Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Arabella Lolos


__ADS_3

"Sabarlah sebentar, wanita ini nanti akan menjadi mainan kalian," cakap Edward yang tiba-tiba muncul sembari tersenyum licik.


Kedua anak buahnya terkekeh seraya mengelus-ngelus jenggot mereka dengan tatapan buas tidak lepas dari dada membusung yang turun naik karena tarikan napas.


"Saya ada urusan di luar sebentar, kalian jaga wanita ini baik-baik. Kalau dia sampai kabur, kalian yang akan saya habisi!!" ancam Edward pada para kacungnya.


"Siap Bos ... lagipula wanita ini terluka parah, dia tidak akan mungkin bisa melarikan diri," sahut pria yang bernama Anton.


"Satu lagi! Kalau dokter Leo sudah datang, suruh dia masuk. Lalu obati wanita ini!" titah Edward sembari melempar dua tumpuk uang kertas.


"Terimakasih Bos, ucap Anton sambil menyergap satu gepok uang.


"Hm..." sahut Edward.


____


Minggu pagi adalah waktu luang yang tepat untuk me time, berolahraga seraya menghirup udara sejuk. Menghilangkan kepenatan setelah 6 hari berjibaku dengan urusan pekerjaan.


Begitu pun juga dengan gadis berkacamata, dia telah siap dengan atasan crop top warna putih dipadupadankan baselayer warna hitam. Tidak lupa dia mengikat rambut hitamnya lalu menautkan handuk kecil ke atas pundak. Memasang earphone dan menyetel lagu-lagu kesukaannya. Tidak ketinggalan sepatu sport yang nyaman untuk digunakan berlari-lari kecil.


Seraya bersiul-siul, Rona menapaki jalanan penuh debu. Mengangkat kaki secara bergantian dengan ritme yang lebih cepat. Tubuh bagian belakangnya bergerak sangat indah mengikuti hentakkan kedua kaki. Tanpa terasa langkah kecilnya telah membawa dia ke sebuah taman, Rona berlari mengitari jogging track. Keringat mulai berkilauan membasahi tubuhnya yang ramping.


"Hai baby..." sapa seorang pria yang turut berlari di sampingnya. Rona menoleh sepintas lalu mengerlingkan mata. Dia mempercepat laju kakinya namun pria itu terus mengejar.


"Ayolah Rona, jangan marah terus sayang..." Edward menarik kasar lengan Rona membuat tubuh gadis itu terhuyung, namun dia berhasil menahannya.


"Mau kamu tuh apa? Kamu sudah seperti hantu, ada di mana-mana!" cecar Rona. Edward tidak menyerah dia terus saja membuntuti Rona, meski gadisnya menatap jengah ke arahnya.


"Aku memang ada di mana-mana, termasuk di pikiranmu kan?" sahut Edward. Rona menghentikan langkah dan memasang raut jengkel. Lama-lama dia kesal juga dengan sikap pria di depannya yang seperti ABG tua.


Akhirnya Rona lebih memilih mengacuhkan Edward, dia asyik sendiri melakukan gerakan-gerakan kecil. Memutar-mutar kepala, meregangkan tangan, meregangkan otot kaki dan pinggang. Tidak tahu mengapa gerakannya terlihat sensual dan mengundang perhatian mata-mata yang haus akan belaian. Terlebih saat Rona mendongak menikmati segarnya air dingin yang mmperlihatkan leher jenjang dengan keringat yang bercucuran, membuat para pria turut menenggak salivanya berkali-kali.


Edward yang menyadari kalau gadisnya menjadi santapan para buaya kelaparan, dia sontak mendekap dan menutupi tubuh Rona dengan handuk yang dipegangnya. Seraya menatap tajam pada laki-laki yang berani menikmati tubuh indah Rona dari kejauhan.

__ADS_1


"Dia istri saya, jangan coba-coba menggoda. Kalau tidak ingin berurusan dengan saya!" geram Edward. Para pria yang tengah menonton pemandangan indah gratis di depannya, sontak membubarkan diri dari pada dijadikan samsak oleh pria yang sedang mengepalkan tangan.


"Istri, sejak kapan?" Rona mengerutkan keningnya. Edward tesenyum simpul lalu mendekatkan bibirnya ke cuping telinga wanitanya.


"Sejak kita melewati malam pertama, sayang..." desahh Edward. Darah Rona berdesir karena sebutan sayang dari Edward menggetarkan relung hatinya.


Namun Rona tidak ingin kalah dengan Edward, dia membalas perlakuan laki-laki di sampingnya dengan membisikkan sesuatu. "Aku hanya wanita simpanan, bukan istrimu. Tidak usah banyak berkhayal dan berharap, Tuan Edward Liam!"


Rona meninggalkan Edward yang mematung, namun lagi-lagi langkah dia harus tertahan karena perkataan Edward yang membuatnya malu.


"Sayang... maafkan aku. Kumohon jangan bercerai denganku. Aku cinta mati sama kamu!" teriak Edward yang tengah bersimpuh di atas aspal.


Rona menutup wajahnya menggunakan handuk karena merasa malu oleh tingkah laku konyol Edward. Semua orang menghampiri sumber suara lalu ramai berbisik-bisik dan memberi dukungan untuk Edward, sementara Rona terus saja menyembunyikan wajahnya di balik handuk kecil.


"Maafkan suaminya Nyonya, sepertinya dia benar-benar menyesal."


"Nyonya ... apa anda tidak kasihan, suami anda sampai berlutut di depan orang-orang?"


"Ayo maafkan, beri dia kesempatan!"


Edward menarik tangan Rona kuat-kuat, hingga membuatnya tersungkur dan terjatuh menimpa tubuh Edward. Semua orang bersorak sorai dan bertepuk tangan. Rona membulatkan matanya sedangkan Edward membuka handuk yang menutupi wajah gadisnya dan dalam satu kali tarikan, bibir Rona sudah menempel di bibirnya. Suara tepukan semakin bergemuruh menyaksikan pasangan bucin yang tengah memadu kasih.


_____


Efek obat bius yang disuntikkan dokter Leo, perlahan menghilang. Arabella saat ini tengah mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang. Dia merasakan nyeri di kedua kakinya dan juga rasa geli di tubuhnya karena sesuatu yang hangat tengah menyesapi bagian dadanya.


"Ka- kamu sedang apa?" tanya Arabella pada laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun.


"Aku haus, ada ini nganggur ya sudah aku sesap," jawab Anton yang meremass gundukan milik Arabella.


"Aku punya penawaran untukmu," ucap Arabella dengan suara paraunya.


"Penawaran apa?" tanya Anton yang masih saja memijat gemas dada ranum milik Arabella. Matanya berubah sayu dengan hawa nafsuu yang semakin meninggi.

__ADS_1


"Tolong bebaskan saya. Saya akan membayarmu dengan uang 1 milyar dan juga tubuh saya," ujar Arabella mengiming-iming.


Anton nampak berpikir, dia menimbang-nimbang penawaran menggiurkan yang diberikan gadis di depannya. "Tapi bagaimana caranya?"


Arabella menyunggingkan senyum terbaiknya, mengelabui Anton yang tidak bisa berpikir jernih karena hasratnya. "Berikan ponselmu, aku akan menelepon kakakku!"


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Anton menuruti permintaan tawanannya. Dia memberikan ponsel miliknya sembari meremass jemari Arabella. "Hm... tangannya saja wangi, apalagi tubuhnya."


Arabella bukannya merasa jijik, dia malah tertantang. Apalagi Anton meski umurnya sudah tua, namun tubuh atletisnya masih sangat menggoda. Dengan memasang wajah genit, Arabella menelepon Roland dan meminta untuk dibebaskan.


"Ini sayang... terimakasih!" goda Arabella. Anton semakin berani memainkan tubuh gadis yang tengah berbaring dengan kembali meremass dan memilin puncak kenikmatan. Gadis itu melenguh, desahann demi desahann keluar dari mulutnya. "Lumayan juga pria tolol ini, setidaknya bisa memberiku kepuasan."


15 menit berlalu, ada seseorang yang menyusup ke dalam tempat di mana Arabella ditawan. Dua pisau melesat dan berhasil mengenai leher para penculik. Seseorang itu mengendap, terlihat ada satu pria yang tengah tertidur, dengan sekali hujaman pria itu meregang nyawa.


Kini perhatiannya teralihkan pada suara jeritan perempuan, matanya terbelalak karena melihat tubuh Sang adik tengah ditindih oleh tubuh Si penculik. Dia berjalan tanpa meninggalkan suara.


Dan, srettt!!!


Penyusup tersebut menebas leher Anton dan pria bodoh itu mati seketika dengan darah bercucuran. Sedangkan Arabella, dia mengerucutkan bibirnya. "Kak, aku belum selesai bermain-main, tanggung nih."


Roland hanya membuang napas dengan kasar mendengar ocehan adiknya lalu membopong tubuh Arabella. "Yang paling penting itu keselamatan kamu, Bella!"


Roland sebetulnya sudah kewalahan menghadapi tingkah laku Sang adik. Karena itu ketika tahu Arabella diculik, dia tidak kaget lagi. Tapi melihat kondisi adiknya yang terluka parah, sebagai seorang kakak dia merasa tidak tega.


"Bella... kapan kamu sadar, Dek?"


...*********...


...Bagaimana liburannya Kak, pasti menyenangkan ya? Besok hari senin bagi yang berkenan dan memiliki VOTE lebih, senja tunggu ya Kak ......


...Terimakasih,...


...Love you full...

__ADS_1


...Muah, muah, muah...


__ADS_2