
"Ini benar-benar keajaiban Tuhan, Nyonya!" pekik perawat melihat bayi yang semula tak bernyawa, kini tengah menangis bersamaan dengan dua saudaranya. "Biar saya cek dulu kondisi bayi anda." Perawat mengangkat Axel dan memindahkannya ke ranjang bayi.
Si kembar Austin dan Aurora masih menangis, Edward sigap menarik Austin ke dalam tubuh hangatnya. "Kamu susui dulu saja Aurora... mereka berdua sepertinya kelaparan."
Aurora terlihat mencari sumber makanannya dengan bibir mungil membulat. Rona tertawa seraya menangis karena sekarang dia merasakan sendiri bagaimana luar biasanya menjadi seorang ibu. "Lihat putri kita Edward, dia begitu pintar!"
Edward turut terharu melihat putrinya meminum ASI dengan lahap. Pipinya terlihat kembang-kempis, menyesap kuat air susu yang mengalir deras hingga terbatuk-batuk.
"Maaf saya lama," ujar dokter yang baru saja datang. Indera penglihatannya langsung tertuju pada bayi cantik yang tengah mensesap makanannya dan bayi tampan dengan tangisan yang semakin menggelegar.
"Tidak apa-apa Dok, tapi saya bingung semua bayi saya menangis dalam waktu bersamaan," lirih Rona menoleh ke arah Austin yang menangis kencang.
"Sebentar ya... saya harus mengecek bayi ketiga anda karena ia harus lebih saya prioritaskan," ungkap dokter pada pasiennya. "Nanti biar Suster yang membantu Nyonya bagaimana cara menyusui dua bayi sekaligus." Dokter bergerak cepat untuk melihat kondisi Axel secara detail, tidak ingin ada yang terluput barang sedikit pun.
Perawat yang ditugaskan dokter, berjalan mendekati Edward dan mengambil alih bayi ke pangkuannya. "Biar sama saya Tuan. Saya akan membantu istri anda untuk menyusuinya."
"Terima kasih, Suster..." balas Edward.
Wanita muda yang dipanggil suster, menganggukkan kepala lantas menangkurapkan Austin di atas dada Rona. Membiarkan bayi mungil itu mencari bagian tubuh ibunya untuk dia sesap. Perawat membantu memegangi Austin karena Rona masih belum terbiasa dan merasa bingung.
"Nanti saya ajari menyusui dalam posisi duduk. Sekarang biarkan mereka mengenal dulu tubuh ibunya." Perawat mengangkat Aurora yang tertidur lantas menangkupkan ke atas bahu. Ia menepuk-nepuk lembut punggung bayi itu hingga terdengar bunyi sendawa. Rona memperhatikan perawat dengan intens, bagaimana cara wanita muda itu merawat bayinya.
"Maaf Sus, kenapa anak saya digendong dengan posisi seperti itu. Bukannya tubuh bayi saya masih rawan ya?" tanya Rona heran. Meski dia seorang dokter. Namun, untuk urusan seperti ini Rona masih awam dan harus lebih banyak belajar.
Perawat tersenyum. "Agar bayi anda sendawa jadi perutnya tidak begah ataupun kolik."
Rona manggut-manggut kemudian memperhatikan Austin yang ternyata lebih lahap mencecap ASInya. "Anak laki-laki memang lebih rakus ya Sus? Aku perhatikan, Austin lebih kuat menyusunya."
__ADS_1
"Iya Nyonya... anak laki-laki biasanya lebih banyak meminum ASI. Saya sarankan sebaiknya anda memompa ASI untuk stok dan disimpan di dalam lemari pendingin," papar perawat lantas membaringkan Aurora di samping Rona.
Dokter telah selesai memeriksa dan membawa Axel di dalam ranjang bayi. "Mohon maaf Tuan, Nyonya ... bayi anda harus mendapatkan penanganan khusus, jadi kami akan memasukkannya ke dalam inkubator untuk beberapa hari."
Edward menarik napas dalam-dalam. "Apa pun itu, tolong lakukan yang terbaik untuk putra kami. Kami mempercayakan sepenuhnya pada Dokter dan perawat di sini."
"Baik Tuan ... terima kasih," balas Dokter. "Oh iya... Istri anda sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Tinggal menunggu bayi lucu itu menyelesaikan menyusunya." Dokter tersenyum ramah dan melangkahkan kaki ke luar ruangan.
Feliks dan Claire yang menanti kabar mengenai Rona dan bayinya sedari tadi hanya bisa menunggu dan menunggu. Melihat Edward lari pontang-panting pun mereka hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu, ketika keduanya melihat dokter membawa kembali seorang bayi dari ruang bersalin, mereka cepat-cepat menghampiri dan bertanya mengenai kondisi Rona.
"Dok maaf, bagaimana keadaan ibu dan bayinya? Tadi saya mendengar suara tangisan dan melihat suami sahabat saya berlarian. Sungguh saya sangat khawatir. Namun, mau bertanya pun ragu-ragu..." tutur Claire pada wanita yang mengenakan jas putih.
"Oh ... Nyonya Rona baik-baik saja, Nona. Bayi-bayi mereka juga semua selamat," jawab dokter.
Claire mengusap wajahnya kasar. "Terima kasih Dok untuk informasinya. Terima kasih juga karena telah membantu proses persalinan sahabat saya."
"Silakan Dokter... saya sudah selesai," imbuh Claire mempersilakan dokter untuk melanjutkan tugasnya.
...***...
"Keponakan Aunty lucu-lucu semua." Claire memandang gemas si kembar Austin dan Aurora yang tertidur pulas. "Kenapa bisa unyu-unyu seperti ini sih? Aunty jadinya kepingin gigit pipi kalian..." cerocos Claire geregetan.
"Iyalah... lihat dong Daddy-nya, lucu dan menggemaskan!" seru Edward percaya diri.
Claire merotasi kedua mata. "Cih... menggemaskan dari mana? Kalau menyebalkan sih iya! Sampai sekarang, aku masih heran kenapa sahabatku bisa mencintai laki-laki sinting macam kamu, Edward!"
"Aku kasihan pada nasib asistenku karena dia mau-maunya menikahi wanita liar. Akan seperti apa nanti nasibnya?!" balas Edward pura-pura merasa sedih.
__ADS_1
Rona terkekeh melihat Claire yang tidak pernah akur dengan suaminya. Mereka sejak dahulu sudah seperti kucing dan anjing, selalu berseteru dan beradu argumen. Edward dengan ego tingginya sedangkan Claire dengan karakter kerasnya. Namun, itu semua hanya sekedar dari sikap ataupun ucapan.
"Berisik...!!" murka Rona. "Apa kalian berdua tidak bisa diam? Nanti anak-anakku terbangun gara-gara cerocosan kalian yang seperti oma-oma tengah bertikai!" sungut Rona sembari memilin pangkal hidungnya untuk meredakan rasa pening di kepala.
"Feliks, tolong bawa istrimu pulang!" titah Rona pada pria yang duduk santai memainkan ponselnya.
"Kamu mengusirku, Rona?" tanya Claire tidak percaya dengan apa yang dilontarkan teman karibnya.
Rona menegakkan tubuhnya. "Bukan begitu Claire... kalian kan baru saja menikah. Pasti lelah membutuhkan waktu istirahat. Maaf ya sudah menghancurkan waktu bulan madu kalian."
Claire memajukkan kedua bibirnya. "Apa sih? Urusanmu itu jauh lebih penting dan utama. Bagaimana aku bisa menikmati masa honey moon-ku kalau kamu dalam kondisi seperti ini."
"Aku baik-baik saja, Claire. Lihatlah!" Rona mengangkat kedua tangan bak seorang binaragawan. "Kamu pulanglah dulu ... besok kan bisa menjenguk keponakan-keponakan lucumu ke Rumah Sakit. Lagi pula kasihan Feliks, dia pasti sedang ingin berduaan. Menghabiskan malam panjang dengan istrinya," goda Rona.
Claire tersipu malu, sebagai pasangan pengantin baru dia harus rela menjadi bulan-bulanan Rona maupun setiap orang. "Baiklah kami pulang sekarang. Besok siang kami akan melihat kondisimu ke sini, tetapi tolong jangan usir kami lagi!"
Rona tergelak. "Oke-oke, kalau soal itu aman!"
Claire memeluk Rona. "Aku pulang ya ... take care."
"Thankyou, Claire..." sahut Rona.
"Tolong jaga dengan baik sahabatku!" pinta Claire kepada Edward. Pria yang dia ajak bicara hanya menarik kedua alis ke atas. Claire melengos lalu berpamitan untuk terakhir kalinya.
"Aunty pulang dulu ya baby gemes!" bisik Claire pada Austin dan Aurora.
...*****...
__ADS_1
...Masih kuat tidak nih puasanya?😁...