
Rona mendengus beberapa kali dengan tarikan napas panjang disertai hembusan kasar. Dia membuang tatapan ke arah jendela seraya melipat tangan di depan dada. Menantikan seseorang yang saat ini belum datang juga.
"Ke mana pria itu? Harusnya dia disiplin sebagai kepala Rumah Sakit!" gerutu Rona pada dirinya sendiri.
Lamunannya terputus karena suara ketukan beritme pada daun pintu yang tertutup. Rona mengisarkan kepala lalu berjalan ke arah meja kerjanya.
"Masuk!" titah Rona menumpukan tubuhnya ke pinggiran meja.
"Dokter Rona, anda memanggil saya?" tanya Brian menutup pintu kemudian menghampiri atasannya.
"Iya... saya memanggil anda, Dokter Brian!" Rona mengambil sesuatu dari atas meja, lantas bertanya dengan nada sinis. "Tolong jelaskan ini pada saya!" Rona melempar sebuah map ke arah dada bawahannya.
"Ini apa Dok?" tanya Brian was-was. Dia membuka map tersebut, matanya membola karena terkesiap membaca isinya. "Apa-apaan ini?" geram Brian marah.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu, Dokter Brian. Bukan kah laporan keuangan itu berlabelkan nama dan tanda tangan anda?" tanya Rona menekan emosi Brian.
Brian berjalan mendekat kemudian menopangkan kedua tangannya ke atas meja. Membuat jarak wajahnya dengan wajah Rona hanya sebatas napas.
"Dengarkan saya baik-baik Dokter Rona. Saya tidak menahu mengenai laporan ini. Kenapa anda tidak tanyakan langsung pada sekretarisku, Natalie?" imbuh Brian tidak ingin disudutkan. Dia menghimpit tubuh Rona dan berusaha mengontrol perasaan wanita di hadapannya. Namun, Rona tidak gentar dia menantang dengan membalas tatapan Brian tidak kalah tajam.
"Menjauh dariku atau aku tidak akan segan-segan menendang milikmu itu dengan sangat kasar!" geram Rona karena Brian bersikap tidak hormat kepadanya.
"Aku suka pada wanita yang bersemangat sepertimu, Rona." Brian menarik anak rambut dan menyesap wanginya. "Pantas saja Edward bisa bertekuk lutut pada wanita yang berpenampilan tidak menarik sepertimu. Itu karena kamu memiliki sesuatu yang tidak miliki oleh wanita lain!" Brian memiringkan kepala dengan mata memandang bibir cherry milik Rona. Bibirnya terbuka menginginkan benda tipis yang menggelitik kewarasannya.
Bukan ciuman yang didapatkan Brian, melainkan satu tendangan dari lutut Rona yang mengenai barang berharganya. Tidak cukup di situ, kini ujung sepatu yaang runcing pun turut ambil bagian.
__ADS_1
"Rasakan itu bedebah!!" Rona meninju wajah Brian sebanyak dua kali. Pria itu tidak berusaha menghindar karena menahan rasa ngilu di bagian kejantanannya.
"Sudah... saya benar-benar minta maaf, Dokter Rona!" Brian mengacungkan telapak tangan meminta Rona menghentikkan aksinya. "Saya barusan khilaf ... mari kita bicarakan masalah ini baik-baik!" sergah Brian dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi area selangkangann, dengan ujung mata mengerut dan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. Serangan Rona di daerah vitalnya membuat Brian kesakitan setengah mati.
"Dari tadi saya berbicara dengan sopan dan secara baik-baik. Tetapi anda malah bersikap kurang ajar, Dokter Brian!" jawab Rona dengan suara yang ditekan. "Saya bisa saja melaporkan anda dengan kasus pelecehan. Namun, saya masih menghormati anda karena anda sahabat baik suami saya!"
"Sekali lagi maafkan saya Dok. Karena saya tidak bisa menahan perasaan dan hasrat yang tiba-tiba datang begitu saja." Brian menundukkan kepala serendah-rendahnya, seakan menyesali perbuatan tidak senonohnya.
Rona mendengus kasar lalu meraih map yang tergeletak di atas lantai. Dia berbicara dengan nada tinggi dan diakhiri teriakan lantang. "Kalau begitu, tolong jelaskan kepada saya. Mengapa Rumah Sakit kita mengalami kerugian sebanyak 20 miliar dolar?"
Brian menggeleng-gelengkan kepala, tubuhnya bergetar lantaran rasa takut menyeruak. "Ini pasti kerjaan Natalie. Dia pasti yang sudah merubah semua isi laporan ini!"
Rona terkekeh kemudian bertepuk tangan sembari berjalan mengelilingi tubuh Brian. "Kamu dan Natalie bekerja sama untuk menjatuhkanku, bukan? Kamu bersekongkol dengan sekretarismu untuk menghancurkan reputasiku. Benar kan?"
"Saya berani bersumpah ... saya tidak bersekutu atau pun melakukan sesuatu yang akan merugikan Rumah Sakit ini," tampik Brian atas tuduhan yang dilayangkan Rona terhadapnya.
Brian tidak beranjak sedikit pun dari tempat berdirinya saat ini. Menjadikan amarah Rona naik berkali-kali lipat. "Kenapa anda masih di sini saja? Panggil Natalie sekarang juga!!!"
"Ma-maaf Dokter Rona, Natalie sudah dua hari ini tidak masuk kerja. Terakhir dia mengirimkan surat keterangan kalau dia tengah sakit dan membutuhkan waktu untuk istirahat," ungkap Brian gugup.
"Mana suratnya, kemarikan!" Rona menengadahkan telapak tangan meminta surat itu dari tangan Brian.
Brian meraba-raba kantong jas putihnya, lalu merogoh selembar kertas dan menyerahkannya pada Rona. Rona langsung menarik benda tersebut dan membaca dengan amat teliti. Bagaimana pun, dia adalah seorang dokter. Tidak akan mudah tertipu oleh surat keterangan yang jelas-jelas palsu.
"Apa anda bodoh, Dokter Brian? Jelas-jelas surat ini surat keterangan palsu!" Rona melempar kertas itu ke arah muka Brian. "Katanya lulusan salah satu universitas terbaik di Eropa ... tapi perkara seperti ini saja, anda sudah kecolongan!" cibir Rona geram.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan saya, Dokter Rona." Kepala Brian semakin tertarik ke bawah. "Saya akan mencari keberadaan Natalie dan membawanya ke hadapan anda."
"Tanyakan saja pada sahabatmu. Natalie itu kan sepupunya. Saya berikan anda waktu 3 hari untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau anda gagal ... mohon maaf, saya harus bersikap tegas!" Rona melewati tubuh Brian dan meninggalkan pria itu sendirian di dalam ruangannya.
"Brengsekk!! Ternyata dia tidak bisa dianggap remeh! Belum sempat aku mengeruk semua keuntungan Rumah Sakit ini, perempuan itu sudah lebih dahulu mengetahuinya!"
Rona yang mendengar umpatan Brian dari balik pintu, menarik bibirnya tidak simetris. Dia berlalu pergi dengan langkah ringan menuju ruang laboratorium karena ada sesuatu hal yang harus dia periksa.
Sementara itu,
"Lepaskan aku berandal!" pekik seorang wanita pada tubuh pria yang berotot dan bertato. Dia bergidig melihat tubuh lima orang pria yang sudah menyergapnya. "Kalian siapa, kenapa kalian menculikku?" teriak wanita itu memekikkan telinga.
Salah seorang penculik mengambil kain kotor lalu digunakan untuk menyumpal mulut wanita tersebut. Saat ini yang terdengar, hanya geraman dan juga hentakkan sepatu karena dia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang melilit pergelangan kakinya.
"Bisa diam tidak? Kalau kamu tidak bisa diam, saya akan mematahkan tulang-tulang kakimu itu!" teriak si berandal menghenyakkan nyali wanita tersebut.
Wanita itu terus berteriak. Namun, usahanya sia-sia karena sumpalan di mulutnya meredam suara dan membuatnya terdengar samar-samar.
"Ya Tuhan... mereka siapa? Apa yang akan mereka lakukan kepadaku?" lirih perempuan tersebut di dalam hatinya.
"Tuhan... selamatkan aku. Aku belum siap untuk mati muda."
...*****...
...Maaf akhir-akhir ini terlambat Up terus π₯Ίππ...
__ADS_1
...Sehat-sehat untuk semua ya.. cuaca hari ini tidak bisa diprediksi, siang panas terik. Sore hujan angin. Stay safe semuanya......