
Suara dentuman musik memenuhi ruang yang menjadi pelampiasan akan jiwa yang gersang. Tempat melepaskan hati yang bercabar, melupakan masalah dan kesedihan meski hanya untuk sesaat. Bila orang lain dirundung pilu, dia akan mendekat pada Tuhan. Tapi lain dengan seorang Brian. Dia pergi ke klub malam untuk bermabuk-mabukkan dan bersenang-senang.
Terlihat pria itu telah menghabiskan sebotol vodka. Kini dia meminta minuman yang sama pada seorang bartender.
"Berikan saya satu botol lagi!" pinta Brian dengan mata yang teler.
"Tapi anda sudah mabuk, Tuan," ucap bartender tersebut mengingatkan.
"Berikan sebotol lagi, atau botol ini aku lempar ke arah kepala botakmu itu!" tunjuk Brian pada pria yang mengenakan dasi kupu-kupu.
"Ba-baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar." Bartender itu mengambil minuman yang diinginkan Brian. Selang lima menit, sebotol vodka sudah berada di dalam genggaman tangan pria mabuk tersebut.
Brian menegak minuman beralkohol tersebut, hingga menghabiskan setengahnya. Dia menyimpan botol berisikan vodka di atas meja bar dengan kencang. Matanya berurat merah disertai rahang yang menegang. Nampak jelas, kilatan api amarah yang berkobar dari dalam raganya.
"Ah... sialan!" erang Brian meradang. "Aku kira kamu hanya seekor kelinci menggemaskan, Rona. Namun, ternyata aku salah. Kamu tidak ubahnya seperti seekor rubah. Licik dan pintar!" racau Brian memuntahkan apa yang bersarang di dalam dada.
Seorang wanita seksi datang menghampiri lantas duduk di samping Brian. Membelai tengkuk pria itu bermaksud untuk menggodanya. Brian diam saja tidak ingin menggubris godaan wanita tersebut.
Wanita yang berpakaian serba mini di sampingnya tidak ingin menyerah begitu saja. Dia berdiri lalu berjalan ke arah punggung Brian, kemudian mengusapnya. Bibir ranumnya meniup-niup daun telinga, tubuh Brian meremang. Namun, dia tetap bergeming.
Wanita malam itu terus menggoda Brian, membuat laki-laki itu naik pitam. Brian memutar kepalanya lalu mencengkeram kuat kedua rahang perempuan tersebut. "Pergi dari hadapanku sekarang juga, atau aku akan mematahkan tulang lehermu ini!"
Wanita penghibur tersebut lekas-lekas pergi dan menghilang dari pandangan Brian. Karena takut akan ancaman pria yang sedang mabuk berat.
Sementara di luar klub
"Arabella, ikut Kakak pulang!" Roland menarik paksa lengan sang adik karena memergoki gadis itu akan memasuki sebuah hiburan malam. "Kamu keras kepala sekali, Arabella. Bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi clubbing?"
"Lepaskan Kak!" Arabella memutar-mutar lengannya agar lepas dari cekalan Roland. Kenapa Kak Roland ada di sini, Kakak membuntutiku?" sentak Arabella pada kakaknya.
Roland kembali memegang kuat lengan adik perempuannya. "Apa kamu lupa .... kalau kamu dalam pengawasan Kakakmu ini, Arabella?"
__ADS_1
"Kakak akan memonitor setiap tindak tanduk kamu. Jangan anggap enteng ucapan Kakak karena Kakak sudah memerintahkan orang-orang kepercayaan untuk mengawasimu!" ungkap Roland yang dibalas dengan gelak tawa.
"Ayolah Kak... Arabella punya privacy sendiri. Kakak tidak perlu terus-menerus ikut campur!" sinis Arabella menyimpan sebuah rahasia.
Roland terkekeh dan mengusap kasar wajahnya kasar. "Ternyata kamu belum berubah juga, Arabella. Kali ini Kakak benar-benar kecewa!"
Roland memutar tubuhnya untuk meninggalkan sang adik melakukan apa yang dia inginkan. Akan tetapi, genggaman lembut menahan dirinya. "Maafkan Arabella Kak... Arabella datang ke mari hanya ingin mencari seseorang."
Langkah Roland terhenti, dia memasang telinganya dengan tajam menunggu sang adik melanjutkan perkataannya.
"A-Arabella mencari pria yang sudah menghamili Arabella, Kak... dia ada di sini. Di kota ini," ungkap Arabella antusias. Tubuh kakak laki-lakinya berputar, terkejut akan fakta yang adiknya katakan.
"Pria bajingan itu ada di sini?" Roland mempertegas apa yang dikatakan Arabella dengan mengulang kalimat yang sama.
Arabella mengangguk cepat, sorotan matanya mengatakan kalau dia sangat yakin dengan apa yang diucapkannya. "Iya Kak... 2 minggu yang lalu, Arabella tidak sengaja melihatnya di klub malam ini. Jadi ... Arabella pikir tidak ada salahnya mencoba mencari pria itu ke tempat ini lagi."
Roland menarik tangan sang adik lalu membawanya ke dalam klub. "Coba kamu perhatikan baik-baik, adakah di sini pria yang kamu maksud itu?!"
"Coba lihat sekali lagi!" titah Roland penasaran.
Arabella mengitarkan kembali kejelian dan kini biji matanya menangkap punggung seseorang yang dia yakini pria tersebut. "I-itu Kak, pria itu! Pria yang duduk di balik meja bar!"
Roland menyipitkan mata melihat ke arah laki-laki yang dimaksud. "Kamu yakin Arabella, pria itu yang sudah tidur denganmu, tidak ada lagi pria lain?"
Arabella mendelik seraya mendengus kasar. "Yakinlah Kak, Arabella cuman bercinta dengan dia saja. Tidak ada pria lain!"
Roland mengerutkan kening, rasa-rasanya sosok lelaki tersebut tidak asing di ingatannya. Dan ketika dalam satu momen, pria itu menolehkan kepala. Pupil mata Roland membesar, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Brian?!"
"Ka-Kakak kenal laki-laki itu?" tanya Arabella turut terkejut.
"Sangat! Dia adalah Brian, sahabatku dan juga sahabat Edward!" geram Roland masih tidak percaya kalau sahabat yang sudah lama tidak dia temui, bisa bersikap rendahan seperti ini. "Kita akan memberinya pelajaran. Tetapi tidak malam ini!"
__ADS_1
"Tapi kenapa Kak? Arabella takut dia kabur lagi," lirih Arabella khawatir.
"Tenang saja, kali ini dia tidak akan bisa ke mana-mana. Kita cari waktu yang tepat untuk menyeret pria itu ke hadapan mami dan papi untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya." Roland menggenggam jemari sang adik dan membawanya keluar dari klub.
...***...
"Bagaimana, apa beban dipikiranmu sudah berkurang?" Edward menangkup kedua pipi sang istri seraya menatap lembut.
"Ta-tahu dari mana kalau aku sedang ada beban pikiran?" tanya Rona gelagapan.
Edward terkekeh lalu menutupi tubuh polos keduanya dengan selimut. "Aku sudah sangat mengenalmu, sayang. Aku tahu di saat kamu sedang banyak masalah atau sedang bahagia."
Edward mengecup tipis bibir Rona lalu menarik dagu lancipnya. "Aku ini suamimu, kan?"
Rona mengangguk pelan. Dia bimbang dengan masalah besar yang dihadapi saat ini. Karena berhubungan dengan orang-orang terdekat suaminya.
"Kalau begitu, katakan padaku. Ada masalah apa?" Edward menegakkan tubuhnya lalu menarik kepala Rona dan disandarkan ke atas pundak.
"Rumah Sakit kita mengalami kerugian sebanyak 20 miliar, Edward. Dan aku menemukan mark-up di beberapa laporan keuangan. Banyak transaksi fiktif di sana. Seseorang atau mungkin dua orang telah berkhianat pada kita," ungkap Rona hati-hati.
"Siapa orang yang kamu curigai sayang?" Edward menahan dirinya dengan tetap bersikap tenang.
Rona mendongakkan wajah sekilas lalu melingkarkan tangan kirinya ke atas pinggang Edward. "Tapi kamu jangan marah padaku."
Edward tertawa renyah sembari mengelus-elus bahu Rona. "Aku tidak akan marah, sayang. Jadi coba katakan, siapa pelakunya?"
Rona menelan saliva, kedua matanya mengerjap cepat. "Orang yang aku curigai adalah ... Brian dan Natalie!"
...*****...
...Selamat berhari minggu dan berkumpul dengan keluarga......
__ADS_1