Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Massage


__ADS_3

Belum juga Rona selesai berbicara, Edward lebih dulu menyambar bibir istrinya. Melumatt lalu mengunyahnya seperti bubble gum yang manis dan legit.


Edward menaiki tubuh Rona lalu menarik kedua lengan istrinya ke atas kepala dan mencengkeramnya. "Aku butuh kamu sayang... hari ini begitu berat untukku...."


Rona memandang paras suaminya, memindai mata cokelat pekat. Tersirat sangat jelas beban yang tengah dia pikul, masalah yang sedang menerjangnya.


"Aku rumahmu sayang... masuklah, lampiaskan semua hasrat. Lebur setiap masalah, masuklah sepuasmu. Semaumu!" Rona menurunkan dress tidurnya, Edward memundurkan tubuhnya. Kedua kaki terbuka, tubuh indah tereskpos.


Jakun naik turun, kepala yang sakit seketika hilang. Kekesalan di dalam hati langsung sirna, tergantikan gejolak yang bergelora.


Edward merangkak, menarik kembali kedua lengan istrinya ke atas puncak kepala lalu memagut bibir tipis yang membulat.


"Kamu sangat cantik Rona. Kecantikan yang berasal dari dasar hati mampu menutup semua pesona gadis-gadis di luaran sana. Aku mencintaimu, istriku," ucap Edward romantis.


Rona sangat tersanjung, dia terharu akan pujian yang dilontarkan sang suami. Tanpa sadar, kedua kakinya semakin terbuka. Tubuh Edward semakin merapat. Miliknya yang ingin menyeruak, menyentuh bagian inti.


"Aku tidak ingin tergesa-gesa. Kita lakukan dengan perlahan. Menikmati setiap permainan juga gesekan." Ucapan Edward terdengar sangat merdu di telinga. Menghipnotis, membuat jiwa Rona seakan terbang melayang.


Sepasang manik mata membelenggu dua netra yang berselimutkan bara nafsuu. Wajahnya mendekat, bibir hangat merapat. Jemari tegas membelai pipi kemerahan lalu menyapu benda kenyal semanis merah delima. Dua bibir bersentuhan, meneguk manisnya candu.


Berawal dari kecupan, sepasang anak manusia saling menuntut lebih. Air liur berdecak-decak, mulutnya bertukar saliva. Napas terengah, keduanya melepas pagutan.

__ADS_1


Edward menggigit dagu lancip, Rona mendongak. Lidah menelusuri lekukan leher disusul sesapan demi sesapan yang meninggalkan bekas merah di beberapa titik. Tangan Edward menelusup ke dalam kain tipis berbahan sutra. Jari tengah maju mundur di area inti, Rona menggeliat.


"Ah... sayang..." desah Rona.


Guratan kebahagiaan terukir, Edward melanjutkan tugasnya. Mulutnya terbuka lebar, melahap daging gempal dengan puncak areola berwana merah muda. Mengulum lalu menyesap kuat, bak seorang bayi yang tengah kehausan.


Tubuh Rona bergelinjang dengan kepala bergulir ke kiri ke kanan. Dia ingin mencengkeram apapun di sekitarnya, akan tetapi kedua tangannya berada dalam kuasa suaminya. Yang bisa dia lakukan hanya meraung dan menghentak-hentakkan kedua kaki saat Edward memasukkan dua jari yang lain, dengan mulut dan lidah tidak lepas dari gumpalan kembar kesukaannya. Gerakan jemari Edward semakin kencang, tubuh Rona mengejang.


Rona bangkit lalu membalikkan posisi, kini dia berada di atas. Edward berada dalam kendalinya. Dia membalas apa yang suaminya lakukan terhadapnya dengan hal yang sama. Mata Edward terbuka dan tertutup. Menikmati rangsangan demi rangsangan dari bibir dan lidah istrinya. Dia terkesiap saat tangan lembut Rona menggenggam miliknya.


"Oh... honey..." racau Edward.


Jemari lentik memainkan tubuh inti suaminya. Mencengkeram dan meremass dengan kuat. Edward mengerang, mulutnya terbuka mengeluarkan suara-suara yang membangkitkan seksual. Rona mengarahkan milik suaminya ke bagian inti area in-tim, kemudia melesak masuk dengan sempurna.


Tidak ingin menunggu lama, Edward memutar posisi, tanpa melepaskan miliknya. Tubuhnya memompa kepemilikan Rona dengan buas. Kuku tajam menancap di atas bahu. Suara parau silih berganti. Edward mengejang, matanya mengatup. Menyambut sari pati kehidupan memercik di dalam perut istrinya. Dua tubuh yang kelelahan langsung tertidur dengan saling berpelukan tanpa tertutup sehelai benang pun.


...***...


"Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga", peribahasa ini sepertinya sangat cocok untuk wanita licik penuh siasat. Dia menggunakan apa yang dia miliki untuk memanfaatkan orang-orang di sekitar. Uang dan paras cantik meski usianya sudah setengah abad.


Hari ini hari ketiga Amber menghirup udara bebas. Dia memberikan uang suap kepada kepala sipir untuk bisa keluar dari penjara selama satu minggu. Waktu terbatas ini digunakan olehnya untuk mengeruk harta Richard yang dibeli atas nama dirinya. Beberapa mobil klasik keluaran Eropa, satu unit apartemen mewah dan resort di salah satu pulau. Dia sudah menggadaikan itu semua untuk dijadikan alat suap agar bisa melarikan diri ke negara di mana keluarganya tinggal.

__ADS_1


Meski rencananya untuk menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Liam gagal, setidaknya aset-aset yang dibeli atas namanya masih aman tersimpan dengan baik.


"Silakan ganti pakaian Nyonya dengan ini." Seorang terapis menyodorkan kain untuk menutupi tubuh. "Kalau sudah, baringkan tubuh Nyonya di atas bed massage," ujar si terapis ramah.


Amber masuk ke dalam kamar pas, lalu menanggalkan seluruh pakaian dan menggantinya dengan kain tipis yang disodorkan terapis. Dia menelungkupkan badannya di atas bed massage dan menggunakan kedua lengan sebagai alas. Matanya terpejam ketika tangan lembut menyentuh punggungnya lalu mulai mengurut. Belum lagi aroma terapi yang menenangkan membuat pikirannya rileks.


Amber benar-benar memanjakan dirinya, dia menikmati pijatan yang merenggangkan urat-urat yang menegang. Akan tetapi dia merasakan tangan yang mengurutnya kini lebih kekar dan jari-jarinya lebih besar, pijatannya pun sangat kasar. Amber menengok ke arah belakang, ternyata sesosok pria dengan perawakan tinggi besar tengah berdiri dan hendak mencekiknya.


"Lepaskan! Siapa kamu?" Amber menggoyang-goyangkan badannya berusaha lepas dari jeratan pria asing, namun dua pria asing lainnya masuk ke dalam ruangan dengan seringai melecehkan. Amber menahan kain yang melilit di tubuhnya agar tidak sampai terlepas.


Ketiga pria tersebut tertawa kemudian mendekat. "Sudah tua tapi masih mengkal dan padat!" seloroh salah satu orang suruhan Edward.


"Kalian mau apa hah?" bentak Amber yang membayangkan kalau dirinya diperkosa oleh ketiga pria di depannya, miliknya akan dihajar habis-habisan. Namun itu hanya khayalannya saja, karena tidak ada satu pun yang berniat menggauli wanita pengidap penyakit menular, itu sama saja mencari mati.


"Ikut dengan kami Nyonya, kami pastikan Nyonya tidak akan menyesal!"


Amber menurut saja karena di dalam benaknya hanya ada sek-s. Melihat pria bertubuh kekar, berpostur tinggi besar, dia membayangkan barang ketiga pria tersebut tidak kalah besar.


Tanpa perlu diseret, Amber dengan senang hati mengikuti mereka tanpa rasa curiga sedikit pun. Padahal mara bahaya tengah menanti di depan mata.


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih yang sudah memberikan VOTE, berkah selalu ya Kak. Doa yang sama untuk yang memberikan hadiah, like, komen dan yang masih setia dengan novel ini....


...Sekali lagi terimakasih... 🙏...


__ADS_2