
...Segumpal kabut awan hitam bukanlah sebuah hambatan. Justru dari situlah indahnya warna pelangi diciptakan. Kemilau kuning emas sang surya berpadu dengan bias hujan. Menggantikan kegelapan dengan gemerlap warna-warni. Melengkung di atas cakrawala....
...*****...
Claire memasuki kantin Rumah Sakit dengan langkah lebar. Matanya menyisir setiap sudut mencari sosok wanita yang mempunyai janji pertemuan dengannya.
"Nah itu dia kambing ompong," batin Claire. Dia menghampiri seseorang yang dia sebut kambing ompong karena dua gigi grahamnya tanggal, terkena tonjokan tangannya.
"Hai Kak Claire... lama tak jumpa." Gadis di depannya mengulurkan tangan, Claire mengabaikannya. Dia melepas jas kebesarannya lalu menautkan ke atas sandaran kursi. Dengan malas, dia mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia.
"Cepat katakan, ada perlu apa sampai mencariku ke sini?" tanya Claire ketus.
"Pesan minumlah dulu Kak, biar enak kita berbincangnya." Wanita tersebut menyodorkan daftar menu makanan. "Tenang saja, nanti aku yang bayar," ucapnya dengan nada meremehkan.
Claire berdecak tidak suka, dia memainkan ponselnya. Membiarkan gadis di depannya berbicara sesuka hati.
"Kapan Kak Claire pulang? Mami rindu loh sama Kak Claire. Katanya punya keponakan kok seperti kacang lupa kulitnya!" seloroh wanita tersebut tanpa basa basi.
"Aku tidak punya rumah, tidak ada tempat untukku pulang!" jawab Claire tanpa menatap lawan bicaranya. "Ayo cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu!" sungut Claire karena sepupunya sangat bertele-tele.
Wanita itu terkekeh kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku hanya membutuhkan sedikit bantuanmu, Kak...."
"Bantuan apa, Grace?" Claire menarik sebelah alisnya ke atas.
"Aku butuh surat keterangan palsu. Surat keterangan yang mengatakan kalau aku sedang hamil," pinta Grace ringan mulut.
Claire terbahak. "Ternyata sifat licik Tante Monic menurun pada anaknya! Maaf aku tidak bisa membantumu, Grace. Itu sama saja aku menodai sumpah setiaku sebagai seorang Dokter!"
Grace tertawa tak kalah lantangnya, hingga perhatian orang-orang teralih pada gadis berambut merah bergelombang. "Jangan sok suci Kakakku sayang... ingat, selama ini kamu bisa hidup hingga sekarang karena belas kasihan kedua orang tuaku!"
Suara gigi menggerutuk, kedua rahang tertarik. "Kalian yang mencuri semuanya dari tanganku, malah seolah aku yang memiliki utang budi. Dasar keluarga tidak tahu malu!"
__ADS_1
"Aku jauh-jauh ke sini bukan untuk mendengar semua ocehanmu, Kak. Sekali lagi aku bilang, aku butuh surat keterangan kalau aku tengah mengandung!" sungut Grace melempar sedotan ke wajah Claire. Claire menggenggam pinggiran meja menahan amarahnya. Kalau bukan di Rumah Sakit dia pasti sudah menghajar sepupunya itu habis-habisan.
"Memangnya untuk apa surat itu, kan kamu tidak sedang mengandung?!" Claire melayangkan tatapan tajam, dia menunggu jawaban dari adik sepupunya itu.
Grace meneguk jus guava hingga tak bersisa lalu menjilat seluruh sudut bibirnya dan menyimpan gelas kaca dengan kencang. "Aku jatuh cinta pada dosenku Kak. Aku dua tahun mengejar-ngejarnya, eh dia malah menikah dengan perempuan lain."
Claire menertawakan perkataan sepupunya. "Dih, kasihan benar yang tidak laku sampai segitunya."
Grace merotasi kedua bola matanya. "Ayolah, selama ini yang tidak laku itu siapa? Kita tahu sama tahu kalau kamu seumur hidup tidak pernah memiliki kekasih. Semua lelaki takut sama sikapmu yang sok jagoan."
Perkataan Grace terhenti karena kedatangan sosok pria tampan yang mengecup mesra pipi Claire.
"Aku tadi mencarimu ke ruangan dokter. Tapi kata asistenmu, kamu ke kantin." Feliks menarik kursi kayu lalu duduk di atasnya.
"Kak Claire siapa pria tampan ini?" tanya Grace yang menatap lekat paras lelaki di hadapannya.
"Oh... ini Feliks, kekasihku!" ungkap Claire percaya diri. "Feliks, kenalkan ini Grace. Adik sepupuku yang jauh-jauh datang dari desa terpencil."
Grace langsung menyodorkan tangan kirinya, Feliks menatap kosong. "Aku Grace. Mahasiswi semester 5. Masih single dan anak semata wayang."
Feliks beranjak meninggalkan dua gadis yang terpikat oleh pesonanya. Grace terus saja menatap Feliks tanpa berkedip. Tetapi pandangannya beralih pada sosok pria yang dia idam-idamkan.
"Apakah ini yang namanya jodoh?" seloroh Grace menopang wajah menggunakan kedua tangan. Claire memutar kepala melihat ke mana arah tatapan Grace. Dia mendapati sepasang suami istri yang sangat dia kenali.
"Jangan bilang perempuan aneh ini mengincar Edward, suami sahabatku!"
...***...
"Selamat siang Dokter Emmy," sapa Rona pada dokter kandungannya. Emmy mempersilakan Rona dan Edward untuk duduk di atas kursi.
"Bagaimana, apa ada keluhan?" tanya Emmy pada Rona. Rona hendak menjawab, namun Edward mendahuluinya.
__ADS_1
"Istri saya sering muntah-muntah kalau malam, apa itu normal?" tanya Edward polos.
Emmy terkekeh, "Itu normal Tuan, meski jarang terjadi pada ibu hamil. Karena biasanya morning sick dirasakan ketika pagi hari. Akan tetapi untuk sebagian ibu hamil, morning sick bisa terjadi sepanjang waktu atau di saat malam hari."
Edward manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Dokter Emmy dengan seksama. Emmy meminta Rona untuk berbaring di atas bed pasien.
Rona melentangkan tubuhnya di atas ranjang pasien, Emmy mengoleskan Clear Ultrasound Gel ke atas perut Rona yang mulai membuncit. Kemudian menempelkan transducer pada dinding perut.
"Silakan lihat di monitor, Tuan. Saat ini kehamilan Nyonya Rona memasuki usia 8 minggu. Janin di dalam rahim berukuran sebesar kacang tanah. Dengan panjang sekitar 1,6 cm dan berat 1 gram. Masih sangat kecil dan belum bisa terdeteksi jenis kelaminnya," papar Emmy pada sepasang suami istri.
"Oh... masih sangat kecil ya ternyata," sahut Edward seolah baru pertama kali akan memiliki anak. Itu karena semasa kehamilan Marissa dulu, dia sangat sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk mengantarkan sang istri memeriksakan kandungannya.
"Betul Tuan, masih sangat kecil. Dan usia kehamilan trimester pertama ini masih sangat rentan akan guncangan. Karena itu, tolong jaga istri anda dengan baik. Jangan lupa untuk memenuhi gizinya." Emmy mengelap gel yang tersisa di atas perut lalu menutup kembali pakaian Rona.
Rona beralih ke tempat duduknya semula demikian juga Emmy. Emmy meraih buku kecil lalu menuliskan resep beberapa obat yang harus diminum secara rutin.
"Saya resepkan asam folat, zat besi, kalsium dan obat pereda mual kalau masih terasa mual-mual. Jangan lupa perbanyak sayuran, protein juga buah-buahan." Emmy merobek kertas resep dari bukunya lalu menyodorkan ke arah Edward.
Edward menerima kertas yang disodorkan Emmy. "Baik Dokter, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih. Saya akan menjaga istri saya dengan sepenuh hati."
Edward berdiri menjabat tangan Dokter Emmy begitu pun juga dengan Rona.
"Terimakasih ya, Dok. Jangan bosan-bosan menasehati dan mengingatkanku," ucap Rona seraya mengulurkan tangannya.
"Sama-sama Nyonya. Semoga ibu dan bayinya sehat ya...."
Rona mengangguk lalu pamit undur diri dari ruang dokter obgyn dengan Edward yang mengekor di belakangnya.
"Sir Edward...!!!"
...*****...
__ADS_1
...Hujan terus nih dari tadi siang, dinginnya... namun tidak sedingin sikap Feliks pada Grace ya. Hehehe......
...Terimakasih untuk semua dukungan dari teman-teman sekalian. Selamat malam dan selamat memimpikan Edward....