Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kembali Pada Mommy


__ADS_3

"Bisakah kalian berhenti bermesraan di depanku?" sungut Claire karena kini Rona tengah mengecup bibir Edward di depan dirinya. Bukan tanpa alasan, Rona hanya berusaha menghibur suaminya itu yang tidak berhenti merengut dan nampak semakin frustrasi.


"Kamu memang cocok berjodoh dengan Feliks. Kalian berdua sama-sama memiliki mulut lebar!" cerca Edward pada sahabat istrinya.


"Kau!!" tunjuk Claire kesal.


Gadis yang rambutnya dikepang, menahan diri agar tidak tersulut oleh perkataan Edward. Dia menarik ulur napasnya untuk menenangkan emosi. Berusaha memahami situasi yang terjadi saat ini.


Suasana kembali hening, semuanya kini berkelana dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Mereka semua sudah terlalu lelah dan seakan menyerah. Karena sudah dua jam terlewati begitu saja. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa operasi selesai dilakukan.


"Kenapa lama sekali sih?" keluh Rona cemas. Wajahnya sudah bertambah lusuh, lingkaran mata semakin hitam.


Edward tidak kalah cemas. Meski dia mendengar kenyataan dari mulut Roy kalau Ezio bukanlah putra kandungnya. Namun, rasa sayang terhadap anak kecil itu tidak akan luntur begitu saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30, di saat semua orang mulai mengalah dengan rasa kantuk, suara tarikan handle pintu, mendadak membuat mata mereka segar kembali.


Ketiga orang dewasa tersebut berdiri serempak dan berjalan tergesa-gesa menghampiri seorang dokter yang keluar dari ruang operasi dengan raut wajah suram.


"Dok, bagaimana dengan kondisi anak kami? Anak kami selamat, kan?" tanya Edward tidak enak hati.


Dokter yang menangani Ezio tertunduk lesu tidak mampu bersitatap dengan orang-orang di hadapannya.


"Dokter, saya bertanya pada anda!" bentak Edward menarik kerah pakaian pria di depannya. "Anak saya selamat, kan?" teriak Edward tepat di atas daun telinga.


"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, pada akhirnya kami gagal menyelamatkan anak anda," lirih sang dokter pada Edward.

__ADS_1


Bak tersambar petir, semua orang sangat terkejut dengan penuturan dokter tersebut. Edward berteriak sembari memberikan satu pukulan ke arah wajah pria di depannya. "Dasar Dokter tidak berguna! Harusnya kamu saja yang mati!!!"


"Edward sudah!!" Rona menarik lengan Edward dan menyeret tubuh suaminya menjauh. "Sikap aroganmu ini tidak akan mengembalikan anak kita!" raung Rona antara sedih dan marah.


Edward menghempaskan cekalan tangan Rona lantas berlari ke dalam ruangan sembari memekik lantang karena para perawat tengah melepaskan alat bantu yang menempel di atas tubuh putranya.


"Kenapa kalian lepas? Ayo pasang lagi!" Edward menyerang para perawat dengan membabi buta, memaksa mereka untuk memasangkan kembali alat-alat yang seharusnya masih terpasang di tubuh putranya. "Anak saya belum mati, dia masih hidup!" Edward memasangkan kembali selang oksigen, defribilator dan alat denyut jantung. Dia sangat yakin kalau belahan jiwanya itu masih hidup.


Rona yang melihat Edward begitu terpukul, dia meraung dan merintih. Berusaha menenangkan keadaan suaminya. Namun, nihil. Dia sendiri pun tidak kalah terpuruk akan kematian putra sulungnya. Akan tetapi melihat kilatan penderitaan dalam tatapan Edward, membuat batinnya turut tercabik-cabik.


"Anak kita belum meninggal, Rona! Ezio belum mati!!" pekik Edward menekan-nekan dada putranya. Dia melihat alat pacu jantung yang tergeletak di atas meja operasi, lantas bersigera untuk mengambilnya.


Edward menempelkan alat pacu jantung tersebut ke atas dada Ezio. Air matanya berderai lara, membasahi wajah dan menetes ke atas tubuh putra tercintanya. "Ayo bangun Ezio, bangun! Ini Daddy, Nak... ayo bangun!!!"


Tidak tahu sudah berapa kali, Edward mencoba menempelkan alat kejut tersebut. Namun sayang, sang putra tercinta tetap terbujur kaku. "Kalau Ezio tidak bangun, Daddy akan marah! Daddy tidak akan membelikan Ezio mainan lagi. Daddy tidak mau mengajak Ezio jalan-jalan lagi."


Rona berjalan terseok-seok, memandang wajah Ezio yang terlihat damai dalam tidur panjangnya. Dia terisak, hatinya terluka. Tangan halus membelai lembut wajah sang buah hati. Bibir hangatnya mengecup kening Ezio yang kian beku.


"Apa Ezio tidak mau bertemu dengan adik-adik Ezio, sayang? Nanti siapa yang bantu Mommy mengurusi si kembar tiga? Memangnya Ezio tega melihat Mommy kerepotan?" Rona menggenggam tangan Ezio yang sangat dingin.


"Bangun Nak... kasihan Daddy nanti tidak ada teman bermain bola." Rona mencium tangan Ezio lantas menempelkannya ke atas pipi. "Ayo bangun sayang, kita pulang...."


Sekuat apa pun usaha, sedalam apa pun doa. Tetap pada akhirnya kuasa Tuhan yang menentukan. Manusia hanya bisa menerima setiap takdir, karena itu mutlak urusan Sang Pencipta.


Tangis sudah mengering, diri mulai pasrah. Keyakinan pun semakin tipis. Yang ada hanya putus asa mendera jiwa. Di saat semua dilimpahkan pada yang Maha Kasih, di situlah batas kehambaan diuji.

__ADS_1


"Nak... bangunlah, kembali pada Mommy dan Daddy. Mommy membutuhkanmu, Nak...."


Claire tidak tega melihat sahabatnya, dia hanya bisa mengintip dari balik pintu. Dia turut menangis, turut merasakan kesakitan dan kepedihan yang dirasakan sahabatnya. Tiba-tiba keningnya mengkerut, dia menajamkan bola mata, meyakinkan apa yang dia lihat.


Jemari Ezio bergerak lambat, memberikan respons pada sentuhan lembut dari ibunya. Claire sontak berteriak dan berlari menghampiri Ezio. Dia memasang kembali selang-selang dan kabel yang belum terpasang dengan benar. Claire memasang kembali alat deteksi jantung. Dia menunggu dengan cemas dan untuk beberapa saat tanda detak dengan garis lurus, berubah menjadi naik turun.


"Ezio masih hidup Rona. Anakmu masih hidup. Lihatlah!!!" tunjuk Claire pada monitor. "Tuhan mendengarkan doa kita. Tuhan mengabulkan pengharapan kita." Claire bergegas dengan langkah lebar memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi Ezio.


Sementara Rona, dia masih berdiri mematung dengan telapak tangan menutupi mulut yang menganga. Karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sinar matanya menatap alat yang kini berbunyi bagai sebuah detak jantung.


Tubuh ringkihnya berputar, lalu saling berbalas tatap dengan suaminya. Dia maupun Edward, sama-sama terkejut. Saling beradu tanya melalui sorotan sepasang mata.


"Ezio masih hidup, Edward. Anak kita masih hidup!" Rona berlari kecil lalu memeluk erat suaminya. Tangisan pun pecah. Tetapi kali ini bukan berupa deraian kesedihan, melainkan ungkapan kebahagiaan.


Edward melepas pelukan Rona lalu melangkah untuk mendekati tubuh putranya. Bersamaan dengan datangnya dokter yang akan memeriksa kondisi Ezio.


"Bolehkah saya memeriksa kondisi pasien?" tanya dokter meminta izin


"Boleh, Dok. Boleh ... silakan," imbuh Edward mengizinkan sembari menutupi rasa malu lantaran dia sudah memukul wajah pria dia hadapannya.


Dokter tersebut memeriksa denyut nadi, lanjut mengecek detak jantung. Dia merogoh saku jas dokternya, mengeluarkan sebuah senter kecil lalu disorotkan ke arah mata Ezio.


Sang dokter menarik kelopak mata Ezio ke atas. Senter yang menyala, dihadapkan pada bola mata yang kini kembali membiaskan bayang-bayang. Dia tersenyum lebar sembari menggelengkan kepala dengan keajaiban di depan matanya.


"Kita sudah mendapatkannya kembali. Anak kecil ini telah kembali. Dia kuat ... keinginan bertahan hidup, membawanya pada kesempatan hidup yang kedua."

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih bnyak untuk semuanya, dari awal yang telah membersamai hingga saat ini 🙏🙏🙏...


__ADS_2