


...Terimakasih banyak untuk semua yang masih setia mendukung, sehat selalu dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan πŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2